Ustadz Idolaku

Ustadz Idolaku
Do'a Yang Terkabul


__ADS_3

" Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu (Muhammad) tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku Kabulkan permohonan orang yang berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku. Hendaklah mereka itu memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku, agar mereka memperoleh kebenaran (QS Al-Baqarah ayat 186).


***


Musa bingung harus membujuk Sari dengan cara apa lagi. Kini justru Sari mengurung dirinya di dalam kamar dan tidak mau membukakan pintunya.


Terpaksa Musa membiarkan Sari untuk meredam kemarahannya terlebih dahulu dengan meninggalkannya di kamar, Musa menuju ruang tamu karena terdengar ada suara ketukan pintu dari luar rumah.


" Assalamualaikum..!".


" Wa'alaikum salam...", Musa membuka pintu dan terlihat mama dan papa sedang berdiri di depan pintu.


" Waduh, mama dan papa datang di waktu yang tidak tepat, Sari sedang mengunci dirinya di kamar, bagaimana caraku membujuknya agar mau keluar", pikirir Musa, sambil menyalami mama dan papa yang masuk ke dalam rumah.


" Duduk dulu Ma, Pa, Sari sedang di kamar. Biar Musa panggilkan", ujar Musa sambil beranjak menuju kamar. Namun langkahnya terhenti ketika mama memanggilnya.


" Mus... kalau Sari masih tidur biarkan saja, Mama sama papa mau kembali ke Malang, tapi kalian nggak datang-datang ke rumah kakek, jadi kami mampir kesini untuk pamitan".


" Kalau Sari masih tidur biarkan saja, kan besok sabtu kalian ke Malang juga, nanti masih bisa ketemu di sana".


" Tolong sampaikan salam mama dan papa buat Sari. Bilang sama Sari, jangan kecapekan, kalau kecapekan dan kerja terus kapan kalian akan bikin cucu buat kami".


Mama berpamitan, lalu keluar dari rumah Musa di ikuti oleh papa, saat berjalan keluar dan mengobrol dengan papa, Sari keluar dari kamar dan menghampiri mereka yang sudah hendak masuk ke mobil.


" Mama, Papa!", teriak Sari.


" Kamu itu... sudah jam berapa ini?, tapi baru bangun ?" , sindir Mama.


" Jadi istri itu jangan malas-malasan terus, kalau suamimu tertarik sama perempuan lain yang lebih rajin bagaimana?", Mama hanya berniat untuk bercanda. Tapi justru Sari tiba-tiba menangis seperti anak kecil.


" Huwa...aa...hix..!". Sari menangis dengan keras. Membuat Esti mengurungkan diri naik ke mobil dan menghampiri Sari.


" Kamu ini kok malah nangis kayak anak kecil, mama kan cuma becanda sayang...". Esti memeluk putrinya yang terus menangis.


Musa sampai bingung bagaimana akan menjelaskannya.


" Tapi Mas Musa jahat ma....hix...!". Sari kembali menangis.


Musa langsung pucat mendengar kalimat Sari barusan. " Waduh Sari malah pake keluar dan laporan sama mamanya, bagaiman ini?", Musa tidak ingin mama dan papanya tahu kalau mereka berdua sedang marahan.


" Kamu ini ngomong apa sih?, udah sayang, jangan nangis kayak anak kecil begini, malu kalau ada orang lewat", Esti langsung menarik Sari masuk ke dalam rumah.


Triono menatap Musa meminta penjelasan.


" Sari sejak tadi memang sedang marah Pa, nggak jelas karena apa, tapi dia marah-marah terus, mungkin mau datang bulan", Musa berusaha menjelaskan apa yang sedang terjadi.


" Tenang saja , nanti papa suruh Mama buat tenangkan dia". Triono ikut masuk ke dalam rumah.


Kini Sari dan mamanya sudah duduk di sofa ruang tengah.


" Coba jelaskan sama mama kenapa kamu begini?".


Sari menghapus air mata dari pipinya.


" Mas Musa tadi lagi teleponan sama cewek ma...hix..."


Musa langsung terperangah ketika Sari mengatakan jika dia teleponan dengan perempuan lain.


" Benar ma, tapi dia itu mahasiswi di kampus tempat Musa mengajar, bukan seperti yang Sari pikirkan, cuma ngobrolin materi pelajaran, Sari itu lagi sensitif banget sejak tadi pagi Ma, nggak tahu kenapa ", Ujar Musa menjelaskan.


Esti langsung menatap Sari curiga.

__ADS_1


" Sayang kamu sudah dengar kan penjelasan suamimu, itu bukan seperti yang kamu pikirkan, dia hanya mahasiswinya, mereka membahas tentang materi pelajaran".


" Tapi Mas Musa tersenyum begitu lebar pas teleponan tadi Ma", Sari tetap masih belum percaya.


" Lagian dulu juga Sari muridnya, tapi Mas Musa tetep suka sama Sari!",


Musa menggeleng-gelengkan kepalanya, semakin gemas dengan sikap Sari.


