
Bahaya ( Judul lagu yang dinyanyikan Arsy Widianto dan Tiara Andini )
***
" Bagaimana Dok keadaan istri saya?",
Musa langsung bertanya pada dokter Agus, yang baru saja selesai melakukan pemeriksaan pada Sari.
" Tidak papa Pak Musa..., dokter Sari hanya mengalami tanda-tanda awal kehamilan, sebenarnya gejala awal kehamilan itu bermacam-macam, ada yang mual, ada yang pusing, atau merasakan keduanya seperti dokter Sari, ada juga yang tidak merasakan apapun biasanya itu yang disebut hamil kebo".
Musa menganggukkan kepalanya tanda mengerti. " Lalu apa yang harus dilakukan biar tidak mual-mual dan pusing terus Dok?", tanya Musa.
" Ibu hamil harus makan yang teratur, konsumsi makanan sehat, perbanyak minum air putih, dan istirahat yang cukup".
" Batasi kafein, hindari merokok atau minuman beralkohol".
" Berolahraga boleh, bahkan di anjurkan, tapi olahraga yang ringan saja".
Dokter Agus menjelaskan dengan begitu sabar.
" Terimakasih Dok, kalau masih ada yang belum Sari tahu, bolehkan Sari ijin buat bertanya sama dokter melalui telepon atau secara langsung?", tanya Sari yang turun dari ranjang pemeriksaan.
" Tentu saja, dengan senang hati, dokter Sari kan akan bekerja di sini juga, jadi sudah seperti teman bagi saya", ujar Dokter Agus.
Sari dan Musa keluar dari ruang periksa, Musa merangkul pundak Sari, membimbingnya berjalan menuju kamarnya.
Tadinya Musa sudah meminjam kursi roda untuk membawa Sari melakukan pemeriksaan ke klinik, tapi Sari menolaknya. Sari bilang keadaannya sudah membaik.
Pukul 10 Musa pamit pada Sari untuk mengajar ke kampus, awalnya Musa hendak ijin untuk di gantikan dengan dosen lain. Namun Sari menyuruhnya untuk tetap berangkat. Musa pun menuruti keinginan Sari.
Saat siang hari, usai Sari sholat Dzuhur diatas bed. Sari menjumpai Eli bersama Nesti sudah berdiri di samping ranjang bed nya.
" Kalian sedang istirahat?", tanya Sari sambil menyibakkan selimut yang tadi digunakan untuk menutup bagian kakinya, Sari sebenarnya sudah ingin melakukan sholat Dzuhur dengan gerakan sholat yang benar. Namun selang infus masih membuat gerakannya terbatas.
" Iya kita lagi istirahat. Gimana keadaan kamu?", tanya Eli mengusap lengan Sari.
" Sudah lebih baik, mungkin nanti sore aku minta pulang saja, menghabiskan infusan ini, aku mau pulang", ujar Sari.
" Kenapa buru-buru, kamu masih terlihat sangat pucat", Suara seorang pria yang masuk ke kamar Sari, suara yang terdengar familiar di telinga Sari. Rizal....
" Kamu itu belum benar-benar pulih, tinggal lah di sini satu atau dua hari lagi".
Rizal masuk bersama seorang dokter senior dan beberapa perawat. Ternyata mereka sedang melakukan visit di jam 1 siang.
Rizal terus menatap Sari dengan lekat, melihat wajah pucat Sari tanpa mengedipkan matanya.
Dokter senior membaca laporan kesehatan Sari. " Tapi memang sepertinya nanti sore sudah boleh pulang, semuanya sudah stabil. Kalau masih lemes, mungkin tinggal ditambah asupan makanan nya di rumah".
" Dokter Sari.... ibu hamil di trimester pertama memang sering mengalami kelelahan dan emosi yang meledak, jadi harus bisa membawa diri dengan lebih bijaksana".
"Tapi memang benar, sore nanti bisa langsung pulang ke rumah. Saya ucapkan selamat ya atas kehamilannya. Saya baru tahu dari suster kepala kalau ternyata Dokter Sari sudah menikah siri sejak 3 tahun lalu. Semoga kedepannya terus sehat ya...".
Rombongan dokter keluar dari kamar Sari. Rizal hanya sempat menatap Sari dan keluar mengikuti yang lain.
Eli dan Nesti kembali mendekat usai rombongan dokter keluar.
" Kalian kok terlihat canggung lagi ?, nggak saling sapa, kayak bukan temen se kampus", gumam Eli.
