Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Seluruh Cinta


__ADS_3

Malam hari Sari tidur lebih awal setelah seharian melakukan perjalanan jauh dengan medan yang terjal. Naik dan turun bukit, membuat Sari langsung tertidur pulas usai sholat Isa.


Tapi berbeda dengan keadaan Musa yang masih ingin mengingat moment kebersamaan dengan Sari tadi di dalam pikirannya. Sudah tidak bisa di pungkiri lagi, jika Musa benar-benar jatuh cinta pada muridnya sendiri.


Entah apa kata orang nanti jika ada yang sampai tahu perasaannya. Untuk menjaga nama baik Sari dan nama baiknya sendiri, Musa telah memutuskan untuk memendam terlebih dahulu perasaannya, setidaknya sampai Sari lulus SMA dan tidak lagi menjadi muridnya.


Malam ini Musa duduk-duduk di pondokan kecil yang berada di halaman samping penginapan, malam itu suasana terlihat lebih ramai dari kemarin. Ada serombongan anak-anak kuliahan yang menginap di penginapan itu, mereka mengadakan acara ramah tamah di teras samping penginapan, beberapa ada yang bernyanyi dan satu orang bermain gitar.


Serombongan mahasiswa itu terlihat begitu menikmati malam yang terang bertabur bintang, benar sekali..., malam itu udara terasa dingin dan semua bintang seperti menampakan diri, menghiasi langit malam yang hitam, menjadi lebih indah dan menakjubkan.


Musa mendengarkan lagu-lagu yang dinyanyikan oleh para mahasiswa itu. Ternyata dari beberapa mahasiswa yang tengah berada di teras, mempunyai selera yang berbeda-beda, terbukti dari lagu-lagu yang mereka nyanyikan, mahasiswa pertama menyanyikan lagu barat, yang kedua lagu Korea, yang ketiga lagu India dan seterusnya begitu berfariasi, ada yang menyanyikan lagu pop, rock, sampai dangdut, ada juga yang bernyanyi lagu daerah. Tapi dari perbedaan selera itu mereka tetap terlihat kompak.


Malam semakin larut, jam dinding menunjukkan pukul 10.39 malam, Musa hendak masuk kedalam kamarnya, ketika tiba-tiba melihat Sari keluar dan berjalan menghampirinya. Sehingga Musa mengurungkan niatnya.


" Huaahm....", Sari menutupi mulutnya yang menguap. " Belum tidur Tadz?", tanya Sari sambil mendudukkan dirinya di samping Musa, dengan wajah kucel khas orang bangun tidur.


" Belum, belum merasa ngantuk", jawab Musa sambil menatap Sari dengan begitu lekat.


" Bangun tidur dengan rambut acak-acakan dan kaos yang berantakan, berjalan keluar kamar dengan begitu santai dan cuek, tanpa jaim dan malu-malu seperti gadis pada umumnya. Tapi masih tetap terlihat sangat cantik " , batin Musa, padahal tidak jauh dari posisi Musa banyak mahasiswa cantik yang tengah melirik ke arahnya.


Sari mendekat posisi duduknya dengan posisi Musa. Kemudian berbisik lirih di dekat telinga Musa, yang membuat Musa langsung merinding, bukan karena pertanyaan yang Sari ajukan, melainkan karena hembusan nafas Sari yang terasa hangat di telinga dan leher Musa.


" Ustadz lagi TP-TP ya?".


" Apa itu TP-TP?", Musa memang baru pernah mendengar ada kata seperti itu.


" Tebar pesona, masa gitu saja nggak tahu", Sari memanyunkan bibirnya.


Musa hanya tersenyum geli karena baru tahu arti kata TP yang Sari maksud.


" Memang baru pernah dengar, jadi belum tahu, tapi sekarang sudah tahu, dari kamu", ujar Musa.


" Kenapa bangun tidur ?, kan belum pagi, masih bisa di lanjut tidurnya", tanya Musa.


" Iya, tadi ngantuk banget, jadi habis sholat Isa langsung tidur, belum sempat makan malam, jadi kebangun deh karena sekarang perut protes, lapar" terang Sari, sambil mengusap-usap perutnya yang rata.


" Oh ya ampun, kan tadi aku keluar kamar tujuannya mau ke dapur, kenapa malah jadi ke sini !", Sari menepuk jidatnya sendiri, membuat Musa menggelengkan kepalanya.


" Tadz, dari pada ustadz disini sendirian jadi bahan tontonan dan zina mata sama mahasiswi-mahasiswi itu, mending ustadz temani Sari ke dapur", ajak Sari, yang sebenarnya dari tadi mau ke dapur, tapi tidak berani, karena lorong menuju dapur hanya menggunakan lampu bohlam, yang nyalanya kurang terang. Membuat Sari takut sewaktu hendak melewatinya, untung saja Sari mendengar suara banyak orang di luar, yang tengah bernyanyi-nyanyi dan ketawa ketiwi, ada Musa juga duduk sendirian menjadi bahan tontonan para masiswi itu. Jadi Sari berusaha mencari teman, yang mau menemaninya ke dapur.