" Mas sudah bersumpah cuma kamu satu-satunya sayang, Mas yakin kamu pasti mau datang bulan kalau sensitif begini, bawaannya cemburu dan curiga terus".


Musa kembali mengulangi kalimatnya.


" Oh iya, bulan ini kan tanggalnya sudah hampir habis, apa kamu belum datang bulan?", tanya Esti pada Sari.


Sari menggeleng dan berpikir sejenak, " benar juga, aku sampai tidak sadar jika bulan ini belum kedatangan tamu bulanan, atau mungkin benar kata Musa, kalau aku menjadi sangat sensitif karena mau datang bulan", batin Sari.


" Sepertinya benar kata suamimu, pasti kamu mau datang bulan, makanya jadi sensitif begini, mama percaya Musa itu laki-laki setia, kamunya saja yang berlebihan", justru Esti membela menantunya.


Tapi kali ini Sari justru merasa mual dan kepalanya pusing, seakan atap rumah berputar-putar. Sari berlari menuju kamar mandi terdekat dan memuntahkan semua isi perutnya. Sarapan yang tadi baru masuk beberapa menit ke dalam perutnya saat ini sudah keluar semua.


" Huek...huek...!"


Musa berlari mengikuti Sari dan membantunya agar merasa lebih enakan dengan menepuk-nepuk punggung istrinya.


Mama juga ikut masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Papa berdiri di depan kamar mandi.


" Kenapa kamu malah muntah-muntah sayang, apa asam lambung kamu naik lagi?, pasti kamu terlalu stres dan kecapekan setelah resepsi kemarin langsung berangkat kerja dan pulang malam", Musa masih menepuk-nepuk punggung Sari.


Namun Sari menatap ke arah Musa sekilas dengan mata penuh amarah, dan sejurus kemudian muntah-muntah kembali...


" Huek...huek....!"


" Kalau asam lambung Sari naik itu pasti karena stres mikirin Mas !, pokoknya Sari nggak mau Mas teleponan sama cewek lain, mas harus ganti nomer HP!", Sari masih saja cemburu, penjelasan Musa sama sekali tidak mempan.


Beberapa menit kemudian setelah Sari tidak terlalu merasa mual, Sari membalikkan badan dan memukul-mukul dada Musa, membuat Musa meringis dan menahan rasa geli, karena kecemburuan Sari dan pukulan lirih di dadanya.


" Sayang keinginan kamu itu berlebihan, masa Musa sampai harus ganti nomor HP, nggak mungkin lah...". Esti ikut berbicara.


" Iya benar kata Mama sayang...", Musa senang karena mama mertua membelanya.


" Tuh kan Mas nyebelin!", Sari semakin merajuk dan merasa kepalanya benar-benar pusing.


" Iya...iya..., Mas nggak akan angkat telepon dari mahasiswi yang Mas ajar lagi. Sekarang kamu bisa tena....ng".


Bruk....


Musa menyelesaikan kalimatnya sambil menangkap tubuh Sari yang limbung dan rubuh. Sari pingsan.


" Waduh... sayang....ini kok kamu sampai pingsan begini!", Mama langsung panik, sedangkan Musa langsung menggendong Sari, keluar dari kamar mandi.


" Ayo masuk mobil papa saja yang sudah siap Mus, papa antar kalian ke rumah sakit!".


Musa langsung mengangguk dan masuk ke bangku belakang mobil mertuanya.


Mama duduk di samping papa yang langsung melajukan mobilnya menuju rumah sakit terdekat.


15 menit mobil sampai di rumah sakit, Musa langsung membawa Sari ke IGD. Perawat di IGD tentu saja langsung membantu Musa untuk meletakkan Sari di brangkar.


" Dokter Sari kenapa Pak?, apa beliau sakit?", perawat yang membantu Sari ternyata mengenal Sari. Tentu saja, ini kan rumah sakit tempatnya koas, dan sebentar lagi, hanya menunggu beberapa hari lagi, Sari akan bekerja di rumah sakit ini sebagai dokter umum.


" Dia tadi muntah-muntah dan tiba-tiba pingsan, mungkin asam lambungnya naik lagi karena kecapekan".

__ADS_1


Musa di suruh untuk tenang karena dokter Setiawan akan memeriksa keadaan Sari.


Musa memilih keluar dari IGD untuk menemui mama dan papa Sari.


Di depan IGD Mama dan Papa langsung menghampiri Musa yang baru saja keluar ruangan.


" Kalian ini kenapa sih?, mama pikir selama ini kalian baik-baik saja, kenapa malah bertengkar di depan mama sama papa, malah Sari sampai pingsan", Mama begitu khawatir dengan keadaan putrinya.


Musa tentu saja hanya terdiam karena dia juga sangat khawatir dengan keadaan Sari. Kejadiannya persis seperti beberapa bulan yang lalu, saat Sari harus opname karena asam lambungnya naik.


" Mama sama papa tenang saja, Sari paling kecapekan setelah acara resepsi kemarin, dia langsung berangkat kerja, sebelumnya dia juga pernah mengalami kejadian yang sama seperti ini, karena asam lambungnya naik".


