Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Meet Again


__ADS_3

Minggu pagi, usai sholat subuh. Sari sengaja berjalan-jalan di sekitar komplek rumah kakek Atmo, sesuai anjuran dokter Agus beberapa waktu lalu.


" Salah satu olahraga yang dianjurkan untuk ibu hamil adalah jalan kaki. Jalan kaki termasuk salah satu aktivitas yang sifatnya aerobik. Aktivitas fisik jenis ini membantu menjaga kesehatan jantung dan pembuluh darah ibu hamil".


" Selain itu, rajin jalan kaki selama kehamilan meningkatkan fleksibilitas dan mengencangkan otot-otot pinggul. Hal tersebut dapat membantu persalinan yang lebih cepat, lebih mudah, dan bebas rasa sakit. Jalan kaki di pagi hari bermanfaat untuk melahirkan secara normal".


" Dokter Sari bisa berjalan kaki 45-60 menit pada dua trimester pertama lalu 30 menit saat kehamilan sudah memasuki trimester ketiga. Namun, lakukan sesuai kemampuan Anda saja ya...".


" Dan kalau bisa, jalan tanpa menggunakan alas kaki, karena itu akan membantu melepaskan elektron positif di dalam tanah bertindak sebagai anti-oksidan dan mencegah terjadinya peradangan atau inflamasi. Jalan tanpa alas kaki dapat membuat peredaran darah menjadi lancar. Peredaran darah yang lancar bisa menjaga tekanan darah agar tetap stabil".


Kalimat yang di ucapkan oleh dokter Agus masih teringat jelas di memori Sari.


Sari berjalan-jalan seorang diri, karena Musa dan kakek Atmo belum pulang dari masjid. Sedangkan Dimas semalam tidak pulang ke rumah, kata Kakek Dimas menginap di rumah Cahyo, untung saja Sari main ke rumah kakek, jadi bisa menemani kakek yang sedang sendirian.


Seandainya Sari tidak datang, pasti kakek akan sendirian semalam. Sari jadi sedikit emosi dengan Dimas, karena meninggalkan Kakek seorang diri.


" Kakek Atmo sudah semakin tua, meski masih terlihat sehat, tapi pasti akan merasa sedih jika tinggal seorang diri di rumah", pikir Sari.


Sari terus berjalan bolak-balik di sekitaran rumah, sengaja mengenakan jaket tebal karena pagi itu terasa sangat dingin, embun pagi masih sangat tebal.


Kadang Sari belok ke lapangan voli di depan rumah, kemudian keluar lagi ke jalan raya, dan menyapa beberapa orang yang lewat. Kebanyakan dari mereka juga sedang joging dan jalan-jalan seperti Sari.


Mungkin karena hari minggu jadi banyak orang yang joging pagi hari.


Saat Sari merasa cukup lelah setelah berjalan-jalan selama 30 menit, Sari pun hendak menyeberang dari lapangan voli, untuk pulang ke rumah.


Kabut pagi yang masih tebal membuat Sari tidak bisa melihat ada tukang becak yang hendak lewat di depan rumah, membawa penumpang ibu-ibu pedagang makanan matang menuju pasar.


Untung saja ada seseorang yang menarik tangan Sari menghindari tukang becak yang semakin dekat.


Sari terkejut ketika tubuhnya terhuyung dan jatuh dalam pelukan laki-laki itu.


" AZKA !"


" Maaf...maaf..., aku kurang berhati-hati", ujar Sari sambil melepaskan tangan Azka yang melingkar di pinggangnya.


" Sudah berapa bulan?", tanya Azka sambil melihat ke arah perut Sari, ketika Sari mengucapkan terimakasih kepadanya.


" Jalan 5 bulan, kamu kapan pulang dari Bandung?".


" Aku sampai di rumah kemarin sore. Senang bisa berjumpa lagi dengan mu. Selamat ya atas pernikahan mu, juga kehamilan mu".


Azka memang langsung melanjutkan S2 di Bandung dan setelah mendapat gelas master, Azka mendapatkan pekerjaan di sana. Karena itu saat Sari dan Musa menikah, Azka hanya mendapatkan kabar saja, tanpa menghadiri pernikahan mereka.


" Aku pasti termasuk saudara dan tetangga yang tidak baik, karena tidak menghadiri pernikahan kalian".

__ADS_1


" Saat itu aku harus melakukan perjalanan kerja bolak-balik ke luar negeri, jadi jarang pulang. Untung ayah dan ibu sering menjengukku ke Bandung, jadi bisa mengobati rindu kampung halaman".


" Kamu terlihat semakin cantik dan berseri memakai hijab , sejak kapan?", Azka menunjuk kerudung Sari.


Sari mengikuti arah pandangan Azka yang tengah menatap kerudungnya.


" Saat awal aku kuliah", jawab Sari singkat.


" Apa karena Musa?, dia yang memintamu berhijab?".


Sari menggelengkan kepalanya, " ini kemauanku sendiri, bahkan saat dulu aku memutuskan untuk berhijab, Mas Musa sedang di Kairo. Kami sempat berhubungan jarak jauh. Dulu Umi sempat terserang gejala stroke, dan Mas Musa kembali ke sana selama 2 tahun untuk merawat beliau, sekaligus melanjutkan master di sana".


Sari dan Azka masih berdiri di depan pintu gerbang rumah kakek Atmo.


" Oh iya... Musa dimana?", Azka menengok ke kanan kiri mencari keberadaan Musa.


" Tadi ke masjid bersama kakek ".


