Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Keterbukaan


__ADS_3

( Saling terbuka dengan pasangan akan membuat suatu hubungan menjadi lebih harmonis dan bahagia)


***


Resepsi pernikahan Dimas dan Linda berjalan dengan lancar. Acara sesi foto-foto selesai pukul 2 siang, dan tamu undangan pun berpamitan sambil memberi selamat dan do'a baik untuk ke dua mempelai.


Para pager ayu dan teman-teman Linda yang ikut di make-up dan menggunakan kebaya seragam sewaan kini masuk ke dalam kamar ganti untuk berganti dengan pakaian masing-masing. Termasuk Eli dan Nina.


Karena sudah cukup siang, Sari dan Musa pun memutuskan untuk berpamitan pada Linda dan kak Dimas. Sari naik ke atas panggung pelaminan, di ikuti Musa yang kini menggantikan Sari menggendong Rasyid.


" Aku balik dulu ya Lin, Rasyid sepertinya sudah ngantuk dan kecapekan juga, titip kakak ku ya, kalau dia nakal kasih tahu aku saja, biar nanti aku kasih pelajaran" ucap Sari sambil melirik ke arah Dimas.


Namun Dimas justru memeluk Sari bersamaan dengan Linda, mereka bertiga berpelukan di atas panggung pelaminan.


" Makasih banyak ya Sar, kalau bukan karena kamu, mungkin kami berdua tidak akan bisa bersatu seperti ini", Dimas melepas pelukannya sambil mengusap kerudung Sari. Sedangkan Linda masih memeluk Sari. Kemudian berbisik lirih di telinga Sari.


" Aku nggak tahu apa yang sudah terjadi, tapi tadi Eli masuk kamar dan minta di make-up ulang, sepertinya dia habis menangis lama. Bahkan aku tidak melihat Rizal kemari, kamu berhutang cerita padaku". Linda melepaskan pelukannya.


Sari langsung memutar matanya ," kamu ini, masih saja memikirkan orang lain di hari pernikahanmu", Sari pun menggelengkan kepalanya.


" Bukan orang lain, kalian itu sahabatku, sudah seperti saudara, dan aku sangat peduli dengan apa yang terjadi pada kalian berdua".


Mendengar ucapan Linda, Sari langsung mengangguk-anggukan kepalanya.


" Terimakasih untuk kepedulian kamu selama ini".


Sari pun melepas pelukannya, dan turun dari panggung pelaminan, karena Musa sudah lebih turun setelah memberi selamat pada Dimas tadi.


" Kami pamit dulu ya kak, Lin, sampai jumpa besok", Sari berdada-dada meninggalkan rumah Linda. Menghampiri Mama dan papanya juga kedua orang tua Linda untuk berpamitan.


Seperti perkiraan, setelah mimi ASI di dalam mobil, Rasyid langsung terlelap dalam pelukan Sari.


Sesampainya di rumah Sari langsung menidurkan Rasyid di box tempat bayi. Sari sendiri membersihkan diri dan berganti pakaian santai, kemudian merebahkan diri di atas kasur.


" Mas, kok langsung buka laptop, apa ada yang harus dikerjakan?", Sari merubah posisi menjadi tengkurap menghadap ke arah Musa yang usai berganti pakaian langsung duduk di sofa kamar dan membuka laptopnya.


" Hari ini Mas nggak masuk kelas, jadi ngasih tugas pada para mahasiswa, terus nyuruh agar tugasnya dikirim lewat email, jadi Mas mau ngecek kiriman tugas dari mereka", Musa menjawab tanpa menatap ke arah Sari, masih fokus dengan layar laptopnya.

__ADS_1


Sari merebahkan tubuhnya kembali membelakangi Musa yang terlihat serius dengan pekerjaan. Niat hati ingin menceritakan kejadian di serambi masjid tadi, tapi sepertinya Musa sangat sibuk, jadi Sari mengurungkan niatnya. Memilih ikut memejamkan mata dan tidur siang seperti Rasyid.


Pukul 4 sore, Sari terbangun dan mendapati Musa berada di sampingnya, masih tertidur sambil memeluk tubuhnya.


Sari menggeser tangan Musa pelan-pelan agar Musa tidak terbangun, namun ternyata gerakan Sari membuat Musa membuka matanya.


" Rasyid sudah bangun, aku mau gantiin popoknya, dari pagi belum diganti".


Sari mengangkat Rasyid dan menidurkannya di samping Musa, langsung hilang rasa ngantuk karena baru bangun tidur, Musa langsung tersenyum lebar mengajak Rasyid memainkan telapak tangannya.


Saat Sari selesai mengganti popok Rasyid, ternyata Rasyid sedang berusaha menggapai telapak tangan ayahnya, Musa sengaja menggeser sedikit tangannya agar Rasyid berusaha menggapainya.


