
Ketika kenyataan tidak sesuai dengan yang di rencanakan..
***
Sore hari saat pulang kuliah, Yanto sengaja mampir ke rumah Sari untuk menjemput ibunya yang telah selesai bekerja membersihkan rumah.
Yanto sampai di rumah Sari, sekitar 5 menit setelah Sari sampai. Sari memesan ojek online sehingga lebih cepat sampai daripada Yanto yang mengendarai sepeda.
Sore ini cuaca cerah, langit biru dengan sedikit corak kekuningan di ujung barat, karena awan yang cukup tebal terkena sorot matahari yang mulai masuk di ujung cakrawala.
" Assalamualaikum...", Yanto mengucap salam saat menemukan nomer rumah pada alamat yang sesuai dengan yang di catatnya semalam, Yanto sengaja mencatat juga alamat yang diberikan Sari pada ibunya kemarin, karena berniat untuk menjemput ibunya untuk pulang bersama, bertujuan untuk menghemat ongkos.
" Wa'alaikum salam", Bu Yani berjalan cepat membukakan pintu rumah.
" Sudah sampai To, ibu juga sudah selesai bersih-bersih rumah nya, tunggu sebentar, ibu mau pamitan sama Mas Musa dan Mba Sari dulu", Bu Yani masuk ke dalam rumah kembali, berpamitan pada Sari yang baru keluar dari kamarnya, usai membersihkan diri dan berganti pakaian. Bu Yani juga berpamitan dengan Musa yang berada di ruang kerja, masih sibuk di depan laptop nya.
Lima menit kemudian Bu Yani keluar, Sari pun mengantar kepergiannya sampai di pintu gerbang, sedangkan Musa masih sibuk dengan pekerjaannya.
Sari kembali masuk ke dalam rumah setelah Yanto dan ibunya menghilang di tikungan, Sari menghampiri suaminya yang ekspresinya begitu serius menatap layar laptop.
" Kenapa Mas?, apa ada yang nggak beres?, ada yang bisa Sari bantu?", tanya Sari yang berdiri menyender di senderan kursi tempat menyender punggung Musa.
" Nggak papa, cuma lagi ngecek laporan dari Hendrik, harus banyak belanja onderdil dan sparepart karena di bengkel sudah banyak yang kosong. Kamu sudah makan?", tanya Musa memutar kursinya menghadap Sari yang masih berdiri di belakangnya ikut menatap layar laptop.
" Sudah, mas sudah makan ?, tadi Sari makan siang di kantin kampus, sempet ngobrol sama Yanto juga", ujar Sari.
" Mas juga sudah makan di kantor tadi siang. Ngobrol apa sama Yanto?", Musa menutup buku catatan dan mematikan laptopnya.
" Em...Yanto bilang bapaknya sudah ada incaran kios, tapi mau tanya berapa biaya sewanya, dan mau di pertimbangkan lagi bagaimana posisinya, strategis atau tidak, Sari sih bilang sama Yanto terserah mereka saja, kita ngikut baiknya bagaimana", ujar Sari.
__ADS_1
Musa hanya mengangguk-angguk sambil berdiri merangkul Sari dan mengajaknya keluar dari ruang kerja.
" Bagaimana kuliah kamu?, apa ada kesulitan?, tadi siang saat Mas menjenguk salah satu rekan dosen yang sakit di rumah sakit umum daerah, Mas bertemu dengan salah satu teman SMA mas dulu di Solo, dia ternyata sekarang menjadi dokter spesialis Syaraf di rumah sakit. Hebat sekali dia sudah menjadi dokter spesialis dengan usia yang masih sangat muda, kalau kamu tekun belajar dan lulus tepat waktu tidak ada halangan, kamu juga insyaallah bisa seperti teman Mas, bisa menjadi dokter di usia muda", ucap Musa.
Musa duduk di sofa ruang santai bersama Sari berdampingan. Namun tiba-tiba ekspresi Sari yang tadi sumringah berubah menjadi serius.
