
Sampai di rumahnya, Musa mematikan mesin mobilnya dan masih tetap duduk di bangku kemudi, menggeser sedikit posisi badannya menghadap ke arah Sari.
Musa masih terus menatap Sari yang tersenyum manis ke arahnya.
" Terimakasih banyak, karena sudah mau menerima ku menjadi bagian dalam hidupmu. Semoga kita akan selalu bersama, dalam keadaan suka maupun duka", Musa mengecup punggung tangan Sari, hembusan nafas Musa terasa hangat di tangannya, suara lembut Musa membuat Sari merasa sangat damai.
Namun jantung Sari langsung berdetak lebih cepat, saat Musa mengusap kepala sari dengan tangan kanannya, karena ini kontak fisik pertama yang Musa lakukan kepadanya. Sebelumnya memang pernah Sari mencium pipi Musa, tapi setahu Sari saat itu Musa tengah terlelap, meski sebenarnya Musa juga merasakan kecupan di pipinya.
Musa mendekatkan wajahnya, semakin lama semakin dekat, begitu juga dengan Sari, hingga hangat nafas keduanya terasa saling menerpa wajah dan membuat jantung keduanya sama-sama seperti ingin meloncat.
Sari memejamkan matanya saat hidung mereka saling bersinggungan. Dari hembusan nafasnya, Sari bisa tahu jika wajah Musa semakin dekat...dan semakin dekat....
" Loh, ada putra umi, kok nggak langsung masuk?", Umi yang baru saja keluar dari rumah karena mendengar suara mobil yang berhenti di depan rumah, namun tak kunjung ada yang mengetuk pintu, sengaja melihat siapa yang datang, dan menjumpai mobil putranya yang terparkir di depan rumah.
Musa dan Sari langsung menjauh satu sama lain, seperti anak ABG yang lagi pacaran dan ketahuan satpam komplek, mereka berdua menatap ke arah Umi bersamaan. Dengan rasa kikuk.
" Huft.... Umi ini bagaimana, tidak tahu kalau aku lagi membangun moment romantis bersama Sari", batin Musa, yang kemudian membuka pintu mobil dan keluar bersama Sari menghampiri uminya.
" Assalamualaikum Umi", Sari menghambur ke arah umi dan berpelukan.
" Aduh....malunya aku, pasti Umi tadi lihat apa yang hendak aku lakukan dengan Musa di dalam mobil", batin Sari sambil menunduk, tersipu malu dengan pipi merah merona.
" Wa'alaikum salam, putri umi juga ternyata ikut, ayo masuk....wah senangnya kedatangan putra dan putri umi, kebetulan umi tadi masak urap kecipir dan daun singkong, requestnya Abi. Kita makan siang bareng yuk....", Umi merangkul pundak Sari dan mengajaknya langsung menuju ruang makan.
" Lauknya sukanya begini, daun-daun hijau kaya ngasih makan kambing, hehehehe", Umi terkekeh sendiri menyamakan Abi dengan kambing.
__ADS_1
Umi hendak ke dapur untuk mengambil piring tambahan untuk Musa dan Sari. Namun Sari menahannya. " Biar Sari yang ambilkan, Umi", Sari berjalan ke dapur dan mencari dimana keberadaan rak piring.
Musa mengikuti Sari, " Tempat piring di laci atas paling kanan", ucap Musa sambil berjalan mencuci tangannya.
Sari masih membuka laci atas paling kanan, seperti yang Musa katakan, tapi ternyata lacinya sulit dibuka, Sari sudah menarik dengan keras, tapi tidak kunjung membuka.
Musa yang melihatnya hanya tersenyum, kemudian berdiri di belakang Sari, mengulurkan tangannya di antara kedua tangan Sari yang tengah meraih pintu laci.
" Kamu tidak perlu merasa malu, karena umi tidak melihat apapun yang kita lakukan di dalam mobil dari luar,kaca mobil akan terlihat gelap dari luar", bisik Musa, memberi tahu Sari agar bersikap biasa saja, karena memang uminya tidak melihat apapun.
Aroma wangi dari jilbab yang Sari kenakan, bisa tercium oleh hidung Musa yang begitu dekat dengan Sari.