" Kalau mama sama papa mau kembali ke Malang nggak papa, Musa bisa menjaga Sari sendiri".


Tentu saja Esti dan Triono sangat khawatir pada putrinya, tapi waktu cutinya sudah habis, sudah 10 hari mereka berdua cuti dari perusahaan. Belum lagi sabtu depan mereka berdua akan mengadakan pesta untuk pernikahan Sari dan Musa di kediamannya. Banyak yang harus di persiapkan.


Kondisi Sari yang tiba-tiba sakit sungguh tidak tepat waktu. Di satu sisi Esti dan Triono harus melakukan aktivitas rutin yaitu berangkat bekerja. Di sisi lain tidak tenang meninggalkan Sari yang sedang sakit.


" Begini Mus, mama dan papa harus pulang ke Malang karena besok pagi harus mulai ke kantor. Mama percayakan Sari sama kamu ya".


" Mama harap kalian bisa menyelesaikan masalah kalian dengan cepat, karena mama percaya sama kamu". Esti menepuk pundak Musa, bersamaan dengan dokter Setiawan yang keluar dari dalam bilik Sari menerima penanganan.


Musa langsung menghampiri dokter Setiawan. " Bagaimana keadaan Sari dok?", tanya Musa begitu sampai di dekat dokter Setiawan.


" Bagaimana saya memulai pembicaraan, sebaiknya ke ruangan saya saja".


Dokter Setiawan mengajak Musa bicara secara pribadi, namun mama dan papa mengikutinya karena ekspresi dokter Setiawan yang aneh dan tidak bisa di baca.


Di dalam ruangan dokter Setiawan, Musa duduk berhadapan. " Sari kenapa Dok?, apa sakitnya serius?", tanya Musa semakin khawatir.


" Saya harus menyampaikan bagaimana ya, saya sendiri bingung, tapi memang harus saya sampaikan".


" Pak Musa apa sudah sempat bermalam pertama dengan Sari?".


" Maksud saya, kemarin Sari langsung berangkat bekerja, apa kalian sudah sempat melakukan hubungan suami istri?".


Musa semakin bingung dengan perkataan dokter Setiawan yang begitu bertele-tele, tidak langsung pada intinya. Apalagi dia menanyakan hal-hal yang sifatnya pribadi, sungguh aneh.


" Maksud dokter apa sih?".


Mama dan Papa yang beberapa menit berdiri di belakang Musa ikut bingung dengan ucapan dokter Setiawan.


" Sari sedang hamil, dan saya sendiri bingung karena baru dua hari yang lalu kalian menikah, apa bisa secepat itu pembuahan di dalam rahim".


Wajah Musa dan kedua orang tua Sari langsung nampak terkejut.


Namun justru itu membuat dokter Setiawan semakin bingung. Awalnya Dokter Setiawan ingin meminta pendapat Sari terlebih dahulu untuk menyampaikan berita ini pada suami dan keluarganya atau tidak, tapi Sari belum siuman juga. Jadi dokter Setiawan memutuskan untuk menyampaikan pada Musa dan orang tua Sari apa yang terjadi pada Sari.


" Dokter serius kan ?"


" Nggak lagi becanda?", tanya Musa.


Setiawan sungguh bingung, namun masih bisa mengangguk, "ekspresi Musa kaget karena bahagia, atau kaget karena shock?", Yang Setiawan tahu, suami Sari seorang ustadz dan dosen di IAIN, tapi dengan perkiraan kehamilan sari yang sudah 3 minggu, apa iya Sari hamil sebelum menikah?, karena Setiawan belum tahu jika Sari dan Musa sebenarnya sudah menikah siri sejak tiga tahun yang lalu.


" Saya serius Pak... usia janinnya sekitar 3 minggu, kalau untuk lebih meyakinkan, sebaiknya nanti periksa ke dokter Agus, spesialis Obgin ", ujar Setiawan menganjurkan.


" Wah selamat Musa, kamu sebentar lagi akan menjadi seorang ayah", Papa memeluk Musa dan menepuk-nepuk punggung nya.


" Masya Allah, Lahaulawalakuwwata illabillah... terimakasih ya Allah, Engkau begitu pemurah, memberikan apa yang sangat kami harapkan. Semoga diberi kesehatan Sari dan janin dalam perutnya". Musa begitu terharu, karena Yang Maha Kuasa begitu baik kepadanya, doanya dikabulkan dengan cepat.


" Terimakasih untuk kabar gembira ini Dok", Mama menyalami dokter Setiawan, begitu juga dengan papa dan Musa.

__ADS_1


Namun dokter Setiawan masih merasa bingung , hingga saat Musa keluar dan menghampiri ke bilik Sari untuk menemuinya dan Papa Sari menceritakan pada Setiawan tentang pernikahan siri mereka yang sudah terjadi sejak tiga tahun yang lalu.


Tentu saja dokter Setiawan terkejut dengan berita itu, namun dia bisa langsung memahami semuanya.


__ADS_2