Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Terserah Kamu


__ADS_3

Sari POV


Aku hanya bisa mengangguk, tanpa bersuara, tenggorokanku terasa tercekat, bahkan untuk menelan Saliva saja aku kesulitan.


Musa melepaskan bajuku setelah aku mengangguk, buru-buru aku keluar dari kamar itu dan berjalan menuju ruang makan yang berada di sebelah pantry, Kakek Atmo sedang berada di sana, tengah ngobrol dengan seorang koki yang di pekerjaan oleh kakek untuk memasak di penginapan.


Saat aku sampai dan duduk di samping kakek, ternyata kakek sudah memesankan Nasi goreng seafood yang super pedas untukku, dari aromanya membuat perutku semakin merasa lapar, tidak menunggu lama, aku langsung memakan makanan yang sangat menarik perhatian dan membangkitkan nafsu makanku.


Kakek terlihat tersenyum melihat caraku makan, yang begitu cepat dan bersemangat.


" Cucu kakek benar-benar lapar apa doyan ini?", Kakek Atmo menepuk punggungku.


Aku tersenyum mendengar ucapan kakek.


" Lapar sekaligus doyan kek", jawabku.


" Siang kek...Sari...., lagi makan ya?".


" uhuk...uhuk....", suara itu membuatku tersedak nasi goreng super pedas yang sedang ku nikmati.


Tenggorokan ku langsung panas dan ,hidungku terasa begitu pedih. Aku langsung menghabiskan segelas air putih yang ada di hadapanku.


Musa tiba-tiba datang dan menyapa kakek yang duduk di sebelahku, anehnya aku begitu kaget saat mendengar suaranya berada di belakangku.


Akhirnya kenikmatan nasi goreng langsung lenyap sudah diganti dengan rasa pedih di hidung dan panas di tenggorokan.


Sisa nasi yang tinggal beberapa suap tidak ku makan lagi. " Sari sudah selesai makannya kek, mau ke minimarket sebentar, mau beli larutan cap kaki tiga, ini tenggorokan panas banget", aku langsung berlari menuju ke minimarket untuk membeli yang ku sebut tadi, dan langsung berjalan keluar dari penginapan.


***


Author POV


Saat Sari melewati pintu gerbang tiba-tiba ada motor berhenti di depannya. Musa mengejar Sari menggunakan motor, yang sengaja di pinjamnya dari tukang kebersihan di penginapan. Kakek Atmo yang menyuruh Musa untuk mengejar Sari dan mengantarnya ke minimarket.

__ADS_1


Karena tadi Sari langsung kabur begitu saja, tanpa mengambil dompet dan ponsel terlebih dahulu.


" Ayo naik, minimarketnya cukup jauh, dan jalannya naik, kamu nanti kelamaan sampainya kalau jalan kaki", ajak Musa.


" Ini orang dapat motor dari mana?, tapi benar juga ucapannya", batin Sari, akhirnya Sari menuruti Musa naik ke boncengan motor, sebenarnya mini market tidak terlalu jauh, tapi jalan yang naik membuat motor melaju pelan, sehingga perjalanan terasa lebih lama.


" Tau begini tadi jalan kaki saja", batin Sari.


Dan akhirnya sampai di minimarket dalam waktu lima menit. " Nggak ada bedanya jalan kaki sama naik motor, nyampenya sama saja lima menit", gumam Sari.


Sari langsung turun dan masuk ke dalam minimarket, membeli larutan cap kaki tiga 5 botol sekaligus, dan hendak membayar ke kasir. Tapi Sari baru ingat kalau dompet nya dia letakkan di atas meja yang ada di samping bathub tadi waktu mau mandi.


" Total 35.000 Mba", ucap mba-mba kasir dengan senyum ramah.


" Sebentar ya mba", Sari hendak ke luar dan menemui Musa yang masih nangkring di atas motor. Tapi langkahnya terhenti ketika dilihatnya Musa memasuki minimarket.


" Pak... bawa dompet ngga?, Sari pinjam duitnya dulu, lupa nggak bawa dompet", ucapan Sari membuat Musa tersenyum, ternyata dugaan Kakek Atmo sangat tepat.


Musa berjalan menuju kasir. " Berapa semuanya mba?".


" Mba?, jadi berapa totalnya?", Musa mengulang pertanyaan nya.


" Ih...mba ini kok malah bengong!", teriakan Sari membuat mba Kasir tersadar.