" Oooh begitu... apa karena itu dari tadi aku tida di persilahkan masuk ke dalam rumah?", Azka tertawa sendiri karena mereka terus mengobrol di pinggir jalan.


Sari hanya tersenyum kikuk. Namun tak lama kemudian dia melihat Musa dan kakek nampak berjalan mendekat.


" Assalamualaikum...!"


" Wa'alaikum salam..."


" Wah ada orang Bandung lagi mudik, apa dapat ijin buat cuti Ka?", Sapa Musa sambil memeluk Azka yang juga membalas pelukannya.


" Iya, dapat cuti satu minggu buat urus surat pengantar nikah", jawab Azka.


Musa langsung menepuk-nepuk bahu Azka dengan senang.


" Jadi sudah ada calon istri?, apa orang Bandung?", tanya Musa merangkul Azka untuk masuk ke dalam rumah kakek Atmo.


" Ayo ngobrolnya di dalam rumah saja, sekalian sarapan pagi", ajak kakek Atmo sambil masuk ke dalam rumah nya.


Musa memang membawa beberapa kantong plastik di tangannya, " mungkin tadi Mas Musa mampir membeli makanan untuk sarapan. Pantas saja lama nggak pulang-pulang dari masjid", batin Sari.


Setelah sampai di dalam dan sarapan bubur ayam bersama-sama. Musa mulai mengobrol dengan Azka dan juga Kakek Atmo di teras depan. Mumpung masih pagi dan kandungan oksigen di udara masih banyak, jadi harus dimanfaatkan dengan dihirup sebanyak mungkin.


" Jadi dapat calon istri orang Bandung?", tebak Musa mengulangi kalimatnya, saat mereka sudah duduk di kursi kayu di teras rumah.


Azka mengangguk, " Ku kira akan dapat calon yang deket rumah, tapi ternyata belum jodoh, keduluan sama sepupu....", canda Azka, sambil melirik ke arah Sari yang sedang menyuguhkan teh manis dan cemilan.


Musa langsung melotot, " Heh, jangan macam-macam, dia itu sudah jadi istri sepupu mu, ada hasil karyaku juga di dalam perutnya", ucap Musa dengan bangganya.

__ADS_1


Azka hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Musa itu. " Kamu ini, dulu bilang sama aku kalau Sari itu cuma murid mu, tapi ternyata kecantol juga..!".


" Aku sudah tahu Mus.... meski jarang kembali kesini, tapi ayah dan ibu sering menghubungiku dan mengabari tentang semua yang terjadi disini".


" Termasuk pernikahan kalian, aku juga tahu, meski tidak bisa hadir".


Musa menganggukkan kepalanya,


" Iya... hadiah pernikahan dan ucapan selamat dari kamu masih kami simpan baik-baik. Terimakasih", ucap Musa.


" Memang dulu Sari cuma murid ku, tapi itu kan dulu..., dan kami menikah saat Sari sudah kuliah, dan dia tidak lagi menjadi murid ku, hehehe", Musa melakukan pembelaan diri.


Sari hanya menggelengkan kepalanya mendengar sanggahan yang dilakukan suaminya itu, dia sengaja meninggalkan ketiga lelaki itu untuk terus mengobrol di teras rumah.


Dan dia memilih untuk ke gazebo belakang, menatap ikan-ikan peliharaan kakek yang sudah besar-besar.


Tak lama kemudian bi Nunung yang baru saja sampai langsung memeluknya. Mereka memang sudah cukup lama tidak bertemu.


" Waduh... mba Sari perutnya sudah kelihatan besar. Sudah USG apa belum?", tanya Bi Nunung.


" Rencananya besok Bi, kenapa memangnya?".


" Penasaran saja Mba..., anaknya cewek apa cowok, hihihi", bi Nunung menutup mulutnya yang tertawa lebar.


" Apa pun ya di syukuri, ini kan anak pertama, jadi se dikasihinya apa ya Alhamdulilah".


" Mau cewek ataupun cowok, tugas kita sebagai orang tuanya harus mendidik dan membesarkannya dengan penuh kasih sayang", ujar Sari.


" Betul sekali Mba Sari. Bibi setuju dengan ucapan Mba Sari".


" Ngomong-ngomong, buat sarapan pagi, mau bibi masakin apa Mba?", tanya Bi Nunung.


" Minta tolong mas Soleh buat tangkap ikan gurame yang sudah besar itu Bi, nanti di bakar buat menu makan siang. Soalnya tadi kami sudah sarapan bubur ayam ", jawab Sari.


" Oke siap Mba Sari, gurame bakar on the way hehehe"


Bi Nunung langsung pergi mencari putranya untuk menangkap kan ikan di kolam. Dan tidak butuh waktu lama, 4 ekor gurame dengan masing-masing berat sekitar 1kg berhasil ditangkap Mas Soleh.


" Wah hasil tangkapan yang bagus Mas Soleh !", ujar Sari begitu sumringah melihat gurame yang menggelepar di ember besar.


" Sepertinya ada yang nggak ngajak-ngajak mau pesta nih..!", seloroh Dimas yang baru saja masuk .


" Kemana saja Kak?, kasihan kakek di tinggal sendirian di rumah", gerutu Sari sambil menatap Dimas kesal.


" Cahyo kecelakaan dan di rawat di rumah sakit , semalam aku menemaninya", ujar Dimas menjelaskan, sambil berlalu ke dalam kamarnya.

__ADS_1


Jawaban Dimas membuat Sari sedikit merasa bersalah telah bicara keras pada kakaknya tanpa bertanya alasannya terlebih dahulu.


__ADS_2