Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Ada yang ngapel...


__ADS_3

Obrolan seru Sari bersama teman-temannya terhenti, ketika pintu kamar Sari di ketuk dari luar .


" Sar... ada ustadz Musa datang!", seru kakek Atmo dari depan pintu kamar Sari.


" Apa?, Kakek bilang Ustadz Musa datang?", wajah Sari makin sumringah.


" Kris, Nay... aku tutup dulu VC nya, ada tamu, bye...", Sari menutup telepon dan melempar HP nya ke atas kasur, kemudian beranjak dari rebahan nya. Sari langsung berjalan keluar kamar, tapi beberapa detik kemudian langsung balik masuk ke kamar, menatap pantulan dirinya di dalam cermin.


" Oh my God, ini rambut bener-bener berantakan", Sari langsung menyisir rambutnya dan merapikan bajunya yang juga acak-acakan. Baru kemudian keluar lagi dari kamarnya.


" Assalamualaikum Tadz...", sapa Sari saat sampai di ruang tamu, mendapati Musa dan Kakek Atmo sedang mengobrol berdua.


" Wa'alaikum salam. Sudah bisa mulai mengaji?", tanya Musa, memastikan jika Sari sudah bersuci.


Sari mengangguk, tapi kemudian menggeleng, membuat Kakek Atmo mengernyitkan keningnya.


" Kamu itu sudah selesai apa belum tamu bulanannya?, kok ngangguk sama nggeleng, yang bener jawabannya yang mana?". Kakek Atmo menanyakan kejelasan Sari.


Sari meringis, " sepertinya sudah selesai, tapi tadi sore Sari belum keramas, niatnya besok pagi-pagi, takutnya kaya kemarin, sudah keramas malah keluar lagi", jawab Sari sambil meringis.


" Kamu itu bagaimana sih Sar", kakek jadi merasa tidak enak hati karena Musa sudah datang ke rumahnya. Meski sebenarnya Kakek tahu, kalau Musa sengaja datang karena ingin sekedar bertemu dengan Sari.


" Aduh maaf ya Ustadz, Sari nya belum bersuci, tapi karena sudah sampai disini ya tidak ada salahnya ngobrol-ngobrol sama Kakek, nggak papa kan ustadz?".


Musa mengangguk sambil tersenyum. " Dengan senang hati", ujar Musa.


" Kamu bikinin Ustadz minuman sana", ucap kakek menyuruh Sari ke belakang.


Dan Sari langsung berjalan cepat menuju dapur, untuk membuatkan teh manis untuk Musa.


Saat Sari sudah berada di dapur, Kakek Atmo kembali mengajak Musa ngobrol.


" Sebenarnya malam ini kakek ada acara kumpulan RT di rumah pak Dayat yang rumahnya di pinggir lapangan depan itu. Tapi nggak berangkat juga nggak papa, sekali-kali,mungkin sekarang sudah di mulai acaranya", gumam Kakek sedikit memberi kode pada Musa.


" Kakek berangkat saja, nggak enak kalau yang ketempatan tetangga dekat. Musa pulang saja nggak papa", Musa berdiri dari duduknya, tepat saat Sari keluar dan membawa nampan berisi dua gelas teh manis dan sepiring kue.


" Loh kok pada berdiri, mau kemana?", tanya Sari sambil meletakkan nampan di meja.

__ADS_1


" Kakek ada acara kumpulan RT di rumah pak Dayat, Ustadz Musa mau pamit pulang, tapi ini sudah di buatkan minum oleh Sari, sayang kalau di tinggal", ucap Kakek Atmo.


Sari menatap mata Musa dengan tatapan memohon. Seolah menyuruh Musa untuk tetap tinggal. Musa hanya tersenyum melihat wajah Sari yang menurutnya sangat menggemaskan.


Begitu juga dengan kakek Atmo. Dia sengaja menyuruh Sari cepat-cepat bikin minuman untuk menahan kepulangan Musa, kakek memang paling pengertian. Mendukung cucunya untuk semakin dekat dengan Ustadz Musa. Memberi kesempatan Musa dan Sari untuk berdua. Karena kakek Atmo percaya, Musa adalah laki-laki yang baik, yang tidak akan berbuat macam-macam pada Sari.


" Ustadz di sini saja dulu, menemani Sari, sayang kalau tehnya nggak diminum. Tapi maaf kakek tinggal dulu ya, kakek sudah terlambat menghadiri kumpulan RT nya".


Kakek Atmo langsung keluar rumah dan Musa kembali duduk di kursi ruang tamu. Sari tersenyum lega karena Musa tidak jadi pulang.


Musa dan Sari duduk berhadapan dan saling menatap satu sama lain dalam diam. Tatapan penuh kerinduan setelah satu minggu hanya saling bertukar kabar lewat HP.


" Semakin hari wajahnya semakin tampan saja, begitu bercahaya dan adem di pandang, bagaimana bisa aku tidak merasa rindu", batin Sari.


" Ehem...", Musa berdehem untuk menyadarkan Sari.


" Eh...malah jadi sama-sama bengong, Ustad silahkan diminum tehnya", Sari bicara dengan gelagapan karena baru saja tersadar dari lamunannya.


" Kamu ngelamunin apa?, orangnya sudah ada di hadapan kamu, jadi kalau mau menyampaikan sesuatu itu di ungkapkan , jangan bicara dalam hati, saya tidak bisa mendengarnya" , Musa tersenyum begitu lebar setelah berhasil menggoda Sari, membuat Sari semakin salah tingkah.


