Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Urusan kita belum selesai...


__ADS_3

Setelah 6 hari berisitirahat di rumah pasca opname, Sari kini sudah benar-benar pulih, dan mulai beraktifitas seperti biasa kembali.


Berangkat koas pagi-pagi sekali dan pulang sampai malam, bedanya sekarang Sari lebih memperhatikan kesehatannya, menjaga pola makan dan, menyempatkan tidur siang di rumah sakit meski hanya 30 menit, itu sudah cukup bagi Sari untuk meregangkan otot-otot tubuhnya.


Saat hari pertama berangkat setelah ijin sakit, malam harinya, saat Sari hendak pulang ke rumah, Sari di hadang Eli dan dua teman SMA nya, ada Nina dan Linda yang entah sejak kapan berada di rumah sakit.


" Sari, kamu tuh ya, bener-bener nggak bisa di percaya, bagaimana bisa kamu married tapi nggak bilang-bilang sama kita bertiga, jadi selama ini kamu tuh nganggep kita apa?", Linda langsung nyerocos ketika melihat sari keluar dari lorong rumah sakit.


Linda ngomel-ngomel sambil menarik Sari ke arah parkiran khusus kendaraan dokter dan karyawan rumah sakit.


Suasana malam hari di parkiran sangat sepi, hanya suara gemericik air mengalir dari sungai kecil yang terdapat di samping parkiran yang terdengar mendominasi suara malam itu. Langit gelap, bulan dan bintang pun tak menampakan diri.


Hanya beberapa perawat yang hendak pulang karena pergantian shift, yang melewati mereka untuk mengambil kendaraannya.


" Kamu semalam baca kan chat di grup alumnus?, kenapa kamu nggak komentar apapun semalam?", tanya Eli yang juga merasa kesal, karena Eli yang dianggap berteman paling dekat dengan Sari, dan dia jadi mendapat banyak pertanyaan dari teman-temannya yang lain, tapi Eli juga bingung harus jawab apa, karena eli juga baru tahu jika Sari telah menikah.


" Nih lihat, aku sampe matiin ponsel ku, membiarkan chat dari teman-teman masuk, tanpa membacanya", Eli menunjukkan layar ponselnya pada Sari,dengan begitu banyak chat dan panggilan masuk yang tidak di bacanya dan tidak di jawabannya.


" Aku kecewa banget sama kamu Sar, kita hampir tiap hari ketemu, dan kamu nggak pernah cerita tentang pernikahan kamu dengan Pak Musa sana aku..., bahkan sudah tiga tahun kalian menikah?", tatapan tajam Eli kali ini tidak bisa lagi Sari balas.


Sari menghembuskan nafasnya panjang. " Aku belum cerita karena kalian tahu sendiri aku baru menikah secara siri, kalian pasti aku undang saat di pernikahanku yang sesungguhnya, nanti... usai aku selesai koas, tinggal beberapa bulan lagi, ini aku juga sama Mas Musa baru mau menyiapkan rencana pesta pernikahan".


" Kalian ngerti kan bagaimana status pernikahan siri..., nggak ada surat-surat dan tidak di akui oleh negara. Karena itu aku tidak cerita sama siapapun, hanya keluargaku dan keluarga mas Musa yang tahu pernikahan kami, selain mereka, hanya Cahyo dan Agung teman kita yang tahu, karena mereka berdua sekarang jadi soulmate kakak ku dan sering banget nginep di rumah kakek".


" Tapi kalau kalian mau marah boleh banget, yang penting jangan lama-lama, sebentaran saja, karena aku nggak suka di diemin atau di benci sama teman-teman terbaikku", ujar Sari menjelaskan panjang lebar.


Linda, Nina dan Eli saling memandang.


Eli yang paling kena dampak di antara mereka bertiga yang akhirnya angkat bicara.


" Sar, apa kamu nggak mikirin perasaan Rizal selama ini?, dia itu terang-terangan deketin kamu, seharusnya kalau kamu sudah menikah, setidaknya kamu ngomong sama dia, kasih tahu dia status kamu yang sebenarnya, kasihan Rizal, saat ini dia lagi patah hati, kemarin dia nanya-nanya sama aku tentang pernikahan kamu. Aku sendiri baru tahu, jadi aku harus jawab apa?, cuma bisa menyemangatinya, keadaan nya kemarin sangat kacau. Hari ini aku belum bertemu dengan-nya lagi, mungkin sebentar lagi dia ke sini karena selesai jaga".


Dan benar saja, saat Eli baru selesai bicara, terlihat Rizal berjalan sendirian ke parkiran mobil.


Rizal sempat menatap ke arah mereka beberapa detik, namun kemudian membuang pandangan dan menuju mobilnya.


