Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Bahagia Itu Sederhana


__ADS_3

Usai berbuka puasa Sari memilih untuk duduk-duduk di teras rumah sendirian, melihat kembang api yang dimainkan anak-anak kecil di lapangan yang berada di seberang jalan rumah Kakeknya. Memang di sebrang jalan ada lapangan kecil yang biasa digunakan untuk bermain voli atau bulu tangkis.


Kakek dan Papa sedang mengobrol di Gazebo. Sedangkan Mama masih sibuk memasukkan kue ke dalam toples bersama bi Nunung yang baru datang lagi, setelah tadi sore pulang ke rumahnya.


Mama yang meminta bi Nunung membantunya menyelesaikan pembuatan kue kering, yang ternyata memakan waktu cukup lama. Sampai malam mama dan bi Nunung masih berkutat di dapur setelah tadi buka bersama di gazebo.


Sari mengambil ponselnya dan memotret anak-anak kecil yang sedang bermain kembang api dengan ekspresi wajah begitu bahagia, sengaja dibuat status dengan caption ' Bahagia itu sederhana '.


Bukankah begitu?, karena sejatinya kebahagiaan itu muncul dari hati dan pikiran kita, jika hati dan pikiran kita adem, tenang, tentu akan memunculkan kebahagiaan pada pemiliknya.


Sari meletakkan ponselnya di lantai keramik berwarna coklat dengan motif batik. Dia menyandarkan punggungnya di tiang kayu yang berada di teras.


Baru beberapa detik diletakkan, ponsel Sari berbunyi, ada video call dari kedua sahabatnya, Kristin dan Nayla, setiap tahun mereka memang selalu mengucapkan selamat hari raya, meski mereka berbeda keyakinan, tapi toleransi beragama mereka perlu di acungi jempol.


" SARI... KANGEN.....!!!!", Suara kedua sahabatnya langsung pecah saat Sari menggeser gambar gagang telepon berwarna hijau.


" Me too...!!!!", jawab Sari dengan suara lantang, mata Sari langsung berkaca-kaca karena sudah hampir sebulan baru bisa melihat kedua sahabatnya kembali.


Di grup WhatsApp yang mereka bertiga buat memang masih terus saling berkirim kabar, tapi untuk bervideo call baru kali ini semenjak Sari pindah.


Selain Sari yang beberapa waktu lalu disibukan dengan kegiatan mengaji, dan harus di pending karena fokus berlatih untuk mengikuti lomba debat, dan kejadian kecelakaan yang terjadi saat pesantren kilat, membuat Sari lupa untuk mengabari kedua sahabatnya itu.


" Selamat idul Fitri ya Sar..., kangen banget sudah lama nggak liat kamu, tapi kok kamu kelihatan kucel begitu?, nggak ada temen nyalon disitu?", tebak Nayla.


" Benar juga, aku sudah hampir sebulan nggak ke salon, aku sampai lupa", Sari kaget sendiri, karena biasanya setiap sebulan sekali mereka bertiga pasti mengagendakan untuk nyalon bersama, sekedar creambath, facial dan manypady, mungkin itu juga yang membuat Sari terlihat lebih glowing dan bersinar dari kebanyakan siswi di SMA barunya.


" Tangan kamu kenapa ?", Kristin si mata elang, yang paling peka setiap kali melihat ada sesuatu yang janggal.


" Kecelakaan seminggu yang lalu, jatuh dari motor", jawab Sari sambil meringis.


" What...!, kok kamu nggak bilang-bilang sih sama kita, pasti sakit banget ya sampai di gips begitu?, lagian ngapain kamu pakai naik motor segala, bukannya kakek kamu disitu ada mobil?", gerutu Nayla.


" Lagi bonceng motor teman, pas lagi ada acara di sekolah.... padahal bawa motornya juga pelan banget, tapi mungkin memang lagi apes aja, ngga sengaja ada mobil nyalip, jadi kesenggol gitu deh stang motornya, terus motor oleng dan akunya nyungsep.... nyium aspal", terang Sari.


" Kasihan banget bebebku... sekalinya ciuman malah sama aspal, sini aku peluk", gaya Nayla seperti orang yang mau meluk.


" Please deh Nay, gak usah lebay gitu. Yang nyerempet tanggung jawab nggak Sar?", selidik Kristin.


Sari mengangguk, " Iya, malah dia yang maksa aku buat ke rumah sakit, tadinya aku pengin pulang saja, tapi karena jari tengahku bengkak, jadi yang nyerempet khawatir kalau jariku patah, nginep deh di rumah sakit, cuma semalam sih, tapi ya gini akhirnya harus di pasangi gips, karena jari tengahnya retak ", gumam Sari.

__ADS_1


Kedua sahabatnya mengangguk-anggukkan kepalanya, " get well soon ya Sar..., semoga cepet pulih. Jadi kamu mudik ke Malang apa nggak Sar?, kan lagi liburan lama nih", tanya Kristin.


" Pengennya sih mudik, aku juga kangen banget sama kalian berdua, pengen jengukin kak Dimas juga", ucap Sari.


Wajah kedua sahabatnya langsung berubah pias saat Sari menyebut nama kakaknya.


Jujur Kristin dan Nayla juga salah satu penggemar Dimas, mereka berdua sering main kerumah Sari, selain karena mereka bersahabat, Kristin dan Nayla juga seringkali cari-cari kesempatan, kadang melirik ke arah kamar Dimas, atau curi-curi pandang kalau tiba-tiba Dimas lewat saat mereka bertiga sedang ngobrol di ruang santai.


Tapi saat mendengar Dimas ketangkep saat ada penggerebegan di klub malam, membuat kedua sahabat Sari itu sedikit shock, bagaimana tidak, pria yang mereka kagumi ternyata seorang pemakai.


Saat penggerebegan itu memang Dimas sudah lulus dari SMA. Dimas sedang kuliah di salah satu universitas swasta, mungkin karena salah memilih teman dan salah pergaulan, hingga Dimas terjerembab ke lembah kehancuran. Tapi fans Dimas yang masih sekolah di SMA banyak, dan itu membuat berita penangkapannya cepat menyebar di sekolah.


Bahkan semenjak kepindahan Sari dari sekolahan itu, teman-teman yang tadinya tidak mengetahui jika Sari dan Dimas kakak beradik, kini sudah mengetahui hubungan antara mereka. Entah siapa yang menyebarkan informasi itu, yang jelas nama harum Sari di sekolah, menjadi tercemar, dan kepindahan Sari di kait-kaitkan dengan penangkapan kakaknya.


Memang benar begitu adanya, tapi Kristin dan Nayla merasa tidak terima jika kepindahan sahabatnya itu di sangkut pautkan dengan penangkapan kakaknya.


" Hello..., kalian berdua kenapa bengong?", Sari membuat kedua sahabatnya yang sama-sama sedang melamun jadi tersentak.


Kristin mencoba mencari kalimat yang tidak menyinggung Sari.


" Eh...nggak, cuma jadi keinget sama kak Dimas saja, kalau kamu mau jengukin aku ikutan ya Sar".


" Belum tahu juga, di bolehin ke malang apa nggak, soalnya nih, belum sembuh total", Sari menunjukkan tangan kanannya yang seperti mumi.


" Iya juga, tapi yang penting kamu kabari kita, kalau pas balik ke Malang, oke?".


Sari mengangguk setuju dengan permintaan Kristin.


" Good girls....", ucap Kristin sambil menunjukkan jari jempolnya di depan layar ponsel.


" Sari sayang kemari sebentar...!", teriak Esti memanggil.


" Oke mam..!".


" Guys, aku ke dalam dulunya, mama manggil, kita lanjut nanti lagi ngobrolnya, bye...", Sari menutup video call nya setelah kedua sahabatnya melambaikan tangan berdada-dada.


Sari sampai di dapur.


" Kenapa ma?".

__ADS_1


" Ini kamu tolong antar ini ke rumah sebelah, kata Kakek... Pak Irsyad tetangga sebelah adalah kepala sekolah di SMA tempatmu belajar, anterin kue ini kesana, bilang terimakasih sudah banyak membantu selama ini", ucap Mama.


" Oke mama yang cantik, Sari keluar dulu", Sari berjalan sambil membawa tiga toples kue kering yang di simpan di dalam paper bag.


Saat memasuki halaman rumah Pak Irsyad, Sari melihat mobil yang sepertinya pernah dilihatnya, tapi Sari lupa dimana, mungkin milik guru sekolahnya yang sedang bertamu.


Terdengar suara tawa dari dalam ruang tamu.


" Waduh, sepertinya ada banyak tamu di dalam, aku antar sekarang atau nanti saja kue nya?, tapi tanggung sudah sampai disini, masa iya dibawa pulang lagi. Cukup menyapa, menyerahkan kue, mengucapkan terimakasih, lalu pulang", pikir Sari mencoba untuk percaya diri.


Sari mengetuk pintu rumah Pak Irsyad sambil mengucap salam, dan begitu kaget ketika mendapati sosok yang membukakan pintu untuknya.


" Assalamualaikum...", ucap Sari setelah beberapa detik dia dan orang di hadapannya sama-sama mematung di depan pintu.


" Baju Koko itu langsung di pakainya, benar-benar cocok dan pas di badannya", batin Sari.


" Wa'alaikum salam", Musa menjawab salam Sari.


" Siapa Mus?"


" ini ada Sari... Paman", jawab Musa sambil tersenyum ke arah Sari yang terlihat grogi. Tapi masih berusaha untuk tersenyum.


" Masuk Sar..", ucap Musa yang juga berjalan masuk menuju tempat duduk.


Ternyata Musa bersama kedua orangtuanya sedang bertamu di rumah pak Irsyad.


Sari berjalan menyalami semuanya, baru kemudian menyerahkan paper bag pada Bu Santi,


" Wah gadis cantik suka berbagi dengan tetangga juga", gumam Umi sambil tersenyum ke arah Sari.


" Sari disuruh mama mengantar kue ini buat keluarga Pak Irsyad", jawab Sari sambil tersenyum.


" Pak Irsyad dan Bu Santi terimakasih sudah banyak membantu Sari dan Kakek selama ini", ucap Sari sambil membungkukkan badannya menghadap tuan rumah yang berdiri bersebelahan itu.


" Wah...terimakasih banyak ini dapat kiriman dari gadis cantik, ayo duduk dulu Sari...", ujar Santi merangkul pundak Sari.


" Terimakasih, tapi Sari harus langsung pulang, mama sama bi Nunung belum selesai membuat kue nya" , Sari mencari alasan agar bisa cepat pulang. Yang jelas saat ini jantungnya berdetak begitu cepat, setelah melihat ternyata Musa dan keluarganya ada di rumah pak Irsyad.


" Oh kalau begitu tolong sampaikan terimakasih sama mama kamu ya...", Sari mengangguk dan berpamitan pada semuanya.

__ADS_1


Sari berjalan pulang ke rumah sambil senyum-senyum sendiri, " ternyata memang benar, bahagia itu sederhana, hanya bertemu dengan orang yang di idolakan saja sudah sebahagia ini", batin Sari.


__ADS_2