
Sesuai rencana, Sari dan Musa sampai di rumah kakek Atmo tepat jam 8 pagi. Padahal tadi sudah berangkat dari rumah setengah 8, sengaja lebih awal agar Sari bisa bertemu dengan Dimas sebelum dia berangkat kerja.
Namun sayangnya perjalanan yang seharusnya hanya memakan waktu 10 menit molor hingga 30 menit.
Pertama, ada Ardi yang tanpa memberi kabar tiba-tiba muncul di depan rumah sambil membawa tas besar berisi laptop dan beberapa buku laporan dan buku catatan.
Musa akhirnya membuka pintu mobil dan memeriksa beberapa laporan yang harus segera dibereskan hari itu juga.
Ardi yang rencananya akan mampir ke rumah mengurungkan niatnya dan pamit untuk langsung ke toko. Karena Musa dan Sari hendak pergi.
Yang kedua, saat mobil baru keluar dari komplek perumahan, terlihat ada banyak bapak-bapak berseragam polisi tengah melakukan razia SIM dan STNK, membuat laju kendaraan menjadi begitu pelan.
Apalagi saat ada seorang ibu-ibu yang sedikit ngeyel dan bersitegang dengan pak polisi gara-gara nganter anaknya sekolah, buru-buru karena takut kesiangan, dan si anak nggak pakai helm.
" Bapak polisi.... saya kan sudah nunjukin surat-surat lengkap, kalau bapak mau ceramahin saya, nanti saja, pas saya balik, kan bakalan lewat sini juga nanti, ini anak saya bisa kesiangan sampai ke sekolahnya, kalau saya harus denger ceramah bapak terlebih dahulu !".
" Nanti kalau anak saya dapat poin dari sekolah, BAPAK MAU TANGGUNG JAWAB!"
" Maaf Bu, ibu memang sudah menunjukkan SIM dan STNK, tapi kesalahan ibu itu karena putra ibu tidak menggunakan helm".
" Jadi kami harus tetap menilang ibu ", jawab Pak polisi dengan sabar, meski si ibu itu tetep ngeyel dan teriak-teriak nggak jelas.
Sari dan Musa yang berada di belakangnya hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menyandarkan kepalanya di senderan jok.
Dan yang ketiga, bahkan setelah bisa melewati razia polisi, mobil mereka harus berjalan dengan pelan saat melewati jalan kecil menuju rumah kakek karena ada pasukan bebek yang tengah digiring oleh pemiliknya menuju ladang yang berada beberapa puluh meter dari lapangan voli.
" Mas, sepertinya memang kita di takdir kan sampai di rumah kakek jam 8", gumam Sari sambil menatap jam tangan pada pergelangan tangannya.
Musa hanya tersenyum karena dari tadi Sari terlihat begitu gelisah. Padahal kan masih sangat pagi, dan tidak masalah jika mobil sampai di rumah kakek jam 8. Tapi sepertinya Sari sangat gelisah.
" Apa kamu pengin ke kamar mandi?", hanya itu dugaan Musa saat melihat kegelisahan Sari di dalam mobil.
Namun Sari menggelengkan kepalanya.
" Kalau tadi di jalan nggak molor kan kak Dimas belum berangkat kerja, jadi bisa ketemu. Kalau sampai rumah kakek jam 8 mungkin Kak Dimas nya sudah berangkat kerja", ujar Sari.
" Memang mau ngobrol apa sama kak Dimas?", Musa membunyikan klakson mobil, dan mas Soleh berlari dari dalam rumah, membukakan pintu gerbang.
" Ada deh...", ujar Sari sambil nyengir.
" Pagi Mas... pagi mba Sari....", sapa Soleh sambil membuka pintu gerbang.
" Pagi mas Soleh..", balas Musa, sedangkan Sari hanya tersenyum dan mengangguk.
" Mas Soleh, apa kak Dimas sudah berangkat kerja?", tanya Sari saat keluar dari mobil.
" Sudah Mba, sekitar 10 menit yang lalu", jawab Soleh.
Sari dan Musa pun masuk ke dalam rumah setelah mengucap salam.
Suasana rumah sepi, hanya terdengar bunyi mesin cuci yang sedang menyala. Sari langsung berjalan menuju belakang, mencari keberadaan kakek dan bi Nunung.
" Eh ada mba Sari..., kesini lebih awal, apa mau ikut ke Bandung bareng keluarga pak Irsyad?", tanya Bi Nunung.
Keluarga Pak Irsyad memang sedang bersiap-siap untuk pergi ke Bandung, untuk bertemu dengan keluarga calon besan, mereka akan membahas tentang acara pernikahan Azka sebulan lagi.
