Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Obrolan Yang Berfaedah


__ADS_3

Sari langsung menuju klinik anak, hari ini jadwal Sari untuk membantu dokter Kurnia, beliau salah satu dokter spesialis anak yang bekerja di RS tempat Sari koas.


Hari ini ada banyak pasien di klinik anak, membuat suasana di depan klinik terdengar begitu bising dan rame dengan tangisan dan rengekan anak-anak kecil yang hendak berobat.


Saat jam menunjukan pukul 11 pagi, yang biasanya pasien sudah tinggal menghitung jari, hari ini kursi tunggu masih penuh sekitar 20 pasien lebih yang belum di periksa.


Dokter Kurni melihat Sari mengernyitkan dahi ketika ada seorang ibu yang menangis sesenggukan ketika putrinya mendapatkan injeksi sebagai penanganan.


" Kenapa Sar?, kalau nanti kamu sudah menjadi seorang ibu, dan anakmu kenapa-kenapa, pasti kamu juga akan merasakan kekhawatiran seperti yang ibu-ibu tadi rasakan. Apalagi usia putrinya belum 1 tahun, lagi gemes-gemesnya ", Dokter Kurnia mengajak Sari mengobrol ketika ada waktu break 10 menit, untuk istirahat dan mengisi perut dengan snack yang sudah tersedia.


Hanya sempat menghabiskan dua potong kue dan jus alpukat, Dokter Kurni kembali melakukan pemeriksaan.


Jam 12 siang tinggal beberapa pasien yang masih mengantri dan belum mendapatkan penanganan, tapi dokter Kurni harus visit ke bangsal anak jam 1 nanti.


" Sar, kita tangani pasien bersama ya?, aku yakin kamu sudah mampu, untuk yang diagnosa penyakit ringan aku serahkan sama kamu, biar jam 1 kita bisa visit ke bangsal anak. Belum lagi kita sholat Dzuhur sama makan siang".


Sari pun menganggukkan kepalanya,


" bismillah, latihan menjadi dokter yang sesungguhnya, insyaallah bisa", Sari berusaha meyakinkan dirinya sendiri.


Dan mereka berdua pun melakukan pemeriksaan secara bersamaan, membuat pasien yang tinggal beberapa gelintir selesai melakukan pemeriksaan dan bisa selesai dengan cepat.


" Alhamdulillah, jam Setengah 1 pasien sudah selesai di periksa semua. Senin besok sebaiknya seperti ini lagi, kamu masih jadwal membantu disini kan?".


Sari mengangguk," Senin depan masih Dok, seminggu kedepan Sari di jadwal bantu di klinik anak".


" Syukur kalau begitu, soalnya Senin saya ada jadwal periksa disini lagi, Senin dan Sabtu jadwal di sini, jadi kebetulan kalau kamu masih bantu, biar penanganan lebih cepat dan efisien waktu", ucap dokter Kurni.


Sekarang kita makan siang dan sholat dulu, bareng sama saya saja, biar nanti pas mau Visit kamu bisa langsung ikut gabung.


Setengah jam digunakan dokter Kurnia dan Sari untuk melakukan ishoma ( istirahat, sholat dan makan). Jam 1 tepat Sari mengikuti dokter Kurni bersama dua orang suster melakukan visit ke kamar pasien anak-anak.


Dokter Kurni sangat sabar dan begitu tenang menjelaskan dan memberi pengarahan kepada orang tua pasien apa yang sebaiknya untuk dilakukan agar putra-putri mereka segera sembuh.


Sari banyak belajar dari dokter Kurni dan dokter-dokter yang lain bagaimana menghadapi pasien, maupun keluarga pasien yang mempunyai karakter yang berbeda-beda.

__ADS_1


Menurut Sari di antara semua dokter yang Sari bantu, dokter Kurni adalah yang paling sabar dalam menghadapi pasien, tentu saja karena spesialisnya adalah dokter anak, dokter Kurni tentu harus memiliki kesabaran tingkat tinggi.


Setelah Visit dan ada waktu santai, Sari sengaja bertanya-tanya seputar program kehamilan pada dokter Kurni.


" Dok, biar seseorang cepet bisa hamil, ada nggak terapi atau cara khusus yang harus dilakukan?", tanya Sari sambil tersipu malu.


" Kamu lagi nanya buat kamu sendiri apa orang lain ini?, kelihatannya ada yang pengen cepet dapat momongan", goda dokter Kurni.


" Hehehe, buat nambah ilmu Dok", ujar Sari sambil meringis.


Dokter Kurni tersenyum penuh arti,


" Kalau pengen cepet punya anak, harus sering usaha..., kalau bisa sehari diulang beberapa kali, lebih bagus lagi 'berhubungan' saat pagi hari. Sebab, tubuh berada dalam kondisi prima untuk melakukannya, karena level hormon testosteron dan estrogen yang memuncak di pagi hari. Libido dapat dipengaruhi oleh hormon seksual tersebut. Juga di dukung dengan konsumsi makanan sehat, banyak minum dan istirahat yang cukup". Dokter Kurni memberi sedikit penjelasan.


