
Sari sampai dirumahnya jam setengah 4 sore, saat itu Musa baru saja kembali dari masjid usai sholat asar.
Saat Sari turun dari mobil Linda, nampak Musa yang sedang berjalan di pinggiran jalan mengenakan sarung berwarna hitam, baju Koko putih dan peci hitam, pemandangan yang membuat siapapun yang menatapnya akan merasakan kedamaian dalam hatinya.
Linda mengangguk-anggukkan kepalanya menyapa Musa yang kini berada di samping Sari.
" Mau mampir dulu?", Sari meminta Linda untuk mampir, awalnya Linda hendak menerima ajakan Sari untuk mampir, tapi Linda mengurungkan niatnya, merasa tidak enak pada Musa, sudah meminjam istrinya cukup lama, dan saat di antar pulang masih juga mengganggu kebersamaan mereka.
" Kapan-kapan aku mampir, insyaallah, aku ada janji mau ketemu sama teman kerjaku, takut nggak on time".
" Aku pamit dulu ya, makasih sudah banyak membantu", Linda memeluk Sari saat berpamitan.
" Banyak membantu apanya?, justru aku minta maaf untuk semua ketidak nyamanan kamu selama ini", Sari melepas pelukan dan menggenggam tangan Linda seolah memberi semangat.
Linda kembali menundukkan kepalanya pada Musa, sebelum memasuki mobilnya.
" Sampai ketemu lagi di lain kesempatan Sar, semoga kamu sama calon baby sehat terus ya, bye..." ,Linda melambaikan tangannya dan masuk ke dalam mobil, pergi meninggalkan Sari dan Musa yang masih berdiri di depan pintu gerbang rumah mereka.
" Masuk..."
Sari menatap Musa dan menggelayut di lengannya saat berjalan memasuki rumah.
" Terimakasih ya Mas".
" Untuk apa?".
" Untuk semuanya".
" Mas sudah percaya sama Sari, memberi Sari waktu dan kesempatan untuk menyelesaikan kesalah pahaman antara kak Dimas dan Linda".
" Apa sekarang kamu sudah mau cerita sama Mas ada kesalah pahaman apa antara mereka berdua?", Musa melepas peci yang di kenakannya dan meletakkan di atas nakas.
" Nanti Sari cerita, sekarang Sari mau mandi dan sholat asar dulu".
Sari mengambil baju ganti dan masuk ke dalam kamar mandi.
Musa memilih untuk keluar kamar, duduk-duduk santai di teras samping.
30 menit kemudian Sari menghampirinya sambil membawa teh manis hangat dengan cemilan.
" Makasih sayang"
__ADS_1
Sari mengangguk saat Musa mengucapkan terima kasih.
" Mas..., Sari mau cerita tentang yang tadi", Musa mengangguk.
" Ceritakanlah".
" Linda... suka sama kak Dimas", Musa kembali mengangguk.
" Terus"
" Kak Dimas beberapa waktu lalu putus sama Ayu, dia melihat Ayu bermesraan dengan laki-laki lain, dan kak Dimas merasa sangat down, saat itu tidak sengaja ketemu Linda yang lagi sama teman-temannya".
" Karena Linda kasihan sama kak Dimas, dia menghampirinya, dan sejak saat itu mereka sering ketemuan dan jalan bareng".
" Linda merasa nyaman bersama kak Dimas, mulai tumbuh benih-benih cinta, karena mengira kak Dimas menyukainya juga".
" Tapi beberapa waktu lalu kak Dimas menghindar dan susah untuk di hubungi, Linda minta tolong kepada Eli untuk menceritakan tentang kedekatan mereka".
" Kemarin semuanya sudah clear, kak Dimas merasa nggak pantas buat gadis sebaik Linda, dia justru menerima Ayu yang minta balikan".
Musa kembali menganggukkan kepalanya.
" Jadi Linda sudah bisa menerimanya?".
" Memang akan lebih baik untuk Linda bisa segera melupakan kak Dimas. Tapi akan tidak baik untuk Kak Dimas jika dia lebih memilih Ayu".
Sari mengernyitkan keningnya, " maksud Mas apa?, apa Mas mengenal siapa Ayu?".
Musa mengangguk, " Saat Kak Dimas memperkenalkan Ayu sama Mas di hari pernikahan kita, dia sempat tersenyum aneh".
