Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Ritual Panjang


__ADS_3

Sari sudah mengambil cuti 2 hari sebelum acara akad, karena harus mengikuti ritual adat Jawa sesuai keinginan Kakek Atmo. Sari kembali tinggal di rumah kakek Atmo. Mama dan papanya juga sudah berada di sana sejak seminggu yang lalu.


Linda, Nina dan Eli, juga datang untuk menemani Sari menjalani serangkaian ritual.


Ritual dan prosesi pernikahan adat Jawa memang dibilang panjang, namun bukan tanpa arti. Setiap prosesi memiliki arti dan makna yang mendalam.


Sebelum hari pernikahan, ada prosesi hajatan yang terlebih dahulu dilangsungkan. Dengan menjalani prosesi hajatan ini, diharapkan keluarga besar dan calon pengantin dijauhkan dari berbagai rintangan dan seluruh acara dapat berjalan dengan lancar.


Hari itu di depan rumah kakek Atmo dipasang tratag dan tarub, dalam pernikahan adat Jawa yang dilakukan adalah memasang dekorasi tenda yang disebut tratag dan hiasan dari janur atau daun kelapa muda yang disebut tarub.


Kedua hiasan ini dipasang pada pintu masuk dan menjadi pertanda bahwa di rumah kakek Atmo sedang mengadakan acara hajatan mantu. Selain itu juga di pasang janur kuning melengkung di depan rumah kakek Atmo.


Hari ini akan dilakukan prosesi siraman, yaitu acara memandikan calon pengantin, yang akan di lakukan oleh tujuh orang. Karena papanya Sari adalah anak tunggal, maka yang melakukan prosesi siraman dari keluarga mamanya Sari, ada Bude, Pakde, paman , Kakek Atmo. Bi Nunung juga kebagian untuk melakukan siraman karena Sari yang memintanya, kemudian Mama dan terakhir papanya Sari.


Ritual siraman ini menyimbolkan pembersihan diri sebelum masuk ke ritual yang lebih sakral. Papanya Sari, Triono... yang melakukan siraman terakhir. Kemudian dilanjutkan dengan menggendong Sari menuju kamar pengantin.


Esok harinya, tamu-tamu sudah mulai berdatangan, tamu undangan Kakek Atmo dari kenalan-kenalan dan juga tetangga sekitar, banyak juga tamu undangan Sari, mulai dari teman SMA, teman kuliah, rekan seprofesi, sanak saudara dekat dan juga teman-teman Sari.


Rizal juga datang bersama Agung dan Cahyo, Sari tentu saja menemuinya, rasa canggung tetap ada meski sebelumnya mereka berdua sepakat untuk bisa bersikap seperti dulu, layaknya teman.


Sari hanya menyapa Rizal dan yang lain, mengucapkan terimakasih karena sudah menghadiri undangannya, kemudian menyuruh mereka bertiga untuk menikmati hidangan yang tersedia.


Namun bisa terlihat dengan sangat jelas di wajah Rizal jika dia tidak bahagia, ada mendung yang menggelayut di wajah Rizal, usahanya untuk terlihat bahagia dan memaksakan bibirnya untuk menyunggingkan senyum justru membuat ekspresinya terlihat seperti 'Joker'.


Akhirnya Sari memilih untuk menemui tamu yang lain dan menyuruh Dimas untuk menemani teman-temannya itu.


Dimas keluar dari dalam rumah dan menemui Cahyo, Agung dan Rizal, Dimas menyuruh Cahyo dan Agung untuk bisa hadir di acara resepsi Sari besok. Tapi tidak meminta Rizal untuk hadir juga, Dimas sedikit banyak sudah dengar tentang Rizal dari Agung, dan Dimas tentu saja tidak mau acara besok menjadi terasa canggung dengan menyuruh Rizal untuk hadir.


" Kalian besok kesini lagi ya, nemenin aku", ujar Dimas.


" Bukannya Ayu bakalan datang besok?", Agung yang tahu jika Dimas sudah punya kekasih bernama Ayu, salah satu mahasiswi magang di perusahaan tempat Dimas bekerja.


" Nanti malah kita yang di cuekin ya Yo?", ujar Agung pada Cahyo.


" Ya kalian ajak cewe kalian juga lah, siapa tahu jadi nular, habis Sari nikah giliran kalian yang akan nyusul", gumam Dimas.


