
Maka laksanakanlah salat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah).
(QS Al Kautsar ayat 2)
***
Allohuakbar.....
Allohuakbar.....
Allohuakbar.....
Laila haillalloh hualohuakbar
Allohuakbar walillahilham....
Suara takbir terdengar berkumandang dari pengeras suara di masjid dan mushola-mushola, Begitu juga di rumah kakek Atmo, tepatnya di mushola rumah, mereka semua mengumandangkan takbir menyambut hari raya idul Adha tahun ini.
Setelah membatalkan puasa, mereka melaksanakan sholat maghrib berjamaah.
Semua berkumpul dan mengelilingi meja makan, usai sholat maghrib.
Tadi siang Musa, Papa, Dimas dan kakek Atmo sudah mendatangi salah satu rumah warga yang memelihara sapi, dan memilih sapi terbaik untuk dikorbankan besok.
Setiap tahun kakek Atmo memang selalu berkurban, begitu juga dengan Musa dan keluarga nya, tahun-tahun sebelumnya Sari masih ikut dengan kakek Atmo, tapi untuk tahun ini Sari memisahkan diri, Sari berkurban dengan Musa di komplek rumahnya.
" Nanti setelah sholat Isa, Sari dan Mas Musa pamit pulang ke rumah ya Kek, besok pagi mas Musa ikut jadi panitia penyembelihan hewan kurban", pamit Sari saat semua sudah selesai makan bersama. Kakek langsung mengangguk.
Saat Sari masuk ke kamar untuk merapikan barang-barang milik Rasyid, kakek Atmo masuk ke dalam kamar. Musa sedang di ruang tengah bermain-main bersama Rasyid, Dimas dan juga Linda.
" Ada apa kek?, apa ada yang mau di bicarakan?".
Kakek duduk di tepian ranjang dan meminta Sari duduk di sampingnya.
" Sari... kakek sudah semakin tua, beruntung sekali kakek sampai bisa melihat cucu-cucu kakek berkeluarga dan menjadi orang yang sukses ".
" Seandainya besok atau entah kapanpun kakek harus menghadap Yang Maha Kuasa, kakek berharap sekali padamu, untuk bisa menjadi istri dan ibu yang baik, bimbinglah juga kakak kamu yang kadang masih semaunya sendiri".
Sari langsung meremas tangan kakeknya,
" kakek ini ngomong apa sih, Sari nggak suka yang kakek bicarakan, seolah-olah kakek sedang berpamitan sama Sari".
" Sari dan kak Dimas masih membutuhkan kakek untuk membimbing kami".
Kakek Atmo justru tersenyum sambil menggelengkan kepalanya, " Firasat kakek mengatakan, tugas kakek di dunia ini sudah selesai. Kakek percaya kalau dari waktu ke waktu, Musa pasti bisa membimbing mu menjadi pribadi yang lebih baik "
Sari sudah tidak bisa berkata-kata, hanya bisa memeluk kakeknya dengan perasaan sedih dan hati yang mengganjal.
***
Di kediaman Musa dan Sari
__ADS_1
" Kenapa jadi murung?, apa masih mau menginap di rumah kakek?, kalau iya seharusnya tadi jangan pulang dulu, Mas kan besok bisa berangkat ke tempat penyembelihan kurban dari rumah kakek".
Musa memperhatikan ekspresi wajah Sari yang berubah mendung semenjak Sari membereskan perlengkapan Rasyid di rumah kakek Atmo tadi.
Namun Sari berusaha tampak baik-baik saja dengan menarik ujung bibirnya berusaha untuk tersenyum, tapi gagal.
Saat ini hatinya begitu gelisah karena pergi dari rumah kakek Atmo. Padahal di rumah kakek masih ada mama, papa, kak Dimas dan juga Linda. Bukankah aneh...
Ini bukan kali pertama Sari meninggalkan Kakek Atmo, tapi ada rasa sesak di dalam dada, yang memaksa air mata dari kelopak mata Sari harus mengalir dengan derasnya.
" Hiiix....hiiix....hix...", Sari sudah tidak bisa menahan air matanya lagi.
Musa semakin bingung dengan sikap istrinya.
" Kita ke rumah kakek lagi?".
Sari masih terus menangis tanpa mengucapkan sepatah katapun. Musa memilih memeluk Sari agar merasa lebih tenang, membiarkan Sari menumpahkan air mata di bahunya.
Penasaran, tentu saja, Musa ingin tahu apa yang menyebabkan istrinya menangis sampai sesenggukan. Seumur-umur mereka berdua menikah, Sari bisa dihitung hanya pernah menangis satu atau dua kali, itupun saat dia hamil karena emosinya yang meledak-ledak dan tidak stabil.
Bahkan kali ini Musa sempat berpikir, jangan-jangan Sari hamil lagi, karena dia menjadi sangat sensitif.
Tapi ternyata bukan karena hamil, saat tangis Sari sudah mulai reda, baru Musa mencoba menanyakan alasan Sari bersedih.
" Kakek.... Mas...., tadi kakek itu bicara banyak di kamar, seperti berpamitan seperti itu, Sari nggak tahu kenapa langsung merasa begitu sakit di sini", ucap Sari sambil menepuk-nepuk dadanya.
Musa kembali memeluk Sari dan menenangkannya. Di raihnya botol air mineral yang berada di atas nakas. Membaca doa dan memberikan air itu pada Sari.
" Mungkin kakek bicara seperti itu karena merasa umurnya semakin tua".
" Ambil hikmahnya saja, karena kematian itu hanya Allah yang tahu kapan datangnya, apalagi kakek yang sudah tua, mungkin saja kamu, atau Mas, tiba-tiba besok meninggal, kan tidak ada yang tahu".
