Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Lembaran Baru


__ADS_3

" Maaf ya kek, kita pamit pulang, soalnya nggak bawa peralatan mandi untuk Rasyid. Besok-besok pasti main ke sini lagi".


Sari berpamitan, meraih tangan kakeknya dan mencium punggung tangan Kakek Atmo.


" Mama dan papa tadi mengabari, mereka sedang bersiap-siap untuk kemari, pasti besok mama dan papa sudah sampai disini, untuk persiapan pernikahan kak Dimas".


" Jadi pasti kami juga akan ke sini lagi besok-besok".


Sari masuk ke dalam mobil bersama Bi Nunung yang menggendong Rasyid. Musa sudah lebih dulu berada di dalam mobil duduk di bangku setir, sedangkan Sari duduk di samping Musa .


Keluar dari pintu gerbang rumah kakek, jalanan terlihat ramai dengan hilir mudik kendaraan yang melintas. Cuaca siang itu sangat panas, karena sudah memasuki musim kemarau.


" Gimana tadi di rumah paman Irsyad, apa saja yang di bicarakan di sana Mas?".


Sari menatap Musa yang sedang menatap lurus kedepan fokus pada jalanan.


" Nggak bahas banyak, cuma mendengarkan Paman irsyad menceritakan tentang kecelakaan calon besannya".


" Separah apa lukanya, dan berapa lama di rawat di rumah sakit".


" Mas dan kakek Atmo hanya mencoba menjadi pendengar yang baik saja tadi".


Sari mengangguk, memang suaminya selalu bersikap seperti itu, begitu bijaksana dan tidak berusaha menjadi seseorang yang vokal, lebih banyak mencoba untuk lebih pengertian pada lawan bicara.


Sepanjang perjalanan Rasyid begitu anteng, dan saat sampai di rumah mereka, ternyata Rasyid sudah tertidur di gendongan bi Nunung.


" Wah ternyata putra bunda malah bobo, padahal rencananya mau mandi dulu, kalau begitu mandinya nanti saja pas bangun tidur".


Rasyid pun di letakkan di box bayi yang berada di dalam kamar.


" Karena Rasyid masih tidur, bagaimana kalau...", Sari langsung menutup mulut Musa dengan jari telunjuknya.


" Oke-oke, Sari ngerti apa mau Mas, olahraga sore, di atas ranjang kan?".


"Sari nyalakan AC dulu, biar nggak kepanasan saat melakukan olahraga nanti ".


Musa langsung terkekeh, karena sekarang Sari sudah tidak malu-malu lagi, bahkan lebih pengertian, karena hanya dengan memberi kode saja, Sari sudah tau apa yang Musa mau.


***


5 hari berlalu, semenjak terakhir Sari ke rumah kakek Atmo. Akhirnya sampai pada hari yang dinanti, yaitu hari pernikahan kak Dimas dengan Linda.


Hari ini juga 3 hari terakhir masa cuti Sari, karena hari Senin besok Sari sudah harus mulai berangkat ke rumah sakit.


Semua keluarga sudah mengenakan pakaian seragam yang baru selesai dibuat kemarin. Untung saja semua baju bisa selesai dengan cepat. Pembuatan seragam dengan waktu yang sangat mepet, membuat designer yang membuat pakaian itu merasa kocar-kacir dalam membagi waktu.


Acara akad diadakan di masjid komplek rumah Linda, sedangkan untuk resepsi berlanjut dua jam setelahnya di kediaman kedua orang tua Linda.


Pagi hari, Sari beserta rombongan keluarga besar sudah bersiap untuk berangkat ke tempat diadakannya akad.


Kak Dimas sudah terlebih dahulu berangkat bersama Cahyo dan Agung ke rumah Linda, guna untuk melakukan persiapan sebelum akad.


Rombongan keluarga Sari berangkat dari rumah kakek Atmo sekitar pukul 8 pagi, dan 20 menit kemudian sudah sampai di pelataran masjid tempat diadakannya acara akad.


Pagi itu suasana begitu ramai, saat rombongan keluarga Sari sampai langsung disambut dengan alunan lagu kasidah dari grup kasidah remaja komplek. Yang berbaris rapi di serambi masjid menyambut kedatangan rombongan keluarga calon mempelai pria .


Ya Nabi Salam 'Alaika

__ADS_1


Ya Rasul Salam 'Alaika


Ya Habib Salam 'Alaika


Anta Syamsun Anta Badrun


Anta Nuurun Fauqo Nuuri


Anta Iksiru Wagholi…


Anta Misbahus Shuduri


Ya Nabi Salam 'Alaika


Ya Rasul Salam 'Alaika


Ya Habib Salam 'Alaika


Ya Habibi Ya Muhammad


Ya 'Arusal Khofiqoini


Ya Muayyad Ya Mumajaad


Ya Imamal Qiblataini


Ya Nabi Salam 'Alaika


Ya Rasul Salam 'Alaika


Ya Habib Salam 'Alaika


Mama dan Papa berjalan di barisan paling depan bersama kakek Atmo, Musa dan Mas Soleh si belakang mereka. Sari mengikuti di belakangnya lagi bersama para tetangga yang membawakan seserahan pernikahan.


Namun Sari sengaja memisahkan diri dari rombongan menuju ruangan yang berada di belakang Masjid, ruang itu biasanya digunakan untuk istirahat marbot masjid, dan kali itu digunakan untuk tempat calon pengantin menunggu acara di mulai.


" Sar !, sini..!., akhirnya kamu datang juga, aku sudah merasa grogi banget".


Dimas menarik Sari yang baru saja sampai.


Sari mengambil botol dari tas yang dibawanya, kemudian memberikan minuman isotonik yang sengaja di bawanya untuk Dimas dari rumah.


