
" Kalau nggak boleh ngasih nomer sama mereka tinggal bilang saja Pak, nggak usah pake ngelimpahin dosa bapak sama saya !", teriak Sari sambil berlari mengikuti Musa naik ke atas boncengan motor.
" Siapa bilang nggak boleh, kan saya tadi bilang terserah kamu, jadi keputusan ada sama kamu. Terus kenapa kamu masih manggil saya 'bapak' ? , kan tadi kamu sendiri yang bilang mau manggil 'Tadz', belum ada lima menit, sudah lupa sama omongan kamu sendiri". Musa menjalankan motornya, tapi bukannya menuju arah penginapan, justru Musa membelah jalan menuju tempat yang lebih tinggi, di daerah Baturaden memang termasuk daerah kaki gunung, jadi jalan di sana posisinya miring, jalan tanjakan dan turunan.
" Aku mau mampir ke suatu tempat dulu, kamu ikut sebentar ya, nggak lama, cuma survei lokasi", ucap Musa sambil melajukan motor dengan kecepatan tinggi.
Sari tetap diam, tidak menjawab, toh menjawab juga percuma, Musa sudah membuat keputusan dan membawanya cukup jauh dari penginapan. Mau minta turun dan pulang sendiri jelas bukan pilihan yang tepat, karena di daerah ini tidak di lalui kendaraan umum, yang ada semua adalah kendaraan pribadi. Mau nyari kendaraan online, Sari lupa tidak membawa ponsel. Alhasil harus menuruti kemauan Musa.
Di sepanjang jalan Sari bisa melihat banyak hotel, motel, penginapan, homestay dan sejenisnya. Di daerah ini memang dekat dengan tempat wisata.
Karena tak kunjung sampai, akhirnya Sari penasaran dan bertanya kepada Musa, " sebenarnya Bapak... maksud saya Ustadz, mau kemana?, apa Ustadz tahu daerah sini ?, jangan pergi terlalu jauh kalau nanti kita nyasar gimana?", Musa langsung terkekeh mendengar ucapan Sari.
" Kalau kita nyasar terus hilang , pasti kakek kamu bakalan lapor ke polisi dan kita akan segera di temukan", Musa sengaja berkata demikian, membuat Sari semakin khawatir.
" Ustadz nggak lucu ah... bercandanya..., kalau tau mau pergi jauh, tadi Sari pulang jalan kaki saja", gerutu Sari sambil berusaha menikmati pemandangan hijaunya pepohonan yang di lewati. Meski tidak berhasil karena kalah dengan kehawatirannya.
" Sudah sampai", Musa mematikan motornya.
" Ayo turun sudah sampai, kamu mau nangkring di motor terus?", Musa turun dan berjalan menuju lahan penuh semak belukar yang terlihat menyeramkan.
Dan tentunya akan banyak binatang yang bersembunyi di semak-semak seperti itu. Bisa saja ular, tikus, kodok atau hewan beracun seperti lipan atau kalajengking. Sari bergidik sendiri membayangkan hal mengerikan yang bisa saja terjadi padanya.
" Kenapa Musa mengajakku ke tempat menakutkan seperti ini?, waduh dia nggak mau melakukan tindakan asusila kan?", pikir Sari sambil menepuk jidatnya sendiri.
" Sari bagaiman bisa kamu berpikir sebodoh itu, dia kan ustadz Musa, guru ngaji kamu, kalau mau melakukan hal kotor seperti yang kamu pikirkan, nggak perlu repot-repot bawa anak SMA ke semak-semak seperti ini, yang mau di ajak ke hotel juga sudah pasti banyak dan dengan senang hati", Sari terus berdebat dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
" Sar..!, kenapa malah bengong disitu, jangan melamun disini, bahaya, soalnya masih daerah pingit karena masih banyak lahan kosong", ujar Musa menakut-nakuti.
Sari yang memang sudah takut sejak awal langsung berlari mengejar Musa yang sudah berada cukup jauh menuju ke dalam area lahan.
" Ustadz jalannya jangan terlalu cepat dong, Sari pakai sendal jepit jadi kena rumput-rumput liar, ini kaki ke gores-gores", gumam Sari yang saat ini kakinya terdapat beberapa sayatan tipis dari daun ilalang yang menggores kulit putihnya.
