
Pesan yang Sari kirim tak kunjung dibaca, entah apa yang sedang Musa lakukan, yang jelas saat ini Sari sangat merasa bersalah dan khawatir kalau Musa marah dan kecewa padanya.
" Sudah dua kali ini aku ketahuan berbohong, yaitu tadi sore dan dulu saat pertama kali bertemu, semoga saja, Ustadz Musa tidak membenciku", gumam Sari .
Sari meletakkan ponselnya di meja yang berada di samping ranjang, " mungkin ustadz sedang sibuk, karena itu tidak membaca pesan yang ku kirim", Sari berusaha menghibur dirinya sendiri.
Hingga pagi hari Sari terbangun dari tidurnya dan mengecek ponselnya, tapi pesan yang dikirimkan pada Musa masih belum juga di baca.
" Apa dia sengaja tidak membaca pesan dariku?", pikir Sari.
***
" Pagi Sari !", sapa Rizal saat baru sampai di kelas.
Hari ini ada pelajaran agama, di jam pertama dan kedua, jadwalnya sama seperti saat kelas 11 dulu, hari selasa. Sari berharap akan bisa mencari jawaban dari ekspresi Musa padanya nanti, jika Musa mengacuhkannya, berarti fix... Musa marah.
Bel masuk berbunyi, dan lima menit kemudian bukan Musa yang masuk ke dalam kelas, melainkan guru agama lain, yaitu pak Zaki, guru yang juga masih muda, hanya dia sudah menikah dan mempunyai seorang putri yang baru berusia 18 bulan.
" Assalamualaikum warahmatullahi wabarokatu", Pak Zaki membuka pertemuan pagi ini dengan ucapan salam.
" Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatu.....!!!", jawab para murid serempak.
" Baiklah anak-anak, sebelum kalian semakin banyak bertanya, bapak jelaskan dulu kenapa hari ini, bapak yang mengajar kalian, bukan Pak Musa". Zaki maju ke depan kelas dan menjelaskan.
" Kemarin Pak Musa dan Pak kepala sekolah, mengikuti undangan pertemuan di salah satu hotel di daerah sekitar alun-alun, di acara itu dibahas tentang program sekolah untuk pembelajaran bahasa Arab dasar, dan usai seminar kemarin, diadakan rapat khusus oleh bapak kepala sekolah, dan beliau mengutus Pak Musa sebagai perwakilan dari guru-guru agama di SMA negeri. Jadi saya mengisi kelas beliau selama kurang lebih dua kali pertemuan, karena Pak Musa tugas di luar selama kurang lebih dua minggu lamanya".
Mendengar penjelasan Pak Zaki, ada beberapa murid yang ekspresinya berubah muram, termasuk Sari salah satunya.
" Kenapa kemarin ustadz Musa tidak menceritakan apa-apa padaku?, padahal kan kami bertemu cukup lama dan ngobrol lama juga saat makan bakso sebelum mengaji. Jangan-jangan dia benar-benar marah padaku", batin Sari.
Saat bel istirahat pertama, Sari langsung mengecek ponselnya. Pesan yang dikirim untuk Musa sudah di baca dan juga mendapatkan balasan.
~ Kamu tidak berbohong, tapi kamu menyampaikan informasi setengah-setengah, dan separuh kebenaran itu lebih menakutkan dari pada sebuah kebohongan . Saya tidak marah, tapi saya harap kamu bisa menjadi pribadi yang lebih baik ~
Pesan balasan Musa tidak terlalu panjang, tapi berhasil menikam hati Sari begitu dalam. Tidak pernah Sari merasa sangat bersalah seperti ini. Dan dari kejadian kali ini, Sari kembali mendapat pelajaran penting, jika 'separuh kebenaran lebih berbahaya dari sebuah kebohongan', karena separuh kebenaran sama halnya membenarkan sebuah kebohongan.
__ADS_1
Sari menelungkup kan kepalanya di atas meja, ber alaskan lengan tangannya. Rasanya malas untuk pergi ke kantin untuk mencari makan.
" Kamu kenapa Sar?, kok lemes begitu, dapat pesan dari siapa kok langsung berubah loyo?, mau ke kantin nggak?", Eli yang sedari tadi memperhatikan Sari jadi penasaran.
" Aku mau merem sebentar, kalau kamu mau ke kantin, sama yang lain saja El, aku lagi nggak nafsu makan", ucap Sari dengan suara pelan.
Eli mengerutkan keningnya menatap Sari intens. " Kalau kamu nggak ke kantin, aku juga males pergi sama yang lain", gumam Eli.
Eli memanggil agung yang hendak keluar bersama Rizal menuju kantin.
" Gung, nitip belikan jajan ya, terserah kamu apa aja, yang bisa ganjel perut! ", seru Eli.
Agung mengangkat alisnya, bermaksud bertanya apa yang terjadi dengan Sari, tapi Eli memberi kode agar Agung segera pergi, dengan mengibaskan tangannya keluar.
" Kamu kenapa si Sar?, cerita dong kalau ada masalah", Eli mengusap rambut depan Sari yang jatuh menutupi wajahnya yang sedang menyender ke meja.
" Nggak papa, lagi nggak mood saja", jawab Sari singkat.
Hingga sampai bel pulang sekolah berbunyi, Sari berjalan paling terakhir dari teman-temannya yang lain. Sampai Eli kebagian nggembok pintu kelas. Memang begitu kebiasaan di kelas mereka, yang terakhir pulang kebagian nge-gembok pintu kelas, dan kuncinya selalu dibawa oleh Rizal ketua kelas.
