Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Wasiat Kakek


__ADS_3

Wasiat adalah berpesan tentang suatu kebaikan yang akan dijalankan sesudah orang meninggal dunia. Wasiat berasal dari kata washa yang berarti menyampaikan atau memberi pesan atau pengampuan. Dengan arti kata lain, wasiat adalah harta yang diberikan oleh pemiliknya kepada orang lain setelah si pemberi meninggal dunia


***


Selama 7 hari, setiap ba'da isa, di rumah kakek Atmo diadakan doa bersama dan pembacaan surat Yasin & tahlil, acara itu dihadiri oleh para tetangga, saudara dan kerabat dekat.


Setiap malam jama'ah yang datang begitu banyak, ingin turut mendoakan almarhum Kakek Atmo.


Dan esok paginya, usai sholat subuh, Sari bersama Musa dan Dimas pergi ke pemakaman Kakek yang berjarak sekitar 1km dari rumah, mereka melakukan ziarah kubur, mendoakan sekaligus tabur bunga diatas pusara.


Sari sudah bisa menerima dengan ikhlas kepergian kakek esok hari sepeninggal kakek Atmo. Saat Umi memberinya pengertian dan penjelasan, jika kakek akan tenang dan memperoleh jalan yang terang jika semua keluarga mengikhlaskan kepergiannya.


Sari pun mengerti dengan penjelasan Umi juga untuk kebaikannya sendiri. Apalagi masih ada Rasyid yang sangat membutuhkan bundanya, tentu Sari tidak boleh berlarut dalam kesedihan, karena merasa kehilangan.


Ada si kecil yang butuh perhatian dan kasih sayangnya, tentu saja hari demi hari Sari berangsur semakin membaik.


" Assalamualaikum Kakek, Sari datang bersama Mas Musa dan Kak Dimas, Sari harap kakek di sana berada di tempat yang paling nyaman dan paling indah".


Sari berbicara sendiri usai membaca Yasin dan tahlil bersama Musa dan Dimas di depan pusara kakek Atmo.


Pusara yang masih basah dan begitu banyak bunga sawur di atasnya, mungkin setiap hari ada yang datang datang menebar bunga di pusara kakek, terlihat kuburan kakek yang paling banyak di taburi bunga, dan beraroma sangat wangi meski dari kejauhan.


" Sari akan selalu mengingat pesan kakek, untuk menjadi istri dan ibu yang baik, sekarang Rasyid sudah lebih aktif dan begitu cepat bolak-balik tengkurap, bahkan kemarin sedang belajar untuk duduk".


" Kak Dimas juga akan Sari pantau jangan sampai melenceng lagi seperti dulu".


Dimas langsung melirik ke arah Sari yang seolah seperti sedang ngobrol dengan kakek Atmo.


" Memang kakek titipin aku sama kamu?, wah... benar-benar kebalik, seharusnya kakek menitipkan kamu sama aku".


" Kek, masa kakek masih belum percaya sama Dimas, padahal Dimas sudah jadi anak dan suami yang baik seperti pesan kakek saat Dimas menikahi Linda".


Suara Dimas terdengar seperti seorang yang sedang protes.


Musa hanya tersenyum karena kakak beradik yang beberapa hari yang lalu sama-sama terlarut dalam kesedihan, hari ini sudah terlihat membaik dan bisa bercanda di depan pusara kakeknya.


Sedangkan Musa sendiri memilih berbicara dalam hatinya, tak ingin di dengar oleh Sari maupun Dimas, karena mungkin mereka berdua juga akan protes jika tahu apa yang dikatakan Musa di depan pusara kakek dalam hatinya.

__ADS_1


" Musa berterima kasih untuk semua wejangan yang kakek berikan pada Musa selama ini, Musa janji akan menjaga Sari dan membahagiakannya, Sari dan Dimas sangat bersedih dan merasa begitu kehilangan kakek, tapi sekarang mereka berdua sudah terlihat lebih baik".


" Selamat jalan kakek, semoga kau mendapatkan tempat terindah di sisi-Nya ".


***


" Jadi bibi..., mulai saat ini kita akan tinggal di rumah kakek, sesuai yang ditulis dalam surat wasiatnya sebelum beliau meninggal".


" Beliau ingin Sari tinggal di rumah ini, jadi kita semua akan pindah kesini ".


Musa begitu bijaksana karena menuruti permintaan Kakek Atmo yang tertulis di wasiatnya, jika rumah dan penginapan di Baturaden akan di serahkan dan dikelola oleh Sari, sedangkan beberapa kontrakan dan kebun akan di urus oleh Dimas.