Musa berhenti sebentar sambil menunggu Sari mendekat, " Kamu jalan di bekas jejak kakiku, jadi nggak kena rumput liar", terang Musa memberi arahan.
Sari mengikuti arahan Musa, dengan melangkah di bekas pijakan kaki Musa, membuatnya tidak lagi tergores rumput liar dan ilalang.
Mereka berdua sampai di sebuah rumah kayu kecil yang sangat sederhana. Di sana sudah ada Ardi bersama dua orang laki-laki sedang mengobrol.
" Assalamualaikum", ucap Musa saat dirinya sudah berada di dekat rumah itu.
" Wa'alaikum salam, sudah sampai Mus, ayo ku kenalkan sama bapak Ghofur dan Pak Yoga", ucap Ardi yang terlihat heran, menatap ke arah Sari sambil mengerutkan dahi.
" Musa "
" Ghofur"
" Musa "
" Yoga "
" Ini Sari, tetangga paman Irsyad", ucap Musa memperkenalkan Sari. Sari hanya mengangguk dan tersenyum ramah.
__ADS_1
" Owh, cucunya Pak Atmo ya, saya juga pernah beberapa kali bernegosiasi dengan beliau", ujar Pak Ghofur.
Ternyata Pak Ghofur adalah seorang makelar tanah, yang dikenalkan pak Irsyad pada Musa, dan Pak Yoga adalah pemilik dari lahan yang penuh dengan semak itu.
Cuman karena jadwal Musa beberapa minggu yang lalu terus padat karena sedang fokus mengurusi ujian akhir, Musa meminta Ardi untuk menemui pak Ghofur terlebih dahulu. Dan saat ini mereka berempat sedang cek lokasi lahan yang niatnya mau di bangun sebuah hotel.
Rencana ini juga sudah Musa bicarakan dengan Abi nya melalui telepon, juga pernah Musa runding kan dengan kakek Atmo beberapa hari yang lalu. Ternyata semua setuju dengan rencana Musa untuk membangun hotel di lokasi ini, karena cukup strategis dan juga lahannya berada di tempat yang aman longsor.
" Bagaimana apa lokasi lahan dan harganya sesuai dengan gambaran?", tanya Pak Ghofur.
" Sepertinya untuk jaringan listrik dan air tidak ada kendala. Kalau saya pribadi suka dengan lokasinya, menurutmu bagaimana Ar?", tanya Musa pada Ardi yang ternyata masih mengamati Sari dengan intens.
" Aku nurut bos-nya saja, kalau bos sudah oke, berarti tinggal tanda tangan", gumam Ardi sambil mengalihkan pandangannya dari Sari.
" Baiklah kalau begitu, untuk serah terima sertifikat kepemilikan tanah dan surat jual beli akan saya bawa ke rumah hari kamis besok", Pak Ghofur menyalami Musa dan Ardi, begitu juga dengan Pak Yoga. Mereka semua kembali berjalan menuju jalan raya, dan keluar dari area lahan.
Sari kembali hanya menunduk dan tersenyum.
Saat berjalan menuju jalan raya Ardi sengaja mendekat dan berbisik pada Musa. " Siapa cewek cantik yang bersamamu?, boleh kenalan nggak?", tanya Ardi sambil nyengir.
" Nggak boleh, dia itu murid ku, masih terlalu muda dan terlalu bahaya jika di kenalkan sama kamu, playboy cap kampret", ucap Musa sambil mempercepat langkahnya mengejar Sari.
" Jangan bilang dia murid dengan suara lembut yang kontaknya ada di ponsel kamu, cih.... ternyata selera kamu itu daun muda. Tapi kalau lihat posturnya memang menarik sih, anak SMA dengan body seperti anak kuliahan, kelihatan mateng dan 'layak konsumsi', hahahaha", ucapan Ardi langsung mendapat tatapan membunuh dari Musa.
" Awas kalau kamu berani macem-macem !", Musa bergaya memotong leher dengan tangan kanannya. Memberi kode akan menghabisi Ardi jika berani macam-macam pada Sari.
__ADS_1
" Tenang Mus, nggak bakalan macam-macam aku tuh, paling juga cuma semacem saja, hehehe".
Musa sudah semakin jauh dari Ardi dan tidak mau meladeni ledekan Ardi yang semakin menjadi.