
Sari dan Musa duduk bersebelahan sambil tangan Musa merangkul bahu Sari. Rasyid sudah tertidur dan kini di rebahkan diatas kasur kecil yang diletakkan di depan Sari dan Musa, Sari memang sengaja membawa kasur lipat bayi untuk jaga-jaga jika Rasyid tertidur seperti saat ini. Sari berusaha menjadi bunda yang siaga.
Acara masih melanjutkan dengan perlombaan menyanyi, kini peserta terakhir, ternyata dosen tampan yang tadi saat turun dari bus minta agar di doakan oleh Bi Nunung.
" Saya akan membawakan sebuah lagu jadul, lagu nostalgia, ini adalah lagu favorit ayah dan ibu saya, karena beliau berdua sering mendengarkan, jadi saya ikut hafal", ucap Dosen muda yang tampan itu. Sorakan dan tepuk tangan langsung ramai terdengar.
" Sepertinya lagu ini sangat cocok dinyanyikan di sini, karena tempat ini juga berbukit, seperti judul lagu yang akan saya nyanyikan, ' Bukit Berbunga', lagu ini juga saya persembahkan untuk seorang gadis cantik yang saat ini sedang berada di sini", ucap Yusuf sambil menunduk malu, karena gadis itu memang gadis yang sangat spesial baginya.
Alunan musik pun mengalun, lagu nostalgia dengan melodi dan lirik yang sangat romantis, membuat semua yang berada di sana turut bernyanyi bersama Yusuf, termasuk Sari dan Musa, bahkan bi Nunung juga ikut bernyanyi.
*Di bukit indah berbunga*
*Kau mengajak aku kesana*
*Memandang alam sekitarnya*
*Karena senja telah tiba*
*Mentari tenggelam*
*Di gunung yang biru*
*Langit merah berwarna sendu*
*Kita pun turun bersama*
*Melintasi jalan setapak*
*Tanganmu kau peluk di pundak*
*Membawa aku melangkah*
*Tak lupa kau petik*
*Bunga warna ungu*
*Lalu kau selipkan di rambutku*
*Bukit berbunga*
*Bukit yang indah*
*Di sana kita selalu datang berdua*
__ADS_1
*Memadu cinta*
*Bukit berbunga*
*Tempat yang indah*
*Di sana kita selalu datang berdua*
*Di bukit berbunga*
" Namanya siapa dia Mas?", Sari menanyakan dosen muda yang sedang bernyanyi di depan sambil menatap lekat ke arah gadis berkerudung merah.
" Yusuf Maulana, biasa di pangg Yusuf, mungkin dia seumuran dengan kamu sayang".
Sari hanya mengangguk dan kembali memperhatikan arah mata Yusuf.
" Sepertinya dia suka dengan Nisa, dari tadi dia terus menatap Nisa tanpa berpaling barang sedetik saja".
Musa tersenyum mendengar ucapan Sari, " kan tadi Yusuf minta agar Bi Nunung mendoakan agar dia bisa bersatu dengan Nisa, seperti dulu bi Nunung mendoakan kita".
" Padahal dia seorang dosen, tapi saat menyukai seseorang, tetap saja bertingkah absurd dan kekanakan".
" Nggak jauh beda sama Mas, pas lagi deketin Sari dulu", Musa pun langsung tertawa sumbang, merasa malu.
Jam 12 siang, acara lomba nyanyi selesai, hasil akhir Yusuf menjadi pemenang lomba itu, mendapatkan voucher menginap gratis di hotel milik Musa, tentu saja tak pernah dibayangkan oleh pemuda yang masih lajang sepertinya.
" Saya sangat berterima kasih untuk hadiah ini, tapi kalau bisa jangan ada batas waktu kadaluarsanya ya Pak Musa... karena voucher nya mau saya pakai setelah saya punya istri suatu hari nanti, hehehe", otomatis ucapan Yusuf langsung mendapat sorakan dari semua orang.
