
Siang hari setelah bi Nunung selesai memasak dan menyajikan nasi, gurame bakar dan capcay sayur, tidak ketinggalan sambal terasi, lalapan timun dan kemangi yang dipetik di pekarangan belakang, di lahan seberang kolam ikan milik kakek Atmo.
Semua bahan masakan masih fresh, ikan yang baru nangkap, dan sayuran yang baru memetik, membuat semuanya nampak menggiurkan.
Sari memanggil semua penghuni rumah untuk makan siang bersama, termasuk Azka yang seharian terus mengobrol dengan Musa dan kakek di teras rumah. Entah apa yang mereka bicarakan, kadang raut wajah mereka terlihat serius, kadang mereka tertawa bersama dan sesekali terlihat begitu asyik bercanda.
" Kek, Mas Musa, Azka, masuk dulu, makan siang sudah di siapkan sama bi Nunung", Sari kembali masuk kerumah setelah memanggil mereka untuk makan.
" Wah...nggak terasa ternyata sudah ngobrol seharian saja, pantas perut mulai terasa lapar, ternyata sudah siang", Kakek Atmo beranjak dari duduknya dan mengajak Musa dan Azka untuk masuk.
Sari keluar dari kamar Dimas, dan terlihat Dimas yang mengekor di belakang Sari sambil mengucek matanya.
" Baru bangun Dim?", tanya Kakek Atmo.
Dimas mengangguk sambil menutupi mulutnya yang menguap.
" Semalam di rumah sakit nggak bisa tidur, dingin banget, mana nggak bawa selimut", gumam Dimas.
" Siapa yang sakit ?", tanya Musa.
" Cahyo".
" Sakit apa ?".
" Ngindarin kucing mau nyebrang jalan, ada tumpukan material di pinggiran jalan, malah jadi nabrak tumpukan material, jadi hilang keseimbangan, motornya oleng dan cahyo jatuh".
" Seandainya jatuhnya di aspal biasa mungkin cuma lecet, tapi Cahyo jatuh di atas tumpukan pecahan batu, makanya lukanya banyak, jarinya juga retak".
" Kasihan banget itu anak lagi apes, mana baru ngambil KPR, katanya calon istrinya nggak mau tinggal bareng orang tuanya setelah menikah, dan ngasih syarat mau menikah kalau Cahyo sudah punya rumah sendiri. Rumit banget kan hidupnya..."
Dimas duduk di kursi yang biasa di tempatinya. Yang lain masih mendengarkan cerita Dimas dengan seksama.
__ADS_1
" Ceweknya kemana dia kecelakaan?, kok kakak yang nungguin?", tanya Sari penasaran.
" Ada, tadi pagi datang gantian sama aku jagain Cahyo, seksi banget ceweknya, kerja jadi SPG produk kosmetik".
" Tapi kalau aku si ogah-ogahan punya istri macam itu, tubuhnya diumbar sana sini, siapapun boleh liat. Kalau buat have fun saja si boleh", Dimas terkekeh sendiri dengan ucapannya.
Sari buru-buru menepuk lengan kakaknya, merasa tidak enak dengan Musa dan Azka,
" hush..., jangan ngarep dapet yang baik kalau tingkah laku kakak masih nggak bener. Jodoh itu kan cerminan diri kita. Jadi kalau kakak mau dapat yang baik, Kakak juga harus jadi orang yang baik dulu".
Dimas manyun, " adiku yang paling cantik..., sekarang sudah ketularan suaminya, suka kasih kultum, mau saingan sama mamah Dedeh?".
Sari semakin membulatkan matanya, tapi tidak mengeluarkan sepatah katapun " kak Dimas di kasih kode malah nggak peka banget, semakin menjadi, aduh aku jadi nggak enak sama Mas Musa dan Azka", batin Sari.
" Kamu itu dikasih tau bener malah jawabnya begitu....", kali ini kakek Atmo ikut bicara.
" Hehehehe... iya kek, Dimas cuma becanda, maaf... jangan di ambil hati ya adik ipar". Dimas mengangkat alisnya sambil meringis.
