Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Kasmaran


__ADS_3

Musa berpamit pulang setelah ikut makan siang bersama dengan Sari dan Bi Nunung.


" Mungkin untuk satu minggu ke depan, kita akan jarang bertemu, selain karena pertemuan mengaji kita libur, aku juga dapat tugas di luar sekolah jadi kalau ada apa-apa menghubungi saya lewat telepon atau kirim pesan", pinta Musa saat dia hendak keluar dari pintu rumah Sari.


" Kenapa Ustad tidak cerita kemarin, kalau Ustadz dapat tugas di luar sekolah selama dua minggu?", Sari sengaja mengulur waktu agar Musa tidak cepat-cepat pergi. Seperti ada rasa keberatan untuk di tinggalkan.


" Kemarin rencananya saya datang ke sini lebih awal itu, karena ingin cerita dan ingin memberitahu kamu tugas luar ini, tapi ternyata malah kamu bercerita tentang main ke rumah Eli, jadi saya urungkan niat awal saya, tapi hari ini saya sudah berniat untuk bertemu dan berbicara sama kamu biar kamu enggak berpikir kalau aku sibuk diluar, jarang kasih kabar kamu dan jarang bertemu, karena ini adalah urusan pekerjaan", Musa menjelaskan panjang lebar.


" Sepertinya memang akan sangat merindukannya jika kelamaan tidak ketemu, sudah mulai terbiasa setiap hari bertemu dengannya saat mengaji", batin Sari.


" Kok malah bengong, kenapa?", Musa melambaikan tangannya di depan wajah Sari yang tengah melamun.


" Eh...kan kita bisa ketemu kalau siang, atau malam", gumam Sari. " Aduh... kenapa aku malah ngomong begitu, nggak punya harga diri banget, minta ketemu siang hari", batin Sari.


Musa tersenyum di kulum, " Nggak bisa, siang aku juga ada pekerjaan lain meninjau lokasi rencana pembangunan, Bisa ketemu kalau malam, jika kamu sudah bisa mulai mengaji lagi. Sar... apa kamu mau menikah denganku?, biar bisa ketemu di rumah ku tiap malam".


Deg deg....deg deg... deg deg....


Jantung Sari seperti mau copot mendengar gurauan Musa yang sangat absurd.


" Ustadz kalau becanda jangan kelewatan dong, bikin Sari kaget saja", Sari menangkupkan kedua telapak tangannya di pipi, karena tiba-tiba merasa pipinya memanas.


" Nggak bercanda, saya serius, kamu yang menganggap ini candaan, padahal saya lagi ngomong serius", tatapan Musa memang sangat serius.


Sari menggelengkan kepalanya, " Aduh ustadz, sudah cukup, Sari takut nggak bisa tidur lagi malam ini", ungkap Sari, karena memang setiap kali ada momen berkesan bersama Musa, membuat Sari jadi susah untuk tidur nyenyak malam harinya.


" Ya sudah kalau begitu saya pulang dulu, salam buat kakek Atmo ya, assalamualaikum", Musa keluar dari rumah Sari dan berjalan menuju jalan raya menghampiri ojek online yang tadi di pesannya tanpa sepengetahuan Sari.


Sari kembali masuk ke dalam rumah menjumpai bi Nunung yang sedang senyum-senyum sendiri.


" Kenapa Bi?, apa ada yang lucu?", tanya Sari penasaran dengan alasan bi Nunung terus senyum-senyum sendiri.


" Tadi bibi dengerin obrolannya mba Sari dan Ustadz Musa, itu ustadz nya ngelamar mba Sari, ngajakin menikah, serius itu mba, kalau di dengar dari cara bicara dan juga ekspresi wajahnya. Ustadz berbicara sungguh-sungguh. Mba Sari sama seperti bibi dulu, umur 17 tahun sudah dilamar pria", gumam bi Nunung.


" Terus bibi terima?", Sari menatap bi Nunung mencoba mencari jawaban.


Bi Nunung mengangguk, " Ya iya, kan bibi juga suka, yang dulu ngelamar bibi itu bapak dari anak-anak", bi Nunung tersenyum sambil tersipu malu.


" Wah... tapi kan sekarang Sari masih sekolah, peraturan di sekolah, siswa dan siswi itu dilarang menikah, yang ketahuan hamil di luar nikah juga biasanya langsung di keluarkan dengan tidak terhormat", gumam Sari sambil meninggalkan bi Nunung.


" Bibi jangan bilang-bilang kakek dengan apa yang bibi dengar tadi oke?, ini rahasia kita!", seru Sari dari dalam kamar.