Acara di lanjutkan dengan sholat bersama di mushola yang berada di dekat area parkir bus, setelah itu semua masuk ke dalam bus dan menuju hotel milik Musa, acara makan siang bersama dilakukan di lantai dua hotel itu.
" Begini ini... seharusnya memang sebagai seorang tenaga pengajar harus mempunyai bisnis lain seperti Pak Musa yang memiliki hotel seperti ini".
" Jadi perekonomian keluarga tidak bergantung hanya dengan penghasilan seorang tenaga pengajar, yang hanya seberapa saja", ucap Pak Imam, salah satu dosen senior, sambil menepuk-nepuk bahu Musa yang duduk di sebelahnya, satu meja di restoran hotel.
" Betul sekali Pak Imam, saya juga setuju, tapi andai semuanya tahu, bukan cuma hotel ini saja yang membuat Pak Musa menjadi seorang yang sukses, lihatlah siapa istri beliau, seorang dokter muda yang bekerja di rumah sakit milik pemerintah. Pasti penghasilannya juga tidak kalah dari Pak Musa", imbuh Pak Bani.
Namun seseorang tidak setuju dengan pendapat pak Bani.
" Penghasilan dokter tidak sebanyak yang kalian bayangkan, apalagi istri pak Musa kan tidak membuka praktek sendiri, dia hanya bekerja di rumah sakit milik pemerintah saja karena harus membagi waktu, menyeimbangkan antara pekerjaan dan perannya sebagai seorang istri", Bu Zani yang duduk di sebelah mereka ikut menimpali, karena suaminya juga bekerja sebagai salah satu staff keuangan di rumah sakit, jadi tahu berapa banyak gaji para dokter.
" Benar begitu kan dokter Sari?".
Sari mengangguk, " Dokter juga sama seperti tenaga pengajar, pekerjaan dengan tujuan agar bisa bermanfaat bagi orang banyak, kalau mau bekerja yang menghasilkan pundi-pundi rupiah, ya harus berbisnis sampingan".
" Jadi hotel ini, bisnis sampingan Pak Musa ya ?, saya jadi terinspirasi untuk memulai bisnis sampingan juga", ujar Yusuf.
" Bukan hanya hotel, ada bengkel, toko pakaian, restoran, dan masih banyak bisnis sampingan lainnya yang Pak Musa miliki", Fajar, yang menjadi kepercayaan Musa untuk mengelola hotel datang ke restoran untuk menyambut kedatangan bosnya bersama dengan teman dosen di kampus tempat bosnya mengajar.
__ADS_1
Musa hanya tersenyum mendengar pembicaraan dari teman-teman pengajar nya di kampus bersama Fajar, yang dulu pernah belajar di IAIN.
" Wah...wah...ini..ini...alumnus IAIN yang sekarang jadi orang sukses, mengelola hotel bersama istrinya, saya ingat betul keadaannya dulu, masih dekil dan memprihatinkan, sekarang coba lihat, sudah menjadi manager hotel, siapa yang bisa mengira seperti apa tampilannya jaman masih kuliah dulu", canda Pak Imam yang dulu cukup dekat dengan Fajar.
Fajar langsung menyalami Pak Imam dan semua dosen laki-laki yang dulu pernah mengajarnya. Sedangkan Aisyah, istri fajar, juga menyalami Sari dan para dosen wanita juga ibu-ibu yang adalah istri dari para dosen di IAIN.
Fajar mempersilahkan para rombongan untuk bersantai dan menikmati hidangan yang tersedia, kemudian berpamitan karena harus kembali bekerja, masih ada beberapa pertemuan dengan calon penyewa ballroom hotel, untuk acara pernikahan bulan depan.
Sepeninggal Fajar dan Aisyah, mereka kembali mengobrol santai usai makan, karena waktu istirahat sampai jam 2, baru setelah itu acara family gathering akan kembali di mulai dengan agenda acara selanjutnya.
