Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Terpesona


__ADS_3

Musa POV


Malam hari usai sholat maghrib di mushola, aku memilih untuk pulang kerumah terlebih dahulu. Sedangkan para pemuda dan bapak-bapak komplek masih banyak yang memilih untuk tetap tinggal di mushola untuk mengumandangkan takbir, aku langsung masuk ke dalam rumah, menuju meja makan, meminum teh hangat buatan umi dan memakan kolak pisang yang sudah di sediakan.


Umi dan Abi sudah pergi kerumah Paman Irsyad sejak jam 5 sore, aku sendiri yang mengantar mereka tadi, mereka bilang ingin membuat kejutan pada paman Irsyad dan Bulik Santi. Dan ingin buka puasa bersama di rumahnya. Tentu saja kejutan yang mereka lakukan sangat berhasil. Karena paman Irsyad dan Bulik Santi begitu terkejut saat kami datang.


Awalnya mereka memintaku untuk buka puasa di sana juga, tapi hari ini aku kebagian jadwal untuk menjadi imam sholat Maghrib di mushola. Jadi setelah mengantar Umi dan Abi aku kembali pulang ke rumah.


Saat melewati depan rumah kakek Atmo, kulihat suasana di halaman rumahnya terlihat sepi.


Tunggu....


Kenapa aku melihat ke rumah itu?, entahlah, kepala dan mata ini ingin sekali menengok dan melihat ke arah sana, berharap melihat gadis cantik penghuni rumah itu, gadis cantik yang akhir-akhir ini sering sekali masuk ke dalam pikiranku tengah berada di teras rumah. Tapi harapan tinggal harapan, karena teras rumah sangat sepi.


Mungkin otakku sudah mulai tidak beres akhir-akhir ini, entah dimulai dari kapan, tapi aku sadar ada yang tidak beres dengan diriku.


Suara takbir terus berkumandang dari berbagai penjuru, aku ambil paper bag yang tadi siang di berikan oleh Soleh di bengkel, sebenarnya ini bukan pertama kali aku mendapatkan bingkisan dari seorang gadis.


Dari jaman masih SMA, sampai kuliah, mungkin ini baju Koko ke sekian puluh yang ku dapatkan dari seorang gadis. Karena itu aku tidak mau berpikir terlalu jauh tentang maksud dari pemberian Sari ini. Mungkin dia memberiku baju ini karena ingin menyampaikan rasa terima kasih padaku yang sudah menjadi guru ngajinya.


Ku amati baju itu dengan seksama dan ku coba satu persatu, mumpung tidak ada umi di rumah. Kalau umi tahu pasti akan langsung menggodaku.


Sambil memasukkan kancing baju aku menatap pantulan diriku didalam cermin.


Padahal koko ini beli sudah jadi, tapi potongan badan terasa sangat pas saat ku kenakan. Seperti Koko yang sengaja di jahit dengan ukuran badanku.


Sari ternyata tahu ukuran ku, bagaimana bisa dia membeli baju dengan ukuran yang sangat pas dengan ukuran badanku?, apa diam-diam dia sering memperhatikan aku?.


Otakku kembali memikirkan hal absurd lainnya, selalu menjadi seperti ini jika sedang teringat Sari. Saat aku masih menatap pantulan diriku di cermin, tiba-tiba ponselku menyala, ternyata Umi yang menelepon.


" Halo assalamualaikum umi, kenapa telepon?".


" Wa'alaikum salam, putra umi bisa tolong kesini sekarang?, sekalian bawa bingkisan yang ada di kamar umi, ada di dalam lemari di rak paling atas", aku langsung keluar menuju kamar umi dan mencari bingkisan yang dimaksud, membuka lemari dan mataku langsung menuju rak paling atas .


" Apa yang di masukkan ke kantong berwarna putih ini Umi?".