" See... dia bahkan nggak nyapa kita, sikapnya langsung berubah", gumam Nina.


" Ya iya lah, dia kan dulu yang dipuja-puja, idolanya cewek-cewek SMA negeri, siapa yang nggak naksir sama dia?, siapa yang nggak mau jalan sama dia?. Dan sekarang di pasti begitu malu ketika yang dia gadang-gadang jadi pendamping hidupnya, justru ternyata diam-diam sudah jadi istri orang lain, dan orang lain itu adalah gurunya sendiri saat SMA", Linda nyerocos begitu 'julit'.


" Mungkin memang aku harus ngomong sama dia, minta maaf karena membuatnya merasa di permalukan. Tapi apa salahku?, aku sama dia juga memang nggak pernah ada hubungan spesial, sama seperti aku dengan Agung, dengan Eko, Cahyo dan juga teman sekolah yang lain kalau aku terlihat dekat dengannya, karena kita dulu sekelas, lanjut kuliah di fakultas yang sama"


" Bukankah kalau dilihat-lihat seharusnya kamu El, yang di kabarkan menjalin hubungan dengan Rizal, sekarang kamu lebih dekat dengannya, kalian berdua kemana-mana bersama, pulang koas bersama, ngerjain tugas bersama, lah aku?, kapan aku pergi sama dia, atau jalan sama dia?, nggak pernah". Sari mencoba membela diri, karena dia juga merasa sangat risih terus disalahkan.


Terlihat Rizal melajukan mobilnya melewati mereka, namun tiba-tiba mengerem mobilnya.

__ADS_1


" El, mau pulang bareng nggak?", Teriak Rizal yang sepersekian detik melirik ke arah Sari yang juga sedang melihat kearahnya.


" Iya aku nebeng, tunggu sebentar !".


Tapi justru Eli meraih tangan Sari.


" Kalian berdua tetap disini ya, ayo Sar...kamu harus ngobrol sama Rizal sekarang juga, biar nggak ada kesalahpahaman lagi, aku yang pusing berada diantara kalian", Eli menarik tangan Sari dengan paksa menuju mobil Rizal.


" Loh kok gini, nggak bisa sekarang El, aku belum tahu mau ngomong apa, kalau aku salah ngomong gimana?, lagian kan tadi kamu yang dipanggil, bukan aku"


Sari sedikit menarik tangannya, melakukan penolakan, karena sedari tadi belum kepikiran mau ngomong apa, mendadak jantungnya jadi berdebar-debar, karena takut akan salah ngomong, dan justru menambah sakit hati Rizal.


" Sari masuk, kalian harus ngobrol berdua, sekarang juga, aku nggak mau kalian terus canggung setiap kali ketemu", Eli mendorong Sari masuk ke dalam mobil Rizal dan menutup pintu mobil dari luar. Kemudian dia sendiri pergi menghampiri Linda dan Nina, memberi waktu Sari dan Rizal ngobrol berdua saja.


Namun setelah duduk bersebelahan di dalam mobil Rizal, hingga beberapa menit mereka berdua sama-sama terdiam, tak ada yang mengeluarkan suara dengan pandangan mata keduanya jauh ke depan, tidak berniat untuk saling menatap karena takut salah.


" Aku...", suara Sari terpotong ketika melihat Musa berjalan di sekitar parkiran menuju ke dalam rumah sakit.


" Kenapa Mas Musa ada disini?, aku kan sudah bilang mau pulang naik taksi online", Mata Sari menangkap sosok Musa yang tengah berjalan masuk ke dalam gedung rumah sakit.


" Tetaplah di dalam, jangan keluar ! . Atau suamimu akan berpikir macam-macam jika melihat kamu berdua denganku disini", Rizal mematikan lampu dan juga mesin mobilnya, " tetap duduk disini sampai dia masuk ke dalam".


Sari hanya menurut saja perintah Rizal, karena tidak mau Musa salah sangka karena melihat Sari hanya berdua dengan Rizal di dalam mobil malam-malam begini.


Dalam kegelapan di mobil Rizal, Sari berusaha membuka pintu dan turun dari mobil ketika Musa sudah terlihat belok dan masuk ke lorong rumah sakit. Namun tiba-tiba Rizal menahan tangannya. " Tunggu!", ucap Rizal.


" Aku mencintaimu, kamu tahu itu kan?, meski tidak aku ucapkan secara lisan selama ini, semua perlakuan dan sikapku sama kamu, bisa kamu pahami kan?", Rizal menggeser posisi duduknya menghadap Sari.


Sari memang tahu sikap Rizal begitu mengistimewakannya selama ini, tapi Sari selalu menganggap itu karena Rizal teman dekatnya, tidak lebih dari itu, Rizal tidak pernah menyatakan secara langsung pada Sari, tentang perasaannya selama ini.


