
Musa langsung berlari menuju bilik Sari di rawat, ternyata Sari belum bangun. Musa duduk di tepian bed, dan mengecup kening Sari cukup lama, dan buliran air mata bahagia tak terasa menetes dan jatuh ke wajah Sari.
Sari menjadi tersadar saat merasa sesuatu yang basah mengenai kelopak matanya.
" Mas...", suara Sari membuat Musa melepaskan kecupannya.
" Iya sayang... Mas disini, kamu butuh apa?, mau minum?", tanya Musa dengan suara yang begitu lembut.
Sari mengangguk, karena memang tenggorokannya terasa begitu kering setelah tadi muntah-muntah di rumah.
Musa membantu Sari untuk minum air putih dengan menggunakan selang. Tatapan mata Sari mengitari ruang IGD, sambil memahami dimana dia berada saat ini.
" Apa ini...di rumah sakit ?".
Musa mengangguk mengiyakan. " Kamu tadi pingsan, dan langsung mas bawa ke sini. Sudah 3 jam kamu pingsan. Maafkan Mas ya sayang". Musa kembali mengecup kening Sari.
Sari terdiam dan terlihat seperti sedang berpikir. Namun tiba-tiba Sari kembali meneteskan air mata.
" Maafkan Sari Mas... nggak tahu kenapa Sari jadi begitu sensitif, benar kata Mas, memang Sari cemburu...., entah mengapa bawaannya pengen Mas itu memperhatikanku, 'hanya aku', rasanya seperti ingin meledak saat melihat Mas tersenyum saat mengobrol dengan perempuan lain".
" Sari menjadi begitu kekanak-kanakan. Mas pasti sangat kecewa dengan sikap Sari tadi". Sari menatap Musa dengan tatapan penuh penyesalan.
Musa mendekatkan posisinya dan menenggelamkan kepala Sari di dadanya, Musa menepuk-nepuk punggung Sari berusaha memberi ketenangan.
" Kamu nggak salah sayang, mungkin mas yang kurang peka dengan keadaanmu. Mas yang minta maaf karena membuatmu bersedih".
" Mas janji akan membatasi telepon yang masuk, kalau ada telepon dari perempuan lain Mas akan menolaknya, atau Mas akan lebih dulu meminta ijin sama kamu untuk mengangkatnya", ujar Musa menenangkan Sari.
" Nggak papa, Sari juga sering teleponan sama temen Sari yang cowok, sekedar membahas pekerjaan ataupun masalah kuliah. Sari sadar, tadi Sari yang berlebihan", Sari kembali menyalahkan dirinya sendiri.
Musa tersenyum karena Sari sudah lebih bisa berpikir jernih.
" Apa kamu lapar?, Mas suapi kamu ya?".
Sari menggelengkan kepalanya, " Nggak nafsu, mulutnya masih terasa pahit . Apa kata Dokter Setiawan, apa asam lambung Sari naik lagi?". Sari mengira mual dan pusing yang dirasakannya karena asam lambung nya yang naik.
" Tidak sayang, bukan karena itu kamu jadi mual dan pusing", Musa tersenyum lebar hendak menyampaikan kabar gembira tentang kehamilan Sari, namun tiba-tiba mama dan papa masuk ke bilik sambil membawa ponsel dan tengah ber video call dengan umi dan Abi.
" Selamat sayang....!!!", mama memeluk Sari sambil menghadapkan layar ponsel yang nampak wajah sumringah Umi dan Abi.
Umi dan Abi juga mengucapkan selamat pada Sari, membuat Sari bingung dengan sikap kedua ayah dan ibunya itu.
" Selamat..?", Sari mengernyitkan keningnya,
" apa maksud Mama dan Umi, aku sakit malah di kasih ucapan 'selamat'?", batin Sari, masih belum mengerti.
" Iya sayang, selamat karena sebentar lagi kamu akan menjadi seorang ibu, mama dan Umi akan segera menjadi nenek", ucapan Mama membuat Sari menatap ke arah Musa
" Mas?, jadi...yang membuat Sari mual dan pusing itu karena... Sari...hamil ?".
Musa langsung menganggukkan kepalanya sambil tersenyum lebar. " Iya sayang, kamu hamil".
Sari langsung menutup mulutnya yang melongo, saking merasa begitu terkejut, sekaligus bahagia. " Alhamdulillah hirobbil'alamin, terimakasih ya Allah", Sari kembali menitikkan air mata sambil meraba perutnya yang masih datar.
