Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Kembali ke Rutinitas


__ADS_3

Mohon maaf 🙏🙏


Ada beberapa part dengan adegan 21+, mohon readers lebih bijak dalam membaca, terimakasih 🙏


Happy reading 🤗🤗


***


Jam menunjukkan pukul 12 malam, Cahyo dan Agung berpamitan pada Dimas dan Musa, tidak lupa mengucapkan selamat kepada Musa, mantan guru agamanya di SMA dulu.


" Semoga sakinah, mawadah, warahmah Pak guru, sudah sepantasnya seorang yang hampir sempurna seperti bapak mendapat istri yang hampir sempurna juga seperti Sari, saya berharap hubungan bapak dan Sari akan langgeng hingga maut yang memisahkan".


Agung mendoakan Musa dengan setulus hati, begitu juga dengan Cahyo yang mendoakan hal yang sama.


Sepeninggal Cahyo dan Agung, Dimas masuk ke dalam kamarnya, Musa pun masuk ke kamar Sari, namun saat melihat Sari sudah tidur dengan nyenyak, Musa memilih untuk ke mushola belakang, menjalankan sholat malam dan berdzikir cukup lama. Tentu saja Musa ingin mengucapkan syukur pada Yang Maha Kuasa, karena memberikan kelancaran di acara pernikahannya pagi tadi, Musa juga berharap acara di Solo maupun di Malang akan berjalan dengan lancar.


Jam menunjukkan jam 2 dini hari, Musa selesai berdzikir dan hendak masuk ke dalam kamarnya. Namun saat membuka pintu kamar, Musa tidak menemukan Sari di atas ranjang. Musa mengedarkan pandangannya ke semua penjuru kamar, berharap menemukan sosok Sari, namun tetap tidak ada, Musa menengok kamar mandi juga kosong. Akhirnya Musa keluar lagi mencari Sari.


Betapa leganya Musa ketika menemukan Sari sedang duduk di kursi dapur, Sari tengah menikmati beberapa potong kue pernikahan mereka yang Sari potong kecil-kecil dan letakkan di piring ceper, dengan segelas susu di samping piring itu.


" Kamu lapar?", Musa berdiri di belakang Sari dan meletakkan kedua tangannya di bahu Sari.


Sari menengok dan mengangguk, karena mulutnya penuh dengan kue tart. Namun justru Musa menengadahkan dan menahan kepala Sari, menatap wajah Sari yang begitu terlihat bercahaya malam itu, kemudian mengecup bibirnya, dan menj*lat bibir Sari yang belepotan terkena krim kue tart.


Tindakan impulsif Musa membuat jantung Sari seketika berdetak dengan begitu cepatnya. Namun ternyata bukan hanya Sari yang kaget ada sepasang mata juga yang melotot melihat sikap Musa pada Sari barusan, siapa lagi jika bukan Dimas.


Dimas yang hendak mengambil air putih ke dapur seketika membeku dan tak bisa menggerakkan kakinya ketika melihat bagaimana Musa menj*lati bibir Sari tanpa malu-malu di dapur.


" Ternyata seorang Musa juga bisa melakukan hal menjijikan saat bersama Sari, aku kira hanya orang awam sepertiku saja yang bisa berprilaku seperti itu", batin Dimas sambil nyengir kuda.


" Ehem..." Dimas sengaja berdehem, agar Musa bisa menghentikan apa yang sedang dilakukannya terhadap Sari. Baru kemudian Dimas berjalan ke dapur mengambil gelas besar dan mengisinya dengan air putih.


Kemudian berjalan menuju ke kamarnya kembali, namun saat berjalan beberapa langkah, Dimas menengok ke belakang dan menatap ke arah Sari dan Musa.


" Kalau mau romantis-romantisan, jangan di tempat umum dong, kasihan jiwa singgleku jadi meronta-ronta !". Kemudian Dimas melanjutkan langkahnya.

__ADS_1


Sari cepat-cepat menelan kue dalam mulutnya, dan meneriaki Dimas " Makanya segera di halalin tuh sama cewek kakak, jangan pacaran melulu!!", seru Sari dari dapur.


