Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Perjalanan Menuju Akad


__ADS_3

Minggu pagi, sesuai percakapan semalam, Musa menjemput Sari ke rumah tepat jam 7 pagi. Sari masih berada di dalam kamarnya memilih-milih baju mana yang akan di pakainya, karena begitu banyak baju almarhum nenek Atun yang masih bagus.


" Assalamualaikum ", Musa mengucap salam sambil berdiri di depan pintu gerbang, tentu saja, bi Nunung tadi kembali mengunci pintu gerbang saat masuk ke dalam rumah.


Sari mengintip keberadaan Musa dari jendela kamarnya. Nampak Musa di depan pintu gerbang menggunakan kemeja batik dengan warna dominan biru.


Saat Sari hendak keluar untuk membukakan pintu gerbang, ternyata Bi Nunung sudah lebih dulu keluar dan membukakan pintunya. Akhirnya Sari kembali fokus pada kebaya yang sudah berjejer-jejer di atas tempat tidurnya. Membiarkan bi Nunung yang membukakan pintu untuk Musa.


Tok..tok...tok...


" Mba Sari, Ustadz Musa nya sudah lagi nunggu di luar", seru Bi Nunung dari depan pintu kamar Sari yang sudah terbuka.


" Masuk Bi!", Sari menyuruh Bi Nunung untuk masuk ke kamar dan membantunya memilih baju yang akan dikenakan nya.


" Kenapa Mba?", pandangan bi Nunung langsung tertuju pada baju kebaya yang tercecer di atas kasur. Berantakan.


" Bibi bantu Sari pilih mana yang bagus, Sari bingung semuanya masih bagus", ucap Sari.


Bi Nunung menatap semua baju yang tergeletak di atas kasur, dan mengambil satu setel. " Yang ini saja Mba Sari, warnanya cocok sama kemeja batik yang di pakai oleh Ustadz Musa, seperti baju pasangan".


Sari meraih baju yang diambil bi Nunung, dan langsung memakainya, sudah terlalu lama memilih baju, membuat Sari menjadi pusing. Apalagi Musa sudah menunggu di luar, tidak enak kalau Sari kelamaan di dalam kamar.


Sari kembali menatap pantulan dirinya di dalam cermin, rambut di ikat dan di gulung ke dalam, bedak tipis dan lipstik warna Salem, membuat Sari terlihat sangat cantik dan lebih fresh.


" Maaf nunggu lama ya Tadz?, Sari bingung pilih baju kebaya yang mana, ini juga di bantu sama bi Nunung pilih bajunya", Sari berjalan cepat menuju ke arah Musa dengan sedikit menarik ke atas rok panjang dengan model duyung yang dikenakannya, baju yang dikenakan Sari membuat Sari terlihat lebih dewasa.


Musa langsung terpesona melihat penampilan Sari yang sangat cantik, padahal hanya memakai bedak dan lipstik yang tipis, tapi aura kecantikan Sari langsung menyebar, tumpah ruah.


" Ehem ...", Kakek Atmo berdehem. " Maaf sudah jam 7 lebih 10 menit, apa mau langsung berangkat?", tanya Kakek Atmo, menyadarkan Musa yang tengah menatap Sari dengan takjub.

__ADS_1


Sari dan Musa berpamitan pada Kakek dan bi Nunung, Musa membukakan pintu mobil bagian depan agar Sari bisa duduk bersebelahan dengannya.


Musa melajukan mobilnya menuju rumah Fajar, si calon pengantin. Sampai di rumah fajar sekitar pukul 07.25 menit, setelah menemui Fajar dan kedua orang tuanya, rombongan langsung bersiap-siap untuk berangkat ke Cilacap.


Hendrik yang datang ke rumah Fajar menggunakan motor, ikut satu mobil dengan Musa dan Sari. Fajar si calon pengantin juga masuk ke mobil Musa.


" Nanti kita sedikit ngebut saja, soalnya Fajar harus di make up sebelum akad", ujar Hendrik pada Musa yang duduk di bangku setir.


" Aku nggak biasa bawa mobil cepat, kalau mau ngebut kamu saja yang nyetir, aku pindah belakang". Musa turun dari bangku kemudi dan pindah ke bangku belakang.


Sedangkan Hendrik masuk kembali dan duduk di bangku setir.


" Nona manis, pindah duduk di belakang ya, nemenin bos besar, takutnya murung sepanjang jalan, kalau pawangnya duduk di dekat saya", gurau Hendrik, meminta Sari untuk pindah ke belakang.


