
" Kita samperin ke sana yuk...!, ngapain diam-diam ngikutin begini, kamu aneh banget deh Zal, seorang Rizal gitu loh..., cowok paling populer di sekolahan, malah jadi stalking cewek-cewek, nggak jelas banget, biasanya juga kita yang di ikutin, dunia sudah terbalik", gumam Agung sambil menggelengkan kepalanya, tidak tahu apa maunya Rizal, yang memintanya menemani untuk mengikuti gadis-gadis yang sedang duduk di outlet makanan cepat saji.
Yang Agung tahu, sejak pagi sikap Rizal memang sedikit aneh, tapi yang jelas semua keanehan itu berujung pada Sari, dari yang minta pindah bangku duduk di belakang Sari, terus mengharuskan Sari menjadi sekertaris dan ikut menemani hanya sekedar mencatat jadwal pelajaran ke ruang guru.
Meski Rizal belum memberi penjelasan apa-apa pada Agung, tapi Agung bisa menyimpulkan sendiri jika Rizal ada hati dengan Sari, terbukti saat ini, Agung dengan sangat terpaksa mengikuti keinginan Rizal untuk mengikuti Sari dan teman-temannya jalan-jalan. Sampai Agung yang biasanya ke bioskop nontonnya film action, thriller, atau horor, dan belum pernah sekalipun nonton film ber genre romansa komedi di bioskop, jadi terpaksa nonton film yang menurut para gadis itu lucu sampai tawa mereka pecah saat menonton tadi, membuat gedung bioskop menjadi ramai.
Rizal menghabiskan softdrink dari kaleng yang sedang digenggamnya.
" Iya, kita samperin mereka, tapi kamu bisa kan bersikap seolah-olah pertemuan nanti adalah sebuah kebetulan?", pinta Rizal yang tidak mau ketahuan jika mereka dari tadi membuntuti Sari dan kawan-kawan.
" Sari memang cantik sih, putih, tinggi badan dan posturnya sedang lah.... nggak terlalu tinggi, nggak terlalu pendek, nggak gemuk, tapi juga nggak kurus...... cewek yang asyik buat di ajak ngobrol dan juga pinter, buktinya bisa menang bareng kamu di lomba debat, yah tipe cewek idaman sih kalau menurut pendapatku"
Rizal menatap sahabatnya dengan tajam.
" Ngapain kamu muji-muji Sari?!".
" Loh, emang begitu kan faktanya, yang aku sebut tadi itu cuma penilaian pribadi dariku tentang Sari, kanapa...kamu suka sama Sari?", tanya Agung langsung todong. Soalnya Rizal merasa tidak suka mendengar Agung membicarakan nilai plus dari seorang Sari.
" Iya, memangnya kenapa?, kamu juga suka?, nggak boleh!", tukas Rizal.
" Ye...kamu baru juga suka, belum jadi cowoknya, tapi sudah ngelarang yang lain buat deketin dia ", Agung berdiri dan berjalan menghampiri Sari dan ketiga temannya.
Rizal cuma melotot dan berjalan cepat menyejajarkan langkahnya dengan Agung.
" Hai Sar !", sapa Agung yang tiba-tiba langsung duduk di kursi kosong di belakang Sari. Saling memunggungi.
Rizal memilih duduk di depan Agung biar lebih leluasa menatap ke arah Sari, meski hanya bisa mengamati punggungnya saja, setidaknya jika Sari menengok maka Rizal akan langsung menatap wajahnya.
__ADS_1
" Loh kalian lagi disini juga?", justru Linda dan Nina yang heboh melihat Rizal dan Agung menghampiri mereka.
" Lagi jalan-jalan saja, kebetulan liat kalian, lagi makan, boleh gabung kan?", ucap Rizal, minta persetujuan.
" Boleh banget...!, dengan senang hati. Nggak papa kan teman-teman?", tanya Linda yang selalu paling gacor diantara yang lain.
Eli dan Nina menganggukkan kepalanya tanda setuju. Tapi Sari tida memberi jawaban, mau bilang nggak boleh gabung tentu akan membuat yang lain kecewa, karena wajah mereka begitu sumringah ketika tadi tiba-tiba melihat Rizal datang dan minta gabung.
Rizal dan Agung memesan menu ayam geprek sambel mete, dan makan dengan begitu lahap.
