Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Calon Istri Bos


__ADS_3

Beberapa menit kemudian rombongan keluarga Fajar sampai di kediaman mempelai wanita.


Ada sekitar lima mobil pribadi, satu mobil pick up, dan dua minibus. Mereka semua turun dari mobil , ada beberapa orang membawa barang seserahan, yang terdiri dari barang pribadi calon pengantin wanita, seperti baju tidur, gamis, mukena, kebaya, sendal, tas, bahkan sampai baju dalaman. Ada juga yang membawa kebutuhan sehari-hari yaitu seperangkat keperluan mandi dan seperangkat makeup.


Di atas pick up juga membawa beberapa peralatan rumah tangga, seperti mesin cuci, kompor gas, dispenser, kipas angin, bed cover dan magicom, mirip seperti orang yang mau pindahan.


Di barisan paling depan dari rombongan ada ibu-ibu yang membawa panci berisi olahan makanan matang, seperti ayam goreng, sayur lodeh, telur rebus dan masih banyak olahan masakan lainnya yang tidak bisa di sebut satu persatu.


Musa dan Sari keluar dari mobil dan ikut bergabung dengan rombongan besan memasuki tenda pengantin.


Menyalami begitu banyak penjemput tamu, dan duduk di salah satu kursi tamu yang berada cukup jauh dari tempat duduk untuk akad.


Ada beberapa pria yang menghampiri Sari, mungkin teman-temannya Fajar, mereka sengaja duduk didekat Sari dan Musa.


" Hai aku Rohmat, adiknya Fajar, boleh kenalan?, nama kamu siapa?, kok ikut gabung dengan rombongan besan?, apa temannya Fajar?, tapi kok aku baru pernah lihat kamu", Rohmat mengajukan begitu banyak pertanyaan, dan sengaja duduk di belakang kursi Sari.


Musa langsung merasa kurang nyaman dengan sikap Rohmat kepada Sari yang tanpa basa-basi langsung minta kenalan.


Sari sendiri bingung mau menjawab apa, karena Sari bukan teman Fajar, kenal fajar juga barusan di mobil, itupun tanpa berkenalan secara resmi, hanya sempat melihat wajahnya saja tadi di mobil.


" Saya Sari", jawab Sari tak berniat membalas uluran tangan Rohmat. Membuat Rohmat kembali menarik tangannya.


" Siapa gadis cantik ini?, apa kerja di bengkel tempat kerja Mas Fajar?", batin Rohmat menatap Sari lekat.


" Kamu bukan teman kuliah Fajar kan?, soalnya nggak pakai jilbab, pasti bukan anak IAIN. Teman di MAN juga pasti bukan, lalu kamu teman dari mana?, kerja bareng kak Fajar? ", Rohmat masih saja penasaran dengan asal-usul Sari.


Namun sepertinya keadaan mendukung Sari untuk tetap diam, karena pak penghulu telah datang, dan acara akad nikah akan segera di laksanakan.


Semua hadirin langsung terdiam ketika melihat Fajar dan calon ayah mertuanya saling berjabat tangan.


" Bisa langsung di mulai ya Mas?, sudah siap kan?", tanya pak penghulu meyakinkan.


" Siap Pak", jawab Fajar tegas.


" Mari kita mulai acara ijab qobul, bapak mempelai wanita boleh langsung membacakan ijab". Tuntun pak penghulu.


" Ananda Fajar Sodikin bin Masykuri Saya nikahkan dan saya kawinkan engkau dengan anak saya yang bernama Aisyah Khumaira dengan maskawin berupa emas 30 gram, dibayar tunai".

__ADS_1


" Saya terima nikah dan kawinnya Aisyah Khumaira binti Abdul Aziz dengan mas kawin tersebut dibayar tunai".


" Bagaimana saksi?, sah?", suara pak penghulu di pengeras suara.


" sah..."


" sah..."


" sah..."


" Alhamdulillahhirobbil'alamin........", dan seterusnya, Pak penghulu membacakan doa setelah ijab kabul.


Acara selanjutnya adalah ritual pernikahan, cukup memakan waktu lama, sekitar hampir satu jam.


Setela usai menyaksikan acara ritual adat pernikahan, semua undangan di persilahkan untuk menikmati makan siang yang sudah di siapkan oleh pihak pengantin wanita. Dan beberapa ada yang mulai melakukan sesi foto bersama dengan pengantin baru.


Musa mengajak Sari untuk mengambil makan terlebih dahulu dan membiarkan keluarga dekat Fajar untuk terlebih dahulu memberikan selamat pada kedua pengantin.


" Memangnya Fajar itu kuliah di IAIN Tadz?, tanya Sari saat mereka sedang berdiri dan mengambil makanan di paresmanan.


Musa mengangguk, " pas bulan puasa kemarin, baru saja selesai sidang skripsi, karena itu dia buru-buru menikahi Aisyah, mereka berdua satu fakultas", jawab Musa.


" Dia kerja di bengkel siang usai kuliah, sampai malam hari ketika bengkel mau tutup. Katanya pengin bisa menghasilkan uang sendiri, kasihan sama kedua orang tuanya yang membiayai kuliahnya dan juga adiknya yang masih SMA, mungkin laki-laki yang tadi minta kenalan sama kamu, itu adiknya Fajar", ujar Musa sambil mendudukkan diri di kursi kosong setelah mengambil makan siang di piring yang tengah di pegangnya.


" Ooh... terus nanti kalau dia sudah jadi sarjana, apa dia akan tetap kerja di bengkel?", tanya Sari di sela makannya.