Musa duduk di samping Sari, " Sudah, jangan di teruskan, teriak-teriak nanti ganggu yang lagi pada tidur, maaf ya... Mas nggak tahu ada Dimas di sana".


" Nggak papa Mas, lagian pacarannya kak Dimas itu lebih parah, jaman masih SMA saja sudah ciuman dari bib*r ke b*bir, kalau sekarang Sari yakin 1000%, pasti lebih parah", ucap Sari begitu menyakinkan.


" Astaghfirullah hal'adzim", Musa langsung beristighfar sambil menggelengkan kepalanya, mendengar perkataan Sari barusan. Sari baru ingat kalau suaminya itu seorang ustadz. Makanya langsung ber istighfar mengetahui kelakuan kakaknya.


Akhirnya Sari mengalihkan pembicaraan dengan menawari Musa kue yang sedang dimakannya, Sari menyodorkan potongan kue ke mulut Musa. " Mas mau? , aaaaa.....".


Musa pun membuka mulutnya dan menerima suapan kue dari Sari. Sebenarnya Musa juga merasa lapar, karena tadi makan malam jam setengah 7,usai sholat Maghrib, sudah cukup lama.


" Apa Mas mau makan Nasi?, biar Sari angetin sayur sama lauknya", Namun Musa menggelengkan kepalanya.


" Ini saja sudah cukup, lagian mas capek pengin istirahat, kalau makan terlalu banyak terus tiduran nanti jadi nggak nyaman perut Mas", Musa mengambil gelas di rak dan menghabiskan dua gelas air putih.


Sari pun menghabiskan susunya dan mencuci tangan. Mengajak Musa untuk istirahat di kamar. " Sari kan sudah tidur lumayan lama, apa Mas sudah tidur, atau dari tadi belum tidur?".


Musa menggelengkan kepalanya " Belum sempat tidur, malah badan pada pegel semua", gumam Musa sambil memuntir badannya ke kanan dan ke kiri.


" Mas pasti kecapekan, nanti Sari pijitin ya, Sari sudah nggak capek kok, tadi sudah istirahat lumayan lama".


Sampai di kamar Musa mengunci pintu kamarnya dan merebahkan diri di ranjang. Sari mengambil minyak urut untuk memijit Musa. Ternyata tawarannya untuk memijit Musa serius.


"Bagian mana yang pegel?", tanya Sari sambil melepas kerudungnya dan meletakkan di gantungan.


Musa membuka baju atasannya dan merubah posisi dengan tengkurap, Musa menepuk-nepuk punggung nya. Memberi tahu bahwa punggung Musa yang pegel.


Dengan telaten Sari memijit punggung Musa dengan lembut, menekan sedikit punggung Musa dengan telapak tangannya, namun seperti sebelumnya, selalu saja sentuhan jari Sari menimbulkan desiran aneh pada tubuh Musa.


Alhasil acara memijit Musa berubah menjadi malam panas yang begitu indah. Entah dimulai dari mana, namun saat ini justru tubuh Sari sudah berada di bawah kungkungan Musa.


Bibir Musa yang awalnya hanya m*ng*cup bibir Sari, kini berubah menjadi lum*tan lembut, lama kelamaan lid*h Musa mulai masuk kedalam rongga mulut Sari menyesap setiap rasa manis dari bibir Sari yang tadi baru saja memakan kue tart. Benar-benar terasa manis dan lembut.


Sari tidak mau diam, sesekali Sari membalas lum*tan Musa, membuat Musa semakin bersemangat mengeksplor mulut Sari, mereka berdua terus saling mema*g*t hingga mereka berdua terpaksa harus melepas ci*man untuk mengambil nafas.

__ADS_1


Namun Musa tidak tinggal diam, dia melepas kancing piyama Sari satu persatu dari atas, Musa beralih menci*mi leher dan bagian d*da Sari. Sesekali menj*lat ujung p*ting Sari, membuat Sari mengeluarkan des*han nikmat yang membuat Musa semakin semangat untuk me*c*mbu istrinya.


Pelan tapi pasti Musa melepas piyama Sari, begitu juga dengan celana yang masih di gunakannya. Musa kembali memberikan sentuhan lembut di bagian sens*tif Sari membuat tubuh Sari semakin bergetar hebat.