" Nggak lah bi, itu kan acara keluarga inti, Sari sama mas Musa mungkin ikutnya pas acara pernikahan nya saja, sebulan lagi", terang Sari.
" Kakek dimana Bi?".
__ADS_1
" Di rumah pak Irsyad Mba, mungkin sudah sejak setengah jam yang lalu", jawab Bi Nunung sambil mengambil baju dari dalam mesin cuci.
" Ooh..."
" Kita nyusul ke rumah paman Irsyad saja, kita kan sudah lama nggak silaturahmi ke rumah beliau", ajak Musa.
Tentu saja Sari mengikuti ajakan Musa dan berjalan beriringan menuju rumah Pak Irsyad, yang berada di sebelah rumah Kakek.
Setelah mengucapkan salam dan dijawab serempak oleh beberapa orang yang berada di ruang tamu. Musa dan Sari masuk ke dalam rumah pak Irsyad.
" Wah... lagi ada angin apa ini kemari pagi-pagi?", nyariin kakeknya ya?", tanya Bulik Santi.
" Betul Bulik, katanya kakek disini?", tanya Musa sambil mencium tangan Bulik setelah Sari yang juga melakukan hal yang sama terlebih dahulu.
" Ada di dalam, lagi ngobrol serius sama Paman kamu".
" Kalau begitu kami tunggu disini saja", Musa sebenarnya ingin masuk, tapi takut menjadi tidak sopan mengganggu obrolan orang tua.
" Masuk saja, sepertinya kalau kamu ikut berdiskusi dengan mereka yang sudah tua, akan menjadi lebih baik", ujar Bulik Santi.
Sari hanya tersenyum mendengar perkataan Bulik, dan mendorong tubuh Musa untuk masuk ke ruang tengah. Sedangkan dirinya tetap berada di ruang tamu , bergabung dengan beberapa ibu-ibu lain duduk di karpet permadani yang di gelar di lantai, membantu Bulik Santi mengemas dan mempersiapkan beberapa barang yang akan di bawa sebagai buah tangan ke Bandung.
" Kamu duduk saja Sar... sudah banyak yang bantu ngemas, ibu hamil itu nggak boleh kecapekan, sebagai seorang dokter pasti kamu lebih paham dari Bulik".
" Bagaimana keadaanmu..., apa masih sering pusing dan mual?", Bulik Santi mengusap lengan Sari dan membimbingnya untuk duduk di sofa. Sari menurut saja dan meninggalkan ibu-ibu lainnya.
" Alhamdulillah sudah nggak pusing dan mual lagi Bulik, dulu sering pusing pas lagi trimester pertama saja".
" Syukur kalau begitu, jadi bulan depan bisa ikut ke Bandung ya?, sekalian sama Musa, umi dan Abi, menghadiri acara pernikahan Azka".
" Insyaallah Bulik".
Sari mengobrol dengan Bulik Santi selama satu jam, dan pamit mengikuti Musa dan kakek Atmo yang lebih dulu pamit pulang, karena Musa hendak menghadiri undangan sebagai penceramah acara pengajian rutin di masjid At-Taqwa.
Bi Nunung sengaja membuatkan lutis buah untuk Sari yang dari tadi hanya tiduran di kamarnya, bi Nunung bisa melihat Sari saat melewati kamarnya, karena kebiasaan Sari belum berubah, suka membuka pintu kamarnya. Membuat siapa saja yang lewat bisa melihat ke dalam kamar Sari.
" Mba, ke gazebo kebelakang yuk.. bibi buatin lutisan manga muda sama bengkoang", ajak bi Nunung dari depan pintu kamar Sari.
Dan Sari langsung beringsut dan berjalan cepat menuju gazebo. Saat Sari dan Bi Nunung mulai menikmati lutis. Adzan Dzuhur berkumandang.
Sari begitu menikmati mangga muda yang seolah tidak berasa asam sama sekali. Bahkan bi Nunung yang melihatnya menjadi ngilu sendiri.
Saat potongan buah hampir habis, terdengar suara Dimas mengucap salam dan masuk ke dalam rumah.
Sari dan Bi Nunung menjawab salam serempak.
" Kok pulang cepet Kak?".
Dimas mengangguk.
" Biasa... kalau sabtu kan cuma setengah hari kerjanya".
" Kamu baru datang?, Musa mana?", tanya Dimas sambil mencuci tangan di wastafel, kemudian menghampiri bi Nunung dan Sari di gazebo dan ikut menikmati lutis buah.
" Sejak jam 8 pagi aku ke sini, tapi kakak sudah berangkat kerja tadi, mas Musa lagi ada acara rutinan".