Siang itu bahkan Musa seperti menjadi pembahasan utama para rombongan, membuat semua orang yang dulu tidak terlalu mengenal Musa, sedikit lebih tahu tentang Musa.
" Sebenarnya ada yang membuat saya merasa penasaran, kalau sudah punya begitu banyak bisnis, kenapa masih jadi dosen juga Pak Musa?", Yusuf begitu penasaran, dan semakin mengagumi sosok Musa.
" Karena itu cita-cita saya sejak masuk SMA".
" Bisa mengajar dan berbagi ilmu pada orang lain, menjadi manusia yang bermanfaat bagi orang lain, dan tentu saja dengan men-syiarkan ajaran agama, mengajak untuk bersama-sama menuju ke hidup yang lebih baik".
Yusuf mengerutkan keningnya,
" SMA?, jadi Pak Musa lulusan SMA?, bukan MA?, saya pikir pak Musa adalah lulusan MA", Yusuf kembali terkejut.
" Kalau boleh tahu dimana ketemu sama dokter Sari?, apa pas datang berobat ke rumah sakit?", sepertinya rasa penasaran rekan seprofesi nya semakin menjadi. Musa justru kini merasa seperti sedang menjadi narasumber di acara wawancara eksklusif tentang seputar kehidupan pribadinya.
" Wah... ini kenapa malah jadi membahas tentang kehidupan saya", Musa tertawa sendiri, merasa kehidupan pribadinya sedang di korek-korek.
" Ternyata Pak Musa malu menceritakan tentang pertemuannya dengan sang istri", Bu Zani sengaja mengatakan hal itu agar Musa terpancing untuk menceritakannya. Tapi ternyata usahanya tidak berhasil, karena Musa hanya tersenyum saja sambil menyesap capuccino cincau di depannya.
" Dokter Sari ketemu dimana sama Pak Musa?", kini fokus para rombongan berpindah kepada Sari.
Sari langsung menatap ke arah Musa, meminta persetujuan Musa, boleh menceritakan tentang pertemuan mereka atau tidak, namun belum sempat bercerita, tak lama kemudian bi Nunung datang bersama Rasyid. Kemudian menyerahkan Rasyid pada Sari, karena Rasyid rewel, pengin nen.
Akhirnya Sari pamit pada semuanya, tanpa memberi jawaban untuk mengobati rasa penasaran para teman Musa.
Sari menyuruh bi Nunung untuk makan siang terlebih dahulu.
Saat bi Nunung hendak mengambil makanan, Bu Zani iseng-iseng menanyakan tentang pertemuan pertama Musa dan Sari, dan ternyata dengan senang hati bi Nunung bercerita dengan menggebu-gebu.
" Bi, tadi saya dengar bibi dulu turut mendo'akan agar Pak Musa dan dokter Sari bersatu, jadi apa bibi tahu tentang bagaimana mereka berdua bertemu?".
Bi Nunung mengurungkan niatnya mengambil makanan, justru dengan senang hati bercerita.
" Ustadz Musa itu dulu jadi guru ngajinya mba Sari, juga guru agama di SMA tempat Mba Sari sekolah, saat mba Sari pindah kesini.......".
Dan bi Nunung terus menceritakan semua yang diketahuinya, juga tentang betapa bi Nunung yang sudah tua itu sangat mengidolakan ustadz Musa.
" Seandainya saya punya anak perempuan, pasti sudah saya kenalkan putri saya dengan ustadz Musa, sayangnya anak saya laki-laki semua". Kalimat penutup dari Bu Nunung membuat semua tersenyum lucu.
" Wah...wah...wah..., jadi kisah cinta antara ustadz dan santriwati, andai saya punya kenalan seorang penulis, pasti akan sangat seru itu jika kisah kalian dibuat menjadi sebuah cerita novel", seloroh Pak Bani
__ADS_1
Musa hanya menggelengkan kepalanya, karena bi Nunung menceritakan tentang kehidupannya di depan orang banyak, tanpa meminta persetujuan dari Musa terlebih dahulu.