
(Kadang dalam sebuah hubungan lebih baik di cintai dari pada mencintai, karena saat kita menjalin hubungan dengan seseorang yang kita cintai, tapi dia tidak balik mencintai kita, bahkan mungkin yang kita cintai ternyata mencintai orang lain, maka hanya akan ada rasa sakit yang akan kita dapat)
Musa POV
Hari ini hari pernikahan Kak Dimas dan Linda, atas permohonan kedua keluarga, aku menerima permintaan mereka untuk mengisi tausiyah pernikahan, usai acara ijab qabul.
Pagi ini semua acara berjalan lancar, si kecil Rasyid juga ikut dan selalu bersama Sari, sejak pagi sudah terus bersama Sari, hingga rombongan sampai di masjid, aku hanya bisa memperhatikannya hilir mudik kesana-kemari, berjalan-jalan seperti orang yang sangat sibuk.
Padahal tujuan Sari adalah membuat Rasyid merasa nyaman, aku melihatnya menuju ruangan dimana Linda berada, setelah itu aku masuk ke dalam masjid.
Sebenarnya bi Nunung sudah menawarkan untuk mengurus Rasyid, tapi Sari menolak, karena masih banyak pekerjaan lain yang membutuhkan tenaga bi Nunung, sehingga Sari meminta bi Nunung untuk melakukan pekerjaan yang lain.
Saat acara ijab qobul sedang berlangsung, aku tak sengaja melihat Sari masih bersama Rasyid tengah duduk di serambi masjid sebelah kanan. Dia sibuk bermain-main dengan Rasyid.
Namun sekilas aku juga melihat Rizal duduk disebelahnya. Sedang menatap Sari dengan tatapan yang masih sama seperti tatapan 7 tahun yang lalu. Tatapan yang akan membuat seseorang yang sedang ditatapnya bisa merasa salah tingkah, untung saja Sari masih bisa bersikap se-biasa mungkin.
Muncul pertanyaan dalam kepalaku. Sedalam itulah rasa cinta nya kepada istriku?.
Jika benar, untuk apa dia berkencan dengan Eli?, jika Eli tahu Rizal masih mencintai Sari, bukankah hanya akan menyakiti hati Eli saja.
Untung saja Sari tidak terlalu lama berada di sana, ku lihat Sari berpindah tempat, kembali hilir mudik mencoba membuat Rasyid merasa nyaman. Berjalan-jalan di pelataran masjid.
Sampai tiba waktuku mengisi tausiyah. Aku berdiri di depan para tamu undangan, membuatku bisa melihat keberadaan istri dan putraku yang tengah berjalan-jalan di sekitaran masjid.
__ADS_1
Bisa kulihat juga tatapan Rizal yang masih mengikuti kemanapun Sari melangkah. Seperti tatapan elang yang hendak menerkam mangsanya.
Saat ku ucapkan salam untuk membuka tausiyah pagi itu, aku melihat Sari menghentikan langkahnya, dan masuk ke serambi masjid sebelah kiri, duduk sambil memangku Rasyid, mendengarkan ku ber-tausiyah.
Aku masih sekali-kali menatap ke arah Sari, juga ke arah jama'ah yang lain, termasuk Rizal dan Eli yang berada di masjid yang sama, tapi duduk berjauh-jauhan.
Selesai tausiyah, aku menutup acara dengan doa, dan semua tamu kemudian berpindah ke kediaman mempelai wanita, untuk mengikuti rangkaian acara selanjutnya.
Kuperhatikan Rasyid agak rewel, karena itu aku berjalan menuju serambi, berniat untuk membantu Sari menenangkan nya, saat aku hendak menghampirinya, ayah Linda merangkul ku dan mengajakku berbicara, tujuannya mengucapkan terimakasih karena tadi aku sudah setuju untuk mengisi tausiyah.
Ayah Linda terus berbicara sambil mengajakku berjalan menuju ke rumahnya.
Aku tidak bisa menolak ajakan beliau, saat ku lirik ke arah Sari berada, kulihat Sari mengambil botol ASI dari dalam tasnya, untuk diberikan pada Rasyid, seketika Rasyid langsung anteng. Karena itu aku urungkan niatku menghampirinya, dan berjalan bersama ayahnya Linda menuju ke kediaman mereka.
