
Hari ini adalah hari penutupan bulan ramadhan tahun ini, Sari dan Dimas merasa sangat bahagia karena Mama dan Papa sudah tiba di rumah kakek Atmo sejak semalam.
Lebaran tahun ke tiga semenjak Sari tinggal bersama kakeknya di Purwokerto. Sudah terbiasa dengan suasana di sini.
Selama bulan Ramadhan kemarin begitu banyak kegiatan kampus yang Sari ikuti, salah satunya dengan membagi takjil bersama beberapa teman kuliah nya di bagi di beberapa titik. Sari bahkan sering buka di luar rumah, karena masih harus di jalan bersama teman-temannya untuk membagikan takjil pada orang-orang yang lewat.
Tadi sore adalah hari terakhir Sari dan teman-temannya membagikan takjil, jam setengah enam mereka semua berkumpul di salah satu rumah makan yang terdapat di daerah sekitar GOR Satria, untuk mengikuti acara buka bersama.
Usai acara bukber, Sari minta ijin pada yang lain untuk pulang ke rumah terlebih dahulu, dan seperti biasa, Rizal menawarkan tumpangan pada Sari. Karena Rizal sedikit memaksa, Sari tidak enak hati untuk menolaknya.
Di pertigaan menuju rumahnya, Sari melihat penjual pecel lele yang mangkal disana. Pikiran nya langsung teringat pada malam takbiran dua tahun yang lalu. Saat Musa mengajaknya makan di tenda itu, berjalan bersamanya sepanjang jalan menuju rumah kakeknya.
" Sar..., Sari..., sudah sampai", Rizal menyadarkan Sari dari lamunannya.
" Oh...iya..., makasih ya untuk tumpangannya", Sari bergegas untuk keluar dari mobil, tapi Rizal menahan tangannya.
" Sar..., boleh bicara sebentar?", Rizal menatap Sari dengan begitu lekat.
" Apa?, kenapa nggak ngomong dari tadi pas lagi di jalan?", Sari merasa tidak nyaman dengan sikap Rizal. Tatapannya masih lurus melihat ke depan
" Sebenarnya aku...".
Tok...tok...tok...
Suara kaca mobil Rizal yang di ketuk.
Nampak Dimas yang berdiri di luar mobil sambil mengernyitkan dahinya.
" iya, kamu kenapa?", Sari menengok ke arah Rizal.
" Eh enggak jadi, besok-besok saja, dilanjut ngobrolnya", Rizal menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
" Ya sudah, aku turun dulu, makasih sekali lagi", Sari membuka pintu mobil dan keluar, Rizal hanya tersenyum ke arah Dimas, kemudian kembali melajukan mobilnya, tidak mampir.
__ADS_1
" Hei, kamu ngapain lama-lama di dalam mobil?, pacaran ya?", tegur Dimas sambil menatap mobil Rizal yang semakin menjauh.
" Nggak..bukan pacarku itu Kak..., dia cuma temen kuliah", ujar Sari menjelaskan.
" Iya, aku tau kalau dia bukan pacar kamu, pacar kamu itu pak guru yang lagi di Kairo kan?", todong Dimas.
Sari tersenyum, " kakak tahu dari siapa?, kan Sari nggak pernah cerita sama kakak", ucap Sari sambil masuk ke dalam rumah.
Dan membulatkan matanya ketika menjumpai siapa yang sedang duduk di kursi ruang tamu, bersama Kakek dan mama, papanya.
" Karena pacar kamu lagi di sini, hahahaha", bisik Dimas kemudian terbahak melihat ekspresi Sari yang begitu terkejut melihat Musa di rumahnya.
Mata Sari dan Musa saling menatap satu sama lain dengan penuh kasih sayang, tersirat luapan kerinduan dari kedua pancaran mata mereka.
Masih terus saling memandang tanpa berkata-kata, semua orang yang menyaksikan memberi waktu mereka berdua untuk saling meluapkan kerinduan dengan saling menatap.
" Apa aku mimpi?, jika iya ini adalah mimpi, aku berharap untuk tidur lebih lama, dan tidak terjaga. Aku benar-benar merindukannya, terimakasih ya Allah", batin Sari.