" Mas nggak pengin punya anak cepet-cepet kan?".
" Sebenarnya Sari mau mengakui sesuatu sama Mas, tapi janji Mas jangan marah setelah Sari mengatakannya", Sari menatap mata Musa dengan lekat.
" Sebuah pengakuan?, apa kamu merasa sudah berbuat salah sama Mas", Musa tengah menebak-nebak apa yang akan Sari katakan, kalau benar tebakannya, tentang apa yang akan Sari sampaikan, maka Musa tidak akan mempermasalahkannya.
Dan ternyata benar, Sari membahas tentang alat kontrasepsi yang di pasang di lengan tangan kirinya. Musa sebenarnya sudah merabanya kemarin, saat tengah memijit Sari yang berendam di bathtub.
" Sari sudah memasang KB implan esok harinya setelah kita menikah. Maaf tidak meminta persetujuan Mas, Sari hanya takut kalau setelah menikah terus Sari hamil, Mas tahu kan Sari pengin bisa jadi dokter, Dan Sari tidak ingin gara-gara hamil muda, mengacaukan semua rencana yang sudah Sari rancang sedemikian rupa", ujar Sari menjelaskan.
Ingin marah, tentu saja, tapi tidak bisa. Dia yang menyetujui Sari mengejar cita-citanya, dan berjanji untuk mendukungnya. Jadi jika harus marah orang yang paling tepat untuk dimarahi adalah dirinya sendiri. Banyak sekali perempuan yang mendekatinya sebelum menikah dengan Sari, tapi semua di tolak, karena memang hati dan pikirannya tertuju hanya pada Sari, maka yang bisa Musa lakukan saat ini hanya mengikuti arus, membiarkan Sari melakukan apa yang jadi tujuan hidupnya, dan menggapai cita-citanya.
" Apa ada lagi yang belum mas ketahui selain itu?", tanya Musa.
Sari langsung menggelengkan kepalanya.
" Jadi hanya itu pengakuanmu?, jika Mas mengijinkan dan membiarkan kamu memasang KB tanpa sepengetahuan Mas, apa kamu mau mengabulkan permintaan Mas?".
" Apa?", tanya Sari.
" Setelah kamu selesai koas..., Mas harap kamu siap untuk hamil, karena hamil itu sudah jadi kodrat nya wanita yang sudah menikah, kedua orang tua kamu dan kedua orang tua Mas, pasti juga ingin kita memiliki keturunan". Musa berkata dengan suara yang lirih, takut Sari yang sedang merasa bersalah jadi merasa dirinya dimarahi jika nada suaranya keras.
Sari langsung mengangguk cepat. " Sebenarnya rencana Sari, kalau Sari selesai koas dan sudah jadi dokter yang sesungguhnya, Sari mau pernikahan kita di daftarkan ke KUA dan di legalkan, setelah itu kita bisa langsung melakukan program hamil. Semoga Allah mengabulkan semua rencana Sari kedepannya, aamiin".
__ADS_1
Musa menyeringai mendengar ucapan Sari,
" Kita sebagai manusia hanya bisa berencana, berusaha dan berdoa, selebihnya kita serahkan pada Yang Maha Kuasa, karena Dia lah yang maha mengatur segalanya, kita tidak boleh menjadi kufur nikmat, jika ternyata yang terjadi tidak sesuai dengan yang kita rencanakan".
***
Dan benar saja, semua rencana tidak selalu sesuai dengan yang diharapkan, sudah tiga tahun usia pernikahan Sari dan Musa berjalan dengan mulus tanpa ada masalah serius yang mereka alami, semua itu tentu karena kesabaran Musa menghadapi tingkah laku Sari yang masih sesukanya sendiri dan sedikit kekanak-kanakan.