" Memangnya kamu mau masak apa malam-malam begini?", Musa beranjak dari duduknya dan mengikuti langkah Sari menuju dapur.


" Kita lihat dan manfaatkan bahan yang ada di dalam lemari es saja, baru bisa memutuskan ingin masak apa, setelah tahu bahan apa saja yang tersedia", Sari sampai di dapur dan membuka laci bawah dan atas, semuanya di buka, tapi hanya menemukan sebungkus mie instan rasa soto.


Sari membuka lemari es dan menjumpai ada beberapa sayuran yang masih ada. Sari mengambil air ke panci dan menaruh panci di atas kompor yang menyala.


Sari mencuci potongan sayuran dan cabe utuh, memasukkan ke dalam panci setelah air mendidih, kemudian memasukkan mie instan ke dalam panci juga.

__ADS_1


Sari membagi mie menjadi dua bagian.


" Karena di tambah sayur-sayuran kan hasilnya jadi banyak juga meski mie nya cuma sebungkus, hehehe", Sari terkekeh karena harus berbagi dengan Musa.


Mereka berdua duduk berdampingan di meja makan. Karena suasana malam yang semakin sunyi lamat-lamat terdengar suara nyanyian duet dari anak-anak kuliahan yang sedang bersenandung di teras samping.



*Kaulah seluruh cinta bagiku*


*Yang selalu menenteramkan perasaanku*


*Dirimu 'kan selalu ada di sisiku selamanya*



*Kau bagaikan nafas di tubuhku*


*Yang sanggup menghidupkan segala gerakku*


*Ku 'kan selalu memujamu*


*Hingga nanti kita 'kan bersama*



*Tak sanggup ku memikirnya lagi*


*Tiada lagi bait yang indah*


*Terdengar merdu terucap*


*Merayu menyanjungku, tenangkan jiwa*



*Kaulah seluruh cinta bagiku*


*Yang selalu menenteramkan perasaanku*


*Dirimu 'kan selalu ada di sisiku selamanya*



*Kau bagaikan nafas di tubuhku*


*Yang sanggup menghidupkan segala gerakku*

__ADS_1


*Ku 'kan selalu memujamu*


*Hingga nanti kita 'kan bersama*



*Tiada cinta yang setulus cintamu (cintamu*)


*Tiada yang sanggup gantikan dirimu*


*Tiada rasa seindah kasihmu*


*Tiada yang mampu temani diriku, ho-oh*



*Kaulah seluruh cinta bagiku*


*Yang selalu menentramkan perasaanku*


*Dirimu 'kan selalu ada di sisiku selamanya*



*Kau bagaikan nafas di tubuhku*


*Yang sanggup menghidupkan segala gerakku*


*Ku 'kan selalu memujamu*


*Hingga nanti kita 'kan bersama*



Lagu yang di populerkan oleh Siti Nurhaliza dan Cakra khan dengan judul 'Seluruh Cinta', bagaikan sebuah ungkapan hati Musa.


Musa diam-diam terus menatap pada Sari tanpa berusaha berpaling.


" Ustadz kenapa?, apa mulutku belepotan?", tanya Sari dengan begitu lugunya.


Membuat Musa baru menyadari sedari tadi dia terus menatap Sari yang sedang makan mie instan. Musa kemudian menganggukkan kepalanya, meski sebenarnya Sari tidak terlalu belepotan, hanya sebagai alasan, kenapa Musa terus menatapnya.


Musa mengambil tissue yang ada di atas meja makan, dan mengelap bibir Sari dengan tangan kanannya. Membuat Sari tertegun dan kehabisan kata-kata, Sari hanya bisa menelan salivanya.


" Meski lapar, pelan-pelan saja makannya, kalau masih kurang, punyaku masih utuh, kau makan lagi saja, aku sudah makan malam tadi", ucap Musa lirih sambil mengelap bibir Sari dengan gerakan slow motion.


Sari yang degup jantungnya semakin tidak beraturan langsung mengambil tissue dari tangan Musa dan mengelap bibirnya sendiri dengan wajah yang sudah begitu merah.

__ADS_1


Setelah mengelap bibirnya, Sari kembali mengambil sendok dan garpu miliknya dan melanjutkan menikmati mie instan miliknya.


" Ustadz makan saja, Sari sudah kenyang dengan bagian Sari", ucap Sari tanpa menatap ke arah Musa, karena Sari tahu saat ini Musa masih terus menatapnya dengan intens.


__ADS_2