Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Minggu Pagi di Pasar


__ADS_3

Pagi hari Bi Nunung datang sekitar pukul setengah 6. Langsung menuju ke belakang dan begitu terkejut, sekaligus bahagia melihat keberadaan Sari dan Musa di wilayah kekuasaannya 'dapur'.


" Wah, selamat pagi mba Sari , selamat pagi Ustadz Musa, semalam nginep disini toh?, sampai di sini jam berapa kemarin?, bibi kemarin pulang jam setengah 5", Ujar bi Nunung sambil memeluk Sari yang selesai mencuci beras untuk dimasak.


" Kami sampai jam 5 sore kemarin, mau ke sini siang, tapi malah ketiduran habis bersih-bersih rumah. Bibi sehat?", tanya Sari saat bi Nunung melepas pelukannya.


" Alhamdulillah sehat Mba, aduh... terimakasih ini sudah di bantu masak lebih awal, ini berasnya masak banyak banget mba", Bi Nunung melirik ke arah beras yang sedang Sari masukkan ke dalam rice cooker.


" Iya bi, ada teman-teman Kak Dimas yang nginep disini semalam, mereka masih di kamarnya, tadi habis subuh berjama'ah katanya mau tidur lagi mumpung mingguan", terang Sari.


" Ya sudah, karena bi Nunung sudah datang, Mas ke depan ya bantu Kakek menyirami tanaman", Musa pamit keluar pada Sari, yang di jawab anggukan oleh Sari.


" Bibi kemarin belanja nggak banyak, bagaimana ini Mba?", tanya bi Nunung yang kemarin hanya belanja kangkung, tempe dan ikan tongkol ke penjual sayur keliling.


" Kita ke pasar yuk bi ?, sekalian belanja sayur yang banyak buat seminggu ke depan", ajak Sari.


" Apa nggak papa ini keluar, dibolehin sama ustadz Musa?", tanya Bi Nunung.


" Boleh, malah dia yang nyuruh ke pasar tadi, sekalian Sari juga mau belanja buat di rumah, nyetok sayuran buat seminggu, nanti pulang dari Pasar mampir ke rumah Mas Musa lebih dulu, naruh sayuran di kulkas, baru kita ke sini lagi",Sari menarik tangan bi Nunung untuk berjalan menuju garasi, mengambil motor matic yang dulu sering Sari pakai untuk berangkat kuliah.


Sejak pindah ke rumah Musa, Sari sudah jarang mengendarainya, karena Musa yang selalu menjadi suami siaga yang mengantar Sari kuliah.


Bi Nunung mengambil tas jinjing yang terbuat dari anyaman plastik yang biasa digunakan untuk belanja ke pasar saat Sari mengambil motor di garasi.


Saat keluar ke halaman rumah, embun pagi masih cukup pekat, membuat hawa dingin langsung terasa menerpa wajah dan telapak tangan Sari.


" Pakai jaket kalau mau bawa motor, masih pagi, embunnya masih tebal, pasti dingin menembus jalanan sepagi ini", Musa langsung berlari ke kamar dan mengambil jaket Sari di kamar, kemudian memakaikan jaket tebal pada Sari.

__ADS_1


" Kita jalan dulu ya Mas, assalamualaikum", Sari berpamitan pada Musa dan melajukan motornya setelah bi Nunung naik ke atas boncengan.


Benar juga yang dikatakan Musa, embun pagi yang sangat tebal membuat Sari merasa kedinginan, sehingga Sari melajukan motornya dengan pelan.


" Masih kepagian Mba, makanya masih tebal embunnya, pelan-pelan saja menjalankan motornya, bibi yang bonceng saja kedinginan, apalagi mba Sari yang duduk di depan", ucap Bi Nunung.


***


Di pasar tidak sengaja Sari bertemu Eli dan ibunya yang tengah belanja juga di pasar.


" Eh nak Sari, kebetulan ketemu disini, sudah lama nggak main ke rumah, terakhir main dulu waktu liburan kelulusan ya, sudah setahun lebih nggak ketemu sama ibu", ujar Ibunya Eli. Yang saat dulu Sari main ke rumahnya, tidak mau di panggil tante, maunya di panggil 'ibu' sama teman-temannya Eli.


" Iya, maaf ya, nggak kebagian waktu buat main ke rumah ibu, kan ibu tahu sendiri setiap hari pulang sore, ada kegiatan ini dan itu, Sabtu minggu dipakai buat istirahat dan tidur di rumah", ujar Sari.


" Kalian baru sampai juga?", Sari melirik ke tas jinjing dari anyaman plastik yang di bawa oleh ibunya Eli, masih kosong.


" Iya Sar, aku sama ibu baru sampai, sama ibunya Rizal juga tadi pas mau ke sini naik motor keluar pintu gerbang, ibunya Rizal juga lagi naik motor mau ke sini, jadi bareng-bareng", Eli menunjuk ibu-ibu yang sedang menawar cabai dengan arah matanya.


" Kenal ibu", Sari menjawab dengan singkat.