__ADS_1
" Mama, Papa, umi dan Abi sangat bahagia sayang, kalian berdua memang putra-putri kami yang selalu bisa di banggakan", Mama kembali ber euforia bersama Umi melalui sambungan telepon, namun karena membuat gaduh dan mengganggu ketenangan pasien lain, suster menyuruh mama untuk bertelepon ria di luar IGD.
Musa menggenggam tangan Sari.
" Dokter Setiawan yang tadi memeriksa keadaan kamu, katanya untuk lebih jelas, periksa ke Dokter Agus, tapi besok nunggu praktek besok Senin".
Sari mengangguk tanda mengerti.
" Jadi sejak kemarin aku merasa begitu sensitif karena aku sedang hamil, jadi seperti ini perasaan seorang ibu yang hamil", batin Sari masih tidak percaya kalau dirinya hamil.
" Mas ponselku mana?", tanya Sari yang penasaran dengan kebenaran kabar kehamilannya.
" Di rumah, nggak ke bawa, tadi begitu panik, jadi langsung lari kesini", jawab Musa sambil nyengir.
" Mas tolong panggilkan dokter Setiawan, Sari mau bicara".
Musa langsung keluar menuju ruang dokter Setiawan, 5 menit kemudian Setiawan menemui Sari.
" Boleh Sari minta nomer Dokter Agus?, atau dokter Kandungan yang lain. Sari ingin tahu kebenaran kehamilanku hari ini juga", ucap Sari pada Setiawan.
" Baiklah saya saja yang menghubungi Agus, kutanyakan dulu dia sibuk atau tidak, takutnya sedang ada pasien juga di kliniknya".
Dokter Agus memang membuka praktek juga di klinik miliknya. Namun kebetulan hari ini dokter Agus punya sedikit waktu luang, dan menyempatkan mengobrol dengan Sari melalui ponsel dokter Setiawan.
Sari langsung menanyakan banyak hal tentang tanda-tanda awal kehamilan.
" Dok maaf mengganggu, tapi Sari benar-benar penasaran, tadi dokter Setiawan mengatakan Sari hamil, apa dokter bisa jelaskan tanda-tanda orang yang hamil?", tanya Sari.
" Ciri-ciri ibu hamil, 3 minggu yang pertama biasanya adalah emosional, pasti calon ibu akan merasakan perubahan emosi pada tubuh. Perasaan yang sensitif selama trimester pertama umumnya disebabkan oleh perubahan sekresi hormon. Kadar estrogen dan progesteron yang lebih tinggi, bertanggung jawab atas perubahan suasana hati, sehingga ibu hamil cenderung lekas marah dan mudah merasa sedih".
" Kemudian bercak, ketika bayi kecil mencapai rahim, ia akan menemukan tempat untuk menempel atau menanamkan diri ke dindig rahim".
" Kadar hormon akan meningkat, calon ibu akan merasa mual dan muntah".
" Kemudian perubahan pada payudara".
" Apa dokter Sari merasakan perubahan itu?".
Dokter Agus menanyakan keadaan Sari.
" I-iya Dok ", jawab Sari terbata, karena semua tanda yang disebutkan dokter Agus terjadi pada dirinya.
" Mintalah testpack pada perawat, lakukan pengecekan melalui urine pertama besok pagi saat bangun tidur. Besok pagi temui saya di klinik kandungan, atau siang saya ke kamar dokter Sari di rawat, biar tidak perlu mengantri", ujar Dokter Agus memberi pengarahan.
" Baik Dok, terimakasih atas informasinya, Sari jadi nambah ilmu".
Obrolan pun berakhir bersamaan dengan perawat memberitahukan jika Sari sudah bisa masuk ke ruang kamar rawat inap.
Mama dan papa mengikuti Musa dan perawat yang membawa Sari ke kamar tempatnya di rawat.
Setelah Sari menghabiskan makan siang dan mendengar penjelasan dokter Setiawan jika Sari baik-baik saja, karena yang di alaminya hanyalah gejala awal kehamilan, Mama dan papa memilih untuk kembali ke Malang dan mempercayakan Sari pada Musa.
Sari juga memahami keterbatasan waktu yang dimiliki kedua orang tuanya. Apalagi Sari sudah merasa lebih baik setelah di infus. Dan mendapat penanganan dari perawat dan dokter Setiawan tadi.
