Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Obat capek yang manjur


__ADS_3

Sari melakukan sungkem saat hendak keluar dari mobil Musa , kemudian Musa menurunkan Sari di depan gedung kampusnya, suasana kampus cukup ramai dengan mahasiswa yang berlalu lalang.


Musa langsung melajukan kembali mobilnya saat melihat Sari sudah masuk ke dalam gedung.


" Pagi Sari....!, minal 'aidzin wal Faidzin ya, maafkan lahir dan batin", sapa Rizal yang sejak tadi menunggu Sari di depan ruang untuk kelas pertama mereka.


" Pagi...,maaf lahir dan batin juga ", Sari langsung masuk ke dalam kelas setelah menjawab pernyataan Rizal dan menyalami semua teman-temannya yang tengah saling bermaafan, diikuti oleh Rizal yang mengekor di belakangnya. Suasana kelas menjadi ramai karena semua saling bermaaf-maafan bersama-sama.


Eli yang juga ternyata masuk fakultas yang sama dengan Sari, bedanya Eli masuk melalui jalur seleksi bersama.


Sari kemudian duduk bersebelahan dengan Eli, memilih tempat duduk yang masih kosong, setelah selesai menyalami semua teman-temannya, dan Rizal sengaja duduk di sebelah Sari.


Saat dosen pengajar masuk ke dalam kelas, semua keramaian mendadak langsung berubah menjadi hening. Dan mahasiswa duduk rapi di tempatnya masing-masing.


Mata kuliah hari ini, blok 1 pembahasan tentang muskuloskeletal, yaitu pelajaran tentang sistem otot, jaringan ikat, saraf, serta tulang dan sendi.


Dosen menerangkan beberapa penjelasan, selebihnya mahasiswa di bagi menjadi beberapa kelompok, dalam pembagian kelompok ini Sari satu kelompok dengan Yanto, Eli dan juga Rizal.


Yanto adalah salah satu mahasiswa yang mengikuti program Bidikmisi, karena dia sangat cerdas, sayangnya berasal dari keluarga yang kurang mampu.


Memang tidak seperti kuliah di fakultas yang lain, di semester ini Sari mulai lebih sering belajar sekaligus praktek. Kuliahnya bisa sampai seharian dan pulang hingga sore hari.


Seperti hari ini, baru berangkat setelah libur lebaran, tapi otak langsung di gas poolll, untuk menampung semua pelajaran yang di jelaskan oleh dosen.


Sore hari saat Sari dan Eli keluar dari kampusnya dengan langkah kaki yang lunglai, Rizal kembali menghampirinya.


" Aku antar kamu pulang ya, aku bawa mobil sendiri", ajak Rizal menyalip langkah Sari dan Eli.


Sari yang tadi sudah mengabari Musa karena akan pulang sore dan akan pulang sendiri, sedikit berpikir akan menerima atau menolak ajakan Rizal.


" Rumahku kan lebih jauh dari rumah kamu, nggak kelewatan, aku pesen ojek online saja", tolak Sari secara halus. Apalagi Sari kini sudah menikah, harus menjaga jarak dengan laki-laki manapun. Diam-diam Sari memesan ojek online melalui ponselnya.


" Nih Eli saja yang ikut kamu, kan kalian searah, jadi nggak buang-buang ongkos pulang kamu El...", Sari mendorong Eli yang berjalan di sampingnya.


" Ye...kamu ini Sar, Rizal kan nawarin tumpangan sama kamu, bukan sama aku, jadi jangan main dorong begini ih..", Eli seperti sewot ketika Sari mendorongnya.


" Eh maaf El, bukan maksudku begitu, cuma aku nggak mau ngrepotin Rizal saja".


" Mba Sari?", tanya seorang ojol, Sari mengangguk dan menerima helem dari Pak ojol, kemudian naik ke boncengan motor.


" Maaf ya jemputan ku sudah datang, aku pulang dulu ya, Zal tuh ajak si Eli saja belum ada yang jemput, kasihan kalau pulang kemalelam, bentar lagi Maghrib, daaa....", Sari melambaikan tangannya.