Tapi sayangnya waktu Sari berteriak dari kamarnya, justru kakek Atmo susah berada dirumah dan hanya menggeleng-gelengkan kepalanya mengetahui sikap cucu gadis satu-satunya itu.


Kakek Atmo tentu saja sudah tahu tentang perasaan Musa, karena Musa sendiri yang beberapa hari yang lalu minta ijin langsung padanya.

__ADS_1


Sari merebahkan diri di kasurnya dan memutar MP3 keras-keras dari ponselnya yang terhubung dengan speaker bluetooth.



*Aku di sini padamu*


*Sekali lagi padamu*


*Kubawakan rindu yang kau pesan utuh*



*Aku di sini untukmu*


*Sekali lagi untukmu*


*Percayalah tak perlu lagi kau gundah*



*Pun aku merasakan getaranmu*


*Mencintaiku seperti 'ku mencintaimu*


*Sungguh kasmaran aku kepadamu*



*Selalu saja tentangmu*


*Sepertinya kau adalah candu bagiku*



*Kau buat aku tak mampu*


*Selalu saja tak mampu*


*Menahan perasaanku atas dirimu*



*Pun aku merasakan getaranmu*


*Mencintaiku seperti 'ku* *mencintaimu*

__ADS_1


*Sungguh kasmaran aku kepadamu*


*Kasmaran 'ku kepadamu*



Lagu 'kasmaran' menjadi backsound siang hari di kamar Sari, yang udaranya terasa sejuk dan semilir angin masuk ke dalam kamar melalui jendela yang sengaja dibuka lebar.


***


Hari demi hari terus berlalu tanpa ada pertemuan langsung antara Sari dan Musa selama seminggu, mereka berdua hanya saling bertukar kabar dengan melakukan Video call saat hendak tidur, ataupun berkirim pesan.


Tadi siang di sekolah Sari mendapat pengumuman jika mulai hari senin besok untuk kelas 12 mulai mengikuti kelas tambahan , pulang sekolahnya sampai sore, itu berarti saat istirahat Sari semakin sedikit, karena tidak bisa tidur siang, dan usai Maghrib harus mengaji.


" Malam minggu, sudah punya pacar, malah tiduran di kamar terus, nasib-nasib, pertama punya pacar seorang ustad, orang yang super sabar dan sopan banget. Kira-kira kalau aku masih di sekolah yang dulu aku sudah punya pacar apa belum ya?", Sari menghayal.


" Oh iya, aku video call, Kristin dan Nayla saja, sudah lama nggak ngobrol sama mereka".


Sari mengambil ponselnya dan langsung melakukan VC dengan kedua sahabatnya, Nayla dan Kristin.


" Malam girls... apa kabar kalian?", Sari berdada-dada di depan layar ponselnya.


Terlihat kedua sahabatnya sedang tidak berada didalam rumah.


" Hai Sari, Miss you...", Nayla dan Kristin juga membalas berdada-dada.


" Kalian lagi jalan-jalan ya?, kemana?", tanya Sari sambil mengamati sekitar tempat mereka duduk, seperti sedang jalan-jalan di mall.


" Iya Sar, kita lagi di olympic garden, nyari makan malam, sekalian jalan-jalan cuci mata", seru Kristin.


" Kamu lagi di kamar ya?, malam mingguan kok nggak keluar-keluar, bosen tahu", gumam Nayla.


" Mau keluar males banget aku, capek, di sini sekolah ada jam tambahan mulai senin besok, harus kumpulin tenaga buat menghadapi kenyataan kalau kita sudah kelas 12 dan mau tidak mau harus menghadapi ujian kelulusan", gumam Sari.


" Eh Sar kamu jadi mau daftar ke Bandung kuliahnya?, kalau jadi bareng ke sana sama kita berdua", ajak Nayla.


" Kayaknya aku mau lanjut kuliah yang deket sini saja, kira-kira bisa pulang tiap hari. Kakek sudah makin tua dan sering sakit-sakitan, kasihan juga kalau tinggal sendirian".


" Oh..cucu yang berbakti, aku doakan semoga dapat warisan yang banyak dari kakek kamu karena sudah begitu perhatian sama kakeknya", canda Kristin, membuat mereka bertiga tertawa bersama.


" Aku nggak mikir ke arah situ malahan, yang aku pikir kakek semakin tua, dan kasihan banget tinggal sendirian, nggak tega-an aku tuh jadin orang" gumam Sari.


" Iya...kita ngerti, paham banget sama sifat kamu, sudah saling mengenal dari kita masih anak SD yang ingusan, sampai sekarang sudah mau selesai SMA, apa sih yang nggak kita berdua nggak tahu tentang kamu".


Benar juga ucapan Kristin, mereka bertiga sudah menjadi teman rasa saudara.

__ADS_1


__ADS_2