Sari pun menganggukkan kepalanya, kemudian Sari menanyakan hal-hal lain yang selama ini ingin di tanyakann nya. Mereka berdua pun mengobrol begitu asyik. Disambung dengan obrolan seputar hubungan suami istri, karena dokter Kurni sudah menikah selama 20 tahun, banyak pelajaran dari kisah berumah tangganya yang di ceritakan pada Sari, benar-benar obrolan yang berfaedah.


Sore hari dokter Kurni pamit pulang, namun Sari masih harus tetap di rumah sakit hingga malam karena harus jaga, jika sewaktu-waktu tenaganya akan di butuhkan.


Sari memilih untuk sholat maghrib berjamaah di masjid rumah sakit, biasanya di masjid Sari akan bertemu dengan teman-teman koas nya yang lain. Dan akan makan malam bersama usai sholat.


Sari bergabung dengan mereka, usai Maghrib mereka makan malam di warung yang berada di dekat masjid, dan berjalan bersama-sama kembali melewati lorong rumah sakit menuju ke bangsal masing-masing.


" Yang pengantin baru, sudah masuk kerja saja, kapan bulan madunya Sar?", goda Nesti, salah seorang teman koas Sari.


" Belum ada rencana, mungkin saat aku pulang ke Malang untuk pesta resepsi di sana, sekalian bulan madu".


" Widih ..kayak artis saja, resepsinya sampe dua kali, keren!", seru Nesti.


" Bukan dua kali, tapi tiga kali Nes, di Solo juga, di kampung halaman mertuanya", gumam Eli.


" Serius, di Solo juga?, tiga kali, nggak kebayang seperti apa capeknya, dulu pas kakakku kawinan, resepsi sekali saja aku capeknya minta ampun, ini malah tiga kali, nggak capek Sar?", tanya Nesti.


" Pasti capek lah, tapi mau bagaimana lagi, permintaan mama sama Umi, katanya seumur hidup sekali, kalau nggak diturutin mereka pasti sedih",ucap Sari.


" Betul juga sih, kalau aku jadi kamu pasti juga akan melakukan hal yang sama, tapi kapan ML (making love) nya kalau acara melulu!", goda Nesti.

__ADS_1


" Kapan saja bisa, nggak buat di umumin ke publik juga", jawab Sari sambil cekikikan.


" Wah roman-romannya ada yang sudah ML nih semalam", Nesti melirik ke arah Sari penuh selidik, tapi Sari justru berbelok memasuki bangsal tempatnya jaga.


" Pikir sendiri saja !", ucap Sari sembari melambaikan tangan.


Nesti langsung menatap Eli, " Kamu dari tadi diem nggak ikutan godain Sari, kenapa?".


" Sari itu sudah menikah sejak 3 tahun lalu, kemarin itu mereka cuma melegalkan saja, jadi ML nya Sari udah lama, kamu itu ketinggalan info", gumam Eli sambil meninggalkan Nesti yang melongo dan terpaku di tempat, saking terkejutnya mendengar kalimat Eli barusan.


" Serius El!", teriak Nesti sambil berlari mengejar Eli masuk ke ruangannya.


***


Pukul 10 malam Sari yang sedang menelungkupkan wajahnya ke dalam tangan di atas meja, merasa begitu kaget ketika seseorang menepuk punggungnya.


" Sayang...!".


Sari menatap asal suara, mendapati Musa tengah berdiri di sampingnya.


" Eh... Mas, kapan sampai?", tanya Sari sambil menangkupkan kedua tangannya ke wajah dan mengusapkannya.


" Kita pulang yuk?, kata suster kalau mau pulang nggak papa, sudah pada istirahat juga pasiennya, kalau ada yang urgent akan di hubungi", terang Musa.


Sari menganggukkan kepalanya. " Ya sudah kita pulang", Sari mengambil tas dan berjalan keluar ruangannya.


Musa menggandeng tangan Sari saat berjalan di lorong rumah sakit. " Semuanya sudah tahu kalau kita suami istri, jadi nggak masalah kan mas gandeng tangan kamu? ", Sari mengangguk, lagian Sari baru bangun, dan belum sadar sepenuhnya setelah tadi ketiduran di ruangannya. Dengan bergandengan dengan Musa membuatnya merasa lebih baik.


" Ehem...., yang pengantin baru, jalan saja gandengan teruuussss.... nggak mau lepas!", seru Dokter Setiawan yang sedang bertugas di IGD malam itu saat berpapasan dengan Sari dan Musa di lorong rumah sakit.


Sari dan Musa berhenti, menyapa dokter Setiawan.


" Malam Dok, hehehe... Sari pulang duluan ya Dok!, selamat bertugas", seru Sari sambil terus berjalan menggandeng tangan Musa.


" Nikmati malam ini ya, mumpung malam minggu, besok kan libur, tancap terus, gaspooll ... biar cepet jadi !", goda Dokter Setiawan, Musa hanya tersenyum sambil menundukkan kepalanya memohon diri.

__ADS_1


__ADS_2