Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Cinta Tulus


__ADS_3

" Apa mereka berdua sudah lama berada disini?"


Musa bertanya pada Sari sambil menyuapi Sari dengan buah pir yang sudah dikupas dan dipotong-potong kecil olehnya.


Sari menelan pir yang sudah di kunyahnya, baru kemudian menjawab pertanyaan Musa.


" Sepertinya sudah lama, tapi aku belum sempat ngobrol lama, karena tadi aku sedang tidur siang. Dan saat aku bangun, mereka berdua sudah ada di sini".


" Oh ya Mas, tadi kata dokter Solihin, Sari sudah boleh pulang sore ini. Jadi kita berkemas ya. Sari pengen cepet pulang", ujar Sari.


" Apa kamu sudah benar-benar merasa sehat?, mual dan pusing mu bagaimana?, apa sudah tidak terasa lagi?", Musa juga sebenarnya tidak betah Sari berlama-lama dirawat di rumah sakit, tapi Musa juga tidak mau pulang ke rumah sebelum Sari benar-benar sehat.


" Mas tenang saja, mual dan pusing saat hamil itu kata dokter Agus adalah hal yang wajar, selama tidak berlebihan bukan suatu masalah".


" Kita pulang ya Mas?", rengek Sari.


" Iya kita pulang, aku urus ke bagian administrasi dulu".


Musa pun keluar dari kamar Sari untuk mengurus kepulangan Sari nanti .


Adzan Isa berkumandang, Sari dan Musa sudah sampai di rumah mereka.


Di rumah sakit semalam membuat Musa tidak bisa tidur nyenyak, karena terus khawatir dengan keadaan Sari.


Malam hari banyak tetangga yang menjenguk Sari ke rumah. Mereka mendengar kabar kehamilan Sari, dan memberi selamat.


Sari memang sudah mengenal baik para tetangga Musa, sejak mereka menikah siri dan tinggal bersama, Musa langsung memperkenalkan Sari dengan para tetangganya, biar tidak ada salah paham.


" Selamat ya mba Sari dan ustadz Musa, semoga ibu dan calon bayinya diberi kesehatan ", kata tetangga pertama.


" Iya selamat ya Mba Sari...sudah tiga tahun lebih, akhirnya terjawab sudah doa dan penantian ustadz Musa selama ini", kata tetangga kedua.


" Memang kalau perempuan hamil itu bawaannya mual dan muntah, kalau mau nggak muntah-muntah terus kata ibuku dibanyakin minum air jahe, bisa meredakan mual", kata tetangga ketiga.


Dan bla...bla...bla... masih banyak tetangga lain yang ikut menyelamati dan memberi wejangan. Sari bersyukur di kelilingi oleh tetangga yang baik.


Malam semakin larut, jam 9 para tamu sudah pamit pulang ke rumahnya masing-masing. Akhirnya Sari bisa beristirahat dengan tenang.


Musa merebahkan diri di samping Sari. Tanpa basa-basi Sari langsung memeluk Musa dan menyandarkan kepalanya di lengan Musa. Tangan kirinya memeluk tubuh Musa dengan erat.

__ADS_1


" Sekarang Sari sudah tau kenapa Sari jadi cemburuan akhir-akhir ini. Ternyata karena hormon yang mempengaruhinya. Sepertinya anak Mas ini sangat posesif sekali dengan ayahnya. Nggak mau ayahnya nyuekin, pengennya di perhatiin terus".


Musa tersenyum dan mengusap lembut rambut Sari. " Anak Mas atau ibunya yang posesif..., bagi Mas si nggak masalah, karena Mas merasa senang jika kamu lagi cemburu kaya kemarin. Kamu jadi gemesin banget" , kali ini Musa menyubit pipi Sari dengan tangan kanannya.


" Aaww.... gemas sih boleh saja, tapi nggak pakai nyubit pipi Sari juga Mas, kan pegel", Sari manyun.


" Hehehehe, iya maaf sayang....tadi lepas kontrol". Musa langsung memeluk Sari dan menenggelamkan wajah Sari di dadanya. Mereka berdua pun tidur sambil memeluk satu sama lain.


***


" Kamu itu nggak bisa-bisa move on dari Sari ya Zal?, aku sampai nggak habis pikir sama kelakuan kamu. Jelas-jelas Sari itu sudah jadi istri orang, tapi kamu masih saja mencintainya", Eli marah-marah di dalam mobil saat pulang bersama Rizal.