" Betul sayang, sekarang bawa kemari ya, tadi umi lupa mau tek bawa sekalian malah bawanya cuma kue yang tadi umi bikin".


" Baik Umi, Musa langsung ke rumah Paman Irsyad, Musa tutup teleponnya, assalamualaikum", langsung ku tutup telepon setelah umi menjawab salam ku.


Mobil ku kemudikan menuju rumah paman Irsyad. Lagi-lagi mataku menatap ke rumah kakek Atmo saat melewatinya, tapi kali ini aku melihatnya.... dia sedang ngobrol dengan seseorang melalui video call. Terlihat dia menatap ke layar ponsel sambil mengangkat tangan kanannya yang masih dibalut gips. Mungkin dia ngobrol dengan teman-temannya, karena dia berbicara dengan bahasa santai dan terlihat begitu bahagia.


Cukup dengan melihatnya sekilas, tapi membuatku merasakan begitu senang, rasanya aku seperti menang undian berhadiah, seperti ada yang meluap-luap di dalam hati ini.


" Astaghfirullah ..!!!". Aku langsung menginjak rem mobil.


Saking terpesonanya, tanpa sadar aku sampai melewati rumah paman Irsyad. Aku hanya bisa tersenyum sendiri menyadari kekonyolan ku. Dan memundurkan mobil untuk kembali ke tujuan. Ku parkirkan mobilku di halaman rumah paman Irsyad, dan masuk ke dalam rumah.

__ADS_1


Sebenarnya ada keinginan untuk mampir sebentar ke rumah Kakek Atmo, tapi ku urungkan, setelah dipikir-pikir bingung juga mencari alasan yang tepat malam-malam begini bertamu ke sana.


Saat aku masuk ke dalam rumah, umi, Abi, Paman Irsyad dan Bulik Santi entah sedang membicarakan apa, mereka terlihat begitu asyik, sampai-sampai tidak mendengar salam ku.


" Eh putra umi sudah sampai", Umi langsung mengambil bingkisan yang ku pegang.


" Ini buat kalian, aku bawa jauh-jauh dari Kairo, jangan dilihat harganya, tapi lihat manfaatnya", ucap Umi.


Paman dan Bulik membuka bingkisan itu, ternyata berisi dua sajadah dan dua tasbih kayu.


" Terima kasih mba Zahra, Mas Idris, ini benar-benar akan sangat bermanfaat untuk kami", Bulik Santi langsung berterimakasih pada umi dan Abi. Dan mereka berempat kembali ngobrol dan tertawa bersamaan.


" Azka dan Naura dimana Bulik?", karena aku tidak mengerti dengan pembicaraan para orang tua, aku memilih untuk menemui sepupuku... anak-anaknya paman Irsyad.


Azka yang dua tahun lebih muda dariku, tapi baru di beri adik saat dia kelas 3 SMA, jarak usia kakak adik itu sangat jauh, 18 tahun.


Sekarang Naura sudah berusia 5 tahun, sedang lucu-lucunya. Saat aku main kerumah Paman beberapa waktu lalu tidak bertemu dengan Naura, katanya sedang tidur siang, karena sedang belajar berpuasa, jadi aku melarang Bulik yang hendak membangunkannya.


" Mereka berdua keluar, tadi Azka menemani Naura ke lapangan depan, katanya mau main kembang api, susul saja, itu di lapangan sebrang jalan persis", Bulik menunjuk lapangan yang ada di depan rumah, memang tadi aku sempat melihat kalau disana terlihat rame.


Akhirnya aku memutuskan untuk keluar dan bergabung bersama Azka, tapi saat aku membuka pintu, betapa kagetnya aku melihat Sari sedang berdiri di depan pintu itu.


Dia menatapku begitu lekat, sebenarnya apa yang dia pikirkan?, oh iya benar, aku memakai baju Koko yang di belikan olehnya, duh....betapa malunya, baru di beri tadi pagi, tapi langsung ketahuan lagi dipakai.


