Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Kembali Bersatu


__ADS_3

Pagi itu Sari dan Musa terbangun saat adzan subuh berkumandang, udara dingin yang menerpa, membuat keduanya yang masih bergumul di bawah selimut yang sama, semakin mengeratkan pelukannya.


Musa mengangkat sedikit kepalanya memeriksa Rasyid yang masih tidur dengan nyenyak nya di dalam box bayi, kemudian tersenyum melihat istrinya yang meringkuk dan masuk semakin dalam ke dalam dekapannya.


Jari jemari Musa kembali merayap di bagian-bagian sensitif pada tubuh Sari.


" Pengin nggak terasa dingin kan?", hembusan nafas Musa yang terasa hangat di telinga Sari saat dia berbisik, serta sentuhan lembut dari tangan Musa di bagian sensitif tubuhnya, membuat pipi Sari memanas.


Mereka pun kembali melakukan pergulatan seperti semalam, tentu saja setelah melakukan wudhu terlebih dahulu.


Tubuh yang tadinya terasa dingin, kini mulai memanas, karena olah raga pagi yang mereka berdua lakukan saat ini.


Setengah jam kemudian Sari sudah terkulai lemas dengan senyum bahagia di bibirnya. Sari lebih dulu mencapai *******. Sedangkan Musa masih on, dan bergerak lincah di atas tubuh Sari.


Sari hanya pasrah membiarkan Musa untuk mengeksplore tubuhnya, bisa dibilang pembalasan setelah begitu lama benda pusaka miliknya tidak dipergunakan.


Dan akhirnya beberapa menit kemudian Musa pun mencapai puncak kenikmatannya. Musa langsung merebahkan diri di samping Sari. Namun beberapa menit kemudian bangun dari tidurnya.


" Sayang... ayo mandi dulu, kita sholat subuh berjama'ah", Musa mengecup kening Sari yang terasa dingin.


Musim hujan memang sudah berakhir, berganti dengan musim kemarau yang membuat pagi ini terasa begitu dingin seperti tinggal di kutub selatan.


" Dingin...", gumam Sari, yang suhu tubuhnya sudah kembali semula, Sari masih meringkuk, tanpa berusaha membuka matanya.


Musa hanya menggelengkan kepalanya melihat istrinya seperti kucing yang sedang meringkuk didalam selimut.


" Mas mandi duluan ya, sekalian siapin air panas buat kamu, biar nggak kedinginan".


Musa beranjak dari tempat tidur dan langsung masuk ke dalam kamar mandi, mengisi bak mandi dengan air panas untuk mandi junub.


Udara yang dingin memang benar-benar terasa, rasa dingin sampai merasuk ke dalam tulang. Musa sengaja mandi dengan cepat karena meski sudah menggunakan air hangat, rasa dingin itu masih tetap merasuk.


Musa mengenakan handuk kimono keluar dari kamar mandi, kemudian membangunkan Sari dengan meneteskan air dingin di kening Sari.


" Iih... Mas apaan sih, dingin tau ".


" Ssstttt.... jangan berisik, nanti Rasyid bisa bangun kalau suaramu terlalu keras".


Sari pun langsung diam dan berjalan dengan sangat malas ke kamar mandi.


Langsung mandi karena sudah disiapi air hangat oleh Musa di dalam bathub.


" Terasa begitu hangat dan nyaman", Sari bergumam sendiri.


Tapi saat dia keluar dari bathub, udara dingin kembali merasuk. Sari buru-buru mengenakan handuk kimono berwarna putih miliknya yang tergantung di dinding kamar mandi. Sari keluar dan buru-buru mengenakan pakaian hangatnya.


" Sudah mulai musim kemarau, udara jadi terasa begitu dingin", Sari selesai mengenakan pakaian dan langsung mengenakan mukena, bergabung dengan Musa yang sudah rapi mengenakan sarung dan baju muslim.


Pagi ini Rasyid tidur begitu nyenyak, mungkin karena udara sejuk, jadi nyaman untuk tidur lebih lama.


Sari langsung ke dapur untuk menyiapkan sarapan. Bi Nunung ternyata sudah lebih dulu berada di dapur. Tengah memotong-motong sayuran yang sudah dicucinya tadi.

__ADS_1


" Bibi sudah mau masak, maaf ya bi...Sari kelamaan nggak keluar-keluar kamar".


Bi Nunung hanya tersenyum, " nggak papa mba Sari, kalau punya bayi kecil memang sukanya sibuk ngurusin bayi, jadi bibi masak duluan".


" Siapa yang ngurusin bayi, bayi besar iya, hihihihi", batin Sari sambil menahan senyum.


" Tapi Rasyid masih tidur Bi, jadi Sari bantu bibi masak ya".


Sari dan Bi Nunung pun memasak bersama menyiapkan sarapan pagi.


***


" Ketemu dimana?", suara Linda nyaring terdengar dari dalam ponsel Dimas.


" Kamu masih di kantor?, tunggu di lobi, 10 menit lagi aku sampai".


