Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Togetherness is a Luxury


__ADS_3

( Kebersamaan adalah sebuah hal yang mewah)


Sampai di kediaman kakek Atmo, Soleh langsung menemui papanya Sari untuk memberikan kunci mobil.


" Terimakasih ya Leh", ucap Triono saat menerim kunci mobilnya.


Soleh mengangguk,


" injih...sami-sami Pak ( iya... sama-sama Pak)", dan langsung masuk ke dalam menuju dapur. Tujuannya saat ini ingin bertemu dengan ibunya dan menceritakan semua yang di dengarnya di bengkel tadi.


Triono berjalan ke pekarangan belakang rumah, dimana istri dan anaknya tengah berkumpul di gazebo, menemani bapaknya yang tengah memberi makan ikan di pinggiran kolam.


" Kenapa bapak tidak mengabari Trio kalau Sari kecelakaan?", tanya Triono saat posisinya persis di belakang kakek Atmo.


Kakek Atmo langsung menghentikan kegiatannya menyebar pakan ikan, posisi berdiri yang tadinya menghadap ke kolam, langsung bergeser menghadap putranya beberapa detik, dan berpindah menghadap ke arah gazebo, dimana cucu dan menantunya sedang duduk dan saling melepas rindu di sana.


" Coba kalau bapak kabari, saya dan Esti pasti akan langsung datang kemari", imbuh Triono dengan suara lirih.


" Bapak saja tidak di beri tahu sama Sari, waktu dia di rawat di rumah sakit, dia bilangnya sama bapak mau nginep di rumah temannya. Apa kamu tahu kenapa?, karena Sari tidak mau membuat siapapun khawatir".


" Sekarang yang penting dia itu baik-baik saja, dan masih terus tersenyum, meski lukanya belum sepenuhnya sembuh, jangan menyalahkan Sari karena tidak mengabari mu, itu adalah bukti kalau pemikirannya semakin dewasa. Dia sedang berusaha kuat dengan tidak bermanja-manja pada mama papanya, ataupun pada kakeknya, dia berusaha kuat berdiri di kakinya sendiri", terang Kakek Atmo.


" Jadi Bapak tidak tahu waktu Sari di rawat di rumah sakit?, lalu apa dia sendirian di sana?", Triono merasa bersalah karena tidak berada di samping putrinya saat dia sedang mengalami kesusahan.


Kakek Atmo menggelengkan kepalanya.


" Karena Sari mengalami kecelakaan saat sedang mengikuti pesantren kilat di sekolahan, guru agamanya yang menemani Sari di rumah sakit", jawab Kakek Atmo sambil berjalan menyimpan pakan ikan di boks yang berada di sebelah mushola.

__ADS_1


Kakek Atmo pun bergabung dengan Sari dan Esti yang sejak tadi entah asyik mengobrol apa. Sari yang sedang tiduran di pangkuan mama nya langsung merubah posisinya untuk duduk saat Kakek dan papanya ikut bergabung.


" Kalian sedang membicarakan apa?, sejak tadi kakek dengar kalian ketawa-ketawa bersama", tanya Kakek.


Esti langsung tersenyum, " Esti lagi dengerin cerita Sari tentang teman-teman di sekolah barunya, ternyata apa yang Esti takutkan tidak terjadi, karena justru teman-teman Sari semuanya welcome, bahkan mereka menyambut kedatangan Sari dengan suka cita. Tadinya Esti khawatir kalau anak baru akan di cuekin atau di isengin sama teman-temannya, tapi syukur Sari tidak diperlakukan seperti itu".


" Memangnya di sinetron, yang anak pindahan baru di perlakukan tidak baik oleh teman-temannya, rasa khawatir mama terlalu berlebihan ", ujar Sari.


" Begitulah orang tua, selalu khawatir dengan keadaan putra putrinya", ucap Kakek Atmo.


Mendengar kata putra putrinya, membuat Sari teringat pada kakaknya....Dimas.


" Ma, apa mama sama papa sudah nengokin kak Dimas dulu sebelum kemari?", pertanyaan Sari membuat ekspresi wajah mama dan papanya langsung berubah muram. Teringat putranya yang saat ini ada di tempat rehabilitasi. Apalagi kemarin melihat kondisinya yang semakin kurus, saat menjenguknya sebelum berangkat ke Purwokerto.


Kakek Atmo juga langsung teringat kejadian hampir dua bulan yang lalu, yang membuat istrinya harus meregang nyawa karena mendengar kabar mengejutkan dari cucu laki-laki nya itu.


\=\=


" Sayang bagaimana kabarmu sekarang?, mama sama papa sangat mengkhawatirkan keadaanmu", Esti yang duduk di samping Triono hanya bisa menitikkan air matanya setiap kali menemui putranya di tempat rehabilitasi.


Dimas yang duduk persis segaris dengan mamanya hanya meringis sinis melihat tangisan mamanya yang disebutnya sebagai drama.


" Kalau mama dan papa khawatir dengan keadaan Dimas, kenapa kalian tidak kerahkan pengacara dan jaminan yang besar agar Dimas bisa bebas Ma?. Disini Dimas tersiksa, semua fasilitas standar, kasur empuk tidak ada, kamar mandi harus bergantian dan antri, nggak bersih sama sekali, makanan cuma itu-itu saja, Dimas tersiksa Ma!, jadi Mama nggak perlu seperti aktris di dalam drama yang harus berakting sedih seperti itu".