" Bukan canggung, cuma kan dia lagi tugas, dan aku lagi jadi pasiennya, memang harus bersikap bagaimana?, ya seperti itu tadi sudah cukup". Sari langsung mengubah posisi duduknya dan menyender ke bantal yang disenderkan di kepala ranjang.
" Kamu belum makan?, aku suapi ya?", Eli mengambil jatah makan Sari dan menyuapinya.
Ternyata hanya butuh waktu 7 menit Sari bisa menghabiskan makan siangnya, karena Sari sudah sangat lapar, dan memang berniat untuk makan usai sholat.
" Suamimu kemana Sar?, kamu nggak ada yang jagain?", Nesti yang dari tadi diam kini mulai bersuara.
" Aku suruh berangkat ngajar. Lagian aku sudah baik-baik saja. Nanti sore aku mau pulang ke rumah. Mungkin besok ijin sehari nggak masuk. Lusa baru mulai kerja lagi", gumam Sari.
" Ingat...nggak boleh kecapekan, kamu lagi hamil. Jangan bekerja terlalu berat", Eli kembali mengingatkan.
" Iya ibu dokter, saya akan lebih berhati-hati", Sari bicara sambil tersenyum. Karena sikap Eli seperti ibu-ibu yang sedang menceramahi putrinya.
Saat Eli dan Nesti keluar dari kamar Sari karena jam istirahat sudah selesai, dan Sari juga mengatakan mau tidur siang. Eli melihat Rizal berjalan dengan langkah cepat melalui lorong lain menuju kamar Sari sambil membawa sesuatu di dalam kantong plastik.
Eli menajamkan penglihatannya." Benar itu Rizal ", batin Eli.
Saat Eli sudah jauh, dia masih bisa melihat Rizal masuk ke kamar Sari.
__ADS_1
" Ternyata Rizal masih belum bisa mengacuhkannya", Eli sudah tidak bisa melihat Rizal lagi karena menutup kamar Sari dari dalam.
***
Rizal POV
Aku sangat mengkhawatirkan keadaannya, saat tahu dari Eli jika Sari sedang dirawat. Pagi hari aku ingin langsung menjenguknya, ternyata dia dirawat di bangsal tempatku bekerja.
Namun ku urungkan niatku karena saat aku melewati kamarnya, begitu banyak dokter dan suster lain yang sedang menjenguknya di kamar. Aku hanya sempat mengintip dari pintu kamar yang terbuka, tapi Sari tidak nampak sama sekali. Terhalang tubuh para dokter dan perawat yang sedang menjenguknya.
Saat aku dan Dokter Solihin melakukan visit ke tiap kamar, entah mengapa jantungku kembali berdetak dengan begitu cepat saat hendak masuk ke kamar Sari di rawat. Apa yang sebenarnya terjadi padaku?, kenapa aku masih merasakan debaran ini hanya karena akan bertemu dengan Sari?. Seharusnya ini tidak boleh terjadi, karena Sari sudah menjadi istri Pak Musa. Aku tahu perasaanku salah.
Tapi saat aku masuk ke kamar dan melihatnya dengan wajah yang sangat pucat, aku menjadi merasa sedih sekaligus khawatir. Semua ini terjadi gara-gara Pak Musa, Sari jadi mengalami sakit seperti ini karena kehamilannya, kenapa harus secepat ini Sari hamil?, seharusnya yang ada di rahimnya adalah benih dariku. Sekali lagi aku merasa sangat konyol.
Bahkan si biang kerok ( suaminya ), tidak ada di kamar Sari, Pak Musa tidak menjaga Sari, hanya ada Eli dan Nesti yang menemaninya. "Kalau tidak sanggup menjaga Sari, aku dengan senang hati mau menjaganya", pikirku. "Oh no...otak ku pasti sudah mulai konslet".
Ku gelengkan kepalaku agar tidak terus berpikir absurd, dan keluar mengikuti dokter Solihin untuk visit ke kamar lainnya.
Saat selesai melakukan kunjungan ke pasien-pasien lain, aku terus memikirkan Sari, aku mencari alasan agar bisa menemuinya. Dan langsung terlintas olehku untuk membelikan jus alpukat kesukaannya.
Aku berjalan cepat menuju kantin, memesan dua cup jus alpukat dan langsung berjalan cepat menuju kamar Sari. Aku ingin sekali menemaninya. Mumpung dia hanya sendirian, pasti kedatanganku akan membuat dia menjadi tidak merasa kesepian.
Ku ketuk pintu beberapa kali, kemudian aku masuk ke kamarnya. Sari sendirian, tengah memejamkan mata, mungkin dia tidur. Aku tak akan membangunkannya. Cukup menemaninya sambil menatap wajahnya sudah cukup membuatku merasa senang.
