Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Gathering With Family


__ADS_3

" Bi, bibi tetap di mobil sama Rasyid, sebelum aku kembali kesini, bibi tetap di mobil, jangan keluar".


Sari berjalan dengan jinjit-jinjit agar suara langkahnya tidak terdengar, untung saja Sari menggunakan sepatu kets, sehingga mempermudah dirinya untuk bergerak tanpa mengeluarkan suara.


Pintu masuk sudah terbuka, dan suasana di dalam rumah nampak sepi, Sari masuk ke dalam ruang tamu, kosong.


Perlahan sambil mengendap-endap menuju ruang tengah, juga kosong.


" Kenapa kamu berjalan mengendap seperti itu ?", Sari langsung terlonjak kaget ketika suara bariton terdengar di belakangnya.


" Kak Dimas!"


" Ah....nyebelin, bikin Sari takut saja!", Sari memukul lengan kakaknya dengan keras.


" Aw...!"


" Ya maaf, aku ke sini nggak ada orang, jadi aku ke bengkel minjem kunci rumah sama Hendrik".


" Memangnya ada perlu apa ke sini?, penting banget?", Sari duduk di sofa ruang tengah sambil menyenderkan punggungnya, saking lelahnya.


" Mama sama Papa katanya di rumah kakek Atmo, kita ke rumah kakek bareng yuk...", ajak Dimas, sambil ikut duduk dan memainkan gawainya.


" Nanti siangan, aku masih capek banget Kak, pengin istirahat dulu", ujar Sari memejamkan matanya.


" Rasyid sama Musa mana?".


Sari langsung menepuk jidatnya, dan berlari keluar rumah, kemudian masuk kembali bersama Bi Nunung yang sedang membopong Rasyid yang sudah tidur dengan pulas.


" Aku lupa tadi ninggalin bi Nunung dan Rasyid di mobil hehehe", Sari terkekeh geli dengan kelakuannya sendiri.


Bi Nunung mengangguk menyapa Dimas sambil berjalan menuju kamar Sari, untuk meletakkan Rasyid di kasur. Kemudian bergabung di ruang tengah bersama Dimas dan Sari.


" Bibi nanti mau ikut?"


" Kemana Mas?"


" Ke rumah kakek Atmo, mama sama papa mudik, mumpung libur cukup lama katanya".


" Oke Mas, kalau mba Sari ikut, bibi tentu saja mau ikut juga".


" Tapi mau mandi dulu Mas, oh ya maaf bibi nggak masak hari ini, semuanya puasa, kalau mau sarapan, nanti bibi masakin mie instan Mas".


Dimas menggeleng, "sudah sarapan di rumah Bi, ibu mertua masak pagi-pagi buta, katanya pesenan untuk acara pagi, jadi lebih awal tadi bangunnya".


" Linda mana Kak?", Sari yang sudah ganti baju santai dan lebih fresh karena sudah cuci muka, duduk di samping Dimas.


" Di rumah katanya lagi nggak enak badan ya sudah aku tinggal saja" Dimas mengambil remote TV dan menyalakannya.

__ADS_1


Hari Minggu pagi kebanyakan acara adalah kartun dan acara keluarga membuat Dimas merasa bosan kemudian mematikannya lagi.


" Kakak ini, istri lagi nggak enak badan, malah di tinggal pergi, seharusnya di rumah saja, mumpung liburan, jadi bisa merawat istri yang lagi nggak enak body!".


" Kalau Mas Musa kayak kakak, sudah pasti aku akan langsung marah-marah dan nggak kasih jatah selama seminggu", gerutu Sari.


" Ye... bukannya nggak perhatian, tapi Linda yang nyuruh kakak ke rumah kakek, tapi nyuruh nyamperin kamu dulu biar kamu periksa Linda dulu Sar, siapa tahu setelah kamu kasih obat, Linda bisa cepet sembuh".


" Kasihan juga sudah dua hari pucat banget, mau ngajak ML jadi nggak enak, tapi sudah libur dua hari, rasanya kepalaku pusing".


Sari langsung menoyor kepala Dimas dengan telunjuknya, " dasar nggak ada akhlak, istri sakit malah mikirnya ke situ mulu, kalau tahu pucat sejak dua hari yang lalu, kenapa nggak di bawa ke dokter langsung?". Sari tidak habis pikir dengan cara berpikir kakaknya.


" Ya sudah ayo ke rumah Linda dulu, mumpung Rasyid masih tidur".


Sari mengambil stetoskop dan koper kecil berisi beberapa peralatan medis dan obat-obatan.


Sari memang kadang dapat panggilan jika ada tetangga dekat atau saudara yang sakit untuk mengobatinya. Tidak secara resmi memasang plang menerima panggilan jika ada orang sakit, tapi mulai beberapa minggu yang lalu, Sari sudah mulai sering ke rumah-rumah orang sakit yang membutuhkan pertolongannya.


Kadang juga ada yang datang ke rumah untuk berobat, sehingga Sari menggunakan kamar yang berada di samping ruang tamu, kamar paling depan di rumah Musa, sebagai ruang pemeriksaan.


Sari sudah ada keniatan untuk membuka praktek di rumah, tapi menunggu waktu yang tepat, karena sekarang Sari masih sibuk dengan pekerjaan di rumah sakit, juga sibuk dengan tugasnya sebagai ibu rumahtangga, dengan anak yang masih kecil. Masih butuh perhatian penuh.


Sari dan Dimas sampai di rumah Linda, Sari menitipkan Rasyid pada bi Nunung, dan sudah meninggalkan ASI di kulkas, jika sewaktu-waktu Rasyid bangun dan minta mimi.