__ADS_1
***
Senin pagi Sari melakukan tes kehamilan dengan menggunakan testpack, Sari menggunakan 3 testpack yang berbeda jenis. Dan semuanya hasilnya sama, ada dua garis merah yang terlihat di setiap testpack.
" Alhamdulillah hirobbil'alamin. Terimakasih atas karunia-Mu ya Allah. Engkau maha pengasih dan penyayang, hamba mohon berilah kesehatan dan keselamatan pada hamba dan janin yang Engkau percayakan berada pada rahim hamba".
Sari menunjukkan ketiga testpack itu pada Musa, yang baru masuk ke dalam kamar setelah keluar mencari sarapan untuknya sendiri.
Musa tersenyum sambil bersyukur,
" kamu kapan melakukan pengecekan ini?, apa turun sendiri ke kamar mandi?", tanya Musa cemas.
Sari mengangguk, tapi kemudian menggeleng, " tadi perawat yang bantu Sari ke kamar mandi. Mas sarapan saja dulu, lalu langsung ke kampus. Sari sudah baik-baik saja, di akan ada perawat yang menjaga Sari".
Sari memang sudah tidak pusing maupun mual berlebihan seperti kemarin, hanya masih sedikit mual saja, tapi masih bisa di tahan.
" Mas hari ini ada kelas jam 10, jadi bisa nemenin kamu ketemu sama dokter Agus terlebih dahulu. Tadi mas sudah daftar dan meminta tolong pada dokter Agus biar kamu bisa menjadi pasien pertama", ucap Musa sambil nyengir.
"Mas juga sudah meminta sama Kak Dimas untuk membawa beberapa baju ganti Mas ke sini".
" Kak Dimas?", Sari jadi kembali mengingat kejadian kemarin malam, saat Sari melihat Dimas berjalan dengan Linda.
" Iya, kakak kamu, kemarin dia dan teman-temannya bantu mindahin barang-barang seserahan dari rumah kakek ke rumah kita".
" Mas juga sudah kasih tahu kalau kamu hamil. Semalam mereka ke sini, tapi kamu sudah tidur, jadi nggak Mas biarkan mereka masuk dan ganggu istirahat kamu".
" Mereka... kak Dimas sama siapa?", tanya Sari penasaran, " apa sama Linda lagi?", batin Sari.
" Kak Dimas sama Agung dan Cahyo, memang sama siapa lagi?, bukankah mereka kemana-mana selalu bersama kan?", ujar Musa.
Sari hanya mengangguk, karena ternyata perkiraannya salah.
Saat Musa tengah menyuapi Sari beberapa potong apel, terdengar ketukan pintu kamar, dan nampak Eli dan beberapa teman Sari masuk ke dalam kamar.
Kamar menjadi penuh dengan dokter dan perawat, teman-teman kerja Sari. Mereka yang tadinya berbisik-bisik di belakang, tentang kehamilan sari yang terlalu cepat. Kini justru menyelamati Sari setelah mendengar penjelasan Eli, jika Sari sebenarnya sudah menikah siri, 3 tahun lalu dengan Musa.
" Waaah.... calon bunda, pagi-pagi wajahnya semakin bercahaya... jangan-jangan deden-nya cewek nih... jadi ibunya kelihatan tambah cantik", seloroh salah seorang dokter wanita paruh baya yang datang bersama Eli.
" Wah kalau di tempatku justru kalau ibunya cantik itu, bayinya cowok Dok...", ujar perawat senior yang masuk bersama mereka.
Beberapa perawat juga tidak luput memuji ketampanan Musa. Sari hanya tersenyum dengan tingkah teman-temannya.
Kegaduhan pun terjadi di kamar Sari. Musa hanya berdiri dengan ekspresi wajah yang tidak bersahabat. Tapi mau mengusir juga tidak enak hati.
Untung saja Eli menyadari ekspresi wajah Musa yang seolah ingin mereka semua pergi.
" Waduh, sepertinya sebentar lagi kami harus bertugas, jadi kami pamit dulu ya Sar. Semoga kamu cepet sehat", Eli menyalami Sari memberi selamat, sambil berbisik, " Nanti aku ke sini lagi".
Teman-temannya yang lain ikut memberi selamat dan menyalami Sari. Mereka pun keluar dari kamar Sari.
" Akhirnya bisa bernafas juga", ucap Musa sambil menarik nafas panjang.
Sari hanya tersenyum melihat tingkah suaminya itu.
__ADS_1