Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Nama Adalah Do'a


__ADS_3

ini bukan cerita yang di ulang ya guys... tapi menceritakan dari sudut pandang Musa saja.


Musa POV


Sepulang dari kampus, saat masuk ke dalam rumah, aku mendengar suara Umi dan Sari yang sedang bertadarus dari arah kamar. Hati terasa begitu tentram mendengar suara mereka.


Saat masuk ke dalam kamar dan melihat kedua wanita yang paling ku sayangi sedang melantunkan ayat-ayat suci Al-Qur'an. Aku merasa aku adalah orang yang paling beruntung di dunia ini. Dan berharap akan beruntung juga di akhirat kelak.


Tapi keberadaan mereka berdua yang bertadarus bersama-sama di kamar membuatku bertanya-tanya, kenapa tidak bertadarus di mushola rumah atau tempat lain?.


Saat ku tanyakan pada Sari, dia mengatakan


tidak apapa, katanya biar ada temennya jadi tadarus bareng di kamar karena Sari butuh istirahat, Sari belum mau berterus terang jika saat itu dia sudah mulai merasakan kontraksi palsu pada perutnya.


Aku berusaha percaya meski aku bisa melihat ekspresi Sari yang berubah-ubah, kadang dia berusaha tersenyum ketika ku ceritakan kegiatanku di kampus hari ini, tapi sesekali dia berubah meringis, seperti menahan sakit.


Malam hari, usai kami sholat Isa berjama'ah, aku merasa aneh, karena Sari menawariku untuk berhubungan suami-istri.


Jujur mungkin sudah sekitar 2 minggu aku tidak melakukannya, bukan karena bosan atau tidak nafsu melihat perut buncit Sari, bukan juga karena bentuk tubuh Sari yang semakin berisi, karena justru menurutku Sari semakin cantik dengan bagian-bagian tubuh tertentu yang semakin berisi, terutama pay*dara dan b*kong nya yang menjadi semakin besar.


Alasanku tidak melakukannya karena akhir-akhir ini aku perhatikan Sari semakin susah untuk tidur, dibawa miring susah, terlentang pun susah. Sari tidak pernah mengeluh dengan keadaannya, tapi aku yang merasa kasihan, karena itu adalah hasil dari perbuatan ku.


Tiap malam dia terbangun dan semakin sering buang air kecil ke kamar mandi, akupun ikut terbangun dan memilih untuk sholat malam, Sari juga sering bergabung dan sholat bersama di mushola rumah.


" Mas... kata Dokter Agus, berhubungan intim mendekati tanggal persalinan itu memberikan manfaat yang sama seperti yang diberikan selama masa kehamilan. Aktivitas seksual itu bisa membantu ibu hamil merasa lebih rileks, meningkatkan kualitas tidur, bahkan meredakan beberapa ketidaknyamanan akibat kehamilan untuk sementara waktu (Dikutip dari artikel halodoc.com)", ucap Sari.


Aku baru tahu hal itu, seandainya aku tahu itu sejak kemarin-kemarin, aku pasti akan mengajak Sari melakukannya setiap malam, agar dia bisa tidur dan merasa lebih nyaman.


Karena belum terlalu malam, aku setuju dan menerima ajakan Sari, kami melakukannya malam ini. Tentu aku yang lebih aktif dan dominan, Sari hanya pasrah, karena keadaan perutnya sudah begitu besar, membuat pergerakannya menjadi terbatas.


Setelah melakukan hubungan badan, kulihat Sari berjalan kearah kamar mandi, mungkin dia hendak langsung membersihkan diri, tapi karena aku merasa lelah (sekaligus bahagia bercampur menjadi satu tentunya), membuat ku langsung memilih untuk tidur begitu nyenyak nya. Aku berencana untuk mandi nanti saja saat terbangun tengah malam, sebelum sholat.

__ADS_1


Aku begitu terkejut ketika jam baru menunjukkan pukul 11.30 WIB, tubuhku terasa ada yang menggoyang-goyang, dan saat ku buka mata, ternyata istriku tercinta tengah meringis menahan perutnya yang sakit.


Apakah dia mau melahirkan ?


Entah mengapa aku langsung merasa sangat panik, ketika kulihat ada bercak merah yang jatuh ke lantai saat Sari beranjak dari tempat tidur. Aku yang baru bangun tidur dan begitu kaget sampai bingung harus melakukan apa, padahal beberapa minggu yang lalu sudah pernah berlatih simulasi saat istri hendak melahirkan di kelas ibu hamil bersama bapak-bapak yang lain.


Untung saja Sari bisa memberi instruksi padaku untuk melakukan apa saja, ku masukan koper yang sudah dipersiapkan Sari sebelumnya ke dalam mobil. Dan langsung berlari membantu Sari yang sedang berjalan perlahan keluar kamar sambil memeluk dan mengelus perutnya.


Sari memintaku agar tidak panik dan membuat gaduh, takut mengganggu istirahat umi dan Abi katanya.


