Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Kebetulan 2


__ADS_3

" Umi..., Musa itu sudah punya murid yang spesial, kalau umi mau tahu, cek saja ponselnya, cuma ada satu nomer ponsel muridnya yang dia simpan di kontak. Kalau umi nemu kontak itu, berarti itu dia murid spesial dengan suara lembut yang masih sering teleponan sama pak guru di hari libur", Hendrik malah menambah penasaran Umi dan Abi.


Musa langsung terperanjat mendengar Hendrik ikut-ikutan menggodanya.


" Coba umi pinjam HP nya, Umi mau liat seperti apa murid spesial putra umi?", ternyata candaan Umi semakin menjadi.


Dengan berat hati Musa menyerahkan ponselnya, " buat apa si Umi?, Musa sudah gede, nggak perlu ngecek-ngecek HP seperti sama anak SMP atau SMA", Musa lama-lama habis kesabaran merasa di keroyok oleh semua orang.


" Sekarang kita ke toko baju saja gimana?, kan umi sama Abi tadi bilang mau ke toko baju juga".


Musa langsung berdiri dan mengajak umi dan Abi nya untuk pergi dari bengkel. Musa berjalan keluar dari bengkel, duduk di depan bengkel karena sudah tidak nyaman berada di dalam bengkel.


Tapi uminya masih mau berada di tempat itu, justru menghampiri Soleh...supir kakeknya Sari.


" Mas siapa tadi? umi sudah tua cepet banget lupa". tanya Umi lirih.


" Saya Soleh...Bu ".


" Oh iya, mas Soleh yang kemarin sama Sari ke alun-alun kan?, kalau boleh tahu nomor ponsel Sari itu berapa ya?, yang ponsel kemarin ketinggalan di dalam tas, kan Mas Soleh punya nomernya".


Umi sebenarnya penasaran karena baru pernah melihat putranya menatap seorang gadis dengan tatapan seperti tadi. Sepertinya memang Musa menyukainya, dan kelihatannya Sari juga menatap Musa dengan tatapan yang sama, berarti kemungkinan besar mereka berdua saling menyukai.


Soleh menyalakan ponselnya dan mencari kontak milik Sari.


" Ini nomernya Bu", Soleh menunjukan kontak dengan nama ' Cucu majikan'.


Umi melihat nomernya, dan men-dial dengan ponsel Musa. Dan muncullah nama di layar ponsel Musa,


' Tri Hapsari '


memanggil......


" Ooh...nama panjang sari itu Tri Hapsari, apa dia itu anak ke tiga?", tanya Umi pada Soleh.


" Wah, saya kurang tahu, setahu saya dia cuma punya satu kakak laki-laki", jawab Soleh, namun masih sambil berfikir.


" Oh, begitu, namanya tidak sesuai ya, seharusnya Dwi Hapsari, bukan Tri Hapsari, kalau dia itu anak ke dua".


" Kalau tidak salah ingat, kakak pertamanya meninggal di dalam perut ibunya, keguguran", imbuh Soleh.

__ADS_1


" Oooh...", kali ini umi mengangguk-angguk merasa mendapat jawaban yang tepat.


Abi yang melihat Umi bertingkah berlebihan menghampiri umi yang sedang menjadi reporter dadakan.


" Umi...umi....., penyakit lamanya kumat, selalu begitu, kalau lagi penasaran sesuatu pasti tanya-tanya terus", ucap Abi sambil menggelengkan kepalanya.


Umi hanya cengengesan, tidak ambil pusing dengan teguran suaminya. Justru ia kembali bertanya. " Apa rumah kakeknya Sari itu tetanggaan sama pak Irsyad yang jadi kepala sekolah di SMA negeri?", Umi mengajukan pertanyaan yang terakhir.


" Kebetulan iya benar, ibu", Soleh mengangguk.


" Terimakasih informasinya ya", ucap Umi.


" Benar-benar kebetulan yang bertubi-tubi, kadang kalau seperti ini itu jelas ada campur tangan takdir", batin Umi.


Soleh hanya meringis, entah apa maksud dari ibunya ustadz Musa bertanya-tanya tentang Sari, tapi Soleh sudah berniat sesampainya di rumah Soleh akan menceritakan semua yang terjadi di bengkel pada ibunya.


Ting....


Tiba-tiba ada pesan masuk dari Tri Hapsari, karena ponsel Musa tidak ada password-nya, umi dengan leluasa bisa membuka pesan dari Sari.


~ Maaf, Sari baru pegang Hp, ada apa ustadz menelepon? ~


Tapi tidak kurang akal, umi membalas pesan dari Sari.


~ Cuma mau bilang terimakasih, kemarin sudah mentraktir umi dan Abi pecel sama mendoan, kata Umi kemarin belum sempat mengucapkan terima kasih ~


Umi mengetik pesan sambil tersenyum-senyum sendiri. Seperti sedang bernostalgia jaman kuliah dulu, saat dirinya sms-an dengan Abi nya Musa, pakai Hp jaman dulu ( jadul), yang layarnya sangat kecil, dan belum berwarna, hanya bisa mengirim gambar mawar hitam, atau gambar love hitam saja sudah begitu bahagia, dan kalau pesannya kepanjangan seringnya tidak terkirim semua, dan selalu muncul tulisan


< sebagian teks hilang >


Mungkin itu sepenggal kisah manis masa saat remaja nya, dan akan menjadi kenangan yang tak akan pernah terlupakan.