Sari sudah lulus menjadi sarjana kedokteran, saat ini sedang mengikuti koas di salah satu rumah sakit di daerahnya, Sari sengaja mengajukan permohonan koas di daerahnya sendiri, agar bisa pulang kerumah setiap hari, meski hanya beberapa jam, karena sejak menjalani koas, Sari berangkat pagi-pagi sekali dan pulang hingga larut malam.
Sari bahkan tidak memasang KB lagi setelah beberapa hari yang lalu melepasnya. Sari sudah berkonsultasi dengan salah satu dokter kandungan kenalannya, menceritakan tentang kasusnya, dan rencana Sari untuk bisa hamil setelah selesai koas.
Dokter kandungan menyarankan Sari untuk tidak menggunakan KB lagi dalam bentuk apapun, karena perempuan yang belum pernah hamil, sebaiknya tidak melakukan KB terlebih dahulu, karena pada kasus Sari sudah terlanjur terjadi, maka Dokter hanya menyarankan Sari untuk tidak lagi melakukan KB. Bertujuan untuk menyuburkan kandungannya, dan membersihkan sisa hormon KB yang masih tersisa di dalam tubuh.
Sari yang kelelahan setiap pulang dari rumah sakit sering langsung tidur di samping Musa yang sudah tidur terlebih dahulu.
Awal Sari koas, Musa selalu menunggu hingga Sari pulang, tapi setelah dua bulan koas, dan Sari sering sekali pulang hingga larut malam, Sari menyuruh Musa untuk tidur terlebih dahulu, meski dia belum pulang, istirahat yang cukup sangat di butuhkan agar Musa bisa fokus saat mengajar di kampus. Belum lagi pekerjaannya mengecek laporan dari hotel, bengkel, konter HP, dan juga toko baju.
Bahkan saat ini warung mie ayam Bapaknya Yanto sudah memiliki kios sendiri, dan sudah buka cabang di dua tempat. Bapaknya Yanto sudah menjadi pengusaha Mie ayam yang sukses sejak bekerja sama dengan Musa tiga tahun silam.
Meski bisnis sampingan Musa berjalan dengan lancar dan bisa menghasilkan pundi-pundi uang yang banyak, Musa masih merasa belum lengkap karena masih harus sabar menunggu satu tahun lagi, sampai Sari selesai koas, baru dia bisa mengabulkan keinginan kedua orang tuanya untuk bisa memberikan cucu.
Tengah malam Musa sering terbangun dari tidurnya dan menjumpai Sari yang tidur dengan lelap karena kecapekan. Sampai entah beberapa malam Musa 'melakukan itu' sendiri tanpa sepengetahuan Sari, membiarkan Sari tetap terlelap. Hanya pagi harinya saat Sari terbangun, Musa menyuruhnya untuk mandi junub. Sari hanya menurut tanpa banyak bertanya, karena Sari memaklumi apa yang Musa lakukan memang kebutuhan batinnya. Juga haknya sebagai seorang suami.
Dan di bulan ke delapan , Sari menjalani koas, dia akhirnya ambruk, merasa kepala pusing, meriang, dan badan lemes, Sari akhirnya di rawat di rumah sakit tempatnya menjalani koas. Teman-temannya yang merawatnya, Musa juga selalu setia menemani Sari hingga seminggu di rawat di rumah sakit. Untung saja Sari drop saat jadwal Musa mengajar tengah libur usai ujian. Jadi Musa bisa menjaganya siang dan Malam.
Rizal yang tadinya belum tahu jika Sari sudah menikah dengan Musa, kini jadi tahu setelah melihat setiap hari Musa menjaganya siang dan malam saat Sari di rawat, Rizal juga mendengar dari Agung saat menjenguk Sari di rumah sakit, tentang pernikahan Sari 3 tahun yang lalu.
Akhirnya rencana Rizal yang sudah di diskusikan dengan ayah ibunya akan melamar Sari usai koas langsung pupus di tengah jalan. Kesedihannya semakin mendalam ketika tahu ternyata yang menikahi Sari adalah guru SMA nya dulu. Semua ini adalah hal yang sangat absurd baginya.
__ADS_1