
Sepanjang lorong rumah sakit, Musa terus senyum-senyum sendiri, nampak senyum penuh kebahagiaan.
" Mas kenapa?, apa mas sangat bahagia karena calon anak kita itu laki-laki?", tanya Sari saat mereka berdua sampai di ruangan Sari.
" Mas bahagia karena kamu dan calon anak kita semuanya sehat".
" Bukan karena calon anak kita laki-laki, karena Mas tidak mempermasalahkan jenis kelamin calon anak kita".
" Laki-laki alhamdulillah..., perempuan juga alhamdulillah", ujar Musa masih tersenyum sumringah.
Sari duduk di kursinya, " ya sudah kalau begitu... sekarang Mas mau langsung kembali ke kampus apa mau makan siang bareng Sari dulu di sini?".
" Sebentar lagi Sari masuk ke klinik lagi, masih banyak pasien yang harus di periksa".
Musa mengecek ponselnya, " Mas mau makan bareng kamu di sini, tapi habis makan Mas langsung kembali ke kampus ya, ada kelas lagi".
Sari mengangguk dan menelepon kafetaria memesan dua porsi makan siang untuk di kirim ke ruangannya.
Hanya menunggu waktu 10 menit, dua porsi soto sokaraja sudah sampai di ruangan Sari. Musa dan Sari pun makan siang bersama.
Setelah selesai makan, Musa langsung pamit untuk kembali ke kampus, sedangkan Sari melanjutkan pemeriksaan pada pasien.
Sore hari saat Sari selesai bekerja, dia langsung memesan taksi online dan menuju kafe terdekat, tadi siang sempat membaca pesan singkat dari Eli yang mengajaknya untuk ketemuan di salah satu kafe dekat rumah sakit.
Eli sudah tidak bekerja di rumah sakit yang sama dengan tempat Sari bekerja, karena hanya Sari yang diterima bekerja menjadi dokter umum di rumah sakit tempat mereka koas.
Rizal dan Eli kini menjadi dokter di rumah sakit lain, dan mereka sama-sama melanjutkan studinya untuk menjadi dokter spesialis. Sedangkan Sari memilih untuk berhenti kuliah, karena harus banyak istirahat semenjak hamil.
" Terimakasih Pak", Sari turun dari taksi online dan masuk ke dalam sebuah kafe dengan nuansa yang klasik.
" Selamat datang ", kedatangan Sari di sambut oleh salah satu pekerja kafe. Sari menganggukkan kepalanya membalas sapaan gadis muda pekerja kafe itu.
Kemudian mengedarkan pandangannya mencari keberadaan Eli, tak butuh waktu lama, Sari bisa menemukan keberadaan Eli, karena Eli duduk di kursi yang terlihat jelas dari posisi Sari saat ini. Sari langsung berjalan menghampiri Eli.
Eli langsung berdiri dan menyambut kedatangan Sari dengan berdiri dan memeluk Sari beberapa menit.
" Kangen banget, sudah beberapa minggu nggak ketemu?", ujar Eli.
" Iya, kamu kemarin aku ajakin gabung waktu makan malam nggak mau, jadi nggak bisa ketemu deh..." Sari sengaja mengingatkan malam minggu kemarin, berharap Eli akan menceritakan hubungannya dengan Rizal.
Sari tidak mau mendahului dengan memberi tahu Eli bahwa dia melihat siapa yang bersama Eli kemarin.
" Iya, soalnya yang pergi bersamaku nggak mau ganggu acara makan malam kamu sama suami mu", jawaban Eli masih menutup-nutupi.
" Owh begitu... padahal aku juga pengin kenalan sama yang pergi malam mingguan sama kamu kemarin, Mas Musa juga nggak keberatan sebenarnya kalau kalian gabung sama kita kemarin".
__ADS_1
Eli hanya meringis mendengar ucapan Sari.
" Oh iya... aku sudah pesankan kamu jus alpukat, sama pisang krispi, apa mau makanan berat?", tanya Eli mengalihkan pembicaraan.
" Nggak usah, tadi siang aku sudah makan soto, waktu mau kesini juga sudah makan beberapa kueh dikasih sama dokter Kurni, katanya dapat kiriman dari salah satu pasiennya yang punya toko kue", terang Sari.
" Oh iya...mau ngobrol apa ngajakin ketemuan?", kali ini Sari langsung membahas inti pertemuan, karena takut pulang ke rumah telat dan keduluan sama Musa.
Eli meletakkan gelas kopi yang isinya telah diseruputnya.
" Kemarin Linda ke rumahku, dia cerita kalau beberapa waktu yang lalu dia sama kakak kamu menjalin hubungan".
Kata-kata Eli langsung membuat Sari yang sedang mengunyah pisang langsung berhenti dan memperhatikan kalimat Eli selanjutnya. Karena secara tidak sengaja Sari juga pernah melihat Dimas dan Linda sedang jalan berdua.
Tapi Sari lupa untuk menanyakannya pada Dimas kemarin, karena Dimas menginap di rumah sakit dan pulang sudah siang, Sari tidak sempat ngobrol berdua dengan kakaknya.