Karena beda dengan anak jaman sekarang, yang HP nya sudah canggih, kalau kangen mau ngobrol saling tatap muka tinggal video call, mau kirim gambar atau video sudah biasa, bahkan mau kirim barang atau makanan juga begitu mudah.


Ting....


Sari kembali membalas pesannya.


~ Oke kembali kasih, sebenarnya Sari tadi sempat kaget pas Ustadz datang sama bapak-bapak dan ibu-ibu yang semalam ketemu sama Sari di alun-alun, ternyata beliau berdua adalah orang tua ustadz, sungguh kebetulan yang sangat lucu 🤭🤭~

__ADS_1


Umi membaca dengan tersenyum, " benar sekali ucapan mu Sari, ini benar-benar kebetulan yang sangat lucu".


Saat Umi masih senyum-senyum sendiri membaca pesan dari Sari, Musa kembali masuk ke dalam,


" Ayo, umi dan Abi kenapa jadi betah di sini?, lagian hari ini bengkel mau tutup lebih awal, Hendrik mau mudik ke solo, mau lebaran di solo bersama orang tuanya", ucap Musa menjelaskan.


Abi dan umi beranjak dari duduknya, tidak terasa sudah hampir satu jam mereka duduk-duduk di bengkel. Ponsel Musa pun langsung di kembalikan.


" Umi kirim pesan sama Sari tadi, pakai HP kamu, dilarang protes", ucap Umi sambil berjalan keluar dari bengkel.


Musa langsung membuka aplikasi WhatsApp, dan langsung mengecek chat dengan Sari, benar saja tidak bohong, Umi habis ber chatting ria dengan Sari.


Hendrik sudah selesai memperbaiki mobil milik orang tua Sari. Dan mengeluarkan mobil itu dari bengkel untuk tes drive. Setelah Soleh melakukan pembayaran, langsung menghampiri Musa.


" Maaf ustadz, ini ada titipan dari Mba Sari, saya juga sudah dapat jatah karena semalam nemenin Mba Sari belanja, semuanya di belanjakan, termasuk ibu saya dan kakek Atmo. Saya permisi dulu ustadz", Soleh menyerahkan paper bag pada Musa, membungkukkan badan sambil menghadap ke arah kedua orang tua Musa yang sedang berjalan mendekati mereka.


Soleh masuk ke dalam mobil majikannya yang baru saja sampai, setelah di tes mesin dan akinya oleh Hendrik, " Sudah oke semuanya, makasih ya Bro...", ujar Hendrik sambil mengangkat tangan kanan dan mengacungkan jempolnya. Soleh pun melajukan mobilnya dan langsung menuju rumah.


" Kita langsung ke toko baju, atau mau kemana dulu Umi?", tanya Musa sambil meletakkan paper bag yang di berikan oleh Soleh tadi.


" Oke, sesuai rencana awal", jawab umi, sambil meraih paper bag yang di letakkan Musa.


Umi mengecek isinya, ada dua setel baju Koko, satu lengan panjang dan satunya lengan pendek dengan model yang kasual dan elegan.


" Seleranya bagus juga", ucap Umi saat menjembreng baju Koko itu.


Musa sudah malas meladeni godaan dari uminya, memilih tetap diam, no komen.


" Umi itu kalau lagi kumat ya seperti ini Mus, kamu sudah paham kan dengan umi mu ini", Abi menatap ekspresi Musa dari spion.


Musa menatap Abi dan uminya yang duduk di kursi belakang dari spion.


" Apa umi dan Abi sudah pengin Musa untuk segera menikah?, tapi Musa benar-benar belum siap untuk saat ini", Musa kembali mengungkapkan pikirannya.


" Umi tahu sayang, karena gadis yang kamu suka masih sekolah, dan kamu harus menunggu lumayan lama sampai dia siap dan dewasa", ucap umi sok tahu.


" Sudah cukup Umi... dia bukan siapa-siapa Musa, belum tentu dia mau sama Musa, dia itu gadis yang sangat aktif, mudah bergaul dan berprestasi, beberapa waktu lalu saja ada murid laki-laki yang minta Musa untuk mendekatkan dirinya sama Sari. Sudah jelas akan banyak laki-laki yang menyukainya", suara Musa terdengar tidak bersemangat.


" Putra Umi, jangan menyerah sebelum perang dong, yang umi lihat tatapan matanya itu sama dengan cara kamu menatapnya, jadi kemungkinan besar dia juga tertarik sama kamu, lihatlah, bahkan dia membelanjakan mu baju lebaran, padahal umi saja belum belikan kamu apa-apa, aduh.... umi jadi kalah set ini", ucap Umi kembali menggoda Musa.

__ADS_1


__ADS_2