
Pagi ini hawa dingin yang sedang dirasakan oleh semua orang, tidak berlaku di lantai 4 kamar hotel dimana Linda dan Dimas berada.
Sentuhan lembut yang Dimas lakukan, membuat Linda, gadis polos yang masih sangat amatir dalam hal bercinta, harus merasa kewalahan untuk mengimbangi permainan Dimas yang sudah menjadi ahlinya, karena Dimas adalah pemain lama.
Bahkan Linda merasa dirinya hampir sama seperti cucian baju, yang awalnya di raba-raba di bagian tertentu, dicolek di sana-sini kemudian mulai di remas-remas, tubuhnya di bolak-balik, depan belakang, belakang ke depan, atas jadi bawah dan bawah jadi atas.
Sebagai seorang yang baru pernah melakukannya, Linda begitu kepayahan. Linda terkulai lemas di atas kasur, membiarkan Dimas terus mengeksplor tubuhnya.
Hingga tiba saat menuju akhir, Dimas hendak melakukan penyatuan karena bagian bawah tubuhnya sudah begitu menegang dan butuh pelepasan.
Dimas mengungkung Linda dan menghentak bagian bawah tubuhnya, Linda langsung mendesis karena rasa sakit dan pedih seperti semalam, kini kembali di rasakan nya.
" Ah...hhhh....ssssshh".
Dimas masih melanjutkan aksinya, meski tahu dan mendengar desisan Linda. Dimas masih melakukan permainannya sambil berbisik di telinga Linda sambil sesekali menggigitnya.
" Tahan sedikit lagi sayang.... please!".
" Nanggung, sebentar lagi", terdengar suara serak Dimas dengan nafas yang ter-engah .
Linda hanya bisa pasrah, entah apa yang kini sedang dirasakannya, karena dalam satu waktu tubuhnya memperoleh berbagai macam rasa. Rasa lelah, sangat tegang, sakit dan pedih di bagian tertentu tubuhnya, tapi Linda tidak memungkiri ada sebuah kenikmatan dan rasa bahagia yang meluap-luap, mungkin karen permainan Dimas yang sudah ahli, juga karena Linda merasa sangat di inginkan dan dicintai oleh Dimas.
Perjuangan Dimas pun berhasil, hanya butuh dua kali percobaan, meski harus dengan sedikit memaksa Linda tentunya. Tapi Dimas yakin, setelah rasa pedih di bagian sensitif tubuh Linda membaik, Linda lah yang akan dengan senang hati mengajaknya melakukan lagi dan lagi, bahkan Linda akan menawarkan diri pada Dimas.
Keduanya kini sudah terkulai lemas di atas kasur. Kembali memejamkan matanya dan tertidur dengan begitu lelapnya.
***
Sari menatap tubuh Bi Nunung dan Rasyid yang semakin terlihat mengecil dari kaca spion samping.
Beberapa menit yang lalu, saat semua sudah siap untuk berangkat menuju tempat kerjanya masing-masing, tiba-tiba Rasyid terbangun bergulang-guling di box bayi, kemudian menangis karena pup.
Akhirnya Sari memutuskan untuk mengganti popok Rasyid terlebih dahulu.
" Biar bibi saja mba, mba Sari sudah rapi, wangi, nanti kalau kena pup Rasyid malah harus ganti pakaian lagi".
Dan akhirnya Bi Nunung yang mengganti popok Rasyid. Bi Nunung pun ikut keluar sambil membopong Rasyid, saat Sari dan Musa meninggalkan rumah.
15 menit kemudian Sari sudah sampai di rumah sakit, diantar Musa. Saat baru sampai Sari lebih dulu masuk ke ruangan direktur rumah sakit. Mengabari jika cutinya sudah berakhir, dan siap untuk mulai bekerja lagi.
Hari ini Sari harus menangani cukup banyak pasien, meski sudah 3 bulan menjalani cuti, Sari masih tetap melakukan penanganan terhadap pasien dengan luwes dan terampil.
__ADS_1
Membuat para perawat yang membantunya merasa sangat senang, karena pekerjaan lebih cepat selesai.
Sejak masih di jalan Sari memang terus memikirkan kalimat Musa padanya, bahwa dia harus tenang dan bahagia, agar Rasyid di rumah tidak rewel, selain itu jika hati tenang dan bahagia, melakukan pekerjaan apapun pasti jadi lebih ringan dan cepat selesai.
Semua pesan yang Musa sampaikan memang benar sekali. Bahkan tidak terasa jam sudah menunjukkan pukul 2 kurang seperempat, tinggal memeriksa 1 pasien terakhir. Hari ini semua berjalan sesuai dengan rencana.
" Jadi apa yang ibu keluhkan?".
" Sejak kemarin saya merasa pusing sekali Dok, badan lemes dan rasanya mual", ujar si pasien.
Sari memeriksa keadaan si pasien, kemudian melihat hasil pemeriksaan awal, tekanan darah rendah, asam lambung tinggi.
Sari menuliskan resep obat dan diberikan pada si pasien.
" Ini resep obat yang harus di ambil di bagian farmasi", Sari menyerahkan kertas resep pada pasien.
" Terimakasih Dok".
Sari mengangguk, " semoga lekas sembuh ya Bu". Pasien itu pun keluar.
" Alhamdulillah, pemeriksaan hari ini sudah selesai", Sari langsung membereskan barang bawaannya. Termasuk mengambil botol berisi ASI yang tadi di titipkan nya di kulkas dapur rumah sakit.
Jam 11 tadi Sari sudah merasa pay*d*ra nya sudah sangat kencang dan bengkak, karena sudah saatnya Rasyid untuk mimi ASI, namun itu tidak dilakukan, sehingga Sari harus memompa ASI di salah satu kamar yang kosong. menyimpannya di botol untuk stok ASI dirumah.