" Jalan Pak", Sari dan Pak ojek pun langsung meninggalkan Rizal dan Eli yang masih berdiri di tempatnya. Saling menatap dan menggelengkan kepala melihat tingkah Sari.


" Ayo ikut mobilku, benar ucapan Sari, arah rumah kamu searah dengan rumahku, juga sebentar lagi maghrib, biar lebih efisien waktu saja", ucap Rizal menjelaskan.

__ADS_1


Akhirnya Eli mengikuti Rizal dan masuk kedalam mobilnya, mereka keluar dari parkiran kampus dan menyalip Yanto yang tengah bersepeda untuk pulang.


" Kita duluan Yanto..!", teriak Eli sambil melambaikan tangan dari kaca mobil Rizal yang sengaja diturunkan.


Yanto hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya pada Eli.


" Kamu dekat sama Yanto?", tanya Rizal menghilangkan kesunyian di dalam mobil, diantara mereka berdua.


" Tidak terlalu, kamu tahu kan kalau Yanto itu pinter banget, waktu itu pernah ada materi yang tidak ku pahami, terus dia bantu jelasin, habis itu jadi sering nanya deh kalau ada yang nggak aku pahami, dia juga dengan senang hati menerangkan dengan jelas". terang Eli.


" Kenapa nggak nanya sama Sari?, dia kan sahabat kamu".


" Sering, tapi pas kita berdua sama-sama buntu, biasanya Sari yang ngajakin aku buat nanya ke Yanto bareng-bareng, Sari tuh yang lebih dulu akrab sama Yanto", seperti ada ekspresi kecewa di wajah Rizal saat Eli mengucapkan kalimat tadi.


" Eh sudah sampai, makasih buat tumpangan nya ya Zal. Kalau boleh kasih saran sebagai teman, menurut pendapatku, kalau kamu suka sama Sari sebaiknya di ungkapin saja, kalau kamu tidak bergerak cepat, kamu bakalan ke salip sama yang lain", Eli turun dari mobil dan masuk kedalam rumah nya.


Rizal melajukan mobilnya lagi menuju rumahnya sambil terus memikirkan kalimat Eli barusan. Ada benarnya juga.


***


" Assalamualaikum !", Sari masuk kedalam rumah dan langsung mendudukkan dirinya di atas sofa ruang santai, menyenderkan kepalanya di senderan sofa sambil merentangkan tangannya ke samping. Terlihat sangat lelah.


" Wa'alaikum salam".


Sari langsung berdiri dan mencium tangan Musa sungkem.


Sari menggeleng, " pengen tiduran capek banget, tapi nanggung Maghrib, jadi duduk-duduk dulu sambil nunggu adzan. Mas tadi sudah makan siang?", tanya Sari menatap Musa yang memilih duduk di sebelah Sari.


" Mas makan siang pesen di kantin kampus tadi. Mau di pesenin apa buat makan malam?, Mas belum belanja bulanan, kulkasnya kosong, cuma isi buah", terang Musa.


Sari yang menangkap kata 'balum belanja bulanan langsung berubah menjadi semangat.


" Habis Maghrib jalan yuk Mas, belanja bulanan",ajak Sari.


" Katanya kamu lagi capek banget, kok malah ajak belanja, kalau capek itu dibawa istirahat, bukan belanja", ucap Musa.


Sari langsung duduk tegap dengan mode on, semangatnya tiba-tiba muncul begitu saja.


" Sari sudah nggak capek, dengan belanja itu, bisa ngilangin capek, Sari biasa begitu sama mama pas di Malang", ujar Sari sambil berdiri dan membawa tasnya masuk ke dalam kamar.


" Sari mau mandi dan siap-siap dulu, nanti habis Maghrib kita belanja, ada banyak yang mau Sari beli. Mas siapin uang yang banyak ya !, hehehe", Sari nyengir sambil menutup pintu kamar mandi.


Musa hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah istrinya itu.


Pukul 18.30 WIB, Sari dan Musa sudah sampai di Moro mall Purwokerto.

__ADS_1


" Kita makan malam dulu ya, biar nggak kelaperan pas lagi belanja", Musa menggandeng tangan Sari dan menuju food court, memesan menu makan malam dan minuman, Sari juga menambah seporsi ice cream rasa coklat dan melon kesukaan nya.