" Bagaimana bisa nggak kenal kalau dari SMA kelas 12 sudah sekelas, ikut lomba debat bareng-bareng, bahkan Rizal juga kelihatan banget naksir sama Sari", gumam Eli lirih.


Tapi masih terdengar oleh ibunya dan juga Sari. Sehingga Sari menepuk pundak Eli agar tidak terus ngomong nggak jelas.


" Aku mau ke penjual sayur langganan bi Nunung dulu ya Bu, El, maaf duluan", Sari mbungkukkan badannya dan pergi menuju penjual sayur langganan bi Nunung, meninggalkan Eli yang masih manyun karena tepukan Sari yang cukup keras di pundaknya.


" Apa Mas Rizal itu yang dulu sering nganter Mba Sari yang papasan sama bibi kalau bibi mau pulang ke rumah?". Memang beberapa kali Sari di antar oleh Rizal saat awal kuliah, apalagi saat harus pulang sore dan Mas Soleh tidak bisa jemput. Saat Sari belum berani membawa motor sendiri, akhirnya di antar oleh Rizal, dan beberapa kali juga berpapasan dengan bi Nunung saat bi Nunung hendak pulang kerumahnya.

__ADS_1


" Betul Bi, Rizal itu temen kuliah yang dulu beberapa kali pernah nganterin Sari pulang", jawab Sari.


" Wah pantes saja mau nganterin, wong dia ada hati sama mba Sari, kasihan ya ganteng-ganteng malah nggak kesampaian cintanya, kalah cepat sama ustadz Musa, hihihihi", Bi Nunung menutup mulutnya sambil cekikikan.


Suasana pasar yang tadi masih sepi, kini sudah mulai semakin ramai, apalagi ini adalah hari Minggu harinya ibu-ibu yang jarang ke pasar pun jadi ke pasar untuk belanja karena tengah liburan. Membuat penjual berubah menjadi seorang akuntan handal, menghafal harga barang-barang jualannya, sekaligus menghitung cepat tiap kali ada pembeli yang selesai belanja. Karena harus melayani pembeli lainnya.


" Saya sudah Bu, ini semua belanjaan saya", Sari menunjuk beberapa sayuran yang sengaja di beli dua kali lipat untuk di bagi nanti, sebagian untuk di simpan di kulkasnya, dan sebagian untuk di bawa kerumah kakek Atmo.


Di pasar tradisional memang tidak menggunakan struk pembelian, hanya menjumlah menggunakan kalkulator, dan mencatat barang belanjaan di sobekan kertas sisa bungkus rokok, atau bungkusan lainnya yang berwujud kertas.


" Total 356.200 rupiah, dibulatkan saja, 356.000, yang 200nya saya diskon", ucap si penjual, Sari hanya tersenyum saat mendengar 'yang 200 saya diskon', penjual dari orang pribumi memang beda dengan penjual Koko atau Cici yang dari cina, 200 rupiah pun biasanya tetap harus di bayar, nggak ada potongan.


Sari dan Bi Nunung lanjut membeli daging dan ikan, berjalan beberapa blok dari penjual sayur, di pasar memang daging dan ayam masih segar-segar, cuma pengemasannya yang terlihat kurang higienis, tidak seperti di swalayan yang biasanya daging atau ayam sudah terbungkus rapi.


" Loh ketemu lagi, mau beli daging juga?", tanya ibunya Eli yang juga sedang membeli daging bersama ibunya Rizal, sedangkan Eli sudah berada di parkiran, membawa belanjaan ke motornya.


" Iya ibu, mau nyoba bikin nasi kebuli, tapi karena Sari nggak terlalu suka daging kambing yang bau banget, Sari mau pakai daging sapi sebagai gantinya", Sari memang ingin bisa masak masakan daerah timur tengah seperti Umi, agar Musa makin cinta, hehehe...


" Apa ini yang namanya Sari, teman Rizal dan Eli?", tanya ibunya Rizal, menatap Sari dari atas ke bawah, dengan begitu lekat.


" Iya saya Sari, salam kenal Tante", Sari bersalaman dengan ibunya Rizal.


" Saya daging sama iga nya satu kilo ya pak", ucap Sari memesan pada penjual".


" Kami duluan ya, sudah selesai belanjanya, mau pulang duluan", Ibunya Eli dan ibunya Rizal pergi meninggalkan Sari dan Bi Nunung yang masih di penjual daging.


" Kok ibu-ibu tadi ngelihatin mba Sari nya begitu banget ya... kaya gimana gitu....", gumam bi Nunung.

__ADS_1


" Gimana gitu...maksudnya gimana bi?, jangan su'udzon, nggak baik ".


Sari mengajak Bi Nunung untuk pulang, tapi saat sudah di parkiran, tiba-tiba Dimas mengirim pesan dan meminta Sari membelikan jajan pasar. Terpaksa Sari masuk kembali ke dalam pasar dan meninggalkan bi Nunung dan belanjaannya di parkiran.


__ADS_2