Sari hanya tersenyum mendengar perkataan Hendrik. Tapi menuruti dengan keluar dari mobil.


Jam 07.30 tepat, Hendrik membawa mobil Musa dengan kecepatan tinggi. Sebelumnya sudah berpesan pada rombongan lain kalau mereka berempat akan motong jalan agar lebih cepat sampai.


Sepanjang perjalanan Sari terus terdiam mendengarkan Fajar yang menjadi penunjuk jalan memberi instruksi pada Hendrik untuk belok kanan, belok kiri, atau jalan lurus.


Benar saja, hanya butuh waktu satu jam perjalanan mobil Musa sampai di depan tenda berwarna perpaduan putih dan biru . Sudah banyak pula orang yang hadir disana, mereka adalah keluarga besar dari mempelai wanita.


" Kalian keluar saja dulu, kalau fajar mau di make up, saya dan Sari tetap disini, menunggu rombongan yang lain, mau bareng sama mereka", ucap Musa.


Akhirnya Fajar dan Hendrik turun dari mobil dan berjalan memasuki tenda menuju rumah mempelai wanita tempat Fajar akan dirias. Sesekali menatap para bapak-bapak dan ibu-ibu penjemput tamu.


" Ujarku rombongan besan sekang Purwokerto, jebule mobil calon penganten lanang, lungguh maning sek ibu-ibu. (Ku kira rombongan besan dari Purwokerto, ternyata mobil calon pengantin pria, duduk lagi saja dulu ibu-ibu) ", terdengar suara salah seorang ibu-ibu yang berada diantara para penjemput tamu, menyuruh mereka untuk kembali duduk.


Semua orang yang tadi berdiri ketika melihat mobil Musa sampai, kembali duduk setelah mengetahui yang datang adalah calon pengantin pria bersama temannya.

__ADS_1


Di dalam mobil.


" Nunggu disini setengah jam nggak papa kan Sar?, kalau panas di buka sedikit saja jendela nya" ujar Musa.


Sari mengangguk mengerti. " Ustadz punya permen nggak?, Sari agak enek, gara-gara mas Hendrik bawa mobilnya ngebut banget", ucap Sari sambil menutup mulutnya, takut muntah.


" Ada di depan", Musa mengulurkan tangannya ke bangku depan, mencoba menggapai dashboard mobilnya. Mengambil dua butir permen dan menyerahkan satu kepada Sari.


Sari menatap bungkus permen, kemudian membaca bagian bungkus lainnya, ada tulisan ' I Love you ', yang terdapat pada bungkus permen itu.


" Ini buat ustadz saja ", Sari menyerahkan permen dengan senyum-senyum, dan sengaja memposisikan tulisan ' I Love you' pada bungkus permen di bagian atas agar Musa bisa membacanya meski hanya melihat sekilas.


" Lho kan tadi kamu yang minta permen, saya juga sudah punya sendiri ini", Musa menunjuk permen yang ada di tangan kanannya, ternyata Musa belum ngeh dengan maksud Sari. Tapi setelah Sari memberi kode dengan menatap ke arah bungkus permen dengan tajam, Musa menerima dan membaca tulisan yang coba Sari tunjukan.


Musa langsung tersenyum lebar sambil menggelengkan kepalanya, saat membaca tulisan yang Sari ingin kasih tunjuk, tanpa sadar Musa langsung iseng melihat apa tulisan di bungkus permen satunya lagi, yang masih ada di genggamannya.


Dan Musa langsung terkekeh makin menjadi ketika menyerahkan permen yang ada di genggaman tangan satunya.


" Ini buat kamu, sebagai ganti permen yang kamu berikan padaku", gumam Musa masih dengan menahan senyumnya.


Sari langsung membulatkan matanya membaca tulisan yang tertera di permen kedua yang di berikan oleh Musa.


' Will you marry me?'


Masih dengan ekspresi terkejut, Musa kembali berkata dengan membuka bungkus permen dari tangan Sari. Kalimat yang semakin membuat Sari langsung merona pipinya.


" Kalau dimakan berarti jawabannya ' iya', kalau di buang saya akan sangat sedih", Musa menyerahkan permen yang sudah di bukanya untuk Sari.


Sari mengambil dari tangan Musa dan mengemut permen itu tanpa berpikir lama, Musa langsung tersenyum sumringah mendapati jawaban Sari yang membuat hatinya berbunga-bunga.

__ADS_1


__ADS_2