Sari makan dengan lahapnya, nasi bakar dengan ayam kremes, dan juga sambel terasi, membuat nafsu makannya meningkat.


Musa hanya tersenyum saat Sari menghabiskan makanan nya dan mengambil ice cream miliknya, " Mas mau coba?, nih..aaa....." Sari menyodorkan sendok eskrim ke mulut Musa, Musa yang sebenarnya tidak suka eskrim jadi membuka mulut dan menerima suapan eskrim dari Sari.


Ada dua orang gadis yang duduk di bangku sebelah Sari, menatap ke arah mereka berdua dengan tatapan penuh tanya.


Musa hanya tersenyum sambil berkata, " ini istri saya ", dan kedua gadis itu langsung ber 'oooh' bersama.


Usai makan, Sari langsung menuju tempat belanja, mengambil troli dan bergerak cepat menuju rak yang berisi bumbu-bumbu dapur dan sayuran, Sari hanya mengambil beberapa macam sayuran.


" Kenapa nggak ambil yang banyak?, katanya tadi suruh siapin uang yang banyak", tanya Musa, heran melihat Sari hanya memasukkan beberapa jenis sayuran.


" Kalau sayur, ini buat nyambung satu Minggu kedepan, hari Minggu besok, kita ke pasar tradisional saja, di sana sayuran nya masih fresh, kita belanja sayuran nya disitu".


" Itu baru yang kita perlukan", Sari menunjuk rak dengan keperluan mandi, dan langsung menuju ke rak yang dimaksud, mengambil sabun cair, pasta gigi, shampoo, dan keperluan mandi lainnya.


" Kemarin berendam kurang maksimal, karena nggak ada aromaterapi nya, jadi Sari mau beli sabun aromaterapi, biar lebih seger kalau habis berendam".


Sari juga membeli seperangkat alat makeup untuknya, yang di rumah memang belum habis, tapi karena ini belanja bulanan dan mumpung semua Musa yang akan bayar, Sari memanfaatkan situasi.


Sari juga mengambil peralatan untuk Musa bercukur jambang.


" Mas sudah punya di rumah, nggak perlu beli lagi", protes Musa.


" Nggak papa, beli yang baru, biar punya dua", Sari tetap kekeh.


Setelah mengambil keperluan mandi, Sari juga mengambil beberapa makanan cepat saji dan Frozen food. " Ini buat jaga-jaga kalau masaknya buru-buru", gumam Sari.


Dan setelah berputar-putar dipusat perbelanjaan, hingga troli mereka penuh akhirnya Sari menuju kasir juga.


" Totalnya Rp 3.675.300 Mba", ucap kasir. Sari langsung mengambil dompet yang di ulurkan oleh Musa dan mengambil uang dari dalamnya.


" Terimakasih atas kunjungannya", Sari dan Musa keluar membawa belanjaan yang begitu banyak dan keluar dari mall.


Di dalam mobil saat menuju pulang, tiba-tiba hujan turun, membuat Musa memperlambat laju mobilnya.


" Makasih ya Mas, sudah belanjain Sari begitu banyak", senyum Sari merekah sambil mengecup pipi Musa.


" Itu sudah jadi hak kamu, dan kewajiban Mas mencukupi kebutuhan istri mas", jawaban Musa membuat Sari merasa sangat beruntung dapat suami yang sangat pengertian.


" Padahal dulu kalau belanja sama mama, mau ambil ini....jangan, mau ambil itu...jangan. Banyak banget nggak bolehnya, beda kalau Kak Dimas yang minta pasti langsung diturutin sama mama, kalau mama liat aku belanja sebanyak ini, pasti mama terkejut banget", Sari menutup mulutnya yang tertawa lepas.


" Kamu itu, bahagia banget ya kalau sudah belanja?", Musa mengusap kepala Sari.

__ADS_1


Sari menganggukkan kepalanya, karena bagi Sari belanja itu bisa meningkatkan hormon dopamine, dan membuat perasaan menjadi lebih bahagia.


__ADS_2