" Tapi kakak kamu akhir-akhir ini sangat sulit untuk di hubungi, Linda mau menemui mu, tapi nggak enak sama Pak Musa"
Sari menganggukkan kepalanya.
" Apa hubungan mereka berdua itu sudah serius dan berkomitmen?, atau hanya sekedar dekat saja?", Sari ingin memperjelas keadaan.
" Linda mengatakan padaku, dia dan kak Dimas sudah beberapa kali pergi bersama, bahkan...", Eli terlihat seperti berpikir untuk melanjutkan kalimatnya.
" Bahkan...?", sambung Sari.
Sari hanya bisa mengelus dada dan beristighfar, " astaghfirullah hal'adzim..."
" Bagaimana bisa Kak Dimas menjalin hubungan dengan temanku, dan mengacuhkannya begitu saja setelah menghabiskan malam bersama di hotel", batin Sari menahan emosi dalam dirinya.
" Aku akan bicara sama Kak Dimas, kalau perlu aku akan menasehatinya agar bisa bersikap lebih dewasa. Tapi aku nggak janji bisa malam ini, mungkin weekend saat aku menginap di rumah Kakek, nggak papa kan?", ujar Sari, meminta waktu.
Eli mengangguk, " nanti aku sampaikan sama Linda, makasih ya Sar".
Sari hanya bisa mengangguk lemas.
***
Malam hari saat Sari sedang bersantai sendirian di rumah, Sari sengaja mengirim pesan pada umi bahwa tadi sudah melakukan USG.
Sesuai anjuran Musa tadi usai Maghrib berjamaah. Untuk mengabari orang tua mereka.
Saat membaca pesan dari Sari, Umi langsung melakukan video call.
" Assalamualaikum sayang..."
__ADS_1
" Wa'alaikum salam warahmatullahi wabarokatu Umi".
" Bagaimana hasilnya?, apa kamu sama calon cucu umi sehat semuanya?".
Sari mengangguk dengan cepat,
" alhamdulillah sehat semua Umi".
" Musa dimana?".
" Mas Musa ada undangan pengajian acara aqiqah di rumah tetangga, belum pulang", jawab Sari.
" Tadi kamu periksa kandungan nggak sendirian kan?, Musa nemenin kamu kan?".
Sari mengangguk lagi.
" Sari periksa kandungan sama Mas Musa, cuma tadi habis periksa kandungan, Sari harus lanjut memeriksa pasien Sari, jadi Sari suruh Mas Musa kembali ke kampus", terang Sari.
" Syukurlah kalau begitu, umi khawatir kalau Musa masih tetap jadi laki-laki yang tidak peka, kadang dia itu harus di kasih tahu dulu baru mengerti", ujar Umi.
" Siapa bilang... Mas Musa laki-laki yang tidak peka, dia kan suami idaman semua perempuan, dia yang paling pengertian dan penuh kasih sayang", batin Sari.
Umi menyambung video call bersama dengan mama Esti.
Tanpa sepengetahuan Sari ternyata beberapa waktu lalu Umi dan Mama sempat saling menebak apa jenis kelamin calon cucu mereka, dan ternyata tebakan Mama yang benar.
Menurut mama makanan saat acara empat bulanan itu terasa gurih dan lezat, jadi kemungkinan bayi dalam perut Sari adalah laki-laki.
Namun Umi tidak setuju, karena Sari semakin terlihat cantik saat hamil, jadi kemungkinan bayi dalam perut Sari adalah perempuan.
Dan setelah Sari USG, kemudian dokter mengatakan bahwa bayi dalam perutnya adalah laki-laki, mama merasa senang karena tebakannya yang tepat. Tapi Umi juga bahagia, karena cucu pertama mereka adalah laki-laki.
" Waaah..., Mas kira ada tamu siapa, terdengar sangat ramai dari depan, sampai Mas salam nggak di jawab", Musa langsung memeluk Sari dari belakang sofa. Setelah meletakkan kantong plastik besar yang dibawanya di samping Sari.
" Wa'alaikum salam, nggak papa kan jawabnya telat, tadi nggak denger", ujar Sari sambil nyengir menengadahkan kepalanya menatap Musa.
Aroma semur dan gulai kambing, serta acar menyeruak keluar, tercium oleh Sari.
" Wah...ada semur sama gulai kambing, makan malam yang lezat", gumam Sari menahan salivanya.
" Sayang... jangan terlalu banyak makan olahan kambingnya, boleh makan, tapi jangan berlebihan ya sayang", suara Umi langsung terdengar begitu nyaring.
" Iya Umi, Sari paling cuma makan sedikit, kan Musa yang bakalan habisin banyak", justru Musa yang menjawab, sedangkan Sari hanya nyengir kuda.
" Benar kata Umi, ibu hamil boleh makan olahan kambing tapi jangan berlebihan, sabar beberapa bulan lagi, baru kamu bisa makan apa saja sesuka hatimu, bisa kan ?", mama juga memberi nasehat.
__ADS_1
Sari pun mengangguk, menuruti nasehat kedua calon nenek yang menginginkan yang terbaik bagi Sari dan calon cucu mereka.