" Sudah, jangan terlarut dalam kesedihan seperti itu, kasihan Rasyid, dia juga bisa merasakan kesedihan yang sedang bundanya rasakan, dan yang paling berpengaruh, bagaiman kalau produksi ASI bundanya jadi tidak lancar karena sedang merasa stres dan tertekan".
" Apalagi kan lagi suasana lebaran, jadi jangan bersedih dong".
Sari menganggukkan kepalanya.
" Sekarang kita sholat Isa saja, biar kamu jadi lebih tenang, mumpung Rasyid masih tidur juga".
Musa dan Sari pun melakukan sholat isa di kamar,sambil menjaga Rasyid, takut sewaktu-waktu bisa bangun.
Karena besok lebaran, malam ini bi Nunung pulang ke rumahnya sendiri, jadi malam ini di rumah hanya ada mereka bertiga, Sari, Musa dan Rasyid.
" Sebaiknya kita tidur, mumpung Rasyid tidur, jadi kalau nanti Rasyid bangun, kita sudah tidur meski sebentar, sukur sampai besok subuh nggak kebangun".
Sari menyetujui usulan Musa, memang Sari butuh istirahat, setelah menangis tadi rasanya sangat capek, dan juga mengantuk. Sari pun langsung tidur pulas di samping Musa.
Namun saat Sari sudah tidur, justru Musa berjalan pelan-pelan keluar rumah menuju masjid terdekat, ikut takbiran bersama bapak-bapak komplek masjid. Dan baru pulang jam 1 malam, tepat saat Rasyid terbangun minta mimi.
Melihat Sari yang nampak sangat kelelahan, Musa tak sampai hati membangunkan nya, akhirnya Musa membopong Rasyid, mengambil persediaan ASI yang ada di kulkas, kemudian menghangatkannya, dan memberikan pada Rasyid.
__ADS_1
Seperti bayi yang sangat kehausan, Rasyid menghabiskan sebotol penuh ASI, dan kembali tertidur pulas.
***
Esok harinya, usai sholat id di masjid, Sari pulang terlebih dahulu bersama para tetangga, meninggalkan Musa yang masih di masjid karena hendak melakukan penyembelihan hewan kurban.
Tahun ini total hewan kurban satu desa ada 31 sapi dan 56 kambing. Untuk penyembelihan hewan kurban dibagi menjadi 6 tempat, wilayah komplek Masjid yang diketuai oleh Musa menyembelih 7 sapi dan 10 kambing.
Jam 2 siang, acara memotong daging kurban baru selesai. Musa pulang dengan membawa daging bagiannya.
Sampai di rumah, Sari sedang memetik sereh dan daun salam di kebun belakang rumah. Memang belum terlalu lebat, tapi untuk digunakan sebagai bumbu masakan sesekali, masih cukup.
" Wah putra ayah lagi panen bumbu dapur", ternyata semenjak bi Nunung tinggal bersama Sari, jadi banyak tanaman bumbu dapur yang di tanamnya.
Karena selain untuk berhemat uang belanja, dan memanfaatkan lahan kosong yang terbengkalai, juga menambah lezat masakan jika bahan yang dipakai adalah bahan yang baru metik.
Sari sudah menyiapkan semua bumbu saat tadi Rasyid tidur. Sari sengaja bergerak cepat, tapi ternyata belum sempat memetik sereh dan daun salam, Rasyid keburu bangun, jadi Sari mengajaknya ikut ke kebun belakang.
" Ayah ke dapur dulu, nanti baru mandi kalau sudah selesai motong daging yang mau dimasak, bau kambing, nanti habis ayah mandi Rasyid ikut main sama ayah, biar bunda masak daging buat makan malam nanti".
Musa langsung menuju dapur, menyimpan sebagian daging di kulkas dan sebagian lagi di potong-potong kecil untuk di masak.
" Kok nggak sebanyak tahun kemarin Mas?".
Sari yang baru masuk dari kebun melihat daging yang di simpan tidak sebanyak tahun lalu, karena setahu Sari tahun ini jumlah yang kurban lebih banyak.
" Tadi sebagian Mas titipkan sama Pak Gimung, untuk dibagi ke tetangga yang kurang mampu, tapi cuma dapat jatah sedikit, padahal keluarganya banyak".
" Owh...", jawab Sari manggut-manggut.
Selama dua jam Sari memasak rendang, sambil membuat beberapa tusuk sate kambing.
Sari sempat bertanya terlebih dahulu pada dokter Kurni tentang apakah boleh ibu menyusui makan sate kambing.
" Jadi, ibu menyusui boleh kok mengonsumsi hidangan kurban seperti daging kambing. Asalkan tidak lupa untuk menambahkan pendamping seperti sayur-sayuran, acar, dan buah-buahan untuk mengontrol lemak jenuh yang ada pada daging kambing".(sumber theasianparents)
Ucapan dokter Kurni langsung Sari simpan baik-baik di memori otaknya.
" Sate kambing dan rendang sudah matang, ayo makan", Sari juga membuat acar buah dan juga asinan, mematuhi anjuran dokter Kurni.
Mereka berdua makan malam saat Rasyid sudah tidur, dan selesai makan malam, Sari kembali ke kamar menghampiri Rasyid dan mengecek ponselnya.
Mama
8 panggilan tida terjawab.....
Kak Dimas
12 panggilan tidak terjawab.....
Sari langsung balik menelepon, tapi tidak ada jawaban, semuanya sibuk. Sari semakin panik, firasatnya tentang kakek semakin menguasai pikirannya.
__ADS_1
" Mas....kita kerumah Kakek sekarang !", teriak Sari sambil berlari keluar kamar.