" Belum siap kita bro.., kamu sih enak yang mama papanya banyak cuan, lah kita-kita harus berusaha keras dulu buat nyari modal kawin", Cahyo memang selalu gacor setiap kali ngomong.


Mereka bertiga terus ngobrol dengan asyik, sedangkan Rizal hanya diam mendengarkan obrolan mereka tanpa berusaha untuk ikut ngobrol. Tapi matanya terus menatap kearah manapun Sari pergi, Sari yang menggunakan gamis burkat berwarna soft pink, terlihat sangat cantik, apalagi Sari sudah melakukan prosesi siraman, membuat wajahnya terlihat lebih bercahaya dari biasanya. Benar-benar cantik dan anggun.


Namun diamnya Rizal dengan terus menatap ke arah Sari, membuat Eli yang tengah menemani tamu-tamunya Sari yaitu rekan kerja dari rumah sakit merasa kasihan sekaligus cemburu. Eli mendekat ke tempat duduk Rizal dan menyapanya.

__ADS_1


" Hai Zal...kamu sudah makan?", tanya Eli berbasa-basi sambil duduk di kursi kosong sebelah Rizal.


Rizal hanya mengangguk malas. Karena kegiatannya melihat kecantikan Sari diganggu. Sedangkan Cahyo dan Agung langsung protes pada Eli.


" Yaelah...yang di tanya cuma Rizal doang, kamu nggak nganggep kita lagi disini juga El?, yang mentang-mentang sekarang sudah pada jadi dokter muda, sudah nggak level nih ngobrol sama kita?", sindir Cahyo.


Rizal menggelengkan kepalanya, " Nggak ada yang seperti itu kok, mungkin karena Eli sudah lama juga nggak ketemu dan ngobrol sama kalian, sedangkan sama aku satu tempat kerja, jadi lebih enak diajak ngobrol, kalian juga dari tadi ngobrol tentang sesuatu yang tidak aku mengerti, tapi aku baik-baik saja", gumam Rizal.


Tentu saja baik-baik saja sejak tadi lagi terpesona lihatin Sari yang semakin cantik.


Kata-kata Rizal memang benar, dari tadi mereka mengobrol dan bercanda tentang hal yang tidak diketahui Rizal sedikitpun.


" Sory ya Zal, kalau kamu tadi ngerasa kita cuekin. Gara-gara kamu sih Dim, pake nyuruh kita kesini besok, kita berdua nggak janji ya Yo?", Agung menepuk paha Cahyo.


" Iya, lagian kalau kamu besok ijin, dan kita semua juga ijin dari kantor, bisa-bisa kantor bakal kewalahan. Tenang Dim, mungkin pulang kerja kita sempetin mampir kesini", jawab Cahyo mencari alasan menolak datang ke acara akad Sari, karena sebenarnya merasa tidak enak pada Rizal.


Tak berselang lama akhirnya Rizal, Cahyo dan Agung akhirnya berpamitan


Malam harinya sebelum hari pernikahan masih harus ada satu ritual yang harus dilakukan, yaitu midodareni.


Kata midodareni sendiri berasal dari kata ‘widodari’ yang dalam bahasa Jawa berarti bidadari. Yang diharapkan dari ritual ini adalah Sari akan secantik bidadari dari surga saat hari pernikahannya esok.


Pada malam ini pula, dengan mengenakan busana Jawa lengkap keluarga Musa mengunjungi rumah Sari untuk memberi seserahan yaitu kebutuhan Sari, seperti pakaian, alas kaki, kosmetik, buah-buahan, makanan, dan masih banyak lagi.


Namun hanya keluarga saja yang datang, sedangkan calon pengantin tidak ikut, karena malam ini kedua calon pengantin di larang untuk bertemu.


Di dalam kamar pengantin.


" Makasih ya El, kamu yang selalu nemenin aku dari awal, semoga kamu juga cepet ketemu sama jodoh kamu". Sari melihat bagaimana sikap Eli pada Rizal tadi, namun belum ingin menanyakan atau membahasnya, Sari ingin Eli yang berterus terang dan bercerita pada Sari tentang perasaannya.


Saat Sari tengah ngobrol dengan Eli, pintu kamarnya diketuk dari luar.