" Gimana sih kamu Lin... sudah menikah malah jadi sakit begini, pasti kak Dimas tidak merawat kamu dengan baik ya ?", Sari memasang stetoskop di telinganya, kemudian menekan-nekan di dada Linda.


" Kakak memang tega banget, sudah tau Linda lagi sakit, tapi masih saja tuh, banyak banget kissmark di leher Linda!", Sari langsung memarahi kakaknya, untung ibu dan ayah Linda sedang tidak di rumah.


" Itu sudah tiga hari yang lalu, cuman masih membekas saja", Dimas membela diri, sedangkan Linda hanya bisa meringis.


" Tekanan darah kamu terlalu rendah, besok bikin sate kambing yang banyak, mumpung lebaran haji, pasti dapat jatah daging kambing dan sapi banyak, biar bisa langsung tinggi tensinya, hehehehe".


" Seriusan dia pucat cuma karena tensi darahnya rendah?", Dimas kurang yakin.


" Ya iyalah, memang kakak kira Linda kenapa?".


" Kakak kira...Linda positif, hehehehe", Dimas cengengesan sambil menggaruk rambutnya yang tidak gatal.


" Bukan..., belum positif, sudah aku periksa tadi", terang Sari.


" Bagus lah kalau begitu aku akan berusaha lebih keras agar Linda cepat hamil" sorot mata Dimas terlihat begitu berapi-api, dengan bibir yang tersenyum mengembang.


Sari menggelengkan kepalanya, " memang sudah seperti itu kan tiap hari. Linda itu tensinya rendah pasti karena terlalu sering kakak ajak bertempur dan begadang, makanya Linda kecapekan dan kurang tidur". Sari membereskan peralatan medis dan memberikan beberapa vitamin juga penambah darah, agar Linda cepat pulih dan sehat.


" Habis ini kalian mau langsung ke rumah Kakek", Linda yang sudah sarapan langsung meminum vitamin dari Sari.


" Aku balik dulu, Rasyid masih di rumah, mas Musa juga masih di kampus, mungkin pulang siang".

__ADS_1


" Sore saja ke rumah kakeknya, aku mau istirahat dulu, masih capek banget setelah mengikuti acara family gathering kemarin".


Linda mengangguk, kemudian mengambil panci susun dan menyerahkan pada Sari.


" Ini dari ibuku, tadi ibu tahu kamu akan datang, jadi menyiapkan ini biar bisa kamu bawa pulang".


" Wah...rejeki anak Solehah, hehehe".


" Lumayan buat buka puasa nanti nggak usah masak".


" Kita ke rumah kakeknya habis maghrib ya, sayang kan kalau makanan dari ibu kamu nggak kemakan gara-gara aku dan orang serumah pergi ke rumah kakek ?".


" Iya... kamu kabari saja kalau sudah siap, nanti aku ke rumah kamu, kita nginep kan di sana?", tanya Dimas.


" Nginep boleh, mumpung lagi pada ngumpul semua, kan rame... asyik".


" Ya sudah aku balik dulu, diminum vitaminnya dan istirahat ya Lin, jangan kecapekan". Sari memeluk Linda dan cipika-cipiki, kemudian berjalan keluar bersama Dimas.


" Kakak di rumah saja, kasihan Linda sendirian, Sari naik ojek itu di depan banyak tukang ojek mangkal".


" Sampaikan makasih buat ibunya Linda buat makanannya".


" Oke, kamu hati-hati di jalan ya, makasih sudah memeriksa Linda", Dimas melambaikan tangan.


Sari keluar dari rumah Linda dan berjalan menuju pangkalan ojek di dekat Masjid tempat Linda menikah beberapa waktu lalu.


" Tiiin...tin....", bunyi klakson mobil membuat Sari menoleh ke dalam mobil dan tersenyum lebar.


Sari sampai di rumah saat Rasyid sudah terbangun dan sedang menangis. " Untung tadi ayah jemput bunda, jadi nggak kelamaan, aduh putra bunda pasti ngambek ya, tadi bunda tinggal ke rumah Bude".


Sari langsung mengASI hi Rasyid yang langsung menghentikan tangisannya ketika Sari mendekap tubuh bayi gembul itu.


" Mas, tolong bilang bi Nunung, itu panci susun berisi makanan dari ibunya Linda, tolong di masukan ke kulkas biar nggak basi".


Dan saat adzan Maghrib berkumandang mereka bertiga berbuka puasa bersama, hanya cukup menghangatkan lauk dari ibunya Linda, sudah ada 4 jenis masakan, ada perkedel dan bakwan jagung, sayur tempe, sop iga dan sambel goreng ati. Sudah cukup mengenyangkan.


Dimas dan Linda sudah sampai di rumah Musa saat mereka hendak berbuka. Linda yang sudah terlihat lebih segar, tidak sepucat tadi pagi, sengaja masuk ke kamar dan bermain bersama Rasyid.


Mereka berlima sampai di rumah kakek Atmo usai sholat Isa. Kakek, mama dan papa langsung menyambut kedatangan mereka semua.


Saat sedang ngobrol santai di teras rumah, kakek Atmo mengatakan hal yang diluar dugaan.


" Alhamdulillah, cucu dan buyut kakek semuanya datang berkumpul, rasanya jika tiba-tiba kakek dipanggil Yang Maha Kuasa untuk menghadap, kakek sudah ikhlas".


Kalimat Kakek Atmo membuat semua yang sedang mengobrol sambil tertawa dan bercanda langsung berubah datar.


" Kakek ini ngomong apa, nggak boleh bilang seperti itu, kakek masih sehat, jadi pasti masih akan di beri kesempatan melihat cucu buyut kakek yang lain", Sari duduk dan bersandar di lengan kakeknya.

__ADS_1


Kakek Atmo hanya tersenyum tidak berusaha menimpali.


__ADS_2