
Karena Sari begitu protektif pada asupan makanan Rasyid, sampai usia Rasyid beranjak 4 tahun, Sari belum pernah mengijinkan putranya memakan makanan yang dibeli di luar, setiap hari Rasyid makan masakan rumah yang dibuat oleh Sari sendiri ataupun oleh Bi Nunung.
Alhasil saat Rasyid di ajak ke kedai mie ayam fenomenal milik orang tua Yanto, Rasyid begitu menikmati mie ayam yang diracik khusus untuknya.
" Bu, tolong yang buat Rasyid, mie nya jangan pakai penyedap rasa", pesan Sari saat pegawai kedai meracik mie untuk mereka.
Tapi tetap saja Rasyid makan dengan begitu lahap, karena dinrumah pun Rasyid sudah sangat hobi makan berbagai macam olahan mie, tapi Sari tetap membatasi Rasyid hanya boleh makan olahan mie seminggu sekali.
" Wah.... adik kecil lagi laper apa doyan?", Bapaknya Yanto menemui mereka saat mereka semua sedang menikmati mie ayam di ruang khusus yang lebih privat dan nyaman, terpisah dari pembeli yang lain.
" Enak Akung, apa boleh Rasyid besok-besok makan di sini lagi?" Rasyid bertanya sambil membersihkan mulutnya menggunakan tisu, usai mie dari mangkoknya habis tanpa sisa.
" Tentu saja boleh, asal bersama bunda dan ayah, nggak boleh kesini sendirian, kan jauh dari rumah Rasyid".
" Terus Rasyid bisa mampir ke rumah Akung yang ada di ujung jalan sana".
Rasyid langsung menatap ke arah bundanya, saat Sari mengangguk baru Rasyid ikut mengangguk sambil menatap bapaknya Yanto.
" Apa Rasyid mau ikut Mbah ke belakang?, di sana nanti Rasyid bisa main tepung, ada yang sedang membuat mie di belakang", ajak ibunya Yanto.
Rasyid lagi-lagi menatap bundanya, meminta persetujuan untuk ikut ke belakang. Dan langsung melompat dari kursi saat Sari menganggukkan kepalanya, memberi ijin Rasyid.
Setelah turun dari tempat duduk, Rasyid di apit bapak dan ibunya Yanto berjalan di samping kanan dan kiri Rasyid langsung menuju kedapur belakang sambil bergandengan tangan. Sesekali tubuh Rasyid di angkat dan di ayun oleh mereka berdua.
Eli menatap bapak dan ibu mertuanya dengan bahagia, karena sepertinya kedua orang tua Yanto sangat menyukai anak-anak, pasti kelak anak yang ada dalam perutnya akan sangat di sayang oleh nenek dan kakeknya.
Beruntung saat 4 tahun yang lalu Eli tengah bersedih dan sakit hati melihat sikap Rizal yang terus mengulur waktu saat Eli meminta kejelasan hubungan mereka.
Bahkan hingga titik dimana Eli semata-mata melihat dengan mata kepala sendiri, bagaimana tatapan mata Rizal saat bertemu dengan Sari, dan bagaimana perilaku Rizal terhadap Sari yang jelas-jelas sudah menjadi istri orang lain. Sari masih istimewa di mata Rizal, itu yang bisa Eli simpulkan dari pengamatannya.
Akhirnya setelah entah ke berapa belas kali Eli meminta Rizal untuk melamarnya, namun Rizal masih tetap mengulur waktu, dengan seribu satu macam alasan. Eli pun membuat keputusan untuk mundur.
Benar kata Umi, jika usianya terus bertambah, dan tidak muda lagi, untuk apa bertahan dengan seorang laki-laki yang tidak bisa mengambil keputusan untuk berkomitmen dengannya.
__ADS_1
Setelah bertahan selama 2 tahun menjalin hubungan dengan Rizal, akhirnya Eli menyudahi kisah cinta nya dengan Rizal. Meski sedih, tapi itu lebih baik, dari pada perasaannya terus di gantung.
Dan takdir mempertemukan Eli dan Yanto saat terjadi bencana alam longsor di daerah Banjarnegara, Eli yang mewakili rumah sakit tempatnya bekerja menjadi tim medis sukarelawan bersama dengan 2 temannya, bertemu dengan Yanto yang juga menjadi sukarelawan di posko pengungsian.
Mereka berdua tinggal selama dua minggu di posko pengungsian, saling membantu dalam tugas dan sering bertukar pikiran, menjadikan mereka semakin dekat dan merasa cocok satu sama lain.
Status mereka yang sama-sama singgle dan 'jomblo', membuat mereka bebas untuk bertemu, dan makin sering bertemu setelah mereka sama-sama kembali ke Purwokerto.
Di usia mereka yang sama-sama hampir 30 tahun, akhirnya mereka berdua memutuskan untuk bertunangan untuk saling mengenal, hanya 3 bulan setelah bertunangan, Yanto merasa Eli adalah gadis yang sangat tepat untuk dijadikan pendamping hidup, sekaligus ibu dari anak-anaknya kelak.