Triono membelalakkan matanya menatap Dimas, sambil menahan emosi.


" Harusnya kamu belajar dari kesalahan kamu, introspeksi diri, kenapa kamu jadi harus merasakan semua ketidak nyamanan ini, itu semua karena kamu bergaul dengan anak-anak yang salah, dan memakai barang haram yang tidak seharusnya kamu sentuh!".

__ADS_1


Triono yang mendengar ucapan Dimas terus menyalahkan dirinya dan juga Esti langsung meninggikan suaranya. " Apa yang selama ini nggak papa dan mama kasih sama kamu?, bisa kamu sebutkan?, nggak ada !, karena selama ini apa yang kamu mau selalu papa dan mama kabulkan, itulah mengapa papa sangat kecewa sama kamu, seharusnya kamu tinggal menikmati hidup dengan kemewahan dan kenyamanan yang selama ini kamu peroleh dari kami, kamu tinggal belajar yang rajin dan menjadi anak yang bisa dibanggakan. Kalau kamu melakukan itu, kamu nggak perlu merasa tersiksa dan sengsara seperti sekarang ini, jika kamu nggak mencoba-coba memakai barang haram itu, kamu nggak akan merasakan yang kamu sebut 'siksaan' ini!".


Beberapa pasang mata menatap ke arah mereka, membuat Triono sadar jika tadi ucapannya terlalu keras. Triono kembali berkata namun dengan nada yang lebih lirih, seperti berbisik.


" Nikmati saja akibat dari perbuatanmu, tetaplah disini sampai kau benar-benar sembuh dari ketergantungan mu dari barang haram itu, agar kamu bisa mengerti dan bersyukur atas apa yang selama ini mama dan papa kasih ke kamu itu adalah suatu hal kemewahan bagi orang lain".


Dimas memang anak yang selalu dituruti kemauannya sejak kecil. Apapun keinginannya pasti akan Triono dan Esti turuti dan penuhi. Tapi karena kemurahan mereka, justru menjerumuskan putranya ke dalam pergaulan yang salah.


Sebenarnya saat pertama Dimas tertangkap, Esti juga sudah memohon-mohon pada Triono untuk membujuk pihak berwajib agar putranya dibebaskan dengan jaminan, tapi Triono menolaknya, dia sengaja ingin membuat Dimas belajar menghargai hidup. Karena gara-gara berita penangkapannya yang sampai ke telinga ibunya, membuat ibunya terkena serangan jantung dan mengakhiri nyawanya. Triono sungguh merasa bersalah pada bapaknya perihal penyebab kematian ibunya justru adalah putranya sendiri.


Saat suasana lebih tenang, Esti memilih untuk berpamitan pada putranya.


" Mama dan Papa mau berangkat ke rumah Kakekmu malam ini juga, seperti tahun-tahun sebelumnya, kami akan lebaran disana, karena Sari sudah pindah ke sana beberapa minggu yang lalu, gara-gara kamu jadi tahanan disini, Kakekmu sudah tidak percaya pada pola didik mama dan papa. Kakekmu memaksakan kehendaknya agar Sari mau tinggal di sana, kakek mengancam akan mencoret daftar nama papamu sebagai ahli waris dan akan mewakafkan semua hartanya jika Sari tidak tinggal disana. Sekarang kamu tahu kan bagaimana perasaan mama dan papa saat ini?, kami ditinggal oleh putra dan putri kami sekaligus".


" Untung saja Sari bisa di bujuk untuk bersedia tinggal bersama kakeknya, meski saat kepindahannya dia terus menerus menangis. Putri mama yang malang", ujar Esti.


" Mama harap kamu akan menjadi lebih baik setelah di rehabilitasi disini, dan semoga rehabilitasi yang kamu jalani akan membuat kamu segera lepas dari lingkar hitam dunia obat-obatan terlarang, karena hasil dari perbuatanmu itu bukan cuma berdampak sama kamu, tapi mama, papa, Sari dan bahkan nenek Atun sampai harus kritis dan meninggal dunia gara-gara dengar kabar penangkapan mu ".


Namun diakhir pertemuan Dimas menitipkan salam dan permohonan maaf untuk Sari dan kakek Atmo, Dimas meminta maaf atas semua yang harus terjadi akibat perbuatannya.


flashback off


\=\=


Esti mengusap lengan Sari. " Mama sama papa sudah menjenguk kakakmu dulu sebelum kemari, dia jadi kurus dan tidak terawat, sudah tumbuh kumis dan jambang di wajahnya, tapi masih tetep ganteng sih, kan dia mirip sama papa nya", kalimat terakhir Esti sedikit dibuat lelucon agar suasana tidak menjadi serius dan tegang.


" Kak Dimas juga titip salam buat kamu dan kakek, dia juga minta mama untuk menyampaikan permohonan maafnya sama kamu dan kakek", Triono yang menyambung kalimat.

__ADS_1


Mama dan papa jadi lebih mengerti dan baru sadar sekarang, kalau kebersamaan itu adalah sebuah hal yang mewah.


__ADS_2