" Eh iya... maaf Mas, aduh mas ini artis apa bukan ya?, kok wajahnya bisa bersih dan ganteng banget, minta foto boleh nggak mas?", tanya mba Kasir


" Nggak boleh, jadi kelamaan, sini Pak duitnya, buruan ini tenggorokan ku panas banget ", Sari menarik uang seratus ribu dari dompet Musa dan membayarkan pada Mba kasir.


" Apa?, kok manggilnya Pak?, apa mama dan papa muda ya?, aduh mbaknya beruntung banget, masih muda dapat suami yang gantengnya mirip artis yang sering nongol di TV", gumam mba Kasir.


Musa hanya tersenyum mendengar ucapan Mba kasir.


" What...?, suami?, aku masih SMA ya mba, baru naik kelas 3, apa sudah kelihatan kaya emak-emak sampai di bilang mama dan papa muda. Dia ini guru aku mba, jangan salah kira", terang Sari yang tidak mau di bilang mama muda.

__ADS_1


" Mbaknya ini becanda ya, kalau murid sama guru kok bisa boncengan motor dan jalan bareng ke komplek penginapan seperti ini, biasanya yang nginep disini itu, pasangan kekasih atau pengantin baru", ucap Mba Kasir sambil memberikan struk belanja dan kembalian.


Ucapan Mba kasir langsung membuat Sari sulit menelan salivanya. Dan buru-buru berjalan keluar dari minimarket.


Sari meletakkan kantong belanjaan di meja bundar dan duduk di kursi yang berada di depan minimarket, dan meminum larutan hingga habis satu botol.


" Masih terasa sedikit panas tenggorokannya, nggak seperti di iklan, yang habis minum bisa langsung adem", gumam Sari sambil memutar-mutar botol kosong yang ada di tangannya.


" Sabar, mana ada minum obat langsung sembuh, tubuh juga butuh proses untuk mencerna makanan dan minuman yang kita konsumsi", Musa keluar dari minimarket dan duduk di kursi yang berada di sebelah Sari.


Sari sengaja menarik kursinya, memberi jarak dengan kursi Musa, Sari masih canggung duduk berdekatan dengan Musa, gara-gara ucapan Mba kasir tadi.


" Dapat pinjaman motor dari mana Pak?", Sari akhirnya bertanya hal lain, sengaja mencari topik bahasan lain untuk menghilangkan rasa canggung diantara mereka.


" Kakek kamu yang pinjam sama orang yang kerja di penginapan. Nyuruh aku buat anterin kamu", terang Musa.


Sari kemudian menatap Musa, Musa mengerti jika Sari sepertinya ingin mengatakan sesuatu. Tapi Musa tidak ingin bertanya terlebih dahulu, takut di kira ke PD an.


Tapi benar dugaan Musa, Sari tiba-tiba mulai berbicara kembali.


" Pak...., aduh... kalau lagi di luar seperti ini manggil pak guru dengan sebutan Pak jadi seperti manggil sama suami, kalau begitu manggilnya 'tadz' saja ya, kependekan dari


' ustadz', biar nggak ada lagi yang nyangka kita suami dan istri", ujar Sari.


" Kenapa memangnya?, kamu keberatan?", tanya Musa.


" Loh, memangnya bapak nggak keberatan?, jelas itu akan menurunkan pasaran bapak, nanti jika ada cewek yang mau deketin bapak, gara-gara aku manggil Pak dikira bapak sudah beristri,dan cewek itu balik kanan nggak jadi PDKT sama bapak", terang Sari.


" Oh iya, kemarin juga suster Ema dan suster Dewi minta nomer ponsel bapak sama saya, sepertinya mereka tertarik dan pengen deketin bapak deh, boleh Sari ngasih nomer bapak ke mereka?", tanya Sari meminta persetujuan.


" Terserah kamu, kalau kamu kasih nomerku sama orang lain, maka saat mereka menghubungiku, aku akan mengatakan pada mereka jika kamu adalah pacarku. Biar mereka berhenti untuk menghubungi ku lagi".


" Pemikiran macam apa itu?, bisa-bisa nya bapak berbohong begitu",tanya Sari.

__ADS_1


" Loh terserah kamu saja, kuncinya ada sama kamu, kalau kamu nggak kasih nomerku sama siapa-siapa berarti kan aku nggak akan berbohong, tapi jika kamu berikan nomerku pada orang lain, maka dosa dari kebohonganku harus kamu tanggung", ucap Musa sambil beranjak menuju motor yang tadi mereka tumpangi.


__ADS_2