Musa begitu membuat Sari melayang hingga mengalami pelepasan berkali-kali, setelah Sari mencapai pelepasan, Musa baru melakukan penyatuan, menghentak tubuhnya dengan penuh irama, semakin lama gerakan Musa semakin cepat, begitu juga dengan Sari yang mengimbangi gerakan Musa, hingga tubuh Musa dan Sari pun bergetar hebat , Musa menyemburkan benih kehidupan di dalam tubuh Sari, mereka pun mencapai puncak kenikmatan bersamaan .


Musa mengecup kening, pipi dan bib*r Sari seraya berbisik, " terimakasih sayang, semoga doa dan harapan kita bersama segera menjadi kenyataan, ku harap benih yang ku tinggalkan di dalam tubuhmu akan bertahan dan menjadi sebuah kehidupan baru " . Musa merebahkan diri di samping Sari sambil memeluk Sari dengan begitu erat. Sari menenggelamkan wajahnya di dada bidang Musa. Mereka berdua pun tertidur dengan lelapnya.


***


Pagi harinya Sari sudah berpakaian rapi, menggunakan jas putih kebesarannya dan bersiap-siap hendak berangkat ke rumah Sakit. Sebenarnya Sari juga masih ingin beristirahat, dan bersantai di rumah, namun mengingat rencana umi dan mamanya yang akan mengadakan pesta pernikahannya di Solo dan di Malang, maka Sari harus pintar membagi waktu.


Memang tidak ada yang terlihat spesial hari ini, tetap menjalankan rutinitas seperti biasanya, padahal baru kemarin Sari dan Musa menjadi raja dan ratu sehari.


Karena Sari sudah mengajukan cuti menikah ke rumah sakit dan mendapatkan waktu 3 hari kemarin.


Sedangkan untuk acara di malang dan di Solo Sari hendak mengajukan cuti dengan mengambil cuti tahunan. Karena terhitung sudah 17 bulan Sari menjadi koas di rumah sakit.


" Maaf ya Mas, hari ini Sari berangkat kerja, kalau nggak berangkat, takutnya pengajuan cuti untuk ke malang dan solo minggu depan, akan di tolak", gumam Sari.


" Iya, Mas tahu, tapi ini nanti mas pulang ke rumah ya, nggak ke rumah kakek", Musa menjelaskan banyak pekerjaan yang harus di selesaikan.


" Iya nggak papa nanti pas kita berangkat sekalian pamit sama Kakek. Sekalian minta tolong kak Dimas buat bantu pindahin seserahan kemarin ke rumah Mas", ucap Sari.


Sari pun menyiapkan roti tawar dan mengolesinya dengan selai kacang dan coklat. Untuk sarapan dirinya dan Musa.


Sebenarnya mama sudah menyuruhnya sarapan nasi, sayur dan lauk karena sisa kemarin masih banyak, tapi akan makan waktu lama jika makan nasi, apalagi mama dan bi Nunung belum selesai menghangatkan lauknya, sedangkan Sari buru-buru berangkat ke rumah sakit.


Karena itu Sari dan Musa memilih sarapan roti dan susu, yang praktis.


" Kek, Pa, Sari berangkat ya, Mas Musa juga langsung ngurus kerjaan , jadi sekalian minta pamit, nantinl pulangnya insyaallah kesini lagi", terang Sari sambil berpamitan mencium punggung tangan Kakek Atmo, diikuti oleh Musa yang juga berpamitan.


Saat masuk ke dalam mobil Sari melihat Dimas juga keluar dari rumah hendak berangkat ke kantornya. Dimas juga meninggalkan sarapan paginya, dia langsung berangkat karena pekerjaannya menumpuk gara-gara ijin tiga hari kemarin.


" Kak Dimas, besok tolong bantuin pindahin barang seserahan ke rumah Mas Musa ya!", seru Sari dari dalam mobil.

__ADS_1


" Iya, besok kan? , tenang saja aku ajak Cahyo sama Agung buat bantuin juga!", teriak Dimas sambil masuk ke dalam mobilnya.


Kedua mobil itu keluar dari rumah kakek Atmo menuju tempat kerjanya masing-masing.


__ADS_2