Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Kehadiran Kedua Orang Tua


__ADS_3

Musa langsung tertegun mendengar nama Sari di sebut oleh uminya, tapi langsung berusaha menepis bayangan Sari dari pikirannya, " gadis dengan nama Sari itu kan banyak, jadi mungkin itu adalah Sari yang lain", pikir Musa.


Musa pun mengambil pecel dan mendoan dari dalam mobil dan membawanya masuk ke dalam rumah.


Di dalam rumah sudah tersedia berbagai macam masakan yang tadi dipesan oleh Ardi, ditambah mendoan dan pecel yang dibawa umi, kini meja makan semakin sesak dipenuhi makanan.


" Wah untung dari tadi mau makan malam di tahan sengaja nunggu umi dan Abi sampai". Umi dan Abi menatap Hendrik sambil mencoba mengingat ingat wajahnya.


Hendrik yang tahu jika orang tua Musa sedang mengingat-ingat siapa dirinya langsung berdiri, " apa umi dan Abi lupa dengan saya?, saya Hendrik teman SMA Musa dari Solo, dulu juga sering main ke rumah", ujar Hendrik menjelaskan.


" Oh Hendrik putranya Pak Dirsan, yang dulu sering main kerumah?", tebak Abi.


" Iya betul, jadi terharu karena Abi ternyata masih mengingat saya", Hendrik tersipu.


" Kalau ini...?", Umi menatap ke arah Ardi.


Ardi berdiri dan memperkenalkan diri, " saya Ardi Prasetyo, teman Musa, asli orang Purwokerto tante".


" Jadi ternyata disini Musa sudah punya teman, Umi khawatir karena dia langsung mengajar di SMA, jadi kenalannya tidak banyak. Tapi umi lega karena dia punya banyak teman. Jangan panggil Tante, panggil umi juga, sama seperti Musa dan Hendrik, anggap saja seperti ibu sendiri", pinta Umi pada Ardi.


Ardi mengangguk mengiyakan, " Dengan senang hati saya akan memanggil 'umi' juga".


Umi tersenyum begitu tulus.


" Ayo sekarang kita makan malam dulu sebelum tidur, jangan tidur kemalaman, karena besok harus bangun untuk saur", semua menurut dengan ucapan umi.


Saat Musa sudah selesai makan malam, dan temannya sudah masuk ke dalam kamar, Musa menghampiri uminya ," Umi tadi beli pecel dimana?", tanya Musa .


" Di alun-alun, memangnya kenapa?".


" Berarti memang mungkin Sari yang membelikan adalah gadis lain, bagaimana mungkin akan ketemu sama Sari muridnya, bukankah justru jika iya gadis itu adalah dia, akan menjadi kebetulan yang aneh?", pikir Musa.


" Musa cuma mau tau saja, rasanya enak", ucap Musa beralasan. Padahal sebenarnya sedang mencari tahu siapa Sari yang sudah mentraktir uminya itu.


" Mus, bagaiman kegiatanmu di sini?, apa paman Irsyad bersikap baik?", tanya Abi yang tiba-tiba muncul dari balik pintu kamar.


" Alhamdulillah paman Irsyad sangat baik, sudah beberapa hari yang lalu, Irsyad juga mampir ke rumahnya, bertemu dengan Bulik Santi, beliau menitipkan salam untuk di sampaikan pada Abi dan Umi", ujar Musa.


" Abi, bagaimana kalau lebaran besok kita di sini saja, sekali-kali lebaran di kota orang, terus kita silaturahmi ke rumah Irsyad dan Santi, mereka pasti terkejut dengan kedatangan kita", usul Umi.

__ADS_1


Abi menganggukkan kepalanya, " boleh juga, kita ke solo, dan ziarah ke makam bapak dan ibu lebaran ke duanya saja", memang nenek dan kakek Musa semuanya telah tiada saat Musa masih kecil, yang terakhir meninggal kakeknya, saat Musa SMA kelas dua, jadi dulu setiap lebaran idul Fitri, Musa dan kedua orangtuanya jarang mudik ke Indonesia, selain tidak ada kesepuhan (orang tua) yang harus di datangi, juga karena di Kairo sudah mempunyai banyak kenalan, lebarannya disana juga sangat rame, sama seperti di Indonesia.


" Sudah lima tahun tidak lebaran di kampung halaman, jadi tahun ini pertama kita lebaran lagi di Indonesia, tapi justru di kota orang, hehehe", umi terkekeh.


" Ya sudah sana tidur, jangan kemalaman, besok pagi harus bangun buat saur".


"Lebaran tinggal dua hari lagi, besok sahur terakhir di ramadhan ini, jangan sampai terlewat", ujar Umi.


***


Esok harinya setelah selesai mengikuti kuliah subuh di mushola terdekat, saat Abi dan umi hendak pulang ke rumah, mereka berdua di sambut oleh Pak Tofa dan Bu Heni, selaku orang yang di segani di kampung itu, " Umi dan Abi kenalkan ini Pak Tofa, imam utama mushola disini, dan ini bu Heni istri beliau". Musa mencoba untuk mengenalkan mereka.


Mereka berempat saling bersalaman dan menyapa.


" Owh ini umi dan Abi nya ustadz Musa, senang sekali bisa bertemu dengan orang yang sangat menginspirasi kami", ujar Bu Heni.


Umi dan Abi saling menatap mendengar ucapan Bu Heni.


" Sebenarnya saya selama ini penasaran, seperti apa orang tua dari ustadz Musa , orang tua yang sudah berhasil mendidik putranya menjadi laki-laki yang Sholeh, berilmu dan sangat sopan ", ujar Bu Heni.


