Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Aqiqah


__ADS_3

Rentetan acara aqiqah malam itu berjalan dengan lancar. Di mulai dari pembacaan Yasin & tahlil, setelah itu acara maulid simtuduror yang diselingi acara pemotongan rambut si kecil Rasyid oleh semua pembaca maulid secara bergilir, saat srakalan.


Dan acara di lanjutkan dengan acara pengajian untuk umum, dengan pembicara salah satu alumnus mahasiswa dari IAIN, yaitu ustad Hari, yang akhir-akhir ini sedang populer karena mengikuti ajang pencarian ustadz di salah satu stasiun televisi nasional.


Dalam isi tausiyah nya ustadz Hari memuji Musa yang tidak lain adalah si tuan rumah, Musa dulu pernah menjadi dosennya saat dirinya kuliah.


" Ustadz Musa ini, seorang laki-laki yang baru beberapa hari ini resmi jadi seorang bapak, bahasa kerennya ' papah muda', betul bapak-bapak ibu-ibu?"


" Meski masih sangat muda, tapi beliau adalah dosen, sekaligus ustadz idolaku, beliau sudah menjadi dosen bahkan saat masih muda, masih bujang (lajang) dulu, belum menikah dengan dokter Sari.


" Kiprah beliau sangat menginspirasi saya pribadi untuk bisa menjadi seorang yang bisa bermanfaat, bisa mengajak, dan saling mengingatkan untuk selalu berbuat kebaikan pada sesama".


" Dan pada hari ini beliau menjalankan sunah yaitu meng-aqiqah putranya".


" Apa itu aqiqah bapak ibu?, saya yakin pasti banyak yang sudah tau, tapi disini saya mengingatkan kembali apa itu aqiqah "


" Aqiqah adalah pengurbanan hewan dalam syariat Islam, sebagai bentuk rasa syukur umat Islam terhadap Allah SWT, mengenai bayi yang dilahirkan".


" Sejarah aqiqah/ tradisi menyembelih kambing untuk anak sebenarnya sudah ada sejak zaman jahiliyah. ... Dahulu, kambing atau domba yang disembelih masyarakat Arab jahiliyah ketika akikah hanya untuk bayi laki-laki. Tetapi setelah Islam datang maka dianjurkan pula untuk bayi perempuan yang lahir".


" Hukum aqiqah sendiri menurut pendapat yang paling kuat adalah sunah muakadah, dan ini adalah pendapat jumhur ulama menurut hadis".


" Merujuk pada hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Tirmidzi, Abu Dawud, dan Ibnu Majah. Yang artinya: “Setiap anak tergadaikan dengan aqiqahnya yang disembelih pada hari ke tujuh, dicukur (rambutnya), dan diberi nama.” (HR. Tirmidzi no. 2735, Abu Dawud no. 2527, Ibnu Majah no. 3165".


"Namun pada kenyataannya, jika pada hari ketujuh belum mampu untuk meng-aqiqahkan kelahiran anak kita, maka bisa dilakukan di hari yang lain"


Ustadz Hari terus mengisi tausiyah hampir selama 2 jam. Acara di tutup dengan pembacaan do'a yang dipimpin langsung oleh ustadz Hari.


Jam 12 , usai acara semua tamu undangan pun pulang dengan membawa box berisi paketan masakan aqiqah.


\=\=

__ADS_1


" Aku antar ya?", Dimas langsung mengajak Linda masuk ke dalam rumah untuk berpamitan pada keluarganya.


" Nggak usah kak, ibu dan ayahku juga masih di sini, aku pulang dengan mereka saja", Linda menolak dengan sopan.


" Tapi kita belum punya waktu berduaan sejak tadi", ucap Dimas dengan ekspresi memelas.


" Iya kan memang disini lagi ramai, kan ada acara, besok... hari minggu kita bisa jalan berdua, tapi sekarang Linda pulangnya sama ibu dan ayah ya Kak".


Dimas pun melepaskan Linda dan membiarkannya pulang bersama kedua orangtuanya.


Esok harinya, jam 8 pagi Dimas sudah berada di rumah Linda untuk menagih janji Linda untuk jalan berdua dengannya.


Linda sampai tidak habis pikir dengan Dimas, padahal karena acara aqiqah kemarin Linda masih merasa sangat capek dan butuh istirahat, tapi Dimas justru mengajaknya jalan dan datang pagi-pagi sekali.


Mungkin salahnya juga semalam menyarankan untuk jalan berduanya besok, yaitu bertepatan dengan hari ini. Terpaksa Linda mengikuti kemauan Dimas untuk jalan.


Masih untung Linda boleh menentukan kemana mereka menghabiskan waktu hari ini. Dan Linda memilih untuk ke rumah spa and massage. Pilihan yang cerdas untuk memanjakan tubuh yang lelah.


Sari POV


Satu bulan yang lalu, acara aqiqah dan pengumuman nama putra kami Rasyid alhamdulillah berjalan dengan lancar.