Musa menggelengkan kepalanya. " Tentu saja akan berhenti, dia harus mencari pekerjaan yang sesuai dengan bidang ilmu yang dipelajarinya", jawab Musa.


" Berarti kalau begitu, setelah menikah mas Fajar sudah tidak jadi karyawan ustadz dong?", Sari kembali menyuapkan nasi dan acar ke dalam mulutnya.


" Tidak juga, Fajar rencananya akan aku tempatkan untuk bekerja di hotel yang sedang ku bangun di daerah Baturaden. Bekerja bersama istrinya di sana, menjadi orang kepercayaan ku yang akan membantuku mengelola hotel, dia kan ngambil fakultas manajemen bisnis syariah, mungkin akan dibutuhkan untuk mengatur keuangan hotel", ucap Musa yang akhirnya menghentikan makannya beberapa menit sekedar untuk menjawab pertanyaan Sari.


Sari menganggukkan kepalanya. Sekarang Sari paham, kenapa Fajar sampai datang kerumahnya Musa untuk meminta ijin secara langsung bersama calon istrinya. Ternyata mereka berhubungan cukup dekat.


Usai makan, Hendrik mengajak Musa dan Sari untuk ikut foto bersama pengantin baru. Sari dan Musa naik ke atas panggung pelaminan. Memberi selamat pada Fajar dan Aisyah, kemudian berdiri di samping pengantin pria dan pengantin wanita.


Fotografer mengambil foto mereka berempat, namun tiba-tiba Rohmat berteriak dari depan panggung.

__ADS_1


" Saya juga mau ikut foto sama gadis cantik berkebaya biru itu, sekali saja", gumam Rohmat pada fotografer, diikuti beberapa saudara sepantarannya yang ikut naik ke panggung.


Rohmat berdiri di samping Sari, namun oleh Fajar langsung ditarik untuk berdiri di sampingnya, sedangkan Musa berpindah berdiri di samping Sari.


"Ckreek...ckrek..."


Bunyi kamera saat mengambil foto.


Sari dan Musa turun dari panggung, sekalian pamit pada Fajar dan istrinya untuk pulang terlebih dahulu. Dengan alasan masih banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.


Musa dan Sari juga menghampiri Hendrik, mengajaknya pulang bersama, namun Hendrik menyuruh Musa dan Sari untuk pulang terlebih dahulu, karena Hendrik mengatakan akan pulang bersama rombongan, Hendrik tahu, jika Musa ingin menghabiskan waktu hanya berdua dengan Sari. Dan Hendrik adalah seorang sahabat yang cukup pengertian.


Pengantin baru masuk ke kamar untuk berganti kostum yang kedua, saat Fajar sudah terlebih dulu selesai mengganti pakaiannya, dan duduk di depan kamar pengantin, Rohmat menghampirinya.


" Kakak apa-apaan sih, aku kan pengen foto deketan sama Sari... dia itu cantik banget, siapa dia kak?, kok kakak ngga pernah cerita punya kenalan cewek cantik sepantaran ku", bisik Rohmat di telinga Fajar, kakaknya.


Fajar langsung menarik telinga Rohmat,


" kamu kalau mau deketin cewek itu cari info dulu, dia itu sudah ada yang punya apa belum, kamu sendiri kan lihat yang di sampingnya itu siapa, pergi kemana-mana dengan siapa!", seru Fajar merasa geram pada adiknya.


" Bukannya yang disampingnya itu bos kakak, yang punya bengkel tempat kakak kerja?, apa dia 'ada main' sama bosnya?", Rohmat pikir Sari adalah salah satu karyawan yang kerja di bengkel juga, mengira Sari ada main dengan Musa, bos pemilik bengkel.


" Apa katamu?, 'ada main'?, kamu itu kalau ngomong sembarangan, dia itu calon istrinya, makanya di ajak ke sini buat menghadiri acara pernikahan kakak, kamu malah deketin calon istri bos kakak, tidak tahu diri ", cibir Fajar.


" APA ?!, CALON ISTRI???!!"


Rohmat langsung membulatkan matanya sambil melongo saking kagetnya.


" Sari itu terlihat masih sangat muda, masa sudah jadi calon istri bos kakak yang sudah dewasa, dia itu pantesnya jadi gebetanku", protes Rohmat.


" Dasar kamu itu, nggak ada kapoknya, dia itu nggak level sama anak bau kencur yang masih minta uang jajan sama mamahnya, kebanyakan cewek itu suka sama laki-laki yang dewasa, mengayomi, berpenghasilan dan sudah mapan, buka anak ingusan kaya kamu", Fajar kemudian berdiri setelah melihat Aisyah selesai berganti pakaian untuk yang kedua kali. Dan berjalan bersama istrinya untuk kembali foto-foto di pelaminan. Meninggalkan Rohmat yang masih terpaku di tempatnya.


***


" Mumpung sudah di Cilacap, mau main ke pantai?", tanya Musa, sambil mengemudikan mobilnya dengan pelan keluar dari jalan sempit menuju jalan raya.


" Memangnya ustadz tahu jalannya?, kalau Sari si mau banget, sudah lama juga nggak main ke pantai", jawab Sari.

__ADS_1


Musa menepikan mobilnya, membuka aplikasi google maps, dan mengetikkan nama pantai tujuan mereka. " Ke teluk penyu saja ya yang nggak terlalu jauh dari sini, jadi nggak perlu capek di jalan".


Sari mengangguk, " Oke, Sari belum pernah main ke pantai di Cilacap, mau di mana saja, Sari setuju", jawab Sari bersemangat.


__ADS_2