" Kamu sendiri tahu kan El, seberapa dalam perasaan cintaku sama Sari. Apalagi kabar pernikahannya begitu mendadak dan belum lama aku mengetahuinya, jadi wajar kan kalau aku sedikit kesulitan untuk menghilangkan perasaan ini".


" Apa kelihatan banget kalau aku masih mencintainya El?".


Eli mengangguk, " dan aku yakin Pak Musa juga pasti bisa melihat dari dalam mata kamu, masih ada cinta untuk Sari".


" Apa nggak sebaiknya kamu mencoba membuka hati dan mencintai wanita lain Zal?".


Rizal menggelengkan kepalanya sambil menatap lurus ke depan.


" Tidak adil bagi wanita itu, jika ternyata kekasihnya masih mencintai wanita lain".


" Aku...tidak mau jadi laki-laki jahat yang berusaha menyembuhkan rasa sakit ku dengan memberikan rasa sakit pada orang lain".


Eli menatap Rizal, ucapan Rizal membuat Eli semakin kagum padanya. Dan entah dorongan dari mana, Eli menjadi mempunyai keberanian untuk mengungkapkan isi hatinya.


" Tapi aku mau menjadi wanita itu Zal... aku mau membantu menyembuhkan lukamu".


" Meski aku harus merasakan sakit terlebih dahulu. Tapi aku harap suatu saat nanti kamu akan membalas cintaku".


Rizal terperanjat mendengar kalimat Eli, dan seketika mengerem mobilnya. Untung mereka sudah sampai di depan rumah Eli, dan lalu lintas malam hari pun sepi, sudah jarang ada kendaraan lewat.


" Kamu bilang apa El?", Rizal minta Eli mengulang kalimatnya, takut dia salah dengar.


Eli pun menatap Rizal tanpa ragu.


" Aku mau membantu kamu melupakan Sari, karena aku mencintaimu Zal, cintaku tulus padamu, sudah lama aku mencintaimu. Namun aku terlalu takut untuk mengungkapkannya. Aku takut kamu menjauhiku dan tidak mau bertemu denganku lagi".

__ADS_1


" Tapi aku sungguh-sungguh mencintaimu, dan aku ikhlas untuk merasakan sakit, jika memang kamu belum bisa melupakan Sari sepenuhnya".


" Karena sudah sejak lama juga aku merasakan sakit itu".


" Setiap kali kamu memuji-muji Sari, dan menyebut namanya dengan penuh cinta, perasaanku sakit".


" Tapi itu bukan salahmu, karena kamu sudah jauh lebih dulu mencintainya. Sebelum aku mulai mencintaimu".


" Aku harap kamu bisa menjadi kekasihku, tidak apa aku membuang ego, dengan menyatakan cinta terlebih dahulu".


" Bukan kesalahan kan menyatakan perasaanku pada seorang laki-laki?, dan laki-laki yang beruntung itu adalah kamu".


" Kutunggu jawaban atas pernyataanku ini, tidak perlu buru-buru menjawab, berpikirlah matang-matang".


" Terimakasih sudah mengantarku pulang Zal... dan hati-hati di jalan".


Eli keluar dari mobil Rizal dan berjalan masuk kedalam rumahnya.


Rizal masih terdiam di kursi kemudi, otaknya sedang tidak bisa untuk berpikir, mungkin karena saking terkejutnya mendengar pengakuan Eli barusan.


" Aku harus bagaimana?, Eli satu-satunya sahabat perempuanku, dia yang selalu setia mendengarkan semua curahan hatiku, dia yang paling mengerti aku".


" Tapi justru dia menyatakan bahwa dirinya mencintaiku"


" Ahhhh...", Riza mengacak-acak rambutnya.


" Seharusnya kamu tidak mencintaiku El... aku tidak mau menyakitimu...".


" Tapi selama ini tanpa sepengetahuanku, kau sudah tersakiti, maafkan aku Eli, maafkan aku...".


Rizal melajukan mobilnya, meninggalkan rumah Eli.


\=\=\=\=\=\=\=


Mohon maaf readers yang baik hati 🙏


mungkin untuk beberapa hari kedepan nggak bisa up rutin setiap hari, ada kabar duka dari salah satu keluarga.


Mohon menjadi maklum 🙏

__ADS_1


__ADS_2