Aku langsung melajukan mobil menuju rumah sakit. Ada dokter Setiawan di IGD, kami sudah pernah bertemu sebelumnya. Dokter Setiawan juga memanggil seorang bidan, yang aku tahu namanya dari Sari, Bu Tatik, bidan senior di rumah sakit tempat Sari kerja. Beliau sedang tugas jaga malam ini.


Bidan Tatik terlihat sangat tenang, mungkin baginya sudah biasa melihat orang yang mau melahirkan, bidan Tatik juga menyuruhku untuk bisa tenang. Dan juga mengambil koper dan memarkirkan mobil ke parkiran.


Saat aku selesai parkir, Sari sudah tidak berada di IGD, aku bertanya pada suster dan kata suster sudah dipindah ke ruangan bersalin.


Ku dapati Sari sedang berjalan perlahan sambil berpegangan pada tiang infus. Kata dokter dan Bu bidan jalan-jalan bisa membantu mempercepat pembukaan jalan lahir.


Aku bantu Sari memegang tiang infus dan melingkarkan tangannya di pinggangku. Hanya beberapa menit, Sari minta u tuk istirahat, kemudian jalan-jalan lagi, dan istirahat lagi, terus seperti itu.


" Terimakasih Umi ", ucapku dalam hati.


Satu jam, dua jam, tiga jam berlalu, aku terus mendampingi Sari di kamar bersalin. Hingga ponselku bergetar, Umi menelepon.


Ku jelaskan semuanya, aku juga meminta maaf dan berterimakasih kepada Umi atas semua yang sudah beliau lakukan untukku.


Tak berapa lama setelah Umi menutup telepon, beliau sudah sampai di rumah sakit bersama Abi.


Umi menemaniku dan Sari di dalam bilik, memberi semangat dan memotivasi Sari agar terus berjuang dan menjadi semakin kuat.


Dan tepat saat adzan subuh berkumandang, saat itu juga aku mendengar tangis bayi yang begitu nyaring, suara pertama yang kudengar dari jagoan kecilku.

__ADS_1


" Alhamdulillah hirobbil'alamin terimakasih ya Allah, atas kemudahan dan kelancaran proses kelahiran putra pertama kami, terimakasih atas kepercayaan yang diberikan kepada kami", ucapku dalam hati, air mata pun menerobos begitu saja dan membanjiri pipiku.


Ku kecup dan ku cium istriku berulang kali, aku ingin menunjukkan betapa aku semakin mencintainya.


Selesai si kecil dibersihkan, aku mengadzaninya di telinga kanan, dan meng-iqamati di telinga kiri. Ku kecup juga kening si kecil yang terasa begitu lembut.


Bu bidan menyarankan untuk melakukan IMD ( inisiasi menyusui dini ), dan memberikan si kecil pada Sari untuk dilatih me-nyusu.


Bidan Tatik mendekat ke arahku,


" Pak Musa, bisa ikut bersama saya untuk melengkapi berkas dan persyaratan persalinan ?".


Aku pun mengangguk dan menitipkan Sari pada Umi, saat keluar ruang bersalin aku berjumpa dengan Abi yang langsung memelukku dan memberi selamat.


Abi diperbolehkan masuk oleh bidan Tatik.


Saat duduk didepan meja kerja Bu Bidan, aku diharuskan menandatangani beberapa dokumen.


" Apa sudah punya calon nama buat si kecil Pak?, biar saya bisa membuat surat pengantar untuk keperluan membuat KK dan akte kelahiran si kecil", Bu bidan hendak mencatat calon nama putraku.


" RASYID ALHANAN", jawabku singkat.


Nama yang sudah ku rancang bersama Sari, dan sudah ku tanyakan dulu pada ke empat orang tua kami. Mereka semua setuju dengan nama itu.


Nama Rasyid yang artinya adalah Petunjuk, cerdas, mendapat petunjuk. Sedangkan Alhanan yang memiliki makna (1) Kesayangan dan kecintaan (2) Rezki dan berkah .


Dengan harapan putraku kelak akan menjadi anak yang cerdas, mendapatkan petunjuk , menjadi orang yang disayangi dan memperoleh keberkahan dalam hidupnya.


" Wah...nama yang sangat bagus, semoga doa dan harapan dari nama yang di berikan pada si kecil akan di ijabah oleh Allah".


" Aamiin ya rabbal'almin, terimakasih Bu bidan, terimakasih untuk do'a dan juga bantuannya", aku hanya bisa berterimakasih pada bidan Tatik atas bantuannya pada kami.

__ADS_1


Aku jadi berpikir, mungkin Sari begitu ingin menjadi dokter karena ingin membantu orang yang benar-benar membutuhkan pertolongan, seperti bidan Tatik saat ini, karena dengan bisa membantu sesama, tentu akan membuat kebahagiaan dan kebanggaan tersendiri di dalam hati.


Terimakasih ku ucapkan untuk semua tenaga medis, yang sudah berjuang untuk membantu sesama.


__ADS_2