Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Malam Indah Bersamamu


__ADS_3

" Wah pasti Abi begitu mencintai Umi, sampai melakukan vasektomi biar umi tidak hamil lagi, padahal kan sekarang bisa dilakukan operasi Caesar, tapi memang kalau sudah trauma itu akan sulit untuk membuat agar tidak takut lagi". gumam Sari, sambil sesekali mencuri-curi pandang ke arah Musa yang tengah berjalan di sampingnya.


" Benar sekali, merasa hampir kehilangan orang yang paling di cintai itu mengakibatkan trauma yang serius, jadi meski umi berulang kali berkata ingin hamil lagi dan menyuruh abi untuk membukanya, Abi tetap bersikukuh tidak mau membuka", terang Musa.


Mereka berdua terus mengobrol sepanjang perjalanan, malam hari yang terang, meski bulan tidak nampak, tapi langit ditaburi bintang berkelap-kelip, begitu indah.


Musa dan Sari sampai di tenda penjual pecel lele, satu-satunya pembeli yang ada di tenda sudah selesai makan dan tengah membayar, mungkin sebentar lagi akan pergi.


" Mas, pesen pecel lelenya dua porsi, jeruk angetnya juga dua", ucap Musa pada Mas penjual pecel lele.


" Satu porsi saja Mas pecel lelenya, kalau jeruk anget iya tetep dua", ucap Sari meralat pesenan Musa.


" Oke mba, di tunggu sebentar", jawab mas-mas penjual pecel lele.


" Kenapa?, nggak suka pecel lele?", tanya Musa, karena Sari membatalkan pesanan untuknya.


" Suka, tapi masih belum bisa makan sendiri, susah kalau pakai tangan kiri", ujar Sari menjelaskan.


Karena di tenda tak ada siapapun lagi selain mereka berdua dan si penjual pecel lele saja, Musa berpikir tidak papa untuk menyuapi Sari makan, lagi pula ini bukan yang pertama, sebelumnya waktu menjaganya di rumah sakit juga Musa sudah pernah menyuapi Sari. Jadi sepertinya tidak apa-apa jika hal itu terulang.


" Mas, pecelnya jadi pesen dua porsi", seru Musa.


" Yang serius berapa ini Mas, mau satu atau dua pesannya?", mas penjual pecel lele merasa di permainkan oleh Sari dan Musa.


Sari tersenyum melihat mas penjual pecel lele ngambek.


" Pesan dua mas, kali ini serius, beneran, yang satu super pedes ya Mas", ucap Musa.


" Oke Mas, maaf bukannya mau ikut campur, tapi saran saya, kalau lagi bertengkar jangan di bawa-bawa ke luar Mas, di bicarakan dan diselesaikan baik-baik, tapi betul sekali kalau makan dulu, soalnya kalau perut kenyang pikiran jadi jernih, dan nggak emosian".


Penjual pecel lele salah mengira, dikiranya Sari dan Musa adalah sepasang kekasih yang sedang berantem, karena mereka terus berbeda pendapat.


Perkiraan yang ada di pikiran penjual pecel lele, kronologi nya yaitu... Si cowok mengajak ceweknya makan, tapi si cewek menolak karena sedang ngambek, kemudian di paksa untuk tetap makan oleh si cowok. Memang yang tidak tahu menahu terkesan seperti itu.


Tapi Musa justru bingung dengan perkataan yang baru saja disampaikan si penjual pecel lele. " Sudahlah tidak perlu dipikir, tidak terlalu penting juga ", pikirnya.


Sari yang mengetahui Musa tetep kekeh pesen dua porsi, bahkan yang satu super pedes, sudah pasti itu untuknya, karena Musa sudah tahu kalau Sari suka makanan pedas, sejak hari pertama mengajar ngaji dan buka puasa bersama di rumah Sari. Bi Nunung yang memberi tahu pada Musa kalau Sari pecinta makanan pedas.


" Ini jeruk angetnya, dan ini pecel lelenya", dua porsi pecel lele dan dua gelas jeruk anget di letakkan di meja yang berada di hadapan Musa dan Sari.


" Terimakasih Mas ", ucap Musa.

__ADS_1


Musa mencuci tangan dan kembali duduk di samping Sari, kali ini lebih dekat dari tadi, karena berniat untuk menyuapi Sari.


" Kamu mau makan dulu atau..."


" Bapak saja yang makan dulu", Sari langsung memotong kalimat Musa.


Musa mengangguk dan mulai makan pecel lele miliknya. Ternyata Musa makan dengan begitu lahap, membuat Sari penasaran dan mencicipi pecel lele miliknya, dan ternyata memang enak. Tentu saja Sari makan menggunakan tangan kirinya.


Sari mencomot nasi miliknya dan diletakkan di piring milik Musa.


" Sepertinya bapak masih lapar, makan nasi punya Sari saja, soalnya Sari masih kenyang, sayang kalau nasinya nggak dimakan, mubadzir", ucap Sari.


Karena pecel lele milik Musa masih ada, sedangkan nasinya sudah bersih, Musa menerima dengan senang hati nasi milik Sari.


Sari memilih makan lele pelan-pelan menggunakan tangan kirinya. Tapi Musa menarik piring milik Sari, ternyata Musa sudah selesai makan, dan hendak menyuapi Sari makan lele dari piring yang ditarik nya


" Biar ku bantu, takutnya tangan kiri kamu kena durinya, karena tangan kiri itu tidak dipergunakan untuk makan, akan terasa tidak nyaman makan dengan tangan itu", Musa menyuapi Sari sedikit demi sedikit, sampai hanya tersisa kepala dan duri dari lele itu.


