Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Terciduk


__ADS_3

Sari sampai di rumah ketika adzan maghrib berkumandang. Kakek Atmo bahkan sudah berangkat ke masjid untuk sholat Maghrib berjamaah.


Di rumah sepi, tidak ada siapa-siapa. Sari langsung masuk ke dalam kamar, mandi dan menjalankan sholat Maghrib sendirian di rumah.


Usai Maghrib Sari berjalan ke ruang makan melihat makanan apa yang sudah di siapkan oleh Bi Nunung untuknya. Tapi Sari hanya menjumpai nasi putih dan telor ceplok yang sudah dingin.


" Apa bi Nunung tidak masak tadi sore?", pikir Sari.


Sari melihat ke dalam kulkas, hanya ada buah-buahan dan telur.


" Nyesel banget tadi di suruh makan di tempat Eli malah nolak, padahal sudah di belikan mie ayam", gumam Sari, sambil mengambil apel dari dalam kulkas mencucinya di wastafel dan berjalan keluar menuju teras sambil memakan apel, Sari berencana mau nungguin penjual baso keliling lewat.


" Assalamualaikum ", Musa datang lebih awal dari biasanya. Padahal kakek Atmo belum kembali dari masjid, tapi Musa sudah datang untuk mengajar ngaji.


" Wa'alaikum salam, Eh ustadz sudah hadir, maaf Sari malah belum siap-siap", ujar Sari sambil meringis. Memang Sari masih memakai kaos dan celana kulot, belum berpakaian rapi untuk mengaji, belum memakai hijab juga.


" Iya nggak papa, memang saya yang datangnya lebih awal dari biasanya. Kakek ada di dalam?", tanya Musa.


Sari menggeleng,


" Kakek belum pulang dari masjid, bahkan Sari belum ketemu sama Kakek, tadi pas Sari pulang kakek sudah nggak ada di rumah, biasanya sih ke Masjid", tebak Sari.


" Terus kenapa kamu duduk di luar?", tanya Musa dengan tatapan menyelidik.


" Sari lapar, belum makan malam, tapi di dalam cuma ada nasi putih sama telor. Sari lagi nunggu Abang tukang bakso lewat, hehehehe".


Ting.....ting.....ting....ting.......


Sari langsung tersenyum sumringah ketika mendengar bunyi mangkok beling yang di pukul dengan sendok oleh penjual bakso keliling.


" Wah Abang tukang baksonya panjang umur, Sari pesen dulu sebentar ya Tadz".


Sari berlari keluar rumah menyetop penjual bakso keliling dan membeli tiga porsi bakso.


" Bungkus tiga ya Pak, saos sambal nya di pisah".

__ADS_1


" Baik Mba, nggak pakai mangkok langsung saja mba?, nanti mangkoknya di tinggal disini nggak papa, besok kan saya lewat lagi,di balikin besok saja mangkoknya". ucap penjual bakso.


" Boleh begitu bang?, kalau boleh ya pakai mangkok saja", ujar Sari. Saya tunggu di teras ya Bang, nanti antar ke sana". Sari menyerahkan uang 50 ribuan pada penjual bakso.


" Oke siap mba", Abang tukang bakso langsung meracik bakso dengan begitu cepat. Sari berjalan masuk kerumah mengambil dua gelas berisi air putih penuh dan meletakkan di meja kayu yang berada di teras. Tak lama kemudian tiga mangkok bakso di sajikan di atas meja kayu yang ada di teras. Juga meletakkan uang kembalian di meja itu.


" Makasih ya bang", Sari langsung membubuhi bakso miliknya dengan tiga sendok penuh sambal cabai merah.


Abang tukang bakso mengangguk dan undur diri karena mau keliling lagi.


" Ayo Tadz temenin Sari makan, tapi maaf duduknya di luar ya, soalnya kakek belum pulang", Musa mengangguk memahami maksud Sari. Untuk menghindari fitnah, jika bukan muhrim berduaan di dalam rumah.


" Jadi tadi jalan-jalan sama teman-teman kamu sampai sore?", Musa bertanya di sela makannya.


Sari mengangguk, " sebenernya jalan-jalan nya cuma sampai Dzuhur, habis itu main ke rumah Eli. Ternyata rumah Eli itu sekompleks dengan rumah Rizal lho Tadz. Sari baru tahu kalau mereka bertetangga".


Musa mengingat-ingat komplek rumah Rizal saat dia mengantarkan Rizal sepulang wawancara di radio beberapa waktu lalu.


" Jadi dekat rumahnya?, kamu ketemu sama Rizal di sana?", Musa mencoba menyelidiki.


" Setelah sampai di rumah Eli, kami berempat main di dalam rumah, nggak keluar-keluar komplek, jadi nggak ketemu sama Rizal disana".


" Benar bukan?, aku nggak ketemu Rizal di komplek rumah Eli, jadi ucapanku nggak berbohong kan tadi", batin Sari.


Musa hanya tersenyum mendengar penjelasan Sari.


" Tadi siang saya juga sempat mampir sholat Dzuhur di Masjid agung Baitussalam. Di sana ada banyak anak SMA yang mampir untuk menjalankan sholat Dzuhur".


Ternyata Musa juga melihat Sari dan yang lain, saat keluar dari dalam masjid, setelah dia sholat di masjid yang sama, termasuk melihat Rizal juga di sana. Tapi Musa tidak menyapa mereka, karena sedang buru-buru untuk mengikuti seminar di Luminor hotel.


" Uhuk.....uhuk....", Sari tersedak kuah bakso yang tadi sudah di tambah tiga sendok sambel.


" Kamu itu suka sekali tiba-tiba tersedak" ucap Musa, langsung menyodorkan gelas air putih yang masih penuh, dan langsung di tenggak habis oleh Sari. Musa juga menyerahkan sapu tangan miliknya, agar Sari bisa membersihkan wajahnya yang belepotan.


" Be.. benarkah, ustadz juga di sana?", Sari begitu panik karena Musa mengatakan melihat banyak anak SMA di masjid yang sama. "Jangan-jangan ustad melihatku bersama Rizal, tapi kenapa tidak menyapa jika melihatku tadi siang", pikir Sari sambil mengelap wajahnya dengan sapu tangan pemberian Musa.

__ADS_1


"Ya..., ada undangan seminar di Luminor hotel jam 1 siang, jadi saya dan Pak Irsyad mampir ke masjid untuk sholat Dzuhur terlebih dahulu sebelum ke lokasi seminar", jawab Musa menjelaskan.


" Mungkin ustadz tidak melihatku, buktinya tidake menanyakan apa-apa ", pikir Sari.


Sari akhirnya menyudahi acara makan bakso saat Kakek Atmo pulang dari masjid. Tenggorokannya sudah sangat panas, tidak mau semakin panas jika makannya di lanjutkan.


Selama satu jam Musa menyimak Sari mengaji, sekarang Sari sudah sampai di Jus 4, lumayan semakin lama bisa membaca semakin baik, lancar dan lebih cepat.


Musa pamit pulang setelah jam menunjukan jam 8 malam.


" Terimakasih Ustad Musa, sudah sabar membimbing cucu kakek selama ini", ucap Kakek Atmo saat Musa berpamitan dan naik ke atas motornya.


Setelah Ustadz Musa sudah hilang di tikungan, Kakek kembali menutup pintu gerbang.


" Kamu pesan baso sama Puji?", tanya Kakek Atmo.


" Nggak tahu nama penjual baksonya, tapi yang tiap hari keliling lewat depan rumah Kek, yang gerobogan nya warna merah", ujar Sari menjelaskan.


" Iya, dia namanya Puji, rumahnya Deket dengan rumah Bi Nunung", ujar Kakek Atmo sambil masuk ke dalam rumah.


" Oh iya Sar..., tadi kakek agak telat pulang dari masjid karena ngobrol dulu dengan Pak Irsyad, dia bilang tadi siang melihat kamu dan teman-teman kamu di masjid agung Baitussalam saat dia hendak keluar sehabis sholat Dzuhur bersama ustadz Musa, tapi tidak sempat menyapa, karena sedang buru-buru".


Deg.....


Hati Sari seketika langsung mencelos. Berarti benar kalau Musa tadi siang melihatnya bersama teman-temannya, termasuk Rizal.


" Kenapa aku malah menutup-nutupi apa yang ku lakukan tadi, bodohnya kamu Sari", Sari memukuli kepalanya sendiri.


" Loh kamu kenapa Sar?, Kakek ngomong begitu kok kamu malah mukulin kepala, apa pusing?", tanya Kakek Atmo.


" Iya kek, Sari pusing, jadi Sari ke kamar dulu ya kek, mau Sari bawa tidur, biar sembuh pusingnya", Sari berjalan cepat menuju kamar, dan mengunci pintu kamarnya.


Sari langsung meraih ponselnya dan berusaha menelepon Musa, tapi tidak kunjung di angkat. Akhirnya Sari mengirim pesan pada Musa.


~ Ustad... Sari minta maaf kalau membuat ustadz kecewa, Sari tidak bermaksud untuk berbohong, Sari hanya berniat ingin menjaga perasaan Ustadz, sekali lagi Sari mohon maaf ~

__ADS_1


__ADS_2