" Ustadz, ini bisa baca pikiran saya ya?, kok bisa tahu kalau Sari lagi mikirin Ustadz?", Sari mengalihkan pandangan menelusuri seluruh bagian ruang tamu. Saking gugupnya terus-terusan di tatap dengan begitu intens oleh Musa.


Sari menggelengkan kepalanya. " Kenapa?, ustadz mau ajak Sari jalan?", tanya Sari begitu antusias.


" Kamu pengin saya ajak jalan ya?, maaf belum pernah ngajak kamu jalan kemana-mana, dari kemarin-kemarin sibuk terus", jawab Musa.


" Nggak papa, lagian untuk ke depannya Sari juga bakalan padat banget jadwalnya, mulai senin besok harus ikut kelas tambahan, dan pulang sekolah sampe sore".


" Nggak papa nggak pernah jalan kemana-mana, Sari juga lebih senang di rumah, yang penting ketemu sama Ustadz setiap malam seperti ini, pertemuan yang bermanfaat, selain mengaji juga sebagai pengobat rindu, hihihihi", Sari tersenyum simpul sambil menutup mulutnya.


" Kamu ini semakin berani bicara, pinter membuat kalimat gombal , seperti seorang pujangga", gumam Musa.


" Tapi Ustadz suka kan..., memangnya harus bicara yang bagaimana, apa harus terus formal seperti seorang murid pada gurunya, seperti di sekolahan?", tanya Sari meminta pendapat Musa.


" Terserah kamu saja, bagaimana nyamannya, saya suka kamu mau bicara dengan gaya serius ataupun santai, saya tetap suka".


Ucapan Musa langsung membuat Sari langsung melting.

__ADS_1


" Sebenarnya ada undangan dari salah satu karyawan bengkel yang mau menikah besok, dia datang kerumah langsung bersama calon istrinya sekitar dua minggu yang lalu, saat kita baru pulang dari Baturraden, dia minta ijin cuti bekerja selama seminggu, dan besok acara akad nikahnya. Calon istrinya orang daerah Cilacap. Fajar meminta saya untuk mengantarkannya, ikut rombongan keluarga mempelai pria besok. Apa kamu mau ikut menemani?", tanya Musa menjelaskan panjang lebar.


" Sari mau...., tapi bagaimana ijinnya sama Kakek?", Sari berpikir sejenak.


" Nanti biar saya yang bilang sama Kakek, dan meminta ijin pada beliau. Saya hanya butuh persetujuan kamu, karena kamu sudah setuju, nanti tinggal nunggu kakek pulang dan minta ijin pada beliau".


Dan satu jam kemudian kakek Atmo pulang dari acara kumpul RT, membawa boks berisi kue cake dan mendoan, juga kacang rebus.


" Oh, ustadz masih disini, kebetulan ini dibawain jajan entah apa isinya, bisa buat teman ngeteh", Kakek Atmo meletakkan boks putih di meja dan Sari membuka penutupnya.


Kakek Atmo ke kamarnya, berganti pakaian dengan kaos oblong dan kembali duduk bersama Musa dan Sari, di ruang tamu.


Setelah ngobrol ini itu segala macam, akhirnya Musa mulai membahas masalah undangan pernikahan.


Musa menyampaikan rencananya untuk mengajak Sari menghadiri undangan pernikahan karyawan nya besok.


Dan ternyata Kakek Atmo memberi ijin dengan begitu mudah, tidak banyak mengajukan pertanyaan pada Musa.


" Boleh saja ajak Sari, kan biasanya rombongan besan itu rame-rame, karyawan itu bisa di bilang sudah seperti keluarga sendiri, jadi sebagai atasan yang baik, harus menghadiri undangan pernikahannya, apalagi dia datang langsung bersama calonnya ke rumah ustadz".


" Jam berapa rombongan berangkat ke Cilacap?", tanya Kakek Atmo.


" Jam 7.30 Kek, karena akad sekitar jam 9 pagi, dan Sari saya jemput jam 7 pagi", jawab Musa.


" Kamu jam 7 bisa kan sudah siap?", tanya Musa menatap Sari.


Sari mengangguk cepat, " Pakai baju apa?, Sari belum pernah ikut di acara orang nikahan sebagai keluarga besan", ujar Sari.


" Pakai baju kebaya nenek kamu ada yang bagus itu, yang dibeli tahun kemarin saat menghadiri acara pernikahan cucu temannya setahun yang lalu. Masih bersih dan rapi bersama baju-baju gamis yang sering kamu pakai buat ngaji itu". Ujar Kakek Atmo.


" Gamis buat ngaji itu punya almarhumah nenek?", tanya Musa.


Sari meringis, " Iya itu semua warisan leluhur, sayang masih bagus-bagus banget, dari pada cuma di museum kan di gudang, mending di pakai Sari buat ngaji, kan jadi bermanfaat. Kebetulan postur badan Sari dan nenek itu sama ", jawab Sari.


" Paling bentar lagi sudah kekecilan kan kamu lagi dalam masa pertumbuhan, tambah tinggi dan tambah gemuk", ujar Kakek.


" Ih... Sari nggak tambah gemuk, cuma tambah tinggi saja, kakek mah nggak asik, doain Sari biar jadi gemuk. Ucapan itu adalah do'a lho Kek", Sari manyun.

__ADS_1


" Gemuk juga masih tetap cantik, iya kan Tadz?", tanya Kakek Atmo pada Musa.


Musa hanya tersenyum melihat keakraban Sari dan kakeknya.


__ADS_2