Sari paling tahu bagaimana Dimas jika sedang merasa tegang, pasti akan terlihat pucat dan keringat dingin mengucur. Itu juga yang terjadi saat ini, meski sudah berusaha untuk tenang, justru kedua sahabatnya, Cahyo dan Agung terus menggodanya dan menakut-nakuti.


" Kalian ini sahabat macam apa sih, bukannya bikin kak Dimas tenang, malah bikin tegang". Sari melotot ke arah Cahyo dan Agung, yang langsung cengengesan saat Sari menceramahi mereka, namun karena tingkah mereka itu, Dimas jadi lebih rileks dan bisa tersenyum.


" Linda dimana?, aku mau minta dia nyium Rasyid, biar nggak rewel". Kepercayaan di daerah mereka memang jika membawa bayi menghadiri acara pernikahan, harus di cium oleh si pengantin. Agar bayi tidak rewel.


" Masuk saja, Linda di dalam sama Eli dan Nina".


Sari langsung mengangguk dan masuk ke dalam ruangan, tapi tidak disangkanya, ternyata di dalam bukan hanya mereka bertiga, ada Nilam adiknya Linda dan juga beberapa teman kerja Linda, membuat kamar terasa begitu panas karena kebanyakan kapasitas di dalamnya.


" Eh... Sar, sudah pada dateng rombongan keluarga kamu?", Eli langsung berdiri ketika melihat Sari masuk.


Sari mengangguk, " sudah, tinggal nunggu penghulu datang, paling sebentar lagi".


Linda juga langsung berdiri dan mencium Rasyid tanpa diminta, karena memang seperti itu kebiasaan di daerah mereka.

__ADS_1


" Ponakan aunty yang anteng ya, aduh bajunya lucu banget, samaan sama bundanya". Linda langsung gemes dan mencium Rasyid berulangkali.


" Aduh cin.... jangan begindang..., nanti bisa rusak makeup eke", Mba Fia yang menjadi MUA di pernikahan Linda langsung protes.


" Mba Fia yah, maaf nih bikin make up Linda jadi berantakan?", Sari langsung memperhatikan mba Fia yang bergerak cepat memperbaiki riasan Linda.


" Yes ini eike, gimana rasanya yang sudah jadi mommy ?. Pasti happy kan?".


Mba Fia memang masih kerabat dengan mas Bayu fotografer, jadi tahu tentang Sari dari istri Bayu, teman SMA Sari dan Linda.


" Happy pake banget pastinya".


" Ya sudah aku keluar dulu ya, disini terlalu panas, kasihan Rasyid".


Sari keluar dari ruangan itu, Dimas dan yang lain sudah tidak berada di tempat yang tadi mereka duduki, akhirnya Sari berjalan menuju serambi masjid karena pengumuman dari pengeras suara masjid menyatakan jika penghulu sudah hadir.


Di serambi Sari duduk mencari tempat yang sedikit lapang, dan melepas emban agar Rasyid bisa bergerak dengan bebas.


" Benar-benar duplikat dari Pak Musa", suara yang sangat familiar itu membuat Sari langsung menengok ke asal suara.


" Rizal !", Sari tak menyadari jika di sebelahnya, hanya berjarak beberapa ubin dari tempat Sari, ada Rizal yang duduk sendirian di sana. Di samping Rizal ada para kerabat dari keluarga Linda, karena mengenakan baju yang senada dengan warna baju Sari.


" Putramu sangat sehat, badannya gembul, pasti karena asupan makanan yang kamu berikan sangat bergizi, bukan hanya putramu, tapi suamimu juga terlihat lebih berisi sekarang".


Rizal menatap ke arah Musa yang terlihat dari jendela, tengah duduk di dalam masjid, berada di barisan depan dari para tamu undangan yang hadir. Karena Musa lah yang di tugaskan untuk mengisi tausiyah nanti, usai ijab qobul dilaksanakan.


" Apa kabarmu Zal?, aku dengar...kamu... Eli...".


Sari bingung harus mengatakan apa, entah pantas atau tidak dia menanyakan tentang hubungan seseorang yang dulu telah ia sakiti hatinya.


Untung saja Rizal maksud dengan kalimat Sari.


" Iya, aku bersamanya, membuka lembaran baru, dan belajar membuka hati untuk seseorang yang benar-benar mencintai".


Sari hanya bisa menelan salivanya mendengar kalimat Rizal.


Dan Sari hanya bisa bungkam ketika melihat Eli melewati mereka sambil menatap ke arah Sari dan Rizal secara bergantian, Eli berjalan masuk menuju ke dalam masjid mengantar Linda untuk duduk disebelah Dimas, karena acara ijab kabul akan segera dimulai.


Sari melihat-lihat ke sekitar, sekiranya ada tempat yang bisa ditempatinya, tapi semua penuh dengan tamu undangan lainnya.


Duduk di samping Rizal membuat Sari merasa kurang nyaman, takut Eli akan salah sangka dan sakit hati melihat kebersamaan mereka.


Akhirnya Sari menggendong Rasyid kembali dengan embannya.


" Mau kemana?, apa tidak nyaman duduk di sebelahku?", Rizal menatap ke arah Sari yang sudah berdiri.


Sari langsung menggelengkan kepalanya,


" Oh... tidak, bukan begitu, hanya saja kalau duduk terlalu lama, biasanya Rasyid akan rewel, takut jadi berisik dan mengganggu acara. Jadi mau jalan-jalan cari angin, biar nggak rewel".


Sari langsung berjalan cepat keluar dari serambi masjid.


Saat itu juga terdengar suara para tamu undangan yang mengatakan secara serempak.


" SAH...SAH....SAH...!"


" Alhamdulillah hirobbil'alamin".

__ADS_1


__ADS_2