" Saat itu mas belum berpikir aneh tentang dirinya. Tapi beberapa bulan yang lalu, Mas pernah bertemu lagi dengannya, saat itu Mas hendak menghadiri seminar di hotel Aston".
" Mas melihat Ayu sedang berjalan sambil menggelayut di lengan laki-laki mungkin seumuran dengan Mas. Saat kami berpapasan, dia langsung melepas tangannya dari lengan laki-laki itu".
" Saat Mas keluar dari ruang seminar. Ternyata dia menunggu Mas di lobi hotel. Tanpa Mas bertanya, dia menjelaskan sama Mas jika laki-laki itu adalah saudaranya. Dan meminta Mas untuk tidak mengatakan apa-apa pada Kak Dimas".
" Benarkah?, terus Mas cerita apa nggak sama kak Dimas?".
" Mas nggak cerita, berusaha percaya dengan penjelasannya", ujar Musa.
" Mas itu jadi orang percayahan banget sama semua orang", gerutu Sari.
__ADS_1
" Nggak juga, kadang Mas sedikit nggak percaya sama kamu".
Sari langsung mencubit perut Musa sambil melotot mendengar ucapan suaminya itu.
" Aaaww...".
" Sakit sayang...".
" Biarin, padahal kan Sari selalu jujur sama Mas!", ucap Sari sambil manyun.
" Mas masih sedikit nggak percaya kalau saat ini ada anak Mas di perut kamu, masih seperti mimpi yang menjadi kenyataan", ujar Musa menjelaskan.
Bibir manyun Sari berubah menjadi senyum di kulum.
" Tunggu 4 bulan lagi, Mas akan percaya, ada baby kita disini".
Sari mengelus perutnya yang langsung disambut dengan gerakan dari dalam perut.
" Wah...lihatlah Mas, dia merespon, pasti lagi dengerin obrolan ayah sama bunda ya sayang?", Sari kembali mengelus bagian perut yang tadi bergerak.
Membuat perut itu kembali bergerak-gerak dari dalam. Musa langsung beringsut dari duduknya dan bersedekung di depan Sari, bertumpu pada lututnya menghadap kearah Sari dan mencium perut yang sedang bergerak-gerak itu dengan tersenyum merekah.
Musa memang selalu berantusias jika calon anak yang berada dalam perut Sari sedang bergerak-gerak, selalu ingin menyentuhnya, mengajak bayi kecil dalam perut Sari itu untuk berinteraksi.
Sari juga merasa begitu damai ketika Musa tengah mengelus perut besarnya, berharap keluarga kecil ini akan terus harmonis hingga mereka tutup usia.
***
Sejak pertemuan dengan Linda dan Eli di kafe dua bulan yang lalu. Sari baru kembali bertemu dengan sahabat-sahabatnya lagi saat acara tujuh bulanan kehamilan Sari.
Bahkan Ayu juga datang bersama Dimas untuk menghadiri undangan Sari. Tujuh bulanan di selenggarakan dengan acara tadarus bersama, dan malam berlanjut dengan acara pembacaan maulid yang diiringi grup hadroh yang sengaja Musa undang dari Solo.
Umi dan Abi juga sudah menginap di rumah mereka sejak kemarin, begitu juga mama dan papa, mereka sudah datang sejak kemarin, tapi malam pulang ke rumah kakek Atmo dan tidur di sana.
Semakin hari perut Sari semakin membesar, apalagi di trimester ketiga ini nafsu makan Sari benar-benar semakin meningkat.
Sari mulai mengikuti kelas ibu hamil setelah usia kandungannya 7 bulan, awalnya Sari ingin ikut kelas ibu hamil sejak trimester pertama, tapi kesibukannya dan pesan dokter Agus agar tidak terlalu kecapekan di awal kehamilan, Sari memutuskan untuk mulai mengikuti kelas ibu hamil setelah usia kandungannya 7 bulan.
Dan Sari selalu hadir bersama ditemani Musa setiap kali mengikuti kelas ibu hamil.
Banyak ibu hamil lainnya merasa kagum sekaligus iri dengan pasangan Sari dan Musa yang terlihat begitu serasi, mereka berdua adalah pasangan yang begitu harmonis, dengan calon ibu yang begitu cantik dan seorang dokter, serta calon ayah yang begitu tampan dan seorang dosen.
__ADS_1
Sungguh suatu berkah dan keberuntungan, selama ini kehidupan rumah tangga mereka hanya sesekali mendapatkan masalah. Dan itu bisa dengan cepat di selesaikan.