Eli membukakan pintu dan terlihat dua gadis cantik sepantaran Sari, yang satu menggunakan dress warna biru muda selutut dan satunya menggunakan atasan kemeja non formal dengan bawahan celana jeans hitam. Kedua gadis itu langsung berteriak ketika melihat Sari.


" Sari....!!!"


Sari langsung menengok dan melihat kedua sahabat kecilnya, Kristin dan Nayla yang berlari dan menghambur memeluk Sari bersamaan.


" Nayla, Kristin, kalian sampai ke sini, padahal aku sengaja cuma ngundang kalian di acara pesta di Malang minggu depan, tapi kalian malah datang kesini, terimakasih!", Sari merasa sangat terharu melihat kedatangan kedua sahabatnya itu.


" Kamu itu, tega banget, kita berdua kan juga pengen lihat kamu pas acara akad, bukan pas pestanya saja", Kristin langsung merajuk.

__ADS_1


" Iya, cuma sekali seumur hidup, makanya aku bela-belain terbang dari Singapura langsung ke Jogja dan nunggu Kristin di bandara, terus langsung kesini deh", terang Nayla, yang ternyata sekarang tengah kuliah S2 di Singapura.


Sedangkan Kristin harus bekerja di perusahaan orang tuanya yang di Sidoarjo, meneruskan usaha kedua orangtuanya.


Sari bersyukur karena kedua sahabat yang berbeda keyakinan dengannya justru benar-benar menjadi seperti saudara.


" Ayo kalian makan dulu, kalian pasti capek dan belum makan, biar temenku Eli yang antar kalian ambil makan di depan", Sari melepaskan pelukannya dan menyuruh Nayla dan Kristin untuk makan malam.


Semuanya trasa lengkap sudah, karena sahabat Sari berkumpul malam ini. Sari sangat bersyukur karena memiliki sahabat dan teman yang tulus kepadanya.


" Gimana, sudah ketemu sama Sari?", tanya Esti.


" Sudah Ma, sama Sari disuruh makan dulu", jawab Nayla sambil meringis.


" Oh iya, di nikmati ya makan seadanya, Tante tinggal dulu masih ada keluarga besan di depan", ujar Esti yang meninggalkan Nayla dan Kristin di meja paresmanan.


Usai makan malam Kristin dan Nayla kembali ke kamar Sari.


" Kenalin ini Eli, dia sahabatku disini",


Sari memperkenalkan Eli pada Nayla dan Kristin, mereka saling mengucapkan nama dan bersalaman.


" Calon suami kamu apa beneran yang dulu sering kamu ceritain ke kita berdua?, ustadz idola kamu yang jadi guru di SMA mu?", tanya Nayla penasaran.


Eli langsung menatap ke arah Sari meminta penjelasan, kenapa Sari justru cerita ke teman-temannya yang berada jauh, sedangkan pada Eli sendiri tidak cerita.


" Eh...iya, aduh sorry El... aku jelasin dari mana ini", Sari bingung sendiri mau memberi penjelasan pada Eli dari mana.


Nayla dan Kristin saling menatap bingung. Nayla yang bertanya tapi justru Sari menatap Eli dan meminta maaf.


Akhirnya Sari menceritakan dari awal saat pertemuannya dengan Musa di kelas, Sari juga jujur bercerita belum bisa baca Alquran, Eli hampir tidak percaya dengan pengakuan Sari.


Kemudian kebetulan yang mempertemukan mereka kembali, karena ternyata ustadz yang mengajari Sari adalah Musa, dan kebetulan-kebetulan lain yang membuat Sari dan Musa semakin dekat.


Hingga pada suatu hari, setelah dua tahun lamanya berpisah dengan Musa, tiba-tiba Musa datang ke rumah bersama keluarganya dan mengajak Sari menikah.


Eli, Nayla dan Kristin terdiam sambil mendengarkan kisah Sari dan Musa, laki-laki yang dulu Sari juluki sebagai 'Ustadz idolaku'.


Sampai malam semakin larut, Sari dan ketiga sahabatnya terus asyik bercerita, hingga Mama Esti menggedor kamar agar mereka tidur, karena besok acara akad akan di laksanakan pagi-pagi sekali.


Terpaksa, obrolan mereka harus di putus dan mereka berempat tidur di kasur yang sama malam itu.

__ADS_1


__ADS_2