" Jangan lupa langsung ganti pakai kemeja salur biru yang kemarin kita beli bareng", Dimas menutup panggilan teleponnya setelah mendengar jawaban 'oke' dari Linda.


20 menit kemudian mereka berdua sudah berada di tempat tujuan. Linda sempat membaca baner besar di depan studio.


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


...Bayu Photo Studio...


...Prewedding photo...


...Wedding photo...


...\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=...


Linda dan Dimas turun dari mobil, dan masuk ke dalam studio dengan mengenakan kemeja dengan motif yang sama.


" Selamat datang Mba Linda dan Mas Dimas ", seorang laki-laki dengan kamera yang menggantung di lehernya menyapa Dimas.


Bayu adalah seorang fotografer profesional, dia adalah suami dari teman SMA Linda.


" Jadi... tema prewednya mau apa Mas?", Bayu langsung pada intinya, tanpa berbasa-basi karena mereka baru saling mengenal, juga baru pernah bertemu.


" Tema santai saja Bos".


" Oke, biar di touch up sedikit sama mba Fia, yang disana ya", ujar fotografer yang akan mengambil foto prewed Dimas dan Linda.


" Siap bos, kita berdua sama-sama baru pulang kerja, jadi muka kucel, capek seharian urus kerjaan". Dimas berjalan mengikuti Linda menuju make up profesional yang bernama mba Fia.


" Aduh cin.... pada dasarnya wajah kalian berdua udah cantik dan ganteng, jadi hanya butuh dipoles sedikit buat ngilangin raut capek kalian berdua, pasti melelahkan ya karena baru pulang kerja". Mba Fia yang nama aslinya Alfian, seorang laki-laki dengan logat perempuan, terlihat begitu seksi karena mengenakan dress mini dengan gundukan besar pay*dara buatan yang entah berisi apa di dalamnya.


Membuat Dimas sedikit ilfil karena harus menurut untuk di sentuh wajahnya oleh seorang laki-laki cantik yang maunya di panggil mba Fia itu.


" Beruntung banget lu cin... dapet cowok yang laki banget begitu, kalau ada lagi, eike mau dong dikenalin", Mba Fia terus berbicara sambil melakukan touch up make up pada Linda.


Linda hanya menahan senyum mendengar kalimat mba Fia, " kalau ada, memangnya mau diajak ngapain mba?, main anggar ?".

__ADS_1


" Bhahahaha....!"


Pertanyaan Linda sontak membuat Bayu fotografer yang akan membuat foto prewed Linda dan Dimas langsung ngakak.


" Ih... jahat banget si cin...bilang eike mau main anggar, kan bisa lewat jalan belakang cin...".


Jawaban mba Fia membuat Dimas semakin ilfil dan kabur menjauh dari samping Linda mendekat ke mas Bayu.


" Aku nggak usah di make up, biar aku ke kamar mandi dan cuci muka saja, dimana kamar mandinya bos?".


Bayu menunjukan arah menuju kamar mandi kepada Dimas.


Dimas pun langsung berjalan cepat menuju kamar mandi untuk cuci muka. Saat Dimas keluar dan sudah selesai cuci muka, wajahnya kini terlihat lebih fresh meski tidak di make up. Bagian rambut depannya yang basah juga menambah kesan maskulin.


" Oke kita langsung take foto nya".


Dimas dan Linda mengikuti arahan mas Bayu si fotografer tentang bagaimana posisi mereka, pengambilan foto berjalan dengan lancar.


" Tangan kirinya coba naik ke pundak Mas-nya ya mba".


" Terus masing-masing pegang bunga kering ".


" Mas-nya agak nengok ke arah mba-nya, tatap dengan penuh cinta".


" Ya...oke".


" Ganti pose".


Dan acara pemotretan pun berlangsung selama setengah jam.


" Yang mau dipakai di undangan, foto yang mana Mas?", tanya Bayu.


Dimas dan Linda memilih beberapa foto yang menurut mereka paling terlihat bagus dan serasi.


" Yang ini saja bos".


Dimas menunjukkan foto yang dipilih bersama dengan Linda.



* photo by : inspirasi busana prewed


" Terimakasih Lin, sudah mau menerimaku kembali, meski dulu aku sudah sangat membuat kamu kecewa", Dimas memulai obrolan saat mereka berdua berada di dalam mobil menuju ke rumah Linda.


" Mungkin pikiranku bisa dengan mudah melupakan kakak, tapi tidak dengan hatiku".


" Dan aku harap, kakak tidak mengulangi kesalahan yang dulu pernah kakak lakukan".


Dimas mengangguk sambil mengusap tangan kanan Linda dengan tangan kirinya. Sedangkan pandangan masih fokus ke depan karena tengah menyetir.


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


* Anggar : ilmu beladiri menggunakan senjata yang berkembang menjadi seni budaya olahraga ketangkasan dengan senjata yang menekankan pada teknik kemampuan seperti memotong, menusuk atau menangkis senjata lawan dengan menggunakan keterampilan dalam memanfaatkan kelincahan tangan.


__ADS_2