" Bapakmu itu mewariskan semua harta kekayaannya hanya pada cucu-cucunya Mas", gerutu Esti saat dalam perjalanan kembali ke Malang.


" Ya biarkan saja, memang Sari dan Dimas yang menemaninya selama ini, toh cucu-cucunya itu kan anak-anak mu, kamu nggak perlu protes seperti itu, salah sendiri tidak mau tinggal di Purwokerto. Jadi jangan mengharapkan warisan apapun".


" Masih untung bapak mewariskan pada Sari dan Dimas, bukan di wakaf kan ke panti asuhan atau dinas sosial".


Triono menyetir sambil berusaha menenangkan istrinya yang sedang protes karena tidak kebagian warisan dari kakek Atmo.


" Kalau kamu mau ikut menikmati warisannya, tinggal saja di Purwokerto bersama Sari dan Musa di rumah almarhum bapak, Sari dan Musa pasti tidak akan keberatan jika kamu tinggal disana".


Sedangkan sekarang rumah orang tuanya ada Sari bersama suaminya yang sangat agamis, tentu saja Esti juga tidak akan nyaman tinggal di sana.


***


" Sepertinya kakek ngasih kakak kontrakan dan lahan, itu terlalu berlebihan".


" Kakak kan nggak banyak bantu kakek selama ini", ucap Linda, sambil duduk dan mengusap kepala Dimas yang berada di pangkuannya.


" Memang seperti itu yang tertulis di surat wasiat beliau, itu tandanya kakek adil terhadap cucu-cucunya".


" Apalagi kalau secara hukum Islam, bagian anak laki-laki dua kali lipat dari bagian anak perempuan, karena tanggung jawab anak laki-laki lebih banyak daripada anak perempuan, seperti menafkahi dirinya, anak-anaknya, istrinya, dan kerabat yang berada di bawah garis keturunannya".


Linda membulatkan matanya , " wah... sejak kapan suamiku menjadi seorang yang tahu tentang hukum Islam?, wah jangan-jangan karena sering bergaul dengan pak Musa, jadi pinter". Linda masih saja memanggil Musa, suami dari adik iparnya dengan sebutan Pak, karena sampai kapanpun Musa tetap menjadi guru dalam pikirannya.


" Tapi bagus lah kalau seperti itu, aku jadi tambah cinta", Linda langsung menempelkan ujung hidungnya dengan hidung Dimas.

__ADS_1


" Kamu itu...., biar suamimu ini kelihatan seperti preman, tapi hatinya itu seperti seorang bidadari, sangat lembut".


Linda hanya memanyunkan bibirnya mendengar ucapan Dimas, namun Dimas langsung menyambar karena merasa sangat gemas melihat bibir manyun istrinya itu.


" Hmpf...."


Linda langsung menepuk lengan Dimas,


" Kakak itu kebiasaan nggak pakai aba-aba, main nyosor saja".


Linda mendorong kepala Dimas agar menjauh.


" Apa kamu tahu apa wasiat kakek padaku, sebelum beliau meninggal?".


Linda mengangguk penasaran.


" Suruh cepet-cepet bikin cucu, biar Rasyid ada teman mainnya".


Linda langsung memutar bola matanya,


" Modus!".


" Serius sayang, kita harus berusaha mengabulkan pesan terakhir kakek, jadi....". Dimas langsung merubah posisinya menjadi duduk di samping Linda dan membimbing Linda masuk ke dalam kamar.


Linda berjalan dengan ogah-ogahan, karena semalam mereka juga sudah melakukannya, " rasanya badan masih letih dan lelah", batin Linda.


Namun apalah daya, Dimas begitu menginginkannya, tidak seharusnya Lina menolak keinginan suaminya. Mau tidak mau Linda masuk ke dalam kamar dan kembali melayani Dimas.


***


" Mulai sekarang ibu tinggal di rumah almarhum kakek Atmo lagi, jadi mungkin bisa sering main kerumah".


Soleh dan istrinya mengangguk secara bersamaan.


Istri Soleh sedang hamil lagi, baru 4 bulan, dan memutuskan berhenti bekerja dari rumah kakek Atmo sejak kakek meninggal.


Dan sekarang bi Nunung yang kembali ke rumah itu. Rumah penuh kenangan selama hidupnya, dari jaman masih muda, hingga kini sudah punya cucu.

__ADS_1


Mungkin bi Nunung akan merindukan sosok kakek, karena harus tinggal di rumah itu kembali. Terlalu banyak kenangan yang sudah diukirnya di rumah itu.


__ADS_2