" Ayo sayang... pegang tangan ayah", si kecil Rasyid terus berusaha menggapai tangan Musa, dan blug....


Tubuh gembul Rasyid berhasil tengkurap di samping Musa. Sari yang melihatnya langsung berseru bahagia.


" Ye.... putra bunda berhasil" ,Sari langsung menciumi wajah Rasyid saking gemasnya.


Awalnya Rasyid baru bisa mengangkat kepala sebentar dan menjatuhkannya diatas kasur, laku di angkat lagi sebentar dan dijatuhkan lagi.


" Pelan-pelan sayang, jatuhin kepalanya",Sari membiarkan Rasyid tengkurap selama 5 menit, saat sudah terlihat kelelahan, Sari membalikkan tubuh Rasyid agar kembali terlentang.


" Alhamdulillah bisa menyaksikan perkembangan Rasyid di depan mata", batin Sari. Bukan sebuah hal yang mengagumkan, tapi bagi Sari bisa melihat Rasyid mempunyai kemajuan di depan matanya menjadi suatu kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri. Begitu juga dengan yang dirasakan Musa saat ini.


Awalnya Sari khawatir karena untuk bayi seumurannya, badan Rasyid terlalu gembul, padahal hanya Mimi ASI saja, Sari takut Rasyid mengalami keterlambatan perkembangan geraknya, karena badannya yang gembul. Untung saja semuanya tepat waktu, di usianya yang baru 3 bulan, Rasyid sudah bisa tengkurep sendiri dan sudah mengeluarkan gumaman cukup panjang.


" Mas... Sari mau membicarakan sesuatu sama Mas".


Musa menatap ke arah Sari, " mungkinkah dia akan membicarakan soal pertemuannya dengan Rizal tadi?", pikir Musa.


" Tentang apa?".


" Tadi Sari sempat bertemu dengan Rizal di masjid tempat pernikahan kak Dimas. Cuma itu yang mau Sari bicarakan".


Musa mengangguk sambil menatap Sari dengan tatapan penuh arti.


" Apa ada hal penting yang kalian bahas, sampai kamu harus menyampaikan pertemuan kalian yang secara kebetulan itu?".

__ADS_1


" Tidak ada yang penting, bukan Rizal yang Sari pikirkan".


" Mungkin hanya perasaan Sari saja, tapi sepertinya Eli tidak bahagia bersama dengan Rizal".


Tidak mungkin juga Sari mengatakan dirinya merasa jika Rizal masih mencintainya. Sari memperhalus kalimatnya, agar Musa tidak sakit hati atau marah.


Musa tersenyum mendengar kalimat Sari,


" Eli sudah cukup dewasa untuk membuat keputusan dalam hidupnya. Kita hormati saja apa pilihan dirinya".


" Jadi jika dia merasa keputusannya salah, dan hanya akan merugikan dirinya sendiri, dia pasti akan merubah keputusannya itu".


Sari hanya mengangguk sambil menepuk-nepuk paha Rasyid.


***


" Apa yang kamu bisikkan pada Sari tadi siang?, lama banget bisik-bisiknya". Dimas memilih untuk mengajak Linda ngobrol sambil memeluknya, di malam pertama usai pernikahan mereka.


Karena Linda menyampaikan pada Dimas jika dia sedang datang bulan. Jadi harus bersabar beberapa hari lagi untuk bisa melakukan proses unboxing.


" Iya aku ceritain, tapi pelukannya jangan kenceng banget begini, aku nggak bisa napas kak", Linda sengaja protes, karena tubuhnya bisa merasakan ada sesuatu yang bergerak-gerak dibawah sana.


" Mana ada kenceng banget, ini juga sudah kakak kasih kendor".


Linda langsung manyun, karena justru Dimas sengaja menggesek-gesekkan tubuh bagian bawahnya yang terasa menonjol.


" Iya-iya... kakak lepas pelukannya, tapi kasih tau yah, Sari dibisikin apa sama kamu".


Linda mengangguk,


" Nggak ada, aku cuma bilang makasih karena Sari sudah banyak membantu kita selama ini". Linda tidak berniat menceritakan tentang Eli pada Dimas, tidak akan merubah apapun juga misal Dimas tahu.


Merasa Linda mempermainkannya, Dimas kembali memeluk tubuh Linda dengan sangat erat.


Dimas berbisik lirih di telinga Linda, membuat bulu kuduk Linda langsung me-remang.


" Nggak boleh berhubungan badan, tapi boleh bercinta kan sayang", bujuk Dimas dengan wajah memelas.

__ADS_1


Linda pun hanya bisa mengangguk, dan pasrah, apapun yang akan dilakukan oleh Dimas sekarang adalah hal yang sah dimata hukum dan agama. Yang penting jangan ke yang satu itu, karena masih berdarah-darah, haram.


__ADS_2