
Yang Terdalam
Diambil dari sebuah judul lagu
***
Esok harinya Sari memenuhi janjinya menemui Rizal saat istirahat. Semalam Sari sudah memikirkan apa yang akan di katakan pada Rizal nanti.
Namun saat Sari menghampiri Rizal ke ruangannya, justru Rizal tidak ada di ruangannya, saat Sari bertanya kepada perawat yang berjaga, perawat mengatakan jika sejak satu jam yang lalu Rizal menemani Dokter Syamsul melakukan operasi pada korban kecelakaan di ICU.
Akhirnya Sari berjalan menuju ICU, berharap tindakan operasi yang sedang Rizal lakukan akan segera selesai, karena sudah sejak satu jam yang lalu operasi itu dilakukan.
Di dalam ICU suasana sangat sepi, hanya bunyi dari mesin Bedside monitor ( alat yang digunakan untuk memonitor vital sign pasien, berupa detak jantung, nadi, tekanan darah, temperatur bentuk pulsa jantung secara terus menerus) yang terdengar.
Beberapa pasien yang berada di ICU tengah memejamkan mata, mungkin tidur siang. Ada juga yang tengah memegang tasbih, mungkin sedang berdzikir. Dan satu pasien dengan perban di kaki, tangan dan kepala, mungkin dia yang tadi habis di operasi.
Sari keluar dari ICU karena keadaan di dalam sangat sepi, namun saat Sari melewati ruang khusus dokter/ petugas di samping IGD, Sari melihat ada seorang laki-laki mirip Rizal, mengenakan jas dokter berada di dalam ruangan, karena tidak mau mengulur waktu ingin menyelesaikan kesalah pahaman dengan Rizal, akhirnya Sari masuk ke ruangan itu, berharap memang Rizal yang berada di dalamnya.
Dan benar, memang Rizal yang sedang ada di dalam ruang itu sendirian, lalu dimana dokter Syamsul, dokter spesialis bedah yang melakukan tindakan operasi bersamanya?, entahlah.
" Zal ", Sari sengaja memanggil, agar Rizal yang tengah sibuk membaca kertas hasil laporan laboratorium menyadari kedatangannya.
Rizal langsung menatap ke arah Sari, dan meletakkan kertas yang dibacanya di atas meja.
" Kamu sudah istirahat?, seharusnya kamu kabari aku saja, biar aku yang datang ke ruanganmu, jadi kamu nggak repot-repot datang kesini", Rizal berdiri dan berjalan ke arah Sari.
" Hari ini aku dapat jatah bantuin dokter Syamsul, lalu tadi ada pasien kecelakaan, jadi harus ke ICU buat nanganin, Kamu mau kita ngobrol dimana?".
Sari hanya mengangkat bahunya, belum punya ide, karena setahu Sari mereka akan ngobrol di ruangan Rizal.
" Kamu sudah makan?", tanya Rizal sambil menatap Sari dengan lekat.
Sari menggelengkan kepalanya.
" Kita ngobrol sambil makan saja ya, mumpung sudah tidak ada pasien yang harus di tangani". Rizal keluar dari ruangan dan berjalan menuju ke parkiran. Sebelumnya berpamitan terlebih dahulu pada dokter jaga di IGD akan keluar untuk makan. Eli yang sedang bertugas membantu dokter jaga di IGD, dan baru saja kembali dari kantin membeli minuman dingin dan cemilan yang tujuannya untuk Rizal , hanya bisa menatap punggung Sari dan Rizal yang keluar dari ruang IGD.
" Mereka mau kemana Dok?", tanya Eli pada dokter Niken.
" Mereka mau makan siang katanya, kamu sih kelamaan keluarnya, kalau tadi disini pasti ikut pergi sama mereka, atau kamu mau ngejar mereka berdua? ", Dokter Niken memang tahu jika Rizal dan Sari adalah teman Eli.
__ADS_1
Eli hanya menggelengkan kepalanya sambil tersenyum getir melihat Rizal pergi makan siang hanya berdua dengan Sari.
" Aku ini kenapa, semalam kan aku yang menyuruh mereka berdua untuk menyelesaikan kesalah pahaman mereka, sekarang mereka berdua sudah kembali bersikap seperti biasa, dan bisa pergi berdua, kenapa justru sekarang aku merasa sedih?", batin Eli.
***
Sari mengikuti Rizal naik kedalam mobilnya, lima menit mengendarai mobil, Rizal mengajak Sari masuk ke sebuah kafe.
Kafe dengan bangunan yang minimalis dan gaya kekinian, dengan karyawan yang masih muda-muda, dan kesan pertama masuk ke kafe itu adalah 'nyaman'. Karena di kafe terdengar alunan musik pop yang slow, tapi asyik.
...~~...
...Kulepas semua yang kuinginkan...
...Tak akan kuulangi...
...Maafkan jika kau kusayangi...
...Dan bila 'ku menanti...
...Pernahkah engkau coba mengerti?...
...Mungkinkah jika aku bermimpi?...
...Salahkah 'tuk menanti?...
...Takkan lelah aku menanti...
...Takkan hilang cintaku ini...
