Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Permintaan Maaf


__ADS_3

Sabtu siang, saat istirahat ke dua, Sari dan Rizal di panggil oleh bu Berta untuk ke kantor.


" Nanti sepulang sekolah langsung ke sini ya, nanti ada yang akan mengantar kalian ke stasiun radio tempat kalian akan wawancara".


" Setelah usai wawancara bisa langsung pulang kerumah masing-masing, nggak usah kembali ke sini, karena jam pelajaran juga sudah usai", terang Bu Berta.


" Baik Bu", jawab Sari dan Rizal serempak. Kemudian mereka berdua keluar dari ruang guru bersama-sama.


" Mau makan siang bareng nggak?, aku traktir deh ke kantin", ajak Rizal.


Sari menengok ke kanan dan ke kiri,


" Kamu sadar nggak Zal, setiap aku jalan sama kamu, banyak tatapan tidak bersahabat, seperti senapan sedang membidik ke arahku, kalau aku ikut sama kamu makan siang berdua di kantin, wah bisa-bisa aku kena tembakan beruntun dari mata para cewek-cewek yang ngefans sama kamu. Aku ogah bikin heboh, soalnya aku itu pecinta damai, peace", ucap Sari seraya mengangkat dua jarinya melambangkan simbol huruf ' V '.


Rizal hanya meringis.


" Aku kira kamu nggak peduli dengan tatapan mereka, lagian mereka bukan siapa-siapa ku, kamu nggak perlu urusin mereka", ujar Rizal.


Bahkan Rizal mengikuti gaya bicara Sari barusan.


" Kamu sadar nggak Sar, kalau kamu itu memang unik, yang lain bela-belain buat deketin aku , ajak aku makan di kantin, ajak aku jalan atau nonton, sedangkan kamu ogah-ogahan begitu, padahal aku nyaman nya sama kamu, kamu di ajak ngobrol nyambung dan nggak bikin bosen ngobrol lama-lama ", imbuh Rizal, sambil terkekeh geli.


Sari mendengar kalimat Rizal sambil memanyunkan bibirnya.


" Ya sudah ayo makan, lagian aku juga laper banget, whatever dengan tatapan mereka semua. Nanti kan pulang sekolah langsung ke stasiun radio, takutnya nggak keburu makan siang". Sari berjalan menuju arah kantin, dan Rizal mengikuti langkahnya, sambil geleng-geleng kepala dan tersenyum simpul.


\=\=


Jam 2 siang Sari dan Rizal sudah sampai di salah satu stasiun radio yang akan melakukan wawancara pada mereka berdua, namun sepanjang jalan Sari nampak menekuk wajahnya, karena ternyata yang dimaksud Bu Berta seseorang yang akan mengantar mereka adalah Pak Musa.


Rizal duduk di kursi depan di sebelah Musa yang tengah menyetir mobil, beberapa kali berusaha memecahkan keheningan di dalam mobil. Namun sayangnya semua pertanyaan yang Rizal lontarkan pada Sari dijawab oleh Sari dengan begitu singkat dan seperlunya saja.


Baru setelah turun dari mobil dan menuju ruang siaran, Sari dan Rizal terus mengobrol dan terlihat begitu akrab, membuat Musa yang mengikuti mereka berdua dari belakang merasa dongkol sendiri.


Bahkan saat wawancara berlangsung ada satu pertanyaan pembawa acara yang membuat Musa merasa tidak nyaman.


" Jadi ternyata Sari adalah murid pindahan baru di SMA negeri, dan langsung di tunjuk untuk mewakili sekolahan menjadi partner Rizal yang sudah berkali-kali mengikuti lomba debat. Bagaimana kesan Rizal pertama kali mengetahui jika rekannya adalah Sari?", tanya Mega, si pembawa acara.


" Kesan pertama jujur nggak yakin kalau Sari itu mampu, dan sedikit protes pada guru pembimbing minta ganti partner debat, cuman setelah berlatih sampai beberapa kali pertemuan, dirasa kok ternyata sreg ya, cocok untuk dijadikan rekan, ternyata Sari itu bisa, dan begitu bersemangat, saat itu aku berubah pikiran, yang tadinya nggak yakin, malah jadi yakin 100% bakalan bisa dapat juara", terang Rizal.


Pembawa acara sengaja berdehem.


" Ehem...ehem..., wah laga-laga nya ada yang sudah mulai ngerasa nyaman nih dijadiin partner, pernah kepikiran sampai mau di jadikan partner hidup beneran nggak Zal?", Mega kembali bertanya dan kali ini sedikit menjurus ke hal yang lebih pribadi.


Rizal tersenyum penuh arti,


" Nggak tahu tuh Sari nya gimana, mau di jadikan partner apa nggak, hahaha, just kidding ya, cuma becanda", seloroh Rizal, padahal Mega bisa melihat bagaiman sikap, dan tatapan Rizal pada Sari sejak awal mereka masuk ke dalam ruang penyiaran. Benar-benar seorang pecinta sejati.


Sari hanya nyengir kuda mendengar candaan Rizal yang ga bermutu.


" Sari sendiri apa ini pengalaman pertama ikut lomba debat?", kali ini Mega pindah menatap Sari.


" Sudah sering di sekolahan yang dulu, kalau setelah pindah di SMA negeri memang baru pertama", jawab Sari jujur.


" Wah pantas saja sama guru pembimbing langsung di jadikan perwakilan sekolahan, ternyata memang sudah berpengalaman di bidang debat ya", ujar Mega.

__ADS_1


" Sampai di dunia nyata juga Sari paling jago kalau berdebat, ada saja alasannya agar dia yang menjadi benar", terang Rizal yang mendapat manyunan dari bibir Sari


Wawancara berjalan lancar, berkesan santai dan asyik karena ternyata pertanyaan- pertanyaan yang diajukan oleh pembawa acara memang pertanyaan yang santai dan ringan.


Rizal dan Sari keluar dari ruang radio dan mendapati Musa yang tengah mengobrol dengan seseorang sampai orang itu tertawa-tawa.


Saat Musa mengetahui wawancara Rizal dan Sari sudah selesai, Musa pamit pada orang itu untuk mengantar murid-murid nya pulang.


Di dalam mobil sikap Sari kembali diam dan terus menyibukkan diri dengan ponselnya, sampai Rizal merasa aneh dengan temannya itu. Baru saja mereka berdua mencair, sekarang kembali membeku.


Karena suasana di dalam mobil begitu sepi, akhirnya Rizal menyalakan radio dari audio mobil Musa di chanel radio dimana mereka wawancara tadi, acara di radio kini sudah berganti dengan acara musik, dan tengah memutar sebuah lagu yang liriknya langsung mengena di hati Musa dan Sari.



*Tak mengerti apa yang telah terjadi*


*Kau tak lagi sama, engkau bukan engkau*


*Yang selalu mencari dan menelponku*


*Dering darimu tak ada lagi*



*Walau kau menghapus menghempas diriku*


*Mengganti cintaku*


*Semua tak mampu hilangkan cinta*


*Yang telah kau beri*



*Di sepanjang waktuku*


*Biarkan aku mencintaimu dengan caraku*



*Tak mengerti, mengapa engkau membisu*


*Kau tak lagi sama, engkau bukan engkau*


*Sampai aku... ragu untuk menelponmu*


*Mengerti kah kamu aku rindu kamu*



*Walau kau menghapus menghempas diriku*


*Mengganti cintaku*


*Semua tak mampu hilangkan cinta*

__ADS_1


*Yang telah kau beri*



*Walau kau berubah aku kan bertahan*


*Disepanjang waktuku*


*Biarkan aku mencintaimu dengan caraku*



*Aku tak suka bila hoo*


*Kau selalu dekat dengannya hooo*



*Jangan engkau cemburu*


*Dia hanya… sahabat di kelasku*....



Lagu Brisia Jodie feat Arsy Widianto mengalun di dalam mobil Musa sampai di depan rumah Rizal.


Rizal pun turun dari mobil Musa.


" Makasih Pak guru, Sar... mau mampir dulu ke rumah?", tanya Rizal.


" Enggak makasih, sudah sore, takut kakek khawatir", jawab Sari sambil tersenyum sopan.


" Ya sudah kalau gitu, sampai jumpa besok, antar Sari dengan hati-hati ya Pak guru, terimakasih!", Seru Rizal sambil dada-dada ke arah Sari, saat mobil mulai melaju.


Sari juga menatap rumah orang tua Rizal yang ternyata satu komplek dengan rumah Eli, teman sebangkunya, sama-sama rumah yang besar. " Mungkin ini komplek perumahan elit", pikir Sari.


" Kenapa kamu terus diam dan dingin padaku Sar ?, aku merasa kamu tidak seperti Sari yang dulu, kamu berubah", pertanyaan Musa mengejutkan Sari yang tengah memikirkan Eli dan Rizal yang ternyata se komplek.


" Benarkah?, bukankah sekarang aku lebih baik dari yang dulu", ujar Sari dengan nada ketus.


" Apa ada ucapanku yang menyakiti hatimu?, kalau iya aku minta maaf, sungguh-sungguh minta maaf", ucap Musa sambil sesekali menatap ke arah Sari melalui kaca spion.


Sudah lebih dari dua minggu Sari tidak lagi menelepon atau sekedar mengirim pesan pada Musa, bahkan saat pelajaran agama kemarin, Sari tidak sekalipun menatap ke arah nya, ternyata Musa merasa ada sesuatu yang hilang saat Sari berprilaku demikian.


Sari menghembuskan nafas kasar.


" Pikir saja sendiri, makanya kalau ngomong itu dipikir dulu, seumur-umur baru bapak yang pernah mengatakan kalau Sari itu adalah 'cewek gampangan', bapak itu sudah melukai perasaan Sari", akhirnya kalimat yang selama ini ingin Sari katakan bisa keluar juga dari bibir manisnya.


Musa berpikir lebih keras, kapan dia mengatakan hal seperti itu, dan akhirnya teringat hari dimana mereka pergi ke tempat wisata air terjun di Cipendok.


Musa langsung menepikan mobil yang tengah di kendarai nya. Musa membalikan badannya menatap Sari yang duduk di bangku belakang.


" Maafkan aku, aku tidak bermaksud menyakiti ataupun merendahkan dirimu, karena tengah emosi aku jadi salah ngomongnya, sungguh".


Musa berkata dengan nada yang sangat lembut, membuat Sari kembali merasakan desiran aneh pada dirinya.

__ADS_1


" Stop Sari, semudah itukah kamu memaafkan seseorang yang sudah mengatakan bahwa kamu adalah cewek gampangan?", batin Sari.


__ADS_2