" Habis makan kita mau kemana lagi nich?, mumpung masih siang", Eli yang biasanya malas untuk keluar, kali ini sedang bersemangat untuk jalan-jalan. Mungkin karena ada Rizal dan Agung yang gabung dengan mereka.
" Sepertinya Eli ada hati sama salah satu di antara mereka berdua, tapi siapa, Rizal atau Agung?", batin Sari, yang melihat sikap Eli yang tidak seperti biasanya.
" Aku mau sholat Dzuhur dulu, ke masjid agung Baitussalam, di sana kan lebih luas dan adem juga, dari pada sholat di mushola di sini", gumam Sari.
Terpaksa Sari mengangguk. Melarang juga tidak mungkin, masjid kan tempat umum, siapa saja boleh memasukinya.
Dan mereka ber enam keluar dari pusat perbelanjaan menuju masjid agung Baitussalam untuk menjalankan sholat Dzuhur bersama.
" Zal...kamu yang jadi imam dong, please?", pinta Linda yang pengin sekali Rizal menjadi imam sholatnya.
" Sholat sendiri-sendiri saja ya, aku cuma hafal sedikit suratan pendek, nggak PD juga, hehe", Rizal beralasan. Sebenarnya pengin banget bisa menjadi imam untuk Sari, tapi takutnya salah baca, malah bukannya bikin Sari kagum, justru bisa bikin Sari ilfill. Mending sholat sendiri-sendiri saja.
" Ya sudah kita sholat sendiri-sendiri saja, jangan memaksakan orang lain untuk jadi imam kita", gumam Sari yang kemudian langsung memulai sholat sendirian.
Usai sholat mereka duduk-duduk di beranda Masjid, niatnya mau ke alun-alun, tapi ternyata siang ini cuaca sangat panas.
__ADS_1
" Gimana kalau kita main ke rumah Eli saja?, kan Deket dari sini", usul Nina yang merasa bosen cuma duduk-duduk di beranda Masjid.
" Boleh, kalau kalian mau, nanti aku telepon Pak Koko buat jemput kita disini, biar nggak kelamaan di angkot, soalnya kalau naik angkot lama ngetem nya", ujar Eli, yang langsung mengambil ponselnya menghubungi supir keluarganya.
" Tunggu bentar ya, pak Koko sebentar lagi sampai, sudah lagi otw ke sini", terang Eli.
Benar saja hanya butuh 5 menit mobil keluarga Eli sudah sampai di depan masjid. Sari, Eli, Nina dan Linda langsung masuk ke dalam mobil.
Semua menatap ke arah Rizal, berharap Rizal mau ikut.
" Zal rumah kamu dan rumahku kan searah, mau gabung?", tanya Eli.
" Aku bawa motor, ada di parkiran Rita tadi. Maaf ya nggak bisa gabung", Rizal dan Agung berpamitan dengan Sari dan kawan-kawan.
Ekspresi wajah Eli langsung berubah muram.
" Sepertinya dugaan ku tepat, jika Eli ada hati antara Rizal atau Agung, tapi aku tidak bisa menyimpulkan siapa diantara mereka berdua", pikir Sari.
Setelah berjalan agak jauh, Agung pun bertanya karena penasaran." Kenapa kamu nggak ngikutin mereka, Eli kan teman kamu dari kecil, rumah kalian juga berdekatan kan?".
" Justru karena itu aku malas ikut sama mereka, ayah dan ibunya Eli itu kenal sama aku, nanti kalau ketahuan aku main sama anak cewek, terus mereka melaporkan sama ayah dan ibuku kan jadi menimbulkan banyak pertanyaan. Aku males buat ngejelasinnya", ujar Rizal.
" Kamu nggak ada masalah kan sama Eli?", Agung kembali bertanya.
" Nggak ada, masalah apa?, aku juga nggak terlalu dekat sama dia, meski kenal sejak masih SD, tapi kami berdua hanya sekedar kenal, dan aku tidak berteman baik dengannya".
" Sudah lah, aku malas membahas hal yang nggak penting, sekarang karena kamu sudah tahu aku suka sama Sari, kamu jangan berani-berani dekati dia, oke?", ucap Rizal dengan nada serius.
__ADS_1
" Kamu takut sama aku?, nggak pantes kamu khawatir begitu, aku sama kamu itu beda level, kamu yang di puja, dan aku yang seringkali tak di anggap, jadi nggak mungkin juga Sari akan melirik ke arahku", Agung meringis kecut.