" Assalamualaikum...", Suara Musa menyadarkan lamunan Sari.
" Kenapa suaranya begitu nyata, apa ini nyata?", Sari menepuk pipinya sendiri,
" Awww.....sakit...jadi ini nyata".
" Wa'alaikum salam", jawab Sari sambil mendekat ke arah Musa. Musa pun berdiri saat Sari tepat di depannya.
" Bagaimana kabarmu?, sudah jadi mahasiswi jadi super sibuk ya?".
Sari hanya mengangguk sambil menitikkan air mata. " Ternyata dia benar-benar nyata, ini bukan mimpi".
Esti merangkul Sari yang masih terkejut dengan kedatangan Musa, " Putri mama yang cantik...kok bengong lihat ustadz Musa di sini?, dia barusan nanyain kabar kamu lho..., kamu nggak pengin nanya kapan ustadz pulang ke Indonesia?, atau pengin tanya bagaimana kabarnya", Mama Esti sengaja menggoda putrinya.
Sari hanya meringis sambil menunduk malu.
__ADS_1
" Ustadz bagaimana kabarnya?, kabar umi dan Abi bagaimana?, Sari alhamdulillah sehat, lihat kan, sudah puasa sebulan masih belum kurus juga", ucap Sari sambil senyum di kulum.
" Alhamdulillah saya sehat, Umi dan Abi juga sehat, mereka menitip salam buat kakek dan kamu, tapi belum bisa ikut ke sini, mereka sedang di rumah paman Irsyad", ucap Musa.
" Benarkah, alhamdulilah kalau umi sudah benar-benar sehat, Sari ikut bahagia".
" Sekarang kamu bersihkan diri dan ganti baju dulu, nanti ke sini lagi, nih badan kamu bau asem", Esti mencium lengan putrinya.
" Sari tinggal dulu ustadz", Musa mengangguk dan kembali duduk.
Selang 15 menit kemudian Sari sudah keluar lagi dengan wajah yang lebih fresh setelah mandi dan ganti pakaian.
Sari melihat Musa, Kakek dan papanya sedang mengobrol serius
" Nah kan jadi kelihatan lebih fresh kalau sudah mandi, dan ganti baju", Esti mengusap lengan Sari yang duduk di sampingnya.
" Sari, ini ustadz kesini, ada tujuan tertentu, dia sudah menyampaikannya kepada kami, sekarang giliran kamu juga harus mengetahuinya. Karena tujuannya kemari ingin minta ijin untuk mengkhitbah kamu, rencananya tiga hari setelah idul Fitri besok Musa dan keluarganya akan datang. Kakek dan Papa terserah sama kamu, kami si jujur bersyukur jika kamu setuju", ucap Papa.
" Sari mau", begitu cepat Sari memberi jawaban, membuat semuanya kaget dengan keputusannya.
" Kamu serius?", tanya Kakek Atmo.
Sari mengangguk, " Dua rius malah".
***
Lebaran tahun ini Sari merasa di limpahi dengan keberkahan dan kebahagiaan, di kelilingi oleh keluarga lengkap juga dengan kedatangan Ustadz Musa dan keluarganya.
Seperti dua tahun yang lalu, keluarga Musa dan Keluarga Pak Irsyad bersilaturahmi ke rumah Kakek Atmo. Bahkan suasana lebaran kali ini lebih terasa hangat, karena kedua keluarga ini akan menyatu menjadi satu.
Umi terus menggenggam tangan Sari yang duduk di sampingnya, meminta maaf karena sudah memisahkan Musa darinya begitu lama. Dua tahun hidup dengan hubungan LDR, itu jelas bukan hal yang mudah untuk di lakukan, karena Sari termasuk gadis yang cantik dan menarik, Umi yakin banyak pria yang berusaha mendekatinya.
Karena itu Umi sering menyuruh Musa untuk kembali ke Indonesia dan menemui Sari, tapi Musa bersikukuh ingin merawat Umi nya hingga benar-benar sehat.
__ADS_1