Yanto pun mengajak Eli untuk menikah, dan Eli menerima ajakan Yanto. Mereka berdua sudah sama-sama dewasa, sudah mempunyai pekerjaan dan penghasilan, kuliah spesialis Eli masih bisa dilanjut meski mereka sudah menikah. Tinggal beberapa bulan lagi, hingga Eli resmi menyandang gelar ' Dokter Eli Satyaningrum Sp.M'. Sebuah pencapaian yang Eli sendiri kadang masih belum percaya dengan kemampuannya.
***
Malam Minggu, adalah hari dimana Sari bersantai sambil bermain dengan Rasyid di rumah, sambil menunggu Musa kembali dari Jakarta, usai menjadi penceramah di acara televisi nasional.
Akhir-akhir ini, Umi dan Abi juga sering datang ke rumah, dan bermain-main bersama Rasyid dan dirinya. Membuat suasana rumah lebih ramai dan hangat.
Sedangkan bi Nunung setiap harinya fokus membantu memasak dan merawat Rasyid. Itu saja sudah membuat bi Nunung kadang merasa lelah, mungkin karena usianya yang sudah semakin tua.
Umi dan Abi juga semakin sering datang ke rumah mereka, mungkin sebulan bisa bolak-balik sampai 4 kali dari solo ke Purwokerto, biasanya di akhir pekan, karena selalu kangen pengin ngajak main Rasyid. Hingga beberapa bulan yang lalu Umi memutuskan untuk membangun rumah di Purwokerto untuk tempat tinggalnya.
Dulu mereka berniat tinggal di rumah Musa, namun rumah Musa sudah di sulap menjadi klinik pengobatan yang kini semakin ramai dikunjungi pasien, karena banyak yang berobat ke tempat itu kemudian sembuh, dan juga biaya penanganan yang relatif lebih murah dari klinik lainnya. Membuat klinik itu semakin dikenal banyak orang.
Umi dan Abi membangun rumah tidak terlalu jauh dari rumah kakek Atmo, hanya beda desa, tapi masih di Purwokerto juga, naik motor 10 menit sudah sampai, sedangkan dari rumah Musa yang disulap menjadi klinik hanya perlu waktu 5 menit naik motor.
" Cucu Uti sudah makin besar, Senin besok Uti temani ke sekolahan ya, sebentar lagi rumah Uti dan Akung selesai di bangun, jadi Rasyid bisa tidur di rumah Uti kalau weekend, Rasyid mau kan?".
" Biar Rasyid bisa cepet punya adik, jadi kalau akhir pekan, nginep di rumah Uti saja, mau kan?".
Sari langsung meringis mendengar ucapan Umi, yang memberi kode agar Sari dan Musa segera menambah momongan.
Rasyid mengangguk dengan cepat, kali ini tanpa meminta persetujuan bundanya. Rasyid memang lebih dekat dengan kakek& nenek dari ayahnya, dari pada kakek & nenek dari bundanya.
__ADS_1
Mungkin karena mereka jarang datang ke rumah, meski sering video call dan melihat nenek dan kakek dari layar ponsel, tapi tetap saja Rasyid lebih dekat dengan Uti dan Akung nya.
***
Satu bulan berlalu, Uti dan Akung sudah menetap di Purwokerto, hari jum'at besok adalah hari ulang tahun Rasyid yang ke empat. Sari dan Musa sudah berencana mengundang anak-anak yatim dan teman-teman Rasyid datang kerumah sore hari.
Untuk mendoakan Rasyid dan juga ingin mengajari Rasyid untuk saling berbagi dengan anak-anak yatim yang kurang beruntung.
Dan hari jum'at sore, Rasyid nampak begitu tampan dengan setelan baju koko putih, dengan peci putih juga, membagikan bingkisan nasi kuning dan berbagai macam snack pada anak-anak yatim, dan teman-temannya.
Semua menggadang-gadang Rasyid yang sudah kelihatan cerdas dan tampan sejak usia dini, akan menjadi penerus ayahnya menjadi seseorang yang berjuang mengajarkan agama dan membantu sesama.
Dan dalam doa yang hadir di acara ulang tahun sore itu, hampir semuanya mendoakan kesehatan, keselamatan dan kebaikan untuk Rasyid.
Begitu juga dengan Musa dan Sari yang berdiri di sebelah Rasyid, sambil menatap putra mereka, dan sesekali saling melempar pandang satu sama lain sambil tersenyum bahagia.
" Ya Allah....
Terimakasih atas semua kebahagiaan yang telah kau limpahkan dalam keluarga kami. Terimakasih telah mempertemukan ku dengan Mas Musa, dan menghadirkan Rasyid di dalam kehidupan kami".
Sari memeluk Rasyid, begitu juga dengan Musa yang memeluk mereka berdua dengan penuh suka cita.
...Tamat...
\=\=\=\=
Semoga semua yang membaca novel ini juga akan berakhir dengan happy ending seperti kisah Sari dan Musa.
Jangan lupa untuk terus tersenyum, seberat apapun cobaan yang kita alami dalam hidup, karena kehidupan seperti roda yang berputar. Kadang di atas dan kadang di bawah.
Tidak akan mungkin seseorang mengalami kesedihan terus menerus, pasti akan ada masanya kita merasakan bahagia.
Sampai jumpa di novel selanjutnya 🤗 Terimakasih untuk yang sudah setia membaca hingga akhir cerita. Dan Mohon maaf untuk semua khilaf yang author perbuat. 🙏😊
__ADS_1