...Hingga saat kau tak kembali...
...'Kan kukenang di hati saja...
...Kau telah tinggalkan hati yang terdalam...
...Hingga tiada cinta yang tersisa di jiwa...
...~~~...
__ADS_1
Lagu dengan judul 'Yang terdalam' yang dipopulerkan oleh band Peterpan, era tahun 2000an, menjadi backsound di siang hari itu.
Rizal hanya bisa tersenyum getir mendengar lirik dari tiap bait lagu yang sedang di putar, seperti mewakili isi hatinya saat ini.
Rizal memesan 2 bubble tea dan 2 pancake durian pada pelayanan kafe.
" Masih suka sama pancake durian kan?, kamu yang membuat aku jadi doyan makan durian. Padahal dulu aku paling benci sama durian. Mencium baunya saja sudah membuatku merasa mual. Tapi saat aku tahu dari Eli kalau kamu pecinta durian. Aku berusaha keras untuk menyukai durian juga".
" Sampai ibuku pernah berkata padaku kalau suatu hari nanti, ibu dan ayah ingin bertemu dengan gadis yang sudah bisa merubah diriku sedemikian rupa, mereka berdua ingin menjadikan gadis itu sebagai pendamping hidupku, agar bisa merubah semua kebiasaan burukku, ibu dan ayah sudah berjanji akan melamarkan gadis itu untukku. Huft.... sayangnya, belum di lamar malah gadis itu sudah jadi istri orang", ucap Rizal sambil meringis.
Ucapan Rizal membuat Sari merasa kasihan padanya, " apa sebegitu besarkah rasa sayang yang Rizal berikan padaku?, bukankah aku jadi terlihat begitu jahat jika aku tetap membiarkannya terlarut dalam kesedihan terus menerus", pikir Sari.
" Zal, sejak dulu, aku menyayangimu sebagai seorang sahabat, aku hanya menganggap kamu seperti sahabat baikku, sama seperti rasa sayangku pada Eli, jika kamu patah hati dan terlarut di dalam kesedihan, sesungguhnya aku juga jadi merasa bersedih".
" Jadi aku mohon dengan sangat, lupakan aku, mungkin aku bukan gadis yang baik untukmu, karena itulah Yang Maha Kuasa tidak mempersatukan kita, aku yakin... di suatu tempat ada seseorang yang sudah ditakdirkan untuk mu, menjadi teman hidupmu kelak, dan gadis itu pasti adalah yang terbaik untuk menjadi pendamping hidupmu".
Sari mengeluarkan bros hijab motif love, motif bunga, motif anggur, dan motif kucing dari sakunya,semua bros itu pemberian dari Rizal.
" Ini semua pemberianmu, kau mau aku tetap menyimpannya, atau aku kembalikan?, mungkin nantinya kamu bisa memberikannya pada gadis yang lebih tepat. Maaf karena aku tidak pernah membalas semua pemberianmu selama ini".
Benar juga, Rizal baru sadar jika selama ini Sari hanya menerima pemberian darinya, dan tak pernah sekalipun memberikan sesuatu pada Rizal.
" Kamu pakai saja, jangan di kembalikan, aku ingin kamu memakai bros itu sehari-hari, biar tambah cantik melekat di jilbabmu. Itu aku beli khusus buat kamu, jikapun nantinya ada gadis lain dalam hidupku, aku akan membeli lagi yang baru"
" Aku juga tidak mau kamu ikut sedih karena kesedihan yang aku rasakan, karena itu mulai saat ini, aku akan berusaha bersyukur dan berbahagia, meski belum bisa langsung kembali seperti dulu, tapi aku akan berusaha bersikap sebagai temanmu".
Rizal berusaha tampak tenang dan tabah di hadapan Sari, agar Sari tidak membencinya dan tetap mau berteman dengannya. Seperti saran Eli semalam saat di mobilnya, dia yang mengajari Rizal bagaimana bersikap terhadap Sari agar Sari tidak berbalik membencinya.
Dan sepertinya saran yang Eli ucapkan semalam memang tepat, semua berjalan lancar dan sesuai dengan perkiraan, selanjutnya Rizal hanya harus bersikap se biasa mungkin.
***
Malam hari saat sampai di rumah, Sari menyampaikan semua yang dilakukannya siang tadi bersama Rizal, kepada Musa, Sari tidak mau ada salah paham antara mereka berdua.
Suasana di kafe tadi memang cukup ramai, siapa tahu ada kenalan Musa yang melihatnya dan melaporkan pada Musa , lebih baik Sari yang menceritakan langsung, dan ekspresi Musa begitu datar ketika Sari menceritakan semuanya.
" Lain kali ajak seseorang lagi biar tidak menimbulkan fitnah, jangan hanya berdua seperti itu, teman dan kenalan kamu di rumah sakit kan banyak. Jadi jangan di ulangi pergi berdua dengan laki-laki lain, mengerti?".
Sari hanya mengangguk-anggukkan kepalanya, dan dalam hatinya berjanji tidak akan mengulangi kejadian seperti tadi siang, pergi hanya berdua dengan laki-laki lain.
__ADS_1