
Tiga hari setelah idul Fitri, Musa beserta keluarganya di dampingi paman Irsyad dan Bulik Santi kembali bersilaturahmi ke rumah Kakek Atmo. Kali ini dengan tujuan untuk mengkhitbah Sari.
Terhitung sudah 2 tahun sejak hubungan Sari dan Musa di resmikan. Meski hanya beberapa bulan mereka bersama, dan selebihnya hidup saling berjauhan / long distance relationship ( LDR ).
Keyakinan Musa yang ingin menjadikan Sari sebagai teman hidupnya. Dan keyakinan Sari yang menganggap Musa adalah calon imam yang tepat untuk masa depannya. Adalah satu pemikiran yang menghasilkan titik temu antara keduanya.
Keputusan Sari untuk menerima lamaran Musa, sekaligus rencana pernikahan mereka memang bukan keputusan yang tiba-tiba, karena sebenarnya Sari sudah memikirkannya sangat lama, sejak dua tahun silam.
***
Waktu menunjukkan pukul 19.30 WIB saat rombongan keluarga Musa sampai di rumah kakek Atmo.
Acara mengkhitbah malam itu berjalan lancar, tidak ada kendala yang berarti, apa lagi memang kedua keluarga sebelumnya sudah saling mengenal dan sudah cukup dekat.
Sesuai dengan rencana yang sudah di sepakati bersama sebelumnya, juga atas persetujuan Sari, dalam acara malam itu sekaligus melakukan pernikahan siri. Bukan karena keinginan Musa tentunya. Karena jika ingin menikah secara resmi, Musa sudah sangat siap. Namun itu keinginan Sari, agar hubungannya dengan Musa benar-benar halal.
Kenapa tidak menikah secara resmi?.
Hanya Sari yang tahu jawabannya.
Acara hanya di hadiri oleh kerabat dekat kedua keluarga, imam masjid terdekat sebagai saksi, bersama dengan Pak Irsyad. Dan juga beberapa tetangga dekat.
Sari di walikan langsung oleh Triono, papanya. Dengan mas kawin uang tunai sebesar 200 juta rupiah. Usai menyematkan cincin berlian di jari Sari dan melaksanakan ijab qobul, malam itu juga Sari sah menjadi istri Musa secara agama.
Semua turut berbahagia atas kebahagiaan yang mereka berdua rasakan.
" Malam ini mau tidur disini atau pulang ke rumah?", tanya mama Esti pada Musa.
" Tidur di sini dong...kan sudah sah jadi suami Sari", gumam Kakek Atmo yang masih tidak habis pikir dengan pola pikir cucunya. Musa jelas-jelas beritikad baik dengan meminta ijin untuk menikahinya. Tapi justru Sari meminta untuk menikah siri terlebih dahulu.
.
Musa menatap Sari meminta persetujuan, dan wajah Sari lempeng-lempeng saja. Terlihat tidak melarang, tapi tidak juga mengiyakan.
__ADS_1
" Musa akan disini malam ini, karena banyak yang ingin Musa bicarakan dengan Sari", jawab Musa dengan sedikit kikuk.
Rombongan keluarga Musa berpamitan jam 10 malam, semuanya kembali ke rumah, meninggalkan Musa yang masih berada di rumah itu.
" Thanks ya Mus, buat pelangkahannya, kamu memang the best",ucap Dimas dengan senyum sumringah karena Musa sudah membelikannya HP keluaran terbaru, yang harganya sekitar 30 juta lebih.
Memang sejak Dimas di rehabilitasi, kedua orangtuanya sudah tidak bisa mengabulkan begitu saja semua keinginan Dimas seperti dulu, karena khawatir akan di salah gunakan lagi oleh putranya.
Musa hanya tersenyum melihat kakak iparnya yang berumur lebih muda darinya.
Semua masuk dan istirahat di dalam kamarnya masing-masing saat jam menunjukan pukul 11 malam. Begitu juga dengan Sari dan Musa.
Sari yang sudah merasa sangat mengantuk dan kelelahan sejak tadi, langsung tertidur pulas di atas kasurnya, tidak merasa canggung padahal ini seharusnya menjadi malam pertamanya tidur sekamar bersama Musa setelah menjadi suami dan istri.
Musa hanya menggelengkan kepalanya ketika masuk ke kamar Sari dan mendapati Sari yang langsung tidur dengan nyenyak nya.
Jelas rencananya untuk mengobrol berdua dengan Sari gagal total.