" Kamu beneran nggak papa Sar?, aku khawatir loh liat kamu, dari pagi sudah nggak semangat banget", Eli menggandeng tangan Sari berjalan bersama menuju pintu gerbang.
" Aku duluan ya El", Sari melambaikan tangannya pada Eli dan saat masuk ke angkot keningnya membentur bagian atas pintu masuk angkot.
" Awww...!!". Sari mengusap keningnya, berhasil membuat penumpang yang lain menahan senyum karena kejadian yang menimpanya barusan.
Sari terus menunduk sepanjang perjalanan pulang, karena malu, merasa orang lain sedang menertawakan dirinya
Karena penumpang angkot yang penuh , membuat posisi duduk jadi berhimpitan, tiba-tiba ada seorang penumpang cowok duduk di sebelah Sari dan berdehem, suaranya Sari begitu familiar.
Memaksa Sari yang sejak tadi menunduk, jadi menoleh dan menatap ke arah penumpang yang duduk di sebelahnya.
Mata sayu Sari langsung berubah jadi berbinar ketika mendapati ternyata yang duduk di sampingnya adalah Musa, masih menggunakan seragam keki, tapi ditutup dengan Hoodie berwarna abu-abu.
Tidak tampak seperti guru, lebih mirip seperti murid SMA.
__ADS_1
Musa hanya tersenyum membalas tatapan mata Sari, sampai mereka berdua hendak turun di pertigaan yang menuju ke rumah Sari.
Musa turun terlebih dahulu, dan tangannya menutupi bagian atas pintu angkot, agar Sari tidak kepentok lagi.
" Terimakasih", ucap Sari sambil tersenyum di kulum.
" Kenapa kamu nggak fokus?, lagi ada masalah?, dari tadi saat di sekolah, saya panggil-panggil, tapi nggak denger juga, kenapa?, ngelamunin saya?", pertanyaan Musa membuat Sari terkesiap. Karena memang benar tebakan Musa, sejak pagi Sari terus kepikiran dengannya.
" Bukan ke PD an loh ya..., tapi sejak tadi pagi saat mengikuti kegiatan diluar sekolah, saya terus kepikiran kamu. Saya pernah baca di sebuah artikel yang mengatakan, ' jika kamu tiba-tiba memikirkan atau teringat pada seseorang, ada kemungkinan besar orang yang ada dalam pikiranmu juga sedang memikirkan kamu', itu seperti sejenis ikatan batin".
" Sebenarnya saya sekaligus sedang uji kebenaran dari kalimat itu, benar atau salah", ujar Musa.
" Sudah sampai rumah, apa Ustadz mau mampir?, Kakek sedang ada urusan di luar, sehingga mas Soleh tidak bisa menjemput ku, karena harus mengantar kakek", Sari membuka pintu gerbang rumahnya.
" Saya mau dengar jawaban kamu, jadi saya masuk ya?, ada bi Nunung kan di dalam?", Sari mengangguk, memang jam segini bi Nunung belum pulang ke rumahnya.
Sari masuk kedalam rumah setelah mengucap salam, bi Nunung juga langsung menyambut kedatangan Sari dengan tergopoh-gopoh berlari dari belakang.
" Bi... tolong buatkan minuman buat Ustadz Musa, Sari mau ganti baju dulu". Sari masuk ke kamarnya meninggalkan Musa yang duduk di ruang tamu sendirian.
Setelah bi Nunung menyajikan minuman untuk Musa bi Nunung langsung menyapa Musa karena sudah lama tidak bertemu. Sejak jadwal mengaji di ganti malam hari, Bi Nunung tidak pernah lagi bertemu dengan Musa, karena bi Nunung selalu pulang jam setengah 5 sore.
Sari keluar ke ruang tamu setelah cukup lama berada di kamarnya. Ternyata Sari kedatangan tamu bulanan, pantas saja jadi mudah sensitif banget hari ini.
" Wah lagi kangen-kangenan ya bibi sudah lama nggak ketemu sama ustadz Musa", seloroh Sari.
" Iya...bibi kangen banget sama ustadz Musa, sampai ngajak ngobrol terus, lupa nggak di tawarin minum, silahkan di minum teh manisnya Ustadz, bibi ke belakang lagi, biar bibi siapkan makan siang buat Mba Sari dan Ustadz", bi Nunung langsung berjalan ke belakang sambil membawa nampan kosong di tangannya.
" Maaf tadi lama di kamar, sepertinya nanti malam dan seminggu ke depan, kegiatan mengajinya libur dulu ,Tadz, Sari kedatangan tamu bulanan", ucap Sari begitu polos.
Musa mengangguk mengerti apa maksud ucapan Sari. Dan menyeruput teh manis yang sudah anget-anget kuku.
" Sepertinya memang benar sepotong kalimat yang tadi ustadz katakan, karena dari pagi Sari terus kepikiran sama ustadz, Sari mau minta maaf secara langsung, tapi tadi pagi yang isi kelas malah Pak Zaki, jadi Sari kepikiran Ustadz terus sampai pulang". Sari menundukan kepalanya karena malu.
" Sudah saya maafkan, tapi seperti pesan saya, jangan di ulangi lagi ya?, itu tidak baik", ucap Musa.
__ADS_1
Sari mengangguk, Sari merasa sangat beruntung karena memiliki kekasih dengan memiliki hati yang lapang.
" Baik ustadz, Sari nggak akan ulangi lagi, kecuali....jika tiba-tiba kepepet, hehehehe. ", Sari meringis ke arah Musa yang juga tersenyum melihat tingkah manis pujaan hatinya itu.