Saat Sari keluar dari rumah sakit, sudah ada mobil Musa di parkiran depan rumah sakit.
" Wah, mas benar-benar menjemputku, padahal Sari sengaja nggak mengirim pesan, biar nggak ganggu kerjaan Mas". Sari masuk kedalam mobil dan duduk di samping Musa.
" Kebetulan kelas selesai jam 1 tadi, sudah sempat mengikuti breefing untuk acara kampus bulan depan".
" Acara apa Mas?".
" Family gathering, acara liburan bersama dengan dosen dan dekan kampus".
Sari manggut-manggut, " acara gathering nya dimana Mas?".
Musa membelokkan setir mobil, sehingga mobil pun masuk ke halaman rumah.
" Masih ada beberapa opsi, tadi salah satu dosen, ada yang mengusulkan untuk dilaksanakan di Baturaden, biar nggak terlalu jauh".
" Jika semua setuju, kemungkinan besar, akan menginap di hotel kita".
__ADS_1
" Tadi Pak Hamdan, dekan fakultas syariah menanyakan tentang fasilitas hotel kita", terang Musa sambil turun dari mobil, kemudian membukakan pintu mobil untuk Sari, padahal Sari juga sudah hendak membuka sendiri.
" Sampai menginap?".
" Apa mungkin Rasyid akan betah di sana, dia kan masih baby banget".
" Kalau iya mungkin harus ngajak bi Nunung juga, takutnya pas di sana Rasyid rewel". Sari khawatir karena Rasyid belum pernah diajak menginap di manapun semenjak lahir, bahkan waktu pernikahan kak Dimas, Sari tiap hari pulang kerumah, karena suasana hajatan di rumah kakek Atmo sangat ramai dan bising.
Selalu Rasyid sebagai alasan untuk pulang ke rumah tiap malam, karena semua itu demi kenyamanan Rasyid.
Sari dan Musa masuk rumah dan langsung menuju kamar mereka, membersihkan diri dan berganti pakaian. Setelah itu baru Sari mencari keberadaan Rasyid dan bi Nunung.
" Rasyid lagi tidur di kamar bibi, baru saja tidur, mending mba Sari sama ustadz Musa makan siang dulu".
Sari mengangguk, dan makan siang bersama dengan Musa.
\=\=\=
Sebulan berlalu, Sari bisa melewati setiap hari dengan baik, sejak awal di tinggal bekerja oleh Sari, si kecil Rasyid tidak pernah rewel. Sari sangat bersyukur akan hal itu.
Tiba di hari Sabtu, weekend pertama mereka pergi sekeluarga mengikuti acara gathering di Baturaden. Termasuk bi Nunung juga di ajak, bahkan Musa juga memesankan kaos seragam gathering untuk bi Nunung, karena memang bi Nunung sudah seperti keluarga mereka.
Musa mengendarai mobilnya menuju ke kampus terlebih dahulu, berkumpul bersama dengan dosen dan dekan lainnya untuk melakukan breefing sebelum berangkat menuju lokasi gathering.
Sudah ada dua bus pariwisata yang akan membawa rombongan ke Baturaden. Sebenarnya lokasinya tidak jauh dan bisa di jangkau dengan mobil masing-masing, tapi tujuan dari family gathering ini adalah untuk mengenal lebih akrab dengan keluarga sesama dosen dan dekan.
Sehingga mereka sepakat menggunakan bus pariwisata agar mendapatkan kesan lebih akrab, seru dan menarik.
Sari berusaha menyapa dan berkenalan dengan dosen wanita dan juga para istri dari dosen pria. Ternyata kebanyakan sudah jauh lebih dewasa dari usia Sari, hanya ada satu dosen wanita yang masih muda, dosen yang berkerudung merah. Wajahnya tidak begitu canti, standar, tapi saat berbicara semakin lama dengannya, Sari baru bisa menyadari dosen itu semakin lama semakin cantik, karena memiliki iner beauty yang membuat siapa saja yang berbicara dengannya merasa tenang dan nyaman.
Bus pun melaju sengaja pelan, agar tidak terlalu cepat sampai, dan setelah 40 menit, bus pun sampai di Baturaden.
" Jadi keinget sama jaman ke sini dulu, sama anak-anak dan kakek Atmo. Dulu ustadz Musa baru jadi guru ngaji mba Sari. Ternyata do'a bibi waktu itu di kabulkan sama Gusti Allah", ucapan bi Nunung membuat Musa dan Sari langsung menatapnya bersamaan.
" Memang bibi berdo'a apa?", tanya Sari penasaran.
" Bibi berharap ustadz Musa dan Mba Sari bisa bersatu, jadi suami istri, seperti sekarang. Betul kan do'a bibi dikabulkan".
Saat bibi mengatakan hal itu tidak sengaja ada seorang dosen muda dan tampan, yang baru turun dari bis. Dosen itu tadi duduk di depan bi Nunung, ternyata dia sedang mendekati salah satu dosen perempuan yang ikut gathering juga.
" Bi, do'akan saya juga, biar bisa bersatu dengannya", sambil menunjuk gadis berkerudung merah yang tadi duduk di belakang bangku supir.
__ADS_1
" Iya, bibi do'akan, tapi harus selalu di ingat, yang paling penting itu do'a ustad sendiri di sepertiga malam, bibi yakin ustad Musa juga dulu melakukan hal seperti itu, sampai bisa menaklukkan hati mba Sari yang menurut bibi itu penuh dengan perjuangan",
" Betul itu yang dikatakan oleh Bi Nunung, doa di sepertiga malam", Musa menepuk pundak dosen tampan itu sambil berjalan mengikuti rombongan masuk ke lokawisata.