Akhirnya Musa memilih untuk rehat menonton TV sambil tiduran di sofa yang berada di ruang santai. Penghuni yang lain sudah tertidur saat itu, Musa yang tak bisa tidur juga jika tetap sekamar dengan Sari, akhirnya memilih untuk keluar kamar dan tidur di sofa ruang santai.
" Bukankah semalam sudah masuk ke dalam kamar?, kenapa malah tidur disini?", tanya Triono menyelidik.
" Apa Sari mengusirmu dari kamarnya?", tanya Kakek Atmo.
Musa menggelengkan kepalanya. " Musa belum terbiasa tidur bersama seorang perempuan. Dan berusaha tidur di dalam, tapi tidak ngantuk-ngantuk, jadi Musa bawa nonton TV, malah ketiduran di sini", jawab Musa jujur.
Papa dan kakek hanya mengangguk tanda mengerti.
" Sekarang kami mau ke masjid, kamu mau ikut?", ajak Kakak Atmo.
Musa mengangguk, " Musa ambil air wudhu dulu".
***
__ADS_1
Musa, papa Triono dan Kakek Atmo kembali ke rumah pukul setengah 6 pagi, karena sengaja jalan-jalan keliling komplek terlebih dahulu saat pulang dari masjid, sekalian olahraga pagi.
" Bi Nunung baru saja masuk ke dalam rumah, saat Sari dan mamanya sudah selesai menghangatkan beberapa sayuran sisa acara semalam. Karena masih banyak makanan, oleh Esti di masukkan ke dalam kulkas semalam, baru kemudian pagi ini di hangatkan kembali. Jadi tidak mubadzir.
" Ayo yang mau sarapan dulu siapa?, ini sudah matang makanannya", ucap Esti sambil menata piring di atas meja, sedangkan Sari masih sibuk keluar masuk dapur membawa sayuran yang sudah di hangatkan.
" Apa semalam tidurmu nyenyak Sari?", tanya Kakek Atmo usai sarapan.
" Iya kek, mungkin akibat kecapekan, sampai nggak tahu jam berapa Ustadz Musa masuk ke kamar, bahkan saat Sari bangun dan keluar buat subuh, ustadz Musa sudah nggak ada", jawab Sari polis.
Papa dan Kakeknya hanya menggeleng kepalanya.
" Suamimu semalam tidur di sofa ruang santai, pasti kamu tidak tahu", ujar Kakek.
" Apa?, beneran Tadz?", Sari menatap Musa yang sedang mengelap bibirnya usai menghabiskan makanannya.
" Aku nonton bola, dan ketiduran di sofa", jawab Musa beralasan. Membuat kakek dan papa semakin salut pada Musa.
" Nanti siang papa dan mama akan berangkat ke Malang, kalian yang rukun ya, terutama kamu Dimas, jangan suka lagi bercanda berlebihan dengan adikmu, sekarang Sari sudah ada yang memiliki, sudah punya suami, jadi kalau mau apa-apa ijin dulu sama suaminya". pesan Mama Esti.
" Siap Ibu bos, perintah akan di laksanakan", jawab Dimas sambil terkekeh.
Dan siang hari Dimas, Sari dan Musa mengantar Mama dan Papa ke stasiun kereta api. Mereka memilih naik kereta untuk menghemat tenaga dan juga lebih cepat sampainya.
" Kalian berdua balik sendiri ya, aku mau ke rumah temanku yang tinggal di sekitar sini ", Dimas melempar kunci mobil dan pergi begitu saja menghilang di tengah kerumunan orang.
" Mau pulang ke rumahku?, kamu sudah jadi istriku, tapi belum pernah sekalipun aku ajak ke rumahku", ujar Musa.
" Boleh, aku juga pengen ngobrol sama Umi dan Abi, sekalian pengen lihat kayak apa rumah Ustadz", jawab Sari.
Di dalam mobil Musa melirik ke arah Sari. " Boleh aku genggam tangan kamu?", tanya Musa meminta ijin.
Tapi justru Sari yang langsung menggenggam tangannya, menyatukan ruas-ruas jarinya dengan jari Musa, Musa menyetir dengan pelan, menggunakan tangan kanannya saja.
__ADS_1
Masih dengan jantung yang berdebar, " padahal sudah sah, tapi menggenggam tangan nya saja membuatku merasa begitu grogi, tapi jujur aku bahagia", batin Musa sambil tersenyum dan sesekali menatap ke arah Sari.