" Assalamualaikum...", suara Sari menyadarkan ku.


" Wa'alaikum salam", aku tersenyum mengetahui kalau Sari tengah terpesona melihatku memakai Koko pemberiannya.


Ku jawab jika ada Sari yang mau bertamu, lalu Sari ku persilahkan untuk masuk.


Sari menyalami semua orang, kecuali aku. Dia menyerahkan paper bag pada Bulik Santi.


" Wah gadis cantik suka berbagi dengan tetangga juga", gumam Umi sambil tersenyum ke arah Sari.


" Sari disuruh mama mengantar kue ini buat keluarga Pak Irsyad", jawab Sari sambil membalas tersenyum.


" Pak Irsyad dan Bu Santi terimakasih sudah banyak membantu Sari dan Kakek selama ini", ucap Sari sambil membungkukkan badannya menghadap tuan rumah yang berdiri bersebelahan itu.


" Wah...terimakasih banyak ini dapat kiriman dari gadis cantik, ayo duduk dulu Sari...".


Bulik Santi merangkul bahu Sari, menyuruh Sari untuk duduk, tapi Sari menolaknya secara halus.


" Terimakasih, tapi Sari harus langsung pulang, mama sama bi Nunung belum selesai membuat kue nya" .


Sari berpamitan pada semua orang dan keluar dari rumah paman. Dia berjalan begitu tergesa-gesa. Kesannya seperti ingin segera keluar dari rumah itu.


" Bulik, Musa mau nyusul Azka dan Naura keluar", aku memilih berpamitan lagi, dan sudah tentu ekspresi umi langsung menggodaku. Modus..

__ADS_1


Aku tidak mau meladeni godaan umi, dan memilih keluar rumah, berjalan cepat berusaha mengejar langkah Sari, yang saat ku sejajari ternyata sedang tersenyum manis sekali.


Ehem.....


Sengaja ku buat suara agar dia menyadari keberadaan ku, benar saja Sari tersentak kaget saat mendengar suaraku. Dan menghentikan langkahnya.


" Eh, pak Guru, sejak kapan berada di situ ".


Hahahaha....


Ternyata dia sedang melamun, dan menunduk malu saat ketahuan olehku.


" Dari saat kamu senyum-senyum sendiri, kenapa kamu terlihat begitu bahagia?, apa karena mama dan papa mu sudah ada disini?".


Sari hanya mengangguk mendengar pertanyaan ku. Justru dia balik bertanya,


" Pak guru mau kemana?, kok keluar?".


" Mau bilang terimakasih, untuk ini", aku menunjuk Koko yang sedang ku pakai. " Sangat pas di badan, dan juga nyaman di pakai, maaf karena tidak memberimu apa-apa. Tidak menyangka juga akan bertemu kamu seperti ini".


Sari hanya tersenyum, " Bapak mau mampir ke rumah?".


Aku menggeleng, " Ke sana saja yuk, anaknya paman Irsyad ada disana. Apa kamu suka main kembang api?".


" Suka sekali", jawabnya.


Kami berdua menyebrang jalan, menuju lapangan tempat banyak anak-anak bermain kembang Api. Suara takbir terus berkumandang, membuat suasana malam ini begitu indah. Ditambah dengan tawa bahagia Sari saat melihat anak-anak kecil bermain kembang api, lagi-lagi aku enggan mengalihkan pandangan ku darinya.


\=\=


Terpesona....aku terpesona..... memandang ( memandang) wajahmu yang manis...


Terpesona


Aku terpesona


Memandang (mandang) wajahmu yang manis


Bagaikan mutiara wajahmu bola (bola) matamu


Bagaikan kain sutra lesungnya (lesung) pipimu


Cantiknya kamu


Eloknya kamu


Semua yang ada padamu

__ADS_1


Membuat aku jadi gelisah


Sampai-sampai aku terbangun dari tidurku


__ADS_2