Makanya Azka begitu takjub ketika melihat Sari berhijab, tadinya Azka kira karena Sari adiknya Dimas, mungkin gaya hidup mereka berdua akan sama. Tapi nyatanya bagai bumi dan langit, sangat jauh berbeda, meski mereka berdua keluar dari rahim yang sama.
Suasana menjadi sunyi ketika mereka sedang makan siang menikmati gurame bakar dan sambel terasi buatan bi Nunung, semuanya makan dengan lahapnya.
3 ekor gurame yang di hidangkan bisa langsung ludes, tadinya Bi Nunung akan menyajikan ke 4 gurame itu, tapi Sari menyuruhnya menyisakan 1 untuk Bu Nunung dan Mas Soleh. Seandainya tadi dikeluarkan semuanya, pasti akan ludes juga.
Setelah makan siang Azka meminta pamit untuk pulang, karena ada janji akan bertemu dengan teman-temannya yang lain. Sudah lama tidak pulang, sudah lama juga tidak bertemu dengan teman masa kecilnya.
" Azka pamit dulu kek... terimakasih untuk makan siangnya, semoga kakek sehat selalu, Azka berharap kakek bisa ikut menghadiri acara pernikahan Azka ke Bandung bersama Musa dan Sari".
" Insyaallah, kalau diberi sehat dan umur panjang, tapi kakek nggak bisa janji, fisik sudah tidak se kuat jaman masih muda. Perjalanan ke Bandung itu cukup lama, mungkin bisa di wakilkan sama Dimas", ucap Kakek sambil menepuk lengan Dimas yang berdiri di sampingnya.
Azka hanya mengangguk dan keluar rumah sambil mengucapkan salam.
__ADS_1
***
Malam hari Sari dan Musa pulang ke rumah, karena besok harus berangkat ke tempat kerja masing-masing.
Sari dan Musa langsung tertidur dengan begitu nyenyak.
Pagi harinya seperti yang sudah di rencanakan kemarin, Sari di antar ke rumah sakit dan Musa langsung menuju ke kampus, mengisi kelas selama 2 jam.
Jam 10 Musa sudah sampai di rumah sakit kembali, Musa langsung menghampiri Sari ke ruangannya.
Mereka berdua pun langsung masuk ke klinik kebidanan, bertemu dengan dokter Agus.
Sari langsung di persilahkan untuk berbaring di atas bed, dan seorang suster membantu melumaskan gel di perut Sari. Kemudian menempelkan alat yang biasa disebut transducer (komponen USG yang ditempelkan pada bagian tubuh yang akan diperiksa).
Dokter Agus dibantu oleh suster memeriksa denyut jantung, aliran darah, dan kadar oksigen pada janin. Mengecek kondisi rahim, leher rahim, indung telur, dan plasenta.
" Semuanya dalam keadaan sehat dan normal Pak Musa, bisa kita lihat di layar depan".
" Ukuran badan janin dari kepala sampai kaki sudah mencapai sekitar 14 sentimeter, dengan berat janin sekitar 200 gram".
" Dan coba jenis kelaminnya, wah... sesuai dengan perkiraan ku, melihat dari bentuk perut Dokter Sari, saya menebak bayinya laki-laki,dan ternyata benar...ada jagoan di dalam perutnya, lihatlah wajahnya begitu tampan seperti ayahnya, semoga dokter Sari dan janin dalam perutnya sehat terus, dan dimudahkan saat melahirkan nantinya".
" Aamiin...", semua yang ada di dalam ruang periksa meng-amini.
Sari dan Musa saling menatap sambil tersenyum dan penuh syukur atas karunia yang sudah Allah berikan pada mereka berdua.
" Terimakasih Dok, sudah menyempatkan waktu untuk memeriksa istri saya", Musa menjabat tangan dokter Agus ketika Sari beranjak dari bed dan turun dari ranjang pemeriksaan.
" Karena masih banyak pasien yang lain, kami permisi terlebih dahulu Dok, terimakasih untuk penjelasannya".
" Terimakasih juga sudah mendoakan , kami permisi dulu".
__ADS_1
Sari dan Musa keluar dari klinik kebidanan dan kembali menuju ruangan Sari.