Dimas mencomot beberapa potong buah,
" Mau ngomong apa si, penting?".
__ADS_1
Sari tidak ingin bi Nunung mendengar pembicaraan dirinya dan Dimas.
" Bi tolong tinggalkan kami".
" Baik Mba, Bibi tinggal ke dapur, mau menata makanan buat makan siang".
Sepeninggal bi Nunung Sari langsung menanyakan perihal hubungan kakaknya dengan Linda.
Dimas tidak menyangkal sama sekali pernah beberapa kali pergi dengan Linda, bahkan kabar mereka berdua bermalam di hotel di benarkan oleh Dimas.
Membuat Sari harus memijit pelipisnya karena tiba-tiba merasa pusing.
" Kenapa kakak menghindarinya?, Linda bilang kakak sekarang jadi susah di hubungi".
" Apa kak Dimas juga masih berhubungan dengan ayu?, anak yang sedang magang di kantor kakak dan datang di acara pernikahanku?"
Dimas menganggukkan kepalanya, membuat Sari merasa pusing.
" Ayu itu berkhianat, aku melihatnya bersama laki-laki lain di salah satu klub malam, tubuhnya sedang di jamah oleh laki-laki br*ngs*k itu di depan mataku".
" Pantas saja dia sudah tidak virgin meski masih kuliah, ternyata bergaulannya dengan seorang b*jing*n ".
Sari hanya bisa melotot sambil menutup mulutnya yang melongo mendengar ucapan Dimas.
" Maksud kakak, Ayu sudah tidur sama kakak?".
Dimas mengangguk. " Dia yang ngajakin aku ke hotel, mana mungkin kakak tolak, dia yang ngrayu kakak".
" Mana ada kucing yang nolak dikasih ikan".
Sari merasa semakin pusing mendengar ucapan Dimas selanjutnya.
" Linda, teman kamu itu, awalnya kita nggak sengaja ketemu di klub. Pas dia lagi sama teman-temannya, dan aku duduk sendirian meratapi keb*dohanku menyukai Ayu.
" Dia menghampiriku karena tahu aku kakakmu, dan setelah teman-temannya pulang, dia menemaniku yang sedang kacau saat itu".
" Kakak mabuk malam itu, Linda bingung harus membawa kakak kemana, dia tidak mungkin mengantar kakak pulang ke rumah, jadi dia menyewa kamar hotel untuk kakak".
" Lucunya lagi, saat Linda keluar mencarikan baju ganti untuk kakak, karena kakak sempat muntah-muntah di pelataran hotel, kakak melihat ayu berjalan masuk ke dalam".
" Ku raih tangan Ayu dan ku ajak masuk ke dalam kamar, malam itu aku kembali melakukannya bersama Ayu, dia tidak tahu kalau aku sudah mengetahui perselingkuhannya, aku hanya ingin melampiaskan kemarahan ku padanya".
" Setelah melakukan lagi malam itu, aku langsung memutuskan Ayu dan mengusirnya dari kamar hotel".
"Linda kembali ke kamar hotel, saat ayu sudah pergi, dia membawa baju dan air mineral untukku. Aku tahu teman-teman mu gadis yang baik, malam itu di kamar hotel, Linda mendengarkan semua curhatanku, membuatku merasa nyaman bersamanya, kami tidak melakukan hal yang melewati batasan ".
" Aku merasa mulai nyaman bercerita dengannya dan sering meminta untuk bertemu, sekedar mengobrol , makan dan minum bersamanya".
" Hingga suatu hari aku kembali bertemu dengan Ayu, dia minta maaf padaku dan mengatakan tidak akan mengulangi kesalahannya".
" Kakak masih mencintainya, jadi kakak terima Ayu kembali".
" Sejak saat itu, kakak tidak menghubungi Linda lagi, dia gadis baik, jadi harus bertemu dengan laki-laki yang baik juga, seperti ucapanmu beberapa waktu yang lalu, karena pasangan kita adalah cerminan diri kita".
Ada perasaan lega dalam hati Sari karena Dimas tidak menyentuh Linda, tapi ada rasa kasihan juga dengan Linda yang mengira jika dirinya dan Dimas memiliki hubungan yang spesial.
Sari bingung harus menjelaskan bagaimana pada Linda. Karena ini masalah hati, dan hati itu mudah terluka, apalagi jika Sari sampai salah merangkai kata.
" Pertanyaan terakhir untuk Kakak".
__ADS_1
" Apa kakak mencintai Linda?, meski sesaat, pernah tidak kakak mencintainya?"
Dimas hanya terdiam, menatap Sari tanpa ekspresi.