Ada untungnya juga Sari di rawat di bangsal tempatku bertugas. Aku bisa menemaninya selama yang aku mau.
Kuambil kursi dan ku dekatkan ke ranjang sari, aku duduk sambil menatap wajah Sari sepuas hatiku. Wajah yang sangat cantik meski masih pucat.
Namun tak lama kemudian Sari membuka matanya. Mata kami berdua pun saling bertemu beberapa detik, sampai dia tiba-tiba membuang pandangannya ke langit-langit kamar.
" Apa kamu disini sudah lama?", Sari bertanya tanpa menatap mataku.
" Baru beberapa menit yang lalu", jawabku.
" Aku bawakan jus alpukat kesukaanmu. Kata dokter Solihin, kamu harus sering minum dan makan makanan yang bergizi, tidak perlu dengan porsi yang banyak, yang penting sering, jangan sampai merasa sangat lapar baru mau makan. Karena janin dalam perutmu butuh asupan nutrisi yang cukup", aku menyerahkan satu cup besar jus alpukat.
Sari menerima jus itu sambil mengucapkan terimakasih padaku. Tak sengaja tanganku menyentuh tangannya saat menyerahkan jus, dan pintu kamar Sari tiba-tiba terbuka. Ada Eli yang masuk dengan nafas tersengal-sengal, seperti habis lari-lari.
Mata Eli menatap ke arah tangan kami yang tidak sengaja saling bersentuhan, Eli menatap dengan dahi mengkerut. " Bahaya...!, Pak Musa lagi menuju ke sini, bukan aku mendukung pertemuan kalian berdua, tapi aku tidak suka sahabatku kena masalah saat sedang sakit dan belum benar-benar sembuh".
Sari langsung menarik tangannya melepaskan diri dari sentuhan tanganku.
Aku hanya mengangguk, karena memang semua yang dikatakan Sari pada Eli adalah benar.
Seperti tidak berniat mendengarkan penjelasan Sari, Eli langsung berjalan bergabung mendekat ke arah kami. Membuat seolah dia datang bersamaku menjenguk Sari.
Tak lama kemudian Pak Musa masuk ke kamar dengan membawa kantong berisi beberapa macam jenis buah. Dan langsung menatap ke arahku saat mengetahui keberadaan ku dan Eli di kamar istrinya dirawat.
Eli pun menggandeng tanganku, berpamitan pada Sari dan Pak Musa,
" Karena Sari sudah ada yang jaga, jadi kami permisi dulu Pak guru, karena kami masih harus bertugas", Eli menyeret tanganku untuk mengikutinya keluar dari kamar Sari.
Dengan berat hati ku ikuti langkah Eli keluar kamar sambil menatap wajah Sari yang sedang menatap ke arah Musa, dan justru Musa sedang menatap ke arahku.
Sesampainya di ruanganku ku putar MP3 dari dalam ponsel. Lagu yang mewakili isi hatiku saat ini...
**Bahaya🎶**
*Sebenarnya aku ingin dekatmu*
*Namun ku sadari ku tak bisa*
*Tak boleh ku disini*
*Bahaya ku makin cinta*
*Ku tak ingin jauh*
*Tak ingin berpisah*
*Mengapa semua selalu indah*
__ADS_1
*Saat denganmu*?
*Sayang untuk diakhiri*
*Andai kau bisa mengerti*
*Betapa beratnya aku*
*Harus aku tetap tersenyum*
*Padahal hatiku terluka*
*Adakah arti cinta ini*?
*Bila ku tak jadi denganmu*
*Jika memang ku harus pergi*
*Yakinlah hatiku kamu*
*Bukankah semesta yang pertemukan kita*?
*Haruskah kusampaikan pada bintang*?
*Mengapa bukan kamu*
*Yang memiliki aku*?
*Andai kau bisa mengerti*
*Betapa beratnya aku*
*Harus aku tetap tersenyum*
*Padahal hatiku terluka*
*Adakah arti cinta ini*?
*Bila ku tak jadi denganmu*
*Jika memang ku harus pergi*
*Yakinlah hatiku kamu*
*Mengapa cinta pertemukan*?
*Bila akhirnya dipisahkan*
*Dan mengapa ku jatuh cinta*?
*Pada cinta yang tak jatuh padaku*
*Harus aku tetap tersenyum*
*Padahal hatiku terluka*
*Adakah arti cinta ini*?
*Bila ku tak jadi denganmu*
*Jika memang ku harus pergi*
*Yakinlah hatiku kamu*
__ADS_1
*Kamu*