" Tahan Sari... kamu harus tahan, jangan terlalu jelas kalau kamu sedang sangat bahagia saat ini", batin Sari yang tengah menahan perasaannya yang meluap-luap saat ini.


" Nah begitu... yang akur kalau jadi pasangan, jangan berantem melulu, kan adem dilihatnya", Mas penjual pecel lele mengomentari mereka saat Musa tengah menyuapi Sari langsung dengan tangannya , sambil senyam-senyum nggak jelas.


Musa mencuci tangannya kembali usai menyuapi Sari hingga selesai.


" 40 ribu Mas".


Musa memberikan uang 50 ribuan, " sudah mas nggak usah ada kembalian, makasih ya Mas", Musa keluar dari tenda penjual pecel lele di ikuti Sari yang mengekor dibelakangnya.


" Makasih ya Mas, semoga langgeng terus sama mbaknya", teriak si penjual pecel lele pada Musa yang sudah berjalan menjauh dari tenda penjual.


" Terimakasih ya Sar"


" Untuk apa Pak?, seharusnya Sari yang bilang terimakasih sama bapak, sudah traktir makan Sari", ujar Sari sambil menundukkan kepalanya, khawatir Musa bisa melihat betapa merahnya wajahnya saat ini, yang jelas saat ini wajah Sari benar-benar memerah karena merasa begitu bahagia.


" Terimakasih karena sudah menemaniku makan malam, itu pasti nggak seberapa dibanding pemberian darimu", gumam Musa.


" Pemberian ?", Sari tidak paham.


" Ini salah satunya", sambil menunjuk Koko yang dipakainya.


" Ooh, itu juga nggak seberapa kok Pak, dari pada banyaknya ilmu yang sudah bapak ajarkan sama Sari".

__ADS_1


Musa hanya tersenyum. Mereka berdua terus berjalan berdampingan sampai tiba di depan rumah Kakek Atmo.


" Sari..!", seru Esti saat melihat Sari tengah berjalan berdua dengan Musa.


" Eh mama, kenapa mama di luar?", tanya Sari.


" Selamat malam Bu, assalamualaikum", ucap Musa menyapa.


" Wa'alaikum salam, loh kok pak guru malam-malam bisa ada disini?", tanya Esti penasaran, sambil menatap Sari penuh selidik.


" Sedang bertamu di rumah Pak Irsyad, umi dan Abi juga ada disana", jawab Musa.


Tapi jawaban itu tidak membuat Esti merasa puas, karena arah mereka berdua dari jalan besar.


" Tadi saya bertemu Sari saat dia mengantar bingkisan untuk keluarga pak Irsyad, dan keluar untuk menemui Azka dan Naura anaknya pak Irsyad yang tadi sedang bermain kembang api di lapangan, tapi mereka berdua masuk terlebih dulu karena Naura kebelet katanya", Musa berusaha menjelaskan.


" Oh, begitu, pak guru mau mampir ke rumah?", tanya Esti.


" Terimakasih Bu, tapi sudah hampir jam 9 malam, tidak enak bertamu terlalu malam, ini juga sudah mau pulang ke rumah, mau tidur lebih awal, biar besok tidak kesiangan bangun untuk sholat Ied", ucap Musa beralasan.


" Memang laki-laki yang sangat sopan dan mengerti waktu", batin Esti.


" Kalau begitu kami masuk terlebih dahulu pak guru, mari...", ucap Esti sambil menarik tangan kiri Sari untuk masuk ke dalam rumah.


" Sari masuk dulu Pak Guru, terimakasih", seru Sari sambil masuk mengikuti mamanya.


Musa kembali ke rumah Paman Irsyad, langsung di sambut dengan tatapan menyelidik dari semua orang.


" Lho ada apa ini?, kok Musa merasa seperti pencuri yang kepergok", ujar Musa.


" Dari mana saja kamu?, tadi aku nyusul lagi ke lapangan, kamu sama Sari sudah nggak ada", ujar Azka.


" Aku jalan-jalan ke arah jalan besar, ngadem", jawab Musa mencari alasan.


Ehem...


Umi langsung berdehem, " Wah sepertinya ada yang lagi main rahasia-rahasiaan nih Abi...", gumam Umi sambil melirik ke arah Abi.


Musa hanya tersenyum melihat tingkah uminya. " Ayo kita pulang, sudah malam, besok harus bangun pagi buat persiapan sholat Ied dan bersilaturahmi ", ajak Musa pada kedua orangtuanya, berusaha mengalihkan topik pembicaraan.


" Habis sholat Ied langsung ke sini saja Mba dan Mas, nanti kan biasanya saudara-saudara pada datang kesini. Guru-guru SMA teman-teman ngajar kamu juga biasanya silaturahmi ke sini Mus, jadi kalau besok kalian stay di sini, bakal ketemu sama banyak orang", terang Irsyad.

__ADS_1


" Insyaallah, besok kami kemari usai sholat Ied, soalnya sepertinya ada yang bakalan sering main ke daerah sini si", Umi kembali melirik Musa berniat menggodanya.


" Kami pamit Paman, Bulik, sampai ketemu lagi besok, assalamu'alaikum", Musa dan kedua orangtuanya berpamitan pada Pak Irsyad dan keluarga.


__ADS_2