Sejak tadi Sari belum juga kelihatan, pasti masih di masjid. Pikirku
Aku langsung berjalan cepat kembali menuju ke masjid, tapi ku hentikan langkahku ketika melihat Eli tengah berdiri di belakang baner foto prewedding Linda dan Kak Dimas yang masih berada di depan Masjid, mungkin pihak WO belum sempat membereskannya.
Eli menatap ke arah beranda Masjid, dimana ada Rizal dan juga Sari yang masih menggendong Rasyid, sedang berada di sana.
Sudah ku duga, akan seperti ini kejadiannya, tatapan Rizal tadi masih sama seperti saat dulu dia menatap Sari, tidak ada yang berubah, dan mungkin juga dengan rasa cinta dalam hatinya. Masih tetap sama.
Aku memilih untuk tetap diam, berdiri beberapa langkah di belakang Eli. Melihat ke pelataran masjid, pemandangan yang pasti akan membuat Eli sangat sakit hati. Karena kulihat bahu Eli mulai naik turun, sepertinya dia menangis. Karena rasa sakit di hatinya.
__ADS_1
Tapi tidak denganku. Bukan karena aku tidak cemburu melihat mereka berdua mengobrol, tapi aku sudah menaruh kepercayaan penuh pada istriku. Rasa percaya terhadap Sari mengalahkan rasa cemburu yang muncul di hatiku.
Kejadian selanjutnya mirip cuplikan di film atau sinetron, seandainya Rizal adalah peran utama, pasti Sari akan dengan senang hati menerima bantuannya.
Tapi itu tidak terjadi, ku lihat sendal Sari terbalik saat dia hendak menggunakannya, Rizal berjongkok dan hendak memakaikan sendal itu di kaki Sari, tapi aku melihat gerakan Sari yang mundur dan mengambil jarak dengan Rizal. Membuat Rizal memilih untuk berdiri kembali. Baru Sari menggunakan sendiri sendalnya.
Entah apa yang mereka berdua bicarakan, tapi yang bisa ku lihat dari sudut pandangku, mata Rizal masih menatap dengan tatapan yang sama, sedangkan Sari entah mengatakan apa, dengan mata yang berapi-api, sambil menunjuk-nunjuk ke arah dada dan kepala, namun ekspresinya terlihat menahan emosi.
Kulihat Sari berjalan meninggalkan Rizal yang masih berdiri mematung di tempatnya. Aku memilih mundur dan bersembunyi di belakang speaker aktif besar yang sengaja di sewa untuk pertunjukan kasidah yang tampil tadi.
Entah apa yang aku pikirkan, kenapa aku justru bersembunyi disini. Dan ternyata Eli juga melakukan hal yang sama. Dia mundur dan bersembunyi di belakang baner, agar Sari tidak melihatnya.
Saat Sari sudah melangkah cukup jauh, hampir sampai di rumah Linda, Aku melihat Eli membalikkan badan, dan buru-buru berjalan kembali ke rumah Linda, tidak menghampiri Rizal. Tapi aku bisa melihat pipinya sudah berlinangan air mata. Karena make-up wajahnya terlihat sangat berantakan.
Aku keluar dari persembunyian, saat itu juga kulihat Rizal berjalan menuju mobilnya. Tidak ke rumah Linda. Entah apa yang sedang dipikirkannya saat ini. Jujur aku kasihan padanya, tapi aku lebih kasihan lagi pada Eli.
Ku putuskan untuk kembali ke rumah Linda, orang-orang yang tadi mengantri di meja paresmanan kini sudah duduk rapi di kursi masing-masing. Ku edarkan pandanganku menyapu semua sisi tenda.
Dan ku dapati Sari tengah berbicara dengan Agung dan Cahyo di samping panggung pelaminan. Aku berjalan menghampiri mereka, tapi tiba-tiba mereka menghentikan perbincangan saat melihatku mendekat.
" Apa kamu sudah makan?", itu pertanyaan yang pertama muncul dari mulutku. Aku masih tetap sama, tidak ingin membuat Sari tidak nyaman dengan meminta penjelasan tentang kejadian yang ku lihat tadi.
Biarkan Sari menceritakannya sendiri padaku, aku akan menunggu, hingga saat Sari sudah siap untuk bercerita.
__ADS_1
Yang kini ada di pikiranku justru kemana perginya Eli dengan makeup berantakan seperti itu, dia tidak kelihatan disini. Atau mungkin dia mencari MUA, melakukan perbaikan pada makeup nya yang sudah berantakan. Gadis yang malang