" Aku minta maaf jika menyakiti hatimu. Tapi maaf, aku sudah menjadi istri orang, aku harap kamu bisa menghapus perasaanmu terhadapku, dan memberikan hatimu pada gadis lain yang lebih tepat", ucap Sari sambil kembali mencoba membuka pintu mobil, namun ternyata Rizal menguncinya.


Ponsel Sari berdering, ada panggilan masuk dari Musa, Sari semakin bingung, namun akhirnya mengangkatnya.


" Assalamualaikum Mas"


".............."


" Iya, Sari sudah keluar, Sari di parkiran, tadi ketemu Eli dan teman-teman yang lain, Mas parkir dimana?, nanti Sari ke sana"


"............"


" Baik Mas, sebentar lagi Sari ke mobil".


Sari memasukkan kembali ponselnya ke dalam tas setelah obrolannya dengan Musa selesai.

__ADS_1


" Pintu akan aku buka jika urusan kita sudah selesai", Rizal begitu egois, tentu saja Sari sangat khawatir, sebentar lagi pasti Musa kembali keluar karena Sari sudah tidak ada di ruang dokter, dan mengatakan sedang di parkiran bersama Eli dan yang lain.


" Besok...., aku janji kita ngobrol lagi besok, aku temui kamu saat dapat jatah istirahat, please", Sari memohon pada Rizal yang akhirnya mau membukakan pintu mobil.


" Besok aku tunggu di ruangan ku, urusan kita belum selesai",Rizal membuka kunci mobil dan Sari buru-buru keluar dari mobil Rizal.


Sari berjalan cepat menuju Eli dan yang lain,


" Sory aku balik dulu, sudah di jemput di parkiran depan", tapi justru ketiga temannya mengejar Sari, dan ikut berjalan ke parkiran luar, ingin melihat siapa yang menjemput Sari.


Jeng...jeng....


Terlihat Pak Musa mengenakan kaos berkerah warna abu muda, dengan dada bidang, otot kekar dan wajah tampannya sedang berdiri di depan mobilnya.


" Pak guru!", teriak Linda yang langsung mendekat ke arah Musa mendahului Sari.


Musa menundukkan kepalanya menyapa ketiga teman Sari.


" Jadi benar Pak guru dan Sari sudah menikah?", tanya Linda tanpa basa-basi, dan tak tahu malu .


" Benar, tapi belum di resmikan, tahun depan rencananya, nunggu Sari selesai koas", jawab Musa, sambil membukakan pintu depan untuk Sari. " Maaf kami pulang dulu, sudah malam, Sari butuh istirahat karena baru pulih dari sakitnya", Musa berjalan memutar lewat depan mobil dan masuk ke dalam mobilnya.


Din...din....


Dua kali Musa memencet klakson mobilnya sebagai sikap sopan santun, baru kemudian melajukan mobil membelah jalan raya.


" Aku juga mungkin akan ninggalin Rizal kalau yang mengajakku menikah seperti Pak Musa", gumam Nina yang masih menatap mobil Musa yang melaju menembus kegelapan malam.


" Sama, aku juga", sambung Linda yang paling terpesona melihat Musa tadi.


" Hey kalian berdua, itu suami sahabat kalian sendiri, apa kalian mau jadi pelakor?", Eli langsung menyadarkan lamunan kedua sahabatnya.


" Ih...kamu itu membuyarkan hayalan kita saja ya Lin", Nina manyun.


" Siapa yang mau jadi pelakor?, mana mau Pak Musa sama aku atau Nina, kalau istrinya macam Sari, yang ada bisa jadi kita malu di tolak mentah-mentah sama Pak Musa", Linda merangkul Nina mengajaknya pulang, mumpung sudah ada di parkiran dan dekat dengan posisi mobilnya.


" Kamu bareng kita apa mau pulang sama Rizal El?", tanya Linda.


" Aku sama Rizal, dia sudah nungguin di parkiran khusus, hati-hati di jalan ya, bye...", Eli berjalan menghampiri mobil Rizal di parkiran dalam dengan begitu semangat. Terlihat seperti anak ABG yang mau melihat idolanya.


Saat Eli sudah berjalan menjauh.


" Bener juga yang dikatakan Sari, kalau Eli sama Rizal itu juga pantas untuk dikira sebagai sepasang kekasih, sering pulang bareng dan pergi bareng", ujar Linda.


" Jangan bilang kalau diam-diam ada yang pakai hati ", gumam Nina yang curiga dengan sikap Eli barusan.

__ADS_1


Nina dan Linda hanya saling berpandangan, mengerutkan keningnya dan mengangkat bahu bersamaan.


__ADS_2