" Wah ibu sepertinya berlebihan memuji putra kami. Saya selalu menganggap Musa adalah putra kecil kami yang selalu menggemaskan, sampai dia se-dewasa ini, kami masih menganggapnya masih kecil", ucap Umi.


" Terimakasih banyak, tapi hari ini kami berencana untuk mampir ke rumah saudara yang ada di dekat sini, sudah lima tahun lebih tidak bertemu", Abi menolak ajakan pak Tofa secara sopan.


" Wah ternyata Ayah dan anak memang mirip ya, sama-sama pintar sekali menolak ", Pak Tofa tersenyum dipaksakan.


Abi dan umi kini benar-benar bingung dengan ucapan orang yang ada di hadapan mereka itu, sambil bersama-sama menatap Musa, yang dibalas dengan senyum ditahan.


Musa dan kedua orang tuanya berjalan kembali menuju rumah.


" Maksud kalimat orang tadi itu apa Mus?", tanya Abi.


Musa kembali menyeringai, " beberapa hari yang lalu mereka mau mengenalkan Musa dengan adik mereka, lebih tepatnya adik Bu Heni, katanya disuruh untuk berta'aruf. Tapi Musa belum kepikiran ke arah itu Abi".


" Owh jadi maksud orang tadi kamu dan Abi mirip karena sama-sama menolak keinginannya?", Abi langsung tertawa karena baru paham.


" Tapi ada benarnya juga ucapan bapak Tofa tadi, usiamu sudah 25 tahun, seharusnya kamu sudah mulai memikirkan untuk melaksanakan Sunnah Rasulullah dengan menikah", Umi sengaja menggoda Musa.


" Musa benar-benar belum siap Umi, seperti ucapan umi tadi, Musa masih merasa seperti anak kecil, takut belum bisa jadi imam yang baik untuk istri Musa kelak".

__ADS_1


Karena asyik mengobrol, tak terasa sudah sampai di depan rumah. Pak Tofa membuka pintu rumah dan masuk ke dalam terlebih dahulu, diikuti istri dan putranya, kemudian duduk di sofa ruang tamu. Umi dan Musa juga bergabung.


" Teman-teman kamu kemana Mus?", tanya Abi.


" Mereka langsung berangkat ke tempat kerja masing-masing, mau lebaran rame banget katanya banyak orang servis kendaraan, juga orang nyari baju baru, alhamdulilah rejeki untuk lebaran besok, hehehe".


" Jadi mereka yang bekerja sama sama kamu untuk mengelola bengkel dan toko baju?, Abi kira sudah tua-tua, ternyata mereka masih sangat muda, bagus jiwa muda yang bersemangat untuk bekerja", ujar Umi.


" Apa umi dan Abi boleh melihat bengkel dan toko baju yang kalian dirikan bersama?. Hari ini kan belum ada jadwal kemana-mana, kalau dirumah terus, mubadzir waktu, nggak digunakan dengan baik, lebih baik meninjau toko dan bengkel", ajak Abi.


" Apa Abi dan umi nggak capek?, sudah melakukan perjalanan jauh?", Musa khawatir uminya kecapekan.


" Umi nggak capek kok, umi mau ikut sama kamu dan Abi, meninjau bengkel dan toko, boleh ya?".


Dan setelah berdiskusi akhirnya Musa mengajak Umi dan Abi nya menuju bengkel terlebih dahulu, sebelum meninjau ke toko baju.


***


Sehari sebelum lebaran, biasanya mama dan papa nya Sari sudah tiba di rumah kakek Atmo, tapi kali ini mereka belum sampai, karena semalam jam 10 malam, kedua orang tua Sari baru berangkat dari Malang, dengan membawa mobil sendiri, perjalanan yang mereka tempuh sekitar 8 jam 30 menit, tapi karena pagi tadi sempat berhenti untuk makan sahur, mereka kemungkinan baru akan sampai sekitar jam 7 pagi.


Tapi justru saat sudah sampai di Purwokerto, ban mobil mereka mengalami mogok, beruntung ada orang lewat yang memberi tahu jika ada bengkel mobil yang sudah buka pagi-pagi sekali. Setelah menelepon bengkel itu, dan ternyata lokasi dengan bengkel sangat dekat, Triono dan Esti memilih untuk menunggu di bengkel dan menyuruh orang bengkel untuk mengecek mobilnya.


" Bapak dan Ibu, ini sepertinya kerusakan agak serius karena ada kerusakan pada aki mobil, kalau bagian lain sudah saya cek semuanya baik-baik saja", ujar montir.


" Biasanya makan waktu berapa lama memperbaiki mobil yang rusak?", tanya Esti.


" Satu jam mungkin jadi", jawab si montir.


Triono akhirnya menelepon putrinya memberi tahu keadaan mobilnya yang rusak dan meminta agar supir Kakek Atmo untuk menjemputnya.


Sari yang mendapat kabar dari papanya langsung memberi tahu kakek, dan menyuruh Soleh menjemput anak dan menantunya di bengkel mobil yang di beritahukan oleh putranya lewat telepon tadi.


" Kakek... Sari ikut sama mas Soleh buat jemput mama dan papa ke bengkel ya?", Sari memohon pada kakeknya.


" Iya boleh, tapi jangan lupa pakai jaket, diluar masih dingin", ujar Kakek Atmo.


Sari langsung berlari ke kamarnya dan mengambil jaket. " Sari berangkat jemput mama sama papa dulu Kek", teriak Sari sambil berlari keluar menuju mobil yang sudah di nyalakan oleh Soleh.


Kakek Atmo hanya geleng-geleng kepala,

__ADS_1


" Hati-hati !, orang tuamu pasti kaget melihat keadaan tanganmu seperti itu", gumam Kakek Atmo. Karena memang Triono dan Esti belum di kabari kalau beberapa waktu lalu Sari keserempet mobil.


__ADS_2