Greeg....
Pintu laci terbuka, " ini di geser, bukan di tarik", ucap Musa dari belakang Sari.
" Bagaimana bisa pintu laci geser untuk terbuka dengan di tarik, Sari...kau ini benar-benar payah", batin Sari merutuki kebo-do-han-nya.
" Sini biar aku yang ambilkan piringnya", Musa mengambil dua buah piring dan memberikan pada Sari.
Sari kembali ke ruang makan dan menjumpai umi dan Abi sudah mengambil nasi terlebih dahulu menunggu mereka berdua.
" Ayo makan yang banyak, biar sehat dan tubuh kuat", Abi mendekatkan ikan asin yang ada di depannya. Sari hanya mengangguk-angguk dan tanpa mengambil ikan asin itu.
" Kenapa?, nggak suka ikan asin?", tanya Abi.
__ADS_1
Sari hanya nyengir, " Itu asin banget rasanya, Sari nggak suka makanan yang terlalu asin Abi", jawab Sari jujur.
" Pasti kamu sukanya makanan yang manis-manis ya ?, tebak Umi. Melihat dari tingkah laku dan wajah Sari yang selalu manis, membuat Umi menyimpulkan jika Sari suka makanan yang manis.
" Bukan Umi, Sari sukanya makanan yang pedas, semua jenis makanan yang pedas Sari itu suka". justru Musa yang menjawab uminya.
" Benarkah, wah kebetulan, umi bikin urapnya pedes, pasti kamu suka".
Benar saja, Sari makan dengan lahap karena urap kecipir dan daun singkong nya berasa sangat pedas, nikmat.
" Oh iya, kalian berdua apa berniat untuk berbulan madu?", Untung umi bertanya setelah Sari sudah selesai makan, jika belum sudah di jamin pasti dia sudah tersedak lagi, karena pertanyaan umi barusan.
" Nanti kalau kalian mau bulan madu ke Kairo bilang sama Umi ya, besok kan umi dan Abi kembali ke Kairo, mau memasrahkan restoran yang ada di sana sama teman Abi, sekalian titip rumah yang di sana sama mereka. Umi dan Abi berniat tinggal di solo lagi, setelah urusan di sana sudah selesai. Biar nggak kejauhan dari kalian".
" Kalau kalian bulan madu ke Kairo, biar Umi bilang sama teman Abi yang nantinya mengurus rumah itu. disana kan sudah ada rumah kita, jadi nggak usah nginep di hotel, rumah disana saja kosong, paling nanti kalau umi dan Abi pulang ke Indonesia,., akan di kontrakan karena dekat dengan kampus Al-Azhar, jadi pasti banyak mahasiswa yang butuh tempat tinggal disana, kalau kalian mau ke sana kabari dulu, biar rumah bisa di kosongkan terlebih dahulu", ucap Umi menjelaskan.
" Nggak ada bulan madu Umi, pernikahan kami memang sah secara agama, tapi belum dilegalkan. Sari masih ingin mencapai cita-cita Sari menjadi dokter, maaf kalau Sari membuat Umi dan Abi kecewa", tiba-tiba saja Sari berkata begitu jujur, sedikit membuat umi dan Abi terkejut.
Musa sampai bingung harus berkata apa, apa mungkin itu tujuan Sari meminta pernikahan secara siri, agar dia bisa mencapai cita-citanya terlebih dahulu saat status di KTP nya masih tertera 'Belum kawin'.
Memang mencari pekerjaan di jaman sekarang juga lebih mudah bagi siapa saja yang masih singgle. Musa juga mengetahui hal itu, dan karena janjinya akan mendukung Sari, Musa tidak bisa melarang nya untuk menjadi istri seutuhnya yang tetap berada dirumah dan menuruti semua perintahnya.
Karena sejak awal Sari sudah mengatakan apa keinginan dan cita-citanya.
_________________________
__ADS_1
Mohon maaf jika untuk beberapa hari kedepan tidak bisa up sampai 2 bab sehari, karena author harus menghadiri begitu banyak acara, terimakasih atas kesetiaannya masih mengikuti novel ini 😊🙏