Rasanya begitu bersyukur dan bahagia saat semua saudara, teman, dan sahabat datang berbondong ke rumah untuk mendoakan Rasyid.


Suamiku, mas Musa... menjadi orang yang paling di puji malam itu, membuatku merasa sangat beruntung menjadi istrinya. Aku berharap bisa menjadi pendamping hidupnya baik di dunia maupun di akhirat kelak.


Tidak ada satupun yang tidak menghormatinya, dari yang masih muda hingga mereka yang sudah kakek-kakek dan nenek-nenek. Termasuk penceramah yang mengisi tausiyah malam itu, seorang ustadz muda yang menyampaikan bahwa betapa dia ingin mencontoh perilaku mas Musa, aku semakin dan semakin jatuh cinta kepadanya.


Entah ada yang tahu atau tidak bahwa dari dulu hingga sekarang, tidak ada laki-laki lain yang pernah singgah di hati ini, karena hanya Mas Musa yang pertama dan untuk selamanya.


Bahkan ada yang mengatakan cinta pertama anak perempuan itu pasti ayahnya, tapi itu tidak berlaku padaku. Papa terlalu sibuk dan lebih mementingkan karirnya, membuatku jarang ber interaksi dengan beliau. Dan tentu saja bukan Papa cinta pertamaku.

__ADS_1


Dan malam ini, melihat Mas Musa bermain-main dengan putra kami Rasyid, mengenakan kaos putih dan celana santai, sungguh terlihat begitu mempesona.


Aku sudah selesai nifas dan sudah bersuci semenjak sebulan yang lalu, tepatnya keesokan hari setelah acara aqiqah Rasyid.


Namun karena masih takut untuk berhubungan badan dengan Mas Musa, karena jahitan di jalan lahir yang cukup banyak. Aku meminta pada Mas Musa untuk lebih bersabar menunggu luka jahitan benar-benar sembuh.


Mas Musa tidak pernah sekalipun bertanya atau meminta haknya padaku, dengan sangat sabar dia menungguku merasa siap untuk melakukannya lagi.


Tiga hari yang lalu, aku pergi ke rumah sakit untuk berkonsultasi tentang pemasangan KB pada dokter Agus, saat itu juga aku memutuskan masang KB implan, begitu mudah dan cepat, hanya perlu waktu sekitar 5 menit untuk melakukan pemasangan implan di lengan tangan kiri ku.


Rasyid juga sekalian aku ajak ke rumah sakit untuk melakukan imunisasi DPT/HB/Hib-1 dan Polio-1. Mas Musa sengaja ijin tidak masuk kelas hari itu, aku ke rumah sakit bersama Mas Musa dan Umi.


Malam harinya si kecil Rasyid mengalami demam, badannya terasa panas. Namun memang itu efek samping dari imunisasi.yang dilakukan tadi siang. Dokter sudah membawakan paracetamol agar demam Rasyid cepat turun.


Aku yang masih merasa sedikit pegal dan sulit menggendong Rasyid, usai memasang implan di lengan tangan, membuat Mas Musa yang terus menggendongnya sepanjang malam. Benar-benar suami dan ayah yang siaga.


Dan malam ini semua sudah membaik, Rasyid sudah sembuh dari demam, dan mulai aktif lagi, dia sangat bahagia jika diajak ngobrol oleh ayahnya, pasti langsung tertawa-tawa dan ikut mengeluarkan suara gumaman.


Aku membayangkan, pasti rasanya akan sangat berat meninggalkan Rasyid untuk kembali bekerja di rumah sakit. Tapi aku juga tidak bisa egois dan harus mengingat sumpah jabatan yang pernah aku ucapkan dulu. Dan masa cuti ku hanya tinggal 3 minggu, itu berarti harus segera mempersiapkan semuanya sejak sekarang.


Besok rencananya aku dan Mas Musa akan menemui seseorang yang bisa membantuku mengurus Rasyid. Dia adalah orang yang sudah aku anggap seperti keluarga, siapa lagi kalau bukan bi Nunung.


Kakek Atmo yang meminta secara langsung pada bi Nunung, dan untuk urusan rumah kakek akan ada yang menggantikan, yaitu menantunya bi Nunung, istri mas Soleh yang akan menggantikan pekerjaan bi Nunung di sana.


Aku berharap semuanya akan berjalan dengan baik dan lancar.


Ku lihat, mas Musa sudah berhasil membuat si kecil Rasyid tidur dengan pulas.


Dan malam ini... aku ingin melakukan kewajiban ku sebagai seorang istri, yang sudah membuat suaminya menunggu, dan menahan hasratnya untuk waktu yang cukup lama.


Mari kita lakukan perang perbatasan, karena sudah terlalu lama melakukan gencatan senjata.

__ADS_1


Mas Musa i am coming..!!!


__ADS_2