
Pagi hari, berita tentang persalinan Sari sudah menyebar ke seluruh penjuru rumah sakit. Tentu saja membuat rekan seprofesi Sari yaitu para dokter, bidan, perawat, suster, radiografer, perekam medis, ahli gizi, bagian administrasi sampai ke pekerjaan umum seperti laundry cleaning servis, bagian kantin dan tukang masak, berbondong-bondong untuk menengok Sari ke kamarnya.
Bisa di bayangkan seperti apa penuhnya kamar Sari?.
Namun karena begitu banyak yang ingin menengok, oleh pihak keamanan rumah sakit di atur jadwal, sehingga mereka bisa menjenguk Sari secara bergantian.
Umi sangat takjub karena begitu banyak yang mengenal Sari. Karena setahu Umi, Sari menjadi dokter belum terlalu lama, tapi hampir semua pekerja rumah sakit dari semua kalangan hadir memberi selamat dan doa untuk mereka.
" Wah baru lahir saja sudah terlihat begitu tampan, andai aku sedang hamil anak perempuan, pasti aku minta putramu untuk menjadi menantuku di masa depan, hahahaha", gurau salah seorang rekan dokter.
Dan tawa semua penghuni kamar langsung pecah, dan untungnya si kecil Rasyid tidak kaget dengan kebisingan para tamu. Dan tetap tidur dengan lelapnya.
Mama dan papa Sari baru sampai di rumah sakit sekitar pukul 1 siang hari. Terlihat betapa bahagianya Mama dan Papa melihat cucu pertama mereka.
Apa Sari membenci mama-papanya karena baru sampai?, tentu saja tidak, Sari sudah terbiasa dengan ketidak hadiran mama dan papanya di momen-momen penting dalam hidupnya.
Sudah cukup Sari menangisi dan meratapi kesendirian tanpa kehadiran kedua orang tuanya yang selalu sibuk dengan pekerjaan mereka.
Karena sekarang sudah ada Musa, Umi dan Abi yang selalu hadir dan mendampingi Sari di setiap Sari membutuhkan seseorang untuk bersandar.
Sari sudah sangat bersyukur mempunyai suami Musa. Dia yang selalu menjadi suami siaga, dan suami yang begitu pengertian selama ini.
Karena Sari lahiran secara normal, hanya perlu waktu 2 hari 2 malam berada di rumah sakit. Terhitung jumat pukul 00.00 WIB, Sari masuk rumah sakit, dan minggu pagi, Sari dan bayinya sudah di perbolehkan pulang ke rumah.
Jum'at kemarin, Direktur rumah sakit menemui Sari secara langsung ke kamarnya. Memberikan selamat dan juga ijin pada Sari untuk langsung cuti mulai senin depan.
Pak direktur juga memberi selamat pada Musa, sempat juga mengobrol beberapa menit dengan Musa.
Dan esoknya, hari Sabtu sore, Sari kedatangan para sahabatnya, ada Eli dan Linda yang menjenguk Sari ke rumah sakit.
Linda yang mengajak Eli untuk datang di hari Sabtu, sekiranya tidak ketemu dengan Dimas yang biasanya tiap malam minggu rutin ngapel ke rumah Ayu.
Tapi kadang kenyataan itu tidak sesuai dengan harapan. Karena justru Dimas sedang di rumah sakit bersama Cahyo dan Agung.
Dimas sengaja menemani Sari bersama mama Esti karena Musa dan orang tuanya harus pulang dulu, menyiapkan dan menata kamar di rumah karena besok pagi Sari dan Rasyid sudah boleh pulang.
" Wah kebetulan sekali ketemu sama cewek-cewek cantik disini,nggak rugi nemenin Dimas jagain Sari malem mingguan. Banyak yang bening disini euy....", seloroh Cahyo ketika melihat Eli dan Linda baru datang dengan membawa parcel buah sebagai buah tangan.
Eli hanya manyun mendengar ucapan Cahyo,
" Masih sama saja seperti jaman masih pake seragam putih abu-abu, tetep paling gacor", ujar Eli sambil meletakkan parcel buah di meja kamar Sari.
" Widih....yang sudah jadi dokter dan pacaran sama mantan ketos jadi sombong banget...", gurau Cahyo.
Eli hanya memeletkan lidahnya, enggan meladeni ledekan Cahyo.
" Boleh gendong ponakan ganteng kan?", Linda meminta ijin pada Sari.
Sari langsung mengangguk.
Sedangkan Agung yang tahu Linda dan Dimas pernah dekat, langsung menyindir.
" Cie...ponakan, kapan kamu kawin sama Dimas?, bukannya belum kesampaian?".
Dimas langsung melotot sambil menepuk lengan Agung dengan keras.
Sedangkan Linda hanya tersenyum tipis sambil mengangkat Rasyid dari box bayi.
Mama Esti yang berada di kamar itu sempat melihat lirikan Linda ke arah Dimas beberapa detik, tatapan mata yang tulus dan penuh cinta. Tapi yang mama Esti tahu pacar Dimas adalah Ayu, dia pernah di perkenalkan dengan Ayu saat pernikahan Sari.
Mama Esti sengaja mendekat ke Linda dan mengajaknya mengobrol.
" Linda...teman Sari waktu SMA ya?",
" Iya Tante", jawab Linda sambil menggendong Rasyid dan menepuk-nepuk bo kong Rasyid, agar tidur.
__ADS_1
" Wah sampai sekarang masih tetap akrab, apa kuliah di kedokteran juga?".
" Bukan Tante, yang kuliah bareng itu saya", potong Eli.
" Saya kuliah di kampus yang sama, tapi beda fakultas Tante, saya ngambil ekonomi dan bisnis", terang Linda.
" Oh begitu, berarti sekarang sudah selesai juga kuliahnya?", tanya Esti menyelidik.
" Sudah tante.... selesainya dua tahun yang lalu, saya sekarang bekerja di salah satu bank swasta, masih di daerah Purwokerto juga, biar bisa pulang kerumah tiap hari", ujar Linda.
Esti menganggukkan kepalanya, sedangkan Eli yang mendengar percakapan mereka merasa curiga dan memberi kode pada Sari dengan tatapan matanya.
" Mama... Linda dan Eli ini, mereka berdua sahabat aku yang paling baik dan pengertian, mama ingatkan dua gadis yang ikut di make up dan di pakein kebaya pas pernikahan aku, ya ini mereka berdua", terang Sari.
" Iya, mama inget sayang, terus ayu dimana Dim?", pertanyaan mama selanjutnya membuat semua yang ada dikamar menatap ke arah Linda.
" Di laut ma", jawab Dimas seenaknya.
" Ngapain di laut?".
" Sudah Dimas tenggelamin ".
Dan semua langsung menahan senyum mendengar jawaban Dimas.
" Kamu putus sama dia?", lagi-lagi Esti penasaran.
" Iya ma..., itu berita lama, makanya mama kalau Dimas bikin status nyempetin ngelihat, biar tahu peristiwa terkini, jadi update".
Mama langsung terdiam dan tidak kembali bertanya, sindiran Dimas langsung mengena di hatinya. Dia memang jarang melihat status anak-anaknya. Dan jarang menanyakan kehidupan pribadi mereka.
Linda yang mendengar jawaban Dimas juga ikut terkejut, karena sudah lama Linda memblokir nomor Dimas di ponselnya, otomatis Linda juga tidak pernah update dengan status yang dibuat Dimas, karena tidak mau melihat upload status Dimas yang sedang bersama Ayu, dan ternyata mereka sudah putus. Linda terlihat tersenyum tipis.
Setelah obrolan itu, Linda dan Eli pamit pulang karena sudah malam. Eli memang membawa kendaraan sendiri, sedangkan Linda tadi di jemput Eli karena rumahnya terlewati jika mau ke rumah sakit.
Saat Eli dan Linda sudah berjalan keluar, Dimas ikut-ikutan pamit keluar bersama Cahyo dan Agung.
" Semangat bro !, semoga sukses !", teriak Cahyo dan Agung kompak.
***
" Lin !, aku antar pulang ya!",
Linda dan Eli langsung menengok ke arah asal suara, kemudian saling memandang satu sama lain, seolah menunjukkan ekspresi bertanya-tanya.
Terlihat Dimas berlari mengejar mereka berdua.
" Aku antar kamu pulang ya Lin",
" Aku?", Linda masih tidak percaya.
" Iya, kamu tadi bareng sama Eli kan ke sini-nya?". Dimas memberi isyarat pada Eli untuk mencari alasan apapun, agar Linda setuju dengan ajakannya.
Eli tahu Dimas sudah lama putus dengan Ayu, karena mereka beberapa kali ketemu secara tidak sengaja saat Eli sedang jalan dengan Rizal, dan Dimas sedang jalan dengan Cahyo dan Agung, mereka sempat ngobrol bareng.
Hingga Eli tahu dari Cahyo jika Dimas dan Ayu sudah putus. Saat itu Dimas juga mengakui jika dia tertarik dengan Linda, tapi merasa dirinya tidak pantas untuk gadis sebaik Linda, Dimas menyadari kekurangan dirinya.
" Oh iya, aku sudah janjian sama Rizal di Cheers kafe, kebetulan kalau kak Dimas mau nganterin Linda, jadi aku bisa langsung menuju kesana, kamu nggak papa kan Lin, diantar sama kak Dimas?".
Linda bingung harus menjawab apa, tentu Linda masih merasa canggung jika harus berdua saja dengan Dimas.
" Sudah.... jangan kebanyakan berfikir, aku antar kamu pulang", Dimas menggandeng tangan Linda dan menariknya berjalan menuju parkiran. Eli pun berjalan mengikuti mereka sambil menahan senyum.
Setelah di parkiran Eli berpamitan untuk pulang lebih dulu pada Linda dan Dimas.
Kini hanya tinggal Linda dan Dimas berdua di parkiran mobil.
__ADS_1
" Masuk Lin", Dimas membukakan pintu mobil bagian depan, sengaja agar bisa berdampingan dengan nya.
Setelah Linda masuk, Dimas langsung masuk dan duduk di bangku kemudi.
" Kenapa sekarang jadi pendiam?, dulu waktu aku sakit hati dan curhat sama kamu, kamu yang banyak bicara dan menghiburku", Dimas memulai percakapan di dalam mobil.
" Kamu marah sama aku?, sebel atau benci?".
Linda hanya menggelengkan kepalanya.
" Kalau enggak, kenapa nggak mau ngobrol ?".
Akhirnya Linda angkat bicara,
" Apa yang harus aku katakan?, apa kak Dimas mau aku menghibur kakak lagi seperti dulu?".
" Apa kakak hanya akan menemui ku disaat kakak putus sama pacar kakak dan membutuhkan aku?".
" Kakak mau curhat lagi?, oke, aku akan mendengarkan, tapi aku tidak bisa menghibur kakak lagi".
" Aku sendiri butuh seseorang yang bisa menghiburku".
Linda menundukkan kepalanya, tidak mau genangan air mata di kelopak matanya terlihat oleh Dimas.
Namun Dimas menarik dagu Linda dan menatap wajahnya yang kini sudah mulai basah karena air mata.
" Maafkan aku Lin".
" Dulu aku terlalu pengecut untuk mengakui perasaanku padamu".
" Aku merasa tidak pantas untuk gadis sebaik kamu".
" Tapi sekarang.... aku tidak mau jadi pengecut lagi".
" Aku akan berusaha menjadi laki-laki yang pantas untuk kamu".
" Apa kamu mau memaafkan aku, dan menerima semua kekuranganku?".
Linda semakin bingung harus mengatakan apa, semuanya begitu mendadak. Dia yang datang hari ini, sengaja menghindar agar tidak bertemu dengan Dimas dengan memilih datang di malam minggu, tapi ternyata dia harus bertemu dengan Dimas, dengan mamanya juga, bahkan Dimas menyatakan perasaanya.
Dimas menggeser duduknya dan mendekat ke arah Linda, kemudian mendekatkan wajahnya ke wajah Linda, berusaha untuk mendekatkan bibir mereka, bibir Dimas semakin dekat...dan semakin dekat dengan bibir Linda, berharap Linda akan menyambutnya. Tapi justru Linda mundur dan membuang muka, sengaja melihat ke arah luar jendela.
Penolakan Linda membuat Dimas mundur dan kembali duduk menghadap ke depan.
" Jadi kamu sudah tidak mencintaiku?". Dimas beranggapan Linda mengabaikannya, berarti Linda sudah tidak mencintainya.
" Aku tidak mau salah sangka lagi. Kak Dimas mungkin hanya merasa kasihan kepadaku, atau hanya ingin mencari pelampiasan".
Dimas menghembuskan napas panjang.
" Aku serius Lin, malam ini juga aku memutuskan akan menemui orang tuamu".
Dimas melajukan mobil, keluar dari rumah sakit, langsung menuju rumah Linda.
10 menit kemudian, Dimas turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah Linda. Dimas begitu percaya diri dan bertekad penuh untuk meminta restu pada Ayah dan ibunya Linda.
Selama satu jam Dimas mengobrol bersama orang tua Linda, memperkenalkan diri sebagai laki-laki yang serius mencintai Linda, dan ingin mengenal Linda dan keluarganya lebih dekat.
Orang tua Linda menanyakan asal usul Dimas, setelah mengetahui siapa orang tua Dimas dan mengenal siapa kakek Atmo, juga kenal Sari. Tentu saja orang tua Linda membuka tangan lebar ketika Dimas meminta ijin.
Dimas pamit dari rumah Linda dengan senyum merekah. Linda mengantarnya hingga masuk ke mobil.
" Mulai hari ini, kita resmi pacaran. Ayah dan ibumu sudah memberi ijin padaku, jadi jangan lagi takut untuk membuka hatimu untukku lagi".
" Pulang dari sini aku akan bicarakan hal ini dengan mama dan papaku juga. Kamu tunggu kabar dariku, secepatnya aku akan mengajak mama dan papa datang kemari untuk bertemu dengan orang tua mu".
__ADS_1
Linda masih merasa tidak